GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 107: JALAN-JALAN


__ADS_3

    Sementara itu, Melian bersama Ivon dan Vanda, sama-sama anak SMA, jalan-jalan dengan naik becak, menyaksikan kapal-kapal penangkap ikan yang merapat ke pelabuhan ikan. Sepanjang jalur sungai Juwana, yang dilalui oleh becak yang dinaiki mereka bertiga, penuh sesak dengan kapal-kapal yang bersandar. Kapal-kapal itu berjejer rapat memenuhi pinggiran sepanjang sungai Juwana. Ada ratusan kapal bersandar di tepi sungai. Indah dan menarik. Tentu ini merupakan pemandangan yang langka bagi mereka bertiga. Apalagi bagi Ivon dan Vanda yang baru pertama kali menyaksikan barisan kapal yang berparkir. Sayang saat itu belum ada HP dengan kamera canggih. Seandainya sudah ada, pasti mereka akan berselfi berkali-kali.


    Tukang becak itu juga menambah cerita kepada mereka bertiga. Tentu mereka lebih terkesima untuk menyaksikan pemandangan yang indah tersebut. Cerita itu pun diawali dengan masuknya kapal saudagar dari Cina yang pertama kali.


    "Zaman dahulu kala, sungai ini sangat besar, Nik ....Lebih besar dari yang sekarang ini ...." kata si tukang becak.


    "Bapak penduduk asli sini?" tanya anak-anak yang naik becak.


    "Iya ...," Diceritakan pula oleh si tukang becak tersebut, "Nah, Sungai Juwana ini ..., dulu nama aslinya adalah Bengawan Silugonggo. Sungainya sangat besar, digunakan sebagai jalur transportasi kapal-kapal besar. Nah, saat geger Cina di Jakarta, atau yang dikenal dengan Tragedi Angke, kalau orang VOC menyebutnya dengan istilah Chinezenmoord, orang-orang keturunan Cina pada berlarian ke arah timur Pulau Jawa. Nah, sebagian ada yang masuk ke Juwana ini. Lantas mereka memulai berdagang, terutama membeli hasil pertanian masyarakat Pati, untuk diperdagangkan di Tiongkok. Akhirnya daerah Juwana ini menjadi ramai. Dan para saudagar Cina itu banyak yang bermukim di Juwana. Ada yang mendirikan rumah untuk tinggal, bahkan juga mendirikan klenteng untuk sembahyangan."


    "Ooo, begitu ya, Pak ...." sahut anak-anak yang mendengarkan cerita itu.


    "Makanya di Kecamatan Juwana ini, walaupun daerahnya kecil, tetapi banyak peninggalan bangunan-bangunan Cina. Termasuk rumahnya Nonik Melian ini .... Dulu yang namanya Kampung Naga, itu penduduknya sebagian besar adalah orang keturunan Cina. Tetapi kalau zaman sekarang, sudah pada berbaur. Semua suku ada di situ .... Betul begitu kan, Nik Melian ...?" kata si tukang becak itu.


    "Iya, Pak .... Sekarang namanya Kampung Prural .... semua suku di Indonesia ada di situ semua." jawab Melian.


    Tanpa terasa, becak sudah sampai di pelabuhan ikan. Bapak tukang becak itu sudah menghentikan becaknya. Namun belum memngangkat bagian belakang, belum siap untuk menurunkan.


    "Nik ..., ini mau melihat saja atau mau beli ikan?" tanya Pak Becak itu.


    "Kita mau lihat saja kok, Pak ...." jawab Melian.


    "Kalau begitu saya turunkan di parkiran. Nanti ke TPI-nya jalan kaki sedikit. Saya tidak bisa berhenti di TPI, nanti dibentak-bentak orang." kata Pak tukang becak itu lagi.


    "Tidak usah turun, Pak .... Nanti malah bau amis .... Kita cuman mau lihat dari atas becak saja, kok .... Pelan-pelan saja biar bisa nglihat ikannya ...." kata Melian.


    Pak Becak pun menurut. Maka pedal becaknya dikayuh perlahan. Bahkan kadang-kadang juga ngerem. Setidaknya penumpangnya bisa menyaksikan orang-orang yang memikul ikan dari kapal diturunkan dan langsung di bawa ke tempat pelelangan.


    "Nah ..., itu ikannya yang baru diturunkan dari kapal .... Lihat itu, ada yang besar sekali." kata Pak Becak yang sambil mengarahkan ke para pemikul keranjang ikan.


    "Wao ..., gede banget ...!" teriak Ivon yang baru tahu ikan sebesar bayi.


    "Biasanya ada yang lebih besar lagi .... Ada yang sebesar manusia .... Beratnya bisa mencapai satu kwintal ...." kata Pak Becak lagi.


    "Walah .... Ikan apa itu, Pak ...?" tanya Vanda yang keheranan.


    "Ya macam-macam .... Ada ikan tongkol, kakap, bahkan juga ada gurita segala ...." jawab Pak Becak.


    "Lhah, itu kok ada anak kecil pada membawa semacam keranjang kecil, Pak ...?" Ivon ingin tahu.


    "Halah .... Itu anak-anak kampung nelayan sini .... Biasa, mereka bawa wadah seperti itu untuk minta-minta ikan pada para nelayan. Nanti dari kapal akan dilempari ikan kecil-kecil. Biasanya oleh nelayan dianggap ikan murahan, makanya dibagi-bagikan ke anak yang minta-minta itu. Lumayan bisa digoreng untuk lauk makan.

__ADS_1


    "Waah ..., asyik ya, Pak .... Bisa makan ikan gratis ...." sahut Vanda.


    "Ya sudah, sana ..., kamu turun kinta ikan .... Pasti langsung diberi sekarung .... Hahaha ...." ledek Ivon pada Vanda.


    Puas menyaksikan para nelayan yang menurunkan keranjang-keranjang dari kapal yang berisi ikan, lantas becak itu kembali dikayuh. Untuk melanjutkan perjalanan.


    "Becaknya bablas saja, terus memutar, di lewatkan ke klenteng, ya Pak ...." kata Melian memberi petunjuk jalan.


    "Oo, begitu .... Ya, saya bablas .... Nanti lewat klenteng terus bablas ke alun-alun, ya ...." sahut si tukang becak.


    "Bapak ndak capek ...?" tanya Melian yang tahu perkiraan jaraknya.


    "Lha, kan jalan-jalan .... Mumpung temen-temennya ini ke Juwana, Nik .... Biar bisa lihat keadaan Kota Juwana .... Jarang lho ada yang piknik keliling begini ...." kata si tukang becak.


    "Nggih, Pak .... Silahkan saja semampu Bapak .... Tapi nanti pulangnya langsung ke rumah, ya ...." sahut Melian.


    "Oke, siap, Nik ...." jawab Pak tukang becak yang langsung menggenjot pedalnya, menuju klenteng.


    Sesampai di depan klenteng, becak berhenti sejenak.


    "Mau turun apa tidak ...?" tanya si tukang becak kepada para penumpangnya.


    "Turun, nggak?" tanya Melian pada teman-temannya.


    "Tidak usah turun, Pak ...." kata Melian pada tukang becak yang mengantarnya.


    "Ya .... Ini klenteng tua. Dibangun pada zaman pertama kali orang-orang Cina masuk Juwana .... Dulu sangat ramai dikunjungi orang, tetapi sekarang sepi. Paling ramainya nanti saat Imlek ...." kata Pak Becak yang tahu presis keadaan klenteng.


    "Kalau pas Imlek, ramai Pak?" tanya Ivon.


    "Ya ..., ramai orang pada sembahyang itu .... Sama ada hiburannya barongsai. Anak-anak yang pada nonton. Nanti kalau pas ada Imlek gitu, tukang becak pada ke sini .... Nanti dapat angpao .... Lumayan untuk nempur seminggu." cerita si tukang becak itu.


    "Berarti kalau hari-hari begini sepi ya, Pak ...?" tanya Vanda.


    "Halah .... Orangnya sibuk cari duit .... Tidak ada yang sembahyang di klenteng ...." sahut Pak Becak yang langsung menggenjot becaknya. Menelusuri jalan aspal menuju alun-alun.


    Hanya sebentar. Tidak butuh waktu lama untuk sampai di alun-alun. Namun kondisinya juga sama. Sepi.


    "Nah ..., ini alun-alun Juwana. Tidak seperti Simpang Lima di Semarang .... Sepi ...." kata Pak Becak yang sudah sampai di alun-alun.


    "Ya, lumayan, Pak .... Masih ada orang lari-lari sama bersepedaan." sahut Ivon.

__ADS_1


    "Sini ramainya kalau malam ...." kata Melian.


    "O, iya .... Kalau malam banyak orang jualan, dan banyak pengunjung yang jalan-jalan di sini ...." sahut si tukang becak.


    "Banyak copetnya juga .... Hehehe ...." sahut Melian.


    "Iya .... Kalau jalan-jalan ke sini malam hari, harus hati-hati .... Copet selalu memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan .... Begitu melihat kerumunan orang, copet selalu siap untuk menjalankan aksinya .... Haha ...." kata Pak Becak yang lumayan lucu itu.


    "Ya, nggak disini saja, Pak .... Di pasar juga begitu, di tempat-tempat ramai juga pasti begitu .... Namanya saja copet .... Kita yang harusnya hati-hati dan waspada ...." sahut Ivon.


    "Betul, Nik .... Kalau kita hati-hati, menyimpan dompet atau uang dengan rapi di tempat yang tidak diketahui copet ..., ya ndak bakal kecopetan .... Ini kita berhenti apa tidak, Nik?" tanya tukang becak tersebut.


    "Tidak usah, Pak .... Langsung saja ke rumah ...." sahut Melian.


    "Tidak beli-beli jajan ...?" tanya tukang becak itu lagi.


    "Tidak usah ..., sudah dibelikan Mak-e ...." jawab Melian memastikan.


    "Ooo ..., ya sudah .... Saya langsung tancap gas ...." kata si tukang becak yang langsung melajukan becaknya, menuju rumah Melian di Kampung Naga.


    Hanya sekejap, becak itu sudah masuk ke pelataran rumah Melian. Rumah kuno dengan pelataran yang masih luas.


    "Hooop ...." kata Melian memberi aba-aba tukang becak.


    Lantas tukang becak itu turun, dan mengangkat bagian belakang. Sehingga bagian depan becak menurun, untuk memudahkan penumpangnya turun. Melian, Ivon dan Vanda turun dari becak itu.


    "Nanti sore jalan-jalan lagi, ndak ...?" tanya Pak Becak.


    "Ya tidak lah, Pak .... Kan nanti sore saya sudah pulang ke Semarang ...." jawab Melian sambil menyodorkan uang untuk ongkos becaknya. Pasti dibayar lebih. Itulah kebaikan Melian, makanya sangat dikenal oleh tukang becak maupun tukang ojek dan para penjual makanan. Pemurah dan baik hati.


    "Ini rumah kamu, Mel ...?" tanya teman-temannya.


    "Iya .... Kan tadi malam sudah ke sini ...." jawab Melian pada teman-temannya.


    "Yaampun .... Tadi malam saya tidak bisa melihat bentuk bangunan rumah kamu, Mel .... Kan sudah gelap kita kemari ...." kata si Vanda.


    "Memang kenapa? Kaget ...? Bingung ...? Ada yang aneh ...?" tanya Melian pada teman-temannya yang bengong menyaksikan rumah Melian.


    "Ini rumah kuno, Mel .... Peninggalan engkong buyutmu, ya ...?" tanya Vanda lagi yang tentu heran menyaksikan bangunan kuno itu.


    "Iya .... Makanya tadi Pak Becak kan sudah cerita, kalau Kampung Naga ini dulunya tempat tinggal orang-orang Cina .... Tapi sekarang sudah umum ..., semua suku ada di sini .... Hanya rumah ini yang belum berganti bentuk." kata Melian pada teman-temannya.

__ADS_1


    Dua orang teman Melian itu terbengong. Ngungun dengan bangunan rumah Melian yang sangat kental dengan arsitektur Cina tersebut, yang tentunya sebanding dengan bangunan-bangunan kuno di kota lama.


    "Eeeh ..., kok pada bengong di situ .... Ayo masuk ...!" tiba-tiba ibunya Melian keluar, menyuruh mereka masuk rumah.


__ADS_2