
Seperti yang mungkin diduga oleh Mei Jing, sehingga mengatakan kalau ibunya Melian hanyalah babu meteng. Demikian pula saat Ivon maupun Vanda melihat ibunya Melian, termasuk bapaknya. Mereka kaget saat menyaksikan perbedaan ras yang sangat menyolok itu. Meski ibunya Melian juga terlihat cantik, namun warna kulit dan bentuk mata sangat jelas berbeda dengan Melian. Itulah yang menjadi tanda tanya. Apakah benar seperti yang dituduhkan oleh Mei Jing?
Namun bagi Cik Indra, yang sudah pernah ketemu dengan orang tua Melian di rumah kost, sudah tidak heran. Hanya memang warna kulit yang menolok perbedaannya itu sempat menjadikan tanda tanya besar. Benarkah pasangan suami istri itu orang tua Melian?
Juminem sangat senang anaknya pulang. Apalagi dengan mengajak teman-temannya yang cantik-cantik. Tentu ia terlihat gembira. Bahkan untuk menyambut kedatangan anaknya, Juminem langsung beli sayur gandul, makanan khas dari Pati, lengkap dengan lauk pauknya. Ada empal daging sapi, telur bacem, tempe goreng. Bahkan ada juga ikan bandeng yang digoreng dengan telur. Untuk makan bersama.
"Ayo, kita makan bareng-bareng ...." Ajak Juminem pada Melian bersama teman-temannya.
"Iya, Mak ...." sahut Melian, yang langsung mengajak teman-temannya menuju ruang makan. "Ayo, kita makan dahulu ...." ajak Melian.
Maka teman-temannya yang sudah lapar pun langsung bangkit dan memenuhi ajakan tuan rumahnya.
"Asyiiik ......." sahut teman-temannya, yang tahu di meja makan ada banyak menu makanan.
"Ayo, sini .... Tidak usah sungkan .... Ini rumah Melian, kuno tapi menyenangkan." kata Jamil yang sudah duduk di tempat makan, akan ikut makan bersama dengan anaknya. Tentu karena rasa kangennya setelah lama tidak makan bersama di ruang itu seperti biasanya. Ya, ruang makan memang tempat yang pas untuk ngobrol santai bersama keluarga. Seperti halnya Jamil dan Juminem kalau membicarakan masalah keluarga bersama Melian.
Anak-anak pun ikut duduk. Meski agak canggung, namun terlihat senang. Apalagi mendengan menunya nasi gandul, pasti mereka ingin mencicipi makanan khas daerah itu.
"Kok tidak bilang-bilang kalau mau pulang .... Kalau bilang kan bisa disiapkan masakan macam-macam sama Mak-e ...." kata Juminem pada Melian.
"Gak sempat ke Wartel, Mak .... Pengin cepat sampai rumah ...." jawab Melian.
"Kok dari tadi saya dengar panggilnya, Mak ...?" tiba-tiba saja Cik Indra nyeletuk ke Melian, ini sebagai pengungkap rasa ingin tahunya.
"Hehe .... Ibu saya itu waktu saya masih kecil, kalau saya panggil Mamah, tidak mau .... Mintanya dipanggil Mak-e, seperti umumnya anak-anak para tetangga yang memanggil ibunya dengan panggilan mak-e .... Begitu, Cik ...." jawab Melian mengenang kisah masa kecilnya.
"Saya itu kalau dipanggil Mamah, malah jadi risi .... Kurang enak di telinga .... Kok seperti orang kaya saja .... Hehe ...." timpal ibunya Melian yang ikut memberi alasan.
"Lha wong kami itu pangkate kuli, kok dipanggil papah mamah .... Nggak pantas, Cik ...." sahut Jamil yang ikut mengakrabkan diri.
"Halah, bapak ini sukanya merendah .... Orang usahanya juga bagus dan besar gitu, kok ...." sahut Cik Indra yang memang sudah lihai dalam bicara menghadapi nasabahnya, pasti juga bisa ngobrol bersama ibu dan bapaknya Melian.
"Benar, Cik .... Pak-e Melian itu dulu hanya kuli di penambangan batu kapur .... Tukang gali batu kapur .... Kalau pulang sore hari gitu, seluruh tubuhnya kotor semua kena kapur ...." timpal Juminem mengisahkan suaminya.
"Lhah, tapi nyatanya ..., rumahnya besar dan bagus seperti ini ...?!" bantah Cik Indra yang pasti tidak percaya.
"Walah .... Tadinya kami tinggal di kampung ..., miskin tidak punya apa-apa .... Kami hanya buruh .... Rumah ini kami hanya menempati dan merawatnya saja. " kata Juminem yang ingin menegaskan ke teman anak-anaknya.
Tentu begitu mendengar kata-kata buruh, teman-teman Melian ini kembali ingin tahu, benarkah dulu ibunya Melian itu pembantu rumah tangga yang dihamili oleh majikannya? Mereka kembali curiga dengan Melian. Namun tentu tidak berani langsung menanyakan hal itu.
"Terus, rumah sebesar ini ...? Mosok hanya sekadar buruh bisa punya rumah mewah seperti ini ...?" tentu Cik Indra tidak percaya.
"Ceritanya panjang .... Itulah yang harus kita yakini, bahwa Tuhan itu Maha Kuasa. Takdir manusia bisa diubah dalam sekejap. Banyak keajaiban yang terjadi tiba-tiba. Contohnya, ya Melian anak saya ini ...." kata Jamil, bapaknya Melian ingin menguatkan keyakinan teman-teman anaknya.
__ADS_1
"Maksudnya, bagaimana, Pak ...?" tanya Cik Indra yang penasaran dengan omongan bapaknya Melian, tentu ia sudah menebak-tebak tentang Melian. Mungkin bisa jadi bapaknya ini akan menceritakan keajaiban tentang ibunya yang kulitnya hitam bisa punya anak kulitnya putih.
"Kami punya anak Melian itu sangat aneh ...." Juminem ikut ambil bicara.
"Aneh bagaimana ....??" Cik Indra dan teman-temannya semakin curiga.
"Sudah, Mak .... Tidak usah diceritakan .... Saya malu ...." kata Melian mencegah ibunya.
"Malu apanya ...? Siapa yang malu-maluin ...? Hehe ...." Cik Indra yang penasaran langsung mencolek Melian, biar cerita ibunya diteruskan.
"Saya itu anak aneh, Cik ...." sahut Melian membalas.
"Iya, betul .... Melian itu cerdas dan pemberani ...." timpal Jamil yang ingin membombong anaknya.
"Iya ..., betul, Pak .... Kemarin tanding, Melian menang ...." tiba-tiba Vanda nyeletuk.
"Sssssttt .....!" Melian melarang temannya bercerita.
"Oo, iya ..., to ..... Walah, anak-e Mak-e bisa juara ...." Juminem tersenyum senang. Tahunya pasti tanding dalam lomba.
"Lhah, Melian kenapa jadi manggilnya Mak-e, kok tidak Mamah atau Mami, gitu .... Atau setidak-tidaknya Ibu...?" tanya Cik Indra lagi yang masih penasaran dengan keberadaan Melian.
"Kalau manggil saya, cukup Mak-e saja .... Manggil bapaknya, ya cukup Pak-e saja .... Orang desa, malu dipanggil Mamah Papah .... Kayak orang kota saja .... Hehe ...." jawab Juminem.
"Tapi aku senang manggil Mak-e, Pak-e .... Gitu rasanya lebih asyik .... Ya, sama seperti teman-temanku sepermainan saja .... Biar gak beda dengan teman-teman yang lain." sahut Melian.
"Bapak usahanya maju, ya?" tanya Cik Indra pada Jamil.
"Alhamdulillah .... Yang penting bagi saya bisa untuk menghidupi karyawan dan keluarganya." jawab Jamil santai.
"Kalau mau membesarkan usaha, bisa tambah modal dari kredit bank, Pak .... Di bank kami menyediakan kredit usaha, kok .... Bunganya kompetitif." kata Cik Indra yang langsung menawarkan jasa bank tempatnya bekerja.
"Kami sudah memanfaatkan jasa bank, terutama untuk transaksi .... Maklum, kadang-kadang ada pembeli yang maunya bayar lewat bank. Ya, dimaklumi, namanya juga orang banyak ...." kata Jamil yang tentu tidak langsung mengatakan menolak tawaran, tetapi mengatakan sudah punya rekening di bank.
"Tapi Pak Jamil bisa ajukan pinjaman untuk penambahan modal ...." Cik Indra terus mengejar, ingin memikat bapaknya Melian.
"Sementara cukup itu dulu. Ini saja kami sudah kewalahan memenuhi pesanan." jawab Jamil yang sangat baik.
"Waah, nanti Melian jadi penerus usaha, ini ...." kata Vanda menyela.
"Nggak, ah .... Usaha itu biar dikelola Pak-e saja." jawab Melian yang kurang tertarik dengan usaha bapaknya.
"Lho ..., kenapa?" tanya Cik Indra.
__ADS_1
"Tempatnya kotor dan bising .... Aku pengin seperti Cik Indra saja, kerja di tempat yang bersih, sejuk dan nyaman .... Pakaiannya rapi, terlihat cantik .... Hehe ...." sahut Melian.
Ya, tentu beda bekerja di tempat pembuatan kerajinan denga di bank. Enak dan nyamannya pun beda. Apalagi dengan pakaiannya, pasti berbeda jauh. Penampilan bagi pegawai bank harus diutamakan. Tapi untuk kerja pembuatan kerajinan kuningan, pakaian seadanya, karena paling-paling juga kotor terkena minyak, gemuk maupun serbuk kuningan.
"Pak, kemarin saya sudah buka rekening di bank-nya Cik Indra, nanti kalau Pak-e mau kirim uang ke saya, langsung ditransfer saja ...." kata Melian memberi tahu bapaknya.
"Halah, uang seberapa, kok pakai transfer-transferan segala ...." sahut Jamil yang tentu kaget anaknya buka rekening bank.
"Bukan masalah uangnya seberapa, Pak Jamil .... Tapi memudahkan segalanya .... Melian kalau butuh uang tidak perlu pulang ke Juwana yang tentu juga butuh ongkos naik bus, terus uang yang dikirim lebih aman, kalau mau menambah uang saku Melian, cukup dari bank Pak Jamil. Tidak ribet, Pak ...." jelas Cik Indra yang pegawai bank.
"Oo, gitu ya .... Jadi saya bisa kirim dari bank tempat saya? Walah, yo enak kalau begitu ...." sahut Jamil yang baru mudeng.
"Jadi tidak perlu khawatir ..., kalau bawa uang nanti naik bus takut di copet .... Kebutuhannya sangat penting, uangnya hilang dibawa maling .... Repot, kan ...." kata Cik Indra lagi.
"Walah, betul juga ya .... Jadi kalau Melian pulang, tidak perlu saya beri uang .... Langsung masukkan ke rekening saja .... Betul begitu, Cik?" tanya Juminem yang ikut berpendapat.
"Atau kalau tidak ditransfer, bisa juga uangnya dibawa ke bank yang sama dengan tempat Melian, ditabungkan dari sini juga bisa. Yang penting tahu nomer rekeningnya Melian. Toh nanti Melian mengambilnya cukup pakai ATM, jadi lebih gampang." jelas Cik Indra lagi.
"Kalau begitu, besok Mbak Ika disuruh nyatet nomer rekeningnya Melian, Pak .... Biar nanti Mbak Ika yang mengirimi uang ...." sahut Juminem.
"Iya, betul ...." sahut Melian yang tentu senang.
"Ayo, makannya dilanjutkan .... Ini ada pisang, ngambil sendiri di kebun belakang." kata Jamil yang langsung menyodorkan pisang kepada para tamunya.
"Lhah, Pak ..., ini nanti teman Melian tidur di mana?" tanya Juminem yang tentu memikirkan tempat tidur.
"Oh, iya .... Apa tidur di tempatnya Irul saja? Itu kan ada dua kamar yang kosong .... Gimana, Melian?" tanya bapaknya.
"Ndak papa .... Tapi kalau teman-teman tidur di pabrik, saya ikut .... Saya juga tidur di sana. Nemani cacik-cacik ini, Pak ...." sahut Melian.
"Di tempat yang tadi?" tanya Ivon.
"Iya .... Kamarnya lebih bagus, kok .... Toh besok pagi hari Minggu, pabriknya libur. Jadi kita bisa santai di sana." sahut Melian.
"Ndak papa .... Tidur di mana saja kami bisa, kok ...." sahut teman-temannya.
"Pak, Mak ..., besok pesankan bandeng bakar lumpur ya, biar Cik Indra bisa menikmati sensasinya." kata Melian memesan pada ibunya.
"Ya ..., besok kalau ada. Mau waleran apa tidak?" kata ibunya.
"Ya, mau ..., mau ..., mau ...." jawab Melian bersemangat.
Makan malam sudah selesai. Cik Indra belum bisa mengungkap siapa sebenarnya Melian.Namun itu bukanlah persoalan. Apapu yang terjadi, sejarah masa lalu Melian bukanlah hal yang penting. Namun keadaan sekaranglah yang menjadi kenyataan. Fakta yang ia saksikan, keluarga Melian terlihat bahagia, sejahtera dan penuh kebahagiaan.
__ADS_1