GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 93: MALAM INAGURASI


__ADS_3

    Genap seminggu acara Masa Orientasi Siswa bagi murid-murid baru di SMA Nasional dilaksanakan dalam rangka mengenalkan seklah bagi murid-murid baru. Dan seperti biasa, pada hari terakhir, yaitu pada hari Sabtu, diadakan malam inagurasi. Pagi itu kegiatan hanya sampai jam sepuluh pagi. Selanjutnya murid-murid baru itu boleh istirahat. Tetapi pada sore hari pada jam lima sore, mereka harus datang ke sekolah lagi untuk mengikuti acara Malam Inagurasi.


    Setiap murid baru diwajibkan membawa kayu bakar. Kayu bakar itu nanti untuk membuat api unggun. Maka bagi murid yang belum membawa kayu bakar, mereka pada beli ke pasar atau warung yang menyediakan. Kala itu masih mudah untuk mendapatkan kayu bakar. Satu ikat hanya seribu rupiah.


    Tidak hanya disuruh membawa kayu bakar, tetapi mereka juga harus menyiapkan pertunjukan yang akan ditampilkan dalam acara Malam Inagurasi tersebut. Makanya, meski mereka boleh pulang terlebih dahulu, tetapi banyak yang berkumpul untuk menyiapkan pementasan. Mereka pada latihan. Ada yang menyanyi, ada yang menari, bahkan ada juga yang akan beratraksi. Macam-macam jenisnya.


    Ada tukang becak yang biasa mangkal di depan sekolah, karena ia tahu kebiasaan untuk mengadakan api unggun saat hari terakhir Masa Orientasi Siswa, maka tukang becak itu sudah memborong kayu bakar dari pasar, lantas di taruh di atas becaknya, ia mangkal di depan sekolah, menjual kayu bakar di situ. Para murid baru itu pun berjubel membeli kayu bakar kepada tukang becak itu. Tidak susah, tidak repot. Begitu beli, langsung diserahkan ke panitia. Hanya melangkah di depan gerbang sekolah saja. Harganya pun sama dengan yang di pasar. Cukup cerdas tukang becak itu. Hanya dalam waktu sekejap sudah meraup untung besar.


    Sore pun tiba. Panitia sudah siap di lapangan. Bahkan sudah menata kayu bakar yang akan dijadikan api unggun. Tong besar yang sudah dipotong separo ditaruh di tengah lapangan. Lantas di dalam tong itu sudah tertata kayu bakar yang rapi. Ya, panitia ini memakai tong sebagai tempat api, karena lapangannya sudah diplester semua, singga panas dan api serta abu sisa pembakaran tidak merusak lantai serta abunya langsung tertampung di dalam tong.


    Di pinggir lapangan masih ada setumpuk kayu bakar yang nanti untuk menambah api jika yang dibakar sudah akan habis. Di samping tumpukan kayu bakar itu terdapat botol yang berisi minyak tanak. Minyak tanah ini yang nanti akan disiramkan ke kayu bakar agar api langsung terbentuk. Sedangkan dekat botol minyak tanah itu terdapat obor minyak yang terbuat dari bambu. Jumlahnya ada empat buah. Nantinya akan digunakan untuk menyalakan api dari perwakilan empat kelompok, yaitu kelompok Nusa, Bangsa, Bhinneka dan Nusantara.


    Satu persatu murid baru pada berdatangan. Baik panitia maupun murid baru mulai berbaris di lapangan.


    "Siaaaaap ....... Grak!!!" terdengar aba-aba dari salah seorang pengurus OSIS menyiapkan barisan. Sangat keras suaranya. Karena kali ini aba-aba itu masuk ke dalam sound system. Ya, untuk acara Malam Inagurasi ada pengeras suaranya.


    Jam lima sore tepat, acara itu dimulai. Posisi peserta orientasi, yaitu murid-murid baru, sudah dibariskan seperti layaknya mau upacara. Barisnya berkelompok sesuai nama-nama kelompoknya. Mereka masih mengenakan pakaian biru putih.


    Demikian juga para pengurus OSIS. Kali ini mereka tidak mengatur adik-adik kelasnya. Tetapi mereka ikut berbaris, membentuk barisan di sebelah kiri dari murid baru. Bedanya, pengurus OSIS ini sudah mengenakan pakaian abu-abu putih, seragam SMA.


    Setelah barisa rapi dan tenang, keluar dari ruang guru, sejumlah guru masuk ke lapangan dan berdiri berbaris di depan pasukan murid baru itu. Seorang perempuan gemuk berdiri di tengah, diapit oleh dua orang laki-laki yang ada di sebelah kiri dan di sebelah kanannya ada seorang perempuan dan laki-laki. Perempuan gemuk yang ada di tengah itu adalah kepala sekolah. Sedangkan empat orang yang ada di kanan kirinya adalah wakil kepala sekolah. Ada wakil kepala sekolah bidang kurikulum, kesiswaan, sarana prasarana dan humas.


    Sedangkan di dekat pasukan pengurus OSIS, juga berdiri guru-guru yang lain. Barisannya agak maju dan menghadap ke menyamping kanan pasukan. Sehingga guru-guru itu bisa dilihat oleh seluruh murid. Guru-guru itu belum pada pulang. Terlihat dari pakaian PSH yang dikenakan dari pagi belum berganti. Itu sebagai pertanda loyalitas guru-guru pada sekolahnya.


    Acara pun langsung dimulai. Kepala sekolah itu memberi sambutan. Bukan sekadar kata sambutan, tetapi lebih menekankan pembinaan. Perembuan tubuh besar itu suaranya mantap. Langsung menggetar di telinga para peserta kegiatan. Kata-katanya penuh makna. Tidak menakutkan, tetapi lebih pada memberi motivasi, agar para murid baru memahami aturan-aturan sekolah, serta menjaga rasa kebersamaan, baik dengan sesama teman satu tingkat maupun dengan kakak kelas. Dan yang terpenting adalah mengukir prestasi sebaik mungkin.

__ADS_1


    Selain memberi pembinaan, kepala sekolah itu memperkenalkan guru-guru yang nantinya akan mengajar. Mulai dari yang berdiri di sisi kanan dan kirinya serta guru-guru yang berdiri di barisan di samping kiri. Semuanya dikenalkan. Termasuk para wali kelas yang nantinya akan membimbing kelas murid-murid baru.


    Hingga menjelang surut matahari, kepala sekolah perempuan yang gemuk itu memberi pembinaan. Dan selanjutnya, pasukan yang baris di lapangan itu diistirahatkan. Tentu untuk melaksanakan ibadah maghrib bagi yang berkeyakinan sebagai umat Islam.


    Tidak hanya untuk menghormati kaum muslim saja, tetapi saat istirahat itu, panitia membagikan konsumsi makan malam kepada seluruh peserta. Termasuk untuk para guru.


    Di saat itulah, mulai terlihat keakraban antara kakak kelas dengan adik kelasnya. Mereka makan bersama tanpa ada sekat pemisah. Mereka bersatu padu. Ada yang berkenalan, ada juga yang langsung bercerita. Disaat-saat seperti itu, biasanya kakak kelas laki-laki yang agresif mencari adik kelasnya yang cantik untuk dirayu. Siapa tahu bisa dijadikan pacar.


    Hingga jam tujuh malam waktu makan malam selesai. Murid-murid itu kembali ke lapangan. Tetapi kali ini tidak berbaris seperti mau upacara, melainkan membentuk lingkaran. Mereka mengelilingi tong yang akan digunakan untuk menyalakan api unggun.


    "Semuanya ......!! Silangkan tangan kalian di dada ...! Kemudian raih tangan teman kalian yang ada di samping kanan kiri ...!!" Panitia memberi aba-aba mengatur lingkaran agar saling berhimpitan.


    Para peserta inagurasi itu pun melakukan perintah panitia. Kali ini yang baris membentuk linkaran itu tidak hanya murid baru saja. Tetapi disela antara masing-masing kelompok sudah dimasuki pengurus OSIS yang menjadi bagian dari lingkaran itu. Tentu mereka kini sudah membaur, dan bersama-sama dengan adik kelasnya untuk mengikuti acara Malam Inagurasi. Sedangkan para guru hanya berdiri di lapangan. Meski para guru ini ikut mengelilingi, tetapi tidak ikut bergandengan tangan dengan murid-murid. Mereka hanya mengamati dibelakang lingkaran murid-murid itu.


    "Satu nusa .... Satu bangsa .... Satu bahasa kita ......"


    Setelah menyanyikan lagu Satu Nusa Satu Bangsa, panitia menyuruh maju empat orang ketua kelompok. Ketua-ketua kelompok yang semuanya laki-laki, maju ke depan berdiri di dekat tong tempat tumpukan kayu sudah ditata. Lantas panitia memberikan obor bambu kepada empat orang ketua kelompok tersebut. Kemudian ibu kepala sekolah masuk, dan menyalakan korek api, untuk menyulut salah satu obor yang dipegang oleh ketua kelompok yang sudah berdiri menghadapi kayu api unggun dari empat penjuru arah mata angin.


    "Semoga kobaran api unggun ini nanti akan mengobarkan semangat kalian di sekolah ini, sehingga kalian semua akan menyala-nyala seperti api dalam meraih prestasi ...." begitu kata ibu kepala sekolah yang kemudian menyalakan korek api dan disulutkan kepada salah satu obor yang dipegang oleh ketua kelompok yang berdiri menghadapi tumpukan kayu api unggun.


    "Whuught ...!" obor itu langsung menyala.


    Kemudian obor yang sudah menyala itu didekatkan ke ketua kelompok yang lain yang sudah siap menempelkan obornya.


    "Whuught ...!" dua obor kini sudah menyala menyala.

__ADS_1


    Selanjutnya obor yang ke dua menyala itu memberikan apinya kepada obor yang ke tiga. Dan obor ke tiga memberikan apinya kepada ketua kelompok yang memegang obor ke empat. Dan empat obor itu kini sudah menyala semua.


    "Kita akan mulai menyalakan api unggun, dari empat penjuru arah mata angin .... Kelak kita akan menerangi bangsa ini dari berbagai penjuru." kata yang mengatur acara, yang kemudian mulai menghitung mundur untuk menyalakan api unggun, "Tiga ...!! Dua ...!! Satu ...!!"


    "Whuught ...! Buull ...." api unggun itu langsung menyalakan kobaran api yang sangat besar.


    "Api kita sudah menyala ..... Api kita sudah menyala ..... Api .... Api .... Api kita sudah menyala ....."


    Para peserta Malam Inagurasi itu pun langsung menyanyikan lagu Api kita sudah menyala. Dan tentu masih saling bergandengan dan bergerak memutari api itu.


    Selanjutnya, masing-masing kelompok akan menampilkan atraksi satu persatu. Tampilan pertama adalah vocal group. Ada yang memetik gitar, ada yang menepuk ketipung, ada juga yang membawa icik-icik. Dan tentu ada penyanyi-penyanyinya. Entah latihannya kapan, mereka sangat kompak. Lagu yang dinyanyikan tentu lagu yang sedang ngehit kala itu, "Mars Slankers" lagu yang menyebutkan kalau di sini bukan tempat anak-anak malas tetapi tempat anak belajar keras, di sini bukan tempat anak manja, tetapi tempat anak berkarya. Lagu yang bisa mengajak teman-temannya untuk berjingkrak-jikrak. Lebih dari separo kelas maju ke depan untuk bernyanyi dan berjoget bersama. Sangat meriah dan bergembira. Tidak hanya yang maju di depan saja yang berjoget, kini semua peserta inagurasi ikut berdendang bersenang-senang.


    Setelah pentas nyanyi, dari kelompok lain maju seorang murid perempuan yang menampilkan atraksi "Wushu", yaitu seni bela diri yang berasal dari Cina. Yang tampil mengenakan pakaian adat Cina lengkap dengan berbagai aksesorisnya, terlihat sangat cantik. Rambutnya dikuncir kanan dan kiri, dan diikat dengan pita warna hijau. Ia mengenakan pakaian warna merah. Di bagian celana yang bawah terdapat gambar bunga. Bajunya yang merah itu ada semacam pita yang melingkar di tepian dengan warna ungu. Sedangkan di lengannya ada gambar naga yang berwarna kuning. Anak itu membawa sepasang pedang. Lantas ia beratraksi menampilkan keahliannya.


    Melian sangat senang menyaksikan atraksi ini, Seumur hidupnya, baru pertama kali ini ia tahu ada seni bela diri yang namanya wushu. Ia mengamati betul setiap gerakan dari murid perempuan yang memainkan sepasang pedang itu. Ingin rasanya Melian bisa melakukan gerakan-gerakan yang indah dan menarik itu. Walau sebenarnya sabetan-sabetan pedangnya menakutkan.


    Tanpa disadari, Melian sudah hanyut dengan gerakan-gerakan wushu yang dipamerkan temannya itu. Mata Melian mengikuti setiap gerakan. Bahkan kadang-kadang, tangan Melian ikut bergerak seakan ingin menirukan gerakan itu.


    Ada hal aneh yang terjadi dari murid yang menampilkan wushu tersebut. Gerakannya terlihat lemah gemulai. Tidak menampakkan kekerasan dan keperkasaan sebuah seni bela diri, tetapi justru terlihat seperti tarian seorang gadis yang lemah lembut. Namun, setiap kali anak itu menggerakkan tangannya, seolah ada angin besar yang keluar dari gerakan-gerakan tangan lembut itu, yang meniup api unggun, sehingga api itu membesar dan berkobar tinggi ke angkasa. Begitu terjadi berkali-kali. Semakin kencang ia menggerakkan pedang-pedang yang ada di tangannya itu angin pun semakin besar meniup api. Bahkan ketika anak itu menari-narikan pedang di atas kepalanya, api unggun itu juga ikut menarinari, meliuk-liuk seperti pedang yang dimainkan. Padahal anak yang memainkan wushu itu cukup jauh dari api unggun.


    Tentu tepuk tangan meriah dari teman-temannya langsung bergemuruh. Begitu mendapat tepuk tangan dari teman-temannya, anak yang beratraksi wushu itu ingin mencari tahu, ada apa sebenarnya. Karena memang anak itu tidak sadar kalau gerakan-gerakannya bisa meniup api dan membumbungkan api itu jauh ke angkasa. Ia mencoba melirik, ingin tahu yang terjadi. Ternyata, setelah ia mengetahui, anak itu sendiri kaget, kenapa gerakannya bisa mempengaruhi dan menggerakkan api? Lantas ia mencoba menggerakka lagi pedangnya, hanya perlahan. Tetapi memang benar. Setiap gerakan tangannya yang memainkan pedang itu, berpengaruh pada kobaran api unggun.


    Tahu ada yang tidak beres, anak itu tidak senang untuk terus memainkan, tetapi ia justru takut. Anak itu langsung menghentikan gerakannya. Ia pun mengakhiri atraksinya.


    Melian senang menyaksikan atraksi wushu tersebut. Maka dalam hatinya timbul keinginan untuk belajar wushu. Besok Melian akan menemui anak itu, ikut belajar wushu.

__ADS_1


    Malam pun semakin larut. Atraksi demi atraksi terus ditampilkan oleh murid-murid. Dan yang paling akhir, kelompok dari pengurus OSIS. Semuanya maju. Kemudian mengajak semua peserta menyanyikan lagi "Kemesraan".


__ADS_2