GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 61: KECEWA


__ADS_3

21 MEI 1998.


    Hari-hari mencekam pada masa krismon di Indonesia yang paling menakutkan adalah minggu kedua bulan Mei 1998. Rentang waktu dalam minggu itu telah menggoreskan lembaran hitam di sejarah bangsa Indonesia. Pada masa itu, terjadi kerusuhan di mana-mana. Banyak toko dan perusahaan dijarah dan dihancurkan oleh amuk massa. Terutama yang dijarah milik warga keturunan Tionghoa. Kerusuhan terbesar terjadi di Jakarta, Medan dan Surakarta. Amuk massa ini membuat para pemilik toko di kota-kota besar menjadi ketakutan. Walau toko-toko ditutup, mereka menulisi bagian depan toko mereka dengan tulisan "Milik pribumi" atau "Pro-reformasi".


    Dalam kerusuhan tersebut, banyak warga keturunan Tionghoa yang meninggalkan Indonesia. Mereka takut dengan kekerasan dan pemerkosaan. Salah satu korban adalah seorang aktivis HAM dan relawan kemanusiaan bernama Ita Martadinata Haryono, yang masih seorang siswi SMU berusia 18 tahun. Ia diculik, diperkosa, disiksa, dan dibunuh karena kegiatannya menggembar-gemborkan HAM dan kemanusiaan. Ini menjadi indikasi bahwa kasus pemerkosaan dan kerusuhan digerakkan secara sistematis. Puluhan orang aktivis hilang tanpa diketahui keberadaannya. Tokoh Munir, yang sempat mengungkap HAM, juga dibunuh dalam pesawat saat akan menyampaikan pelanggaran HAM di Indonesia. Tetapi faktanya, sampai sekarang tidak ada yang mau bertanggungjawab, bahkan pemerintah pun tidak mencari siapa dalang dari pelaku-pelaku kerusuhan tersebut.


    Protes mahasiswa terus berlanjut. Demonstrasi terjadi di mana-mana. Kekerasan juga terjadi diberbagai wilayah. Suasana mencekam dirasakan oleh masyarakat. Aparat petugas keamanan sudah kuwalahan menangani gelombang kerusuhan dan demo yang digelar besar-besaran. Tanggal 8 Mei 1998, di Yogyakarta, aksi protes yang ditangani aparat dengan kekerasan menyebabkan tewasnya mahasiswa bernama Moses Gatutkaca. Setelah itu berlanjut lagi pada tanggal 12 Mei 1998, saat mahasiswa Universitas Trisakti mulai turun ke jalan, keluar kampus dengan mengadakan long march menuju Gedung DPR/MPR. Saat itu empat mahasiswa tewas diterjang peluru tajam yang ditembakkan aparat keamanan. Tidak ada yang bertanggung jawab. Juga tidak ada yang mau mengaku.


    Kekerasan yang dilakukan oleh aparat keamanan itu tidak menyurutkan gelora protes para mahasiswa. Pada tanggal 18 Mei 1998, ribuan mahasiswa yang tergabung dari puluhan perguruan tinggi di seluruh wilayah, mulai menguasai gedung parlemen. Ada yang datang dari Jawa Barat, ada yang datang dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, bahkan juga dari luar Jawa. Mereka mendesak pimpinan dewan untuk mengusulkan kepada MPR agar menyelenggarakan Sidang Istimewa dalam waktu sesegera mungkin dan menuntut Presiden Soeharto mundur.


    Suasana semakin mencekam. Negara seakan sedang mengalami perang dengan monster raksasa yang sedang mengobrak-abrik bangsa. Toko-toko tutup, perkantoran diliburkan, anak-anak sekolah tidak boleh masuk, jalanan pun sepi tidak ada kendaraan yang lewat. Kala itu semua mata tertuju di gedung parlemen.


    Tanggal 20 Mei, yang oleh bangsa Indonesia diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional mempunyai arti yang sangat luar biasa. Termasuk pada saat krismon ini, peringatan Harkitnas menjadi momen tersendiri bagi para mahasiswa dan masyarakat yang peduli bangsa. Kala itu, bersamaan bangsa Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional yang ke sembilan puluh, momen ini pun dimanfaatkan oleh para pendemo yang tidak hanya dari kalangan mahasiswa dan pelajar, tetapi juga masyarakat yang ingin kondisi negaranya lebih baik, mereka menguasai gedung parlemen, memaksa DPR/MPR untuk mendesak Presiden Soeharto mundur dari jabatannya.


    Dan puncaknya, pada hari Kamis, 21 Mei 1998, di depan Sidang Istimewa. Presiden Suharto menyatakan berhenti dari jabatannya sebagai Presiden Republik Indonesia. Kala itu, Kabinet Pembangunan VII yang diangkat oleh Presiden Suharto dinyatakan demisioner.  Untuk menghindari kekosongan pimpinan dalam menyelenggarakan pemerintahan, maka Wakil Presiden yang waktu itu dijabat oleh Prof. Dr. Ing. ** Habibie diminta untuk melanjutkan jabatan Presiden.


    Kala itu, saat televisi menyiarkan secara langsung pengunduruan diri Presiden Suharto, saat radio mendengungkan secara langsung suara itu, histeria masyarakat Indonesia terdengar di mana-mana. Mulai dari Gedung Parlemen yang ada di Jakarta, hingga ke pelosok pedesaan. Mahasiswa dan pelajar yang sudah mengerubung rapat Gedung Parlemen langsung bersorak riuh.


    Di ruang keluarga, Jamil, Juminem dan Melian juga menyaksikan siaran langsung televisi. Antara haru, kasihan dan senang berbaur menjadi satu. Harapannya hanya satu, bangsa dan negaranya pulih kembali. Masyarakat kembali tenteram, damai dan aman. Sehingga perusahaan-perusahaan, toko-toko dan seluruh nadi ekonomi bisa buka kembali. Karyawan-karyawan pun bisa kembali bekerja untuk mencari nafkah menghidupi keluarganya. Dan yang jelas, sekolah-sekolah mulai masuk, pembelajaran kembali berjalan lancar.


    Jamil, dengan rasa gembiranya menyaksikan berita itu, ia langsing pergi ke tempat kerjanya. Ia ingin menemui majikannya. Tentu menyampaikan kabar gembira tersebut.


    "Pak .... Pak Bos ...! Alhamdulillah, Pak .... Pak Harto lengser ...." kata Jamil yang berteriak saat menemui majikannya.


    "Sudah tahu .... Terus kalau Pak Harto lengser, kamu mau apa ...?" kata juragan kuningan seakan acuh dengan kedatangan Jamil.


    "Lhah ..., kan krismonnya sudah selesai, Pak .... Kami bisa kerja lagi, Pak ...." kata Jamil yang memang tidak paham tentang krismon.


    "Krismon selesai atu tidak, itu urusan pemerintah .... Tapi kalau masalah kerja di sini, itu urusan saya, Mas Jamil ...." kata majikannya.

__ADS_1


    "Lhoh ..., lha teman-teman bagaimana Pak ...? Kami bagaimana ...? Kasihan para karyawan, Pak .... Mereka butuh makan ...." tanya Jamil yang tentu ingin menyelamatkan teman-temannya dari krismon.


    "Mas Jamil .... Kamu itu tidak tahu apa itu usaha, tidak tahu bagaimana mengelola manajemen .... Kamu itu orang kecil, cuman buruh .... Biar saya yang mikir usaha saya ini, Mas Jamil .... Kamu tidak usah ikut mikir ...." kata juragannya.


    "Tapi, Pak .... Kemarin waktu Bapak ditagih bank, saya disuruh mikir. Dan itu uang saya yang dipakai untuk melunasi utang-utang Bapak ...." Jamil mencoba mengingatkan majikannya.


    "Tidak usah kamu ungkit-ungkit lagi .... Baru minjami uang segitu saja sudah diungkit-ungkit .... Kamu tidak ikhlas ...?!" kata juragan kuningan itu.


    "Tapi kalau hari itu tidak saya bayar, rumah dan tempat usaha Bapak sudah disita ...." sekali lagi Jamil mengingatkan juragannya.


    "Mas Jamil ...!! Kamu jangan sombong punya uang segitu ...! Rumah dan tempat usaha saya ini nilainya lebih besar ...!!" kali ini juragan kuningan itu berkata keras dan seakan membentak Jamil.


    "Kok Bapak membentak saya ...? Mungkin perlu saya ingatkan, Pak .... Kemarin waktu mau ke bank, Bapak bilang, kalau uang saya itu bisa melunasi tunggakan utang perusahaan, maka tempat usaha itu akan diserahkan ke saya. Buktinya utang sudah lunas. Bahkan sisa uang dari saya yang untuk membayar utang, juga Bapak bawa, tidak dikembalikan ke saya .... Padahal itu tabungan saya dan anak saya selama bertahun-tahun, Pak .... Saya tidak akan meminta tempat ini, Pak .... Saya hanya ingin para karyawan bisa kembali kerja, demi kelangsungan hidup keluarga mereka. Kasihan, Pak ...." kata Jamil yang tentu menjadi kecewa dengan bos-nya itu.


    "Kamu jangan mendekte saya, Mil ...!!!" bentak juragannya pada Jamil.


    Jamil diam. Lantas berdiri. Ia melangkah pulang meninggalkan rumah majikannya itu dengan gontai. Terlalu berat untuk melangkahkan kaki karena kecewa dengan sikap majikannya. Pasti ada hal yang sangat menyakitkan hati Jamil.


    "Pak-e kenapa ...? Kok cemberut saja ...?" tanya Melian pada bapaknya.


    "Iya, Kang .... Dengaren, ada apa ...?" tanya istrinya.


    "Tidak apa-apa, Sayang .... Ndak ada apa-apa, Jum ...." jawab Jamil yang tetap saja menunjukkan sifat aneh.


    "Ah, tidak apa-apa kok mbesengut? Pasti ada sesuatu. Apa Pak Bos ada masalah lagi?" tanya istrinya.


    "Tidak, Jum .... Hanya saya agak kecewa, karena Pak Bos masih belum mau membuka usahanya .... Saya itu kasihan pada teman-teman karyawan yang tidak bekerja. Teman-teman itu sangat diharapkan oleh anak dan istri untuk bisa memenuhi kebutuhan hidupnya ...." jelas Jamil.


    "Ooo .... Kok Pak Bos belum mau buka usahanya, nenang kenapa, Kang?" tanya istrinya yang ingin tahu alasannya.

__ADS_1


    "Tidak tahu, Jum .... Dia bilang yang berhak mengatur usahanya itu dirinya, bukan orang lain ...." kata Jamil pada istrinya.


    Tentu Melian juga mendengar jawaban itu. Maka ia juga menyaut, "Kasihan teman-teman Pak-e, kasihan istrinya, kasihan anaknya .... Terus kalau tidak kerja, mereka makan apa ...." kata Melian.


    "Iya, Sayang .... Tidak hanya teman-teman Pak-e dan keluarganya, tapi Pak-e sama Mak-e dan Melian juga kasihan .... Terus kalau Pak-e tidak kerja, kita mau makan apa?" sahut Jamil.


    "Eh, iya .... Kita juga ya, Pak-e .... Keterlaluan itu Pak Bos .... Dia mungkin belum pernah mengalami keluarganya kelaparan, kali ya, Pak ...?!" kata Melian yang juga kecewa.


    "Iya ya, Kang .... Kok dia tega dengan karyawan-karyawannya ya, Kang .... Ah, keterlaluan itu, Kang .... Besok lagi kalau pinjam uang jangan dikasih, Kang ...." kata Juminem yang juga kecewa.


    Tiga orang itu akhirnya merasakan kekecewaan atas sikap majikan Jamil, bos pengrajin kuningan tersebut. Mereka lantas hanyut dalam pikiran masing-masing, namun tentu karena rasa kecewanya dengan majikan Jamil itu.


*******


    "Mas Jamil ...!! Mas Jamil ...!!!" ada suara orang teriak-teriak di luar rumahnya.


    Jamil bergegas keluar, untuk melihat siapa yang memanggil sambil berteriak itu.


    "Walah, Mas Eko .... Ada apa to, Mas ..., kok pakai bengok-bengok segala ...?" tanya Jamil yang keluar dari pintu.


    "Anu, Mas Jamil .... Anu ...." teman kerja Jamil yang bernama Mas Eko itu terlihat gugup.


    "Anu apa ...? Ngomong yang ceto ...." sahut Jamil yang bingung.


    "Anu, Mas Jamil .... Istri Pak Bos .... Istri Pak Bos, anu ...." kata teman Jamil itu yang masih gugup dan bingung.


    Jamil lantas memegang kedua pundak temannya itu. Ia menggoyang tubuhnya. Lantas menenangkan.


    "Tarik napas yang dalam .... Lepaskan .... Tarik napas lagi .... Lepaskan .... Sudahm sekarang ngomong ...." kata Jamil sambil menenangkan temannya.

__ADS_1


    "Mas Jamil .... Istri Pak Bos meninggal gantung diri ...." kata Mas Eko pada Jamil.


    "Hah ...?! Yang benar ...?!" kini gantian Jamil yang kaget.


__ADS_2