
Seperti yang sudah diduga sebelumnya, dua orang yang sudah mengalami nasib apes itu pasti akan mencari bantuan untuk kembali ke tempat itu. Maka tidak berselang lama, deru suara motor riuh ramai memasuki kawasan kumuh di bantaran Sungai Ciliwung. Ya, pengendara-pengendara motor yang dipimpin oleh dua orang berboncengan dengan mengenakan jaket kulit hitam dan coklat. Dua orang yang sudah merasakan tendangan Melian. Dua orang yang sudah tersungkur saat akan melawan Melian. Mereka datangmembawa teman-temannya. Mereka datang membawa geng rewo-rewo. Kelompok orang-orang jahat, yang anggotanya tentu orang-orang yang tak punya adab.
Ada sekitar sepuluh motor yang semuanya pada berboncengan. Bahkan ada juga yang bonceng tiga. Kebanyakan dari motor-motor itu knalpotnya pada diganti dengan knalpot brong. Suaranya keras memekakkan telinga. Apalagi para pengendara itu menggeber-geber gas motornya. Sehingga sore itu suasana di kampung kumuh daerah bantara Sungai Ciliwung benar-benar seperti ada geger. Seperti konvoi orang-orang yang akan ikut kampanye. Suara motor yang digeber-geber tidak karuan.
Karuan kalau mau kampanye, paling yang dibawa bendera atau atribut partai. Tetapi orang-orang berandal ini bukannya membawa lembaran kain atau bendera, melainkan pada membawa perlengkapan senjata untuk bersiap menyerang musuhnya. Ada yang membawa rantai dengan ujungnya diberi gir yang ditajamkan. Ada yang menyeret besi yang ujungnya diruncingkan. Ada juga yang membawa parang panjang sambil diacung-acungkan ke atas, untuk menakut-takuti orang yang melihatnya. Ada juga yang memutar-putar clurit yang tajam menakutkan. Tentu masih banyak senjata-senjata tajam lainnya yang dibawa geng rewo-rewo ini. Mereka bersiap untuk berperang.
Tak seorang pun penghuni kampung kumuh itu yang keluar dari gubugnya. Mereka pada bersembunyi di gubug masing-masing, serta menutup pintunya. Tentu orang-orang pada mengintip dari celah-celah pagar gubugnya. Dan Pasti orang-orang yang mengintip itu juga takut dan was-was. Khawatir kalau geng rewo-rewo ini akan mengamuk dan membunuh mereka. Karena bagi orang-orang jahat seperti mereka ini, membunuh adalah urusan gampang. Tidak ada hukum yang ditakuti.
Tetapi sebenarnya, meski orang-orang yang tinggal di kampung kumuh ini bersembunyi di dalam gubugnya, mereka sudah bersiap untuk berjaga diri. Mereka sudah melengkapi tangannya dengan memegang balok-balok kayu. Bahkan ada juga yang menggenggam potongan besi. Gampang untuk mendapatkan barang-barang seperti itu di tumpukan rongsoknya. Tetapi tidak ada yang membawa senjata tajam. Sudah dilarang oleh Melian. Sebab kalau menggunakan senjata tajam, nanti akan mengakibatkan luka yang merobek kulit atau daging dan mengeluarkan ceceran darah. Melian tidak ingin ada ceceran darah orang-orang biadab yang mengotori kampung itu. Dan semua menuruti kata-kata yang diucapkan Melian.
Motor-motor itu berhenti di tengah-tengah, berbaris sambil menggeber-geberkan gasnya. Memekakkan telinga. Tentu yang paling depan adalah dua orang dengan jaket kulit yang tadi sudah merasakan tendangan kaki Melian. Motornya digeber kencang. Wajahnya njekaprut mecucu, memperlihatkan kesangarannya. Seakan ia mau mengunyah-kunyah dan menelan orang yang dicarinya. Gadis yang sudah berani melawannya, Melian. Ia tengak-tengok, menoleh ke kanan kiri. Mencari orang yang akan dimangsa.
Tetapi, sudah beberapa menit mereka berhenti sambil menggeber-geber motornya, kampung kumuh yang hanya bertengger gubug-gubug liar itu tetap sepi. Tidak ada orang yang berani keluar. Tidak ada orang yang berani menampakkan dirinya. Semuanya takut dengan geng rewo-rewo yang sudah siap menggempur kampungnya.
Mungkin karena kesal tidak ada orang yang menampakkan diri, tentu orang-orang itu tidak bisa melampiaskan amarahnya. Tiba-tiba saja, laki-laki berjaket kulit itu turun dari motor, lantas membabat-babatkan parang yang dipegangnya. Ia melampiaskan kemarahannya dengan menyabet barang-barang yang ada di sekitarnya. Tentu suaranya gaduh. Karena parang yang dibabatkan ke sembarang arah itu berkali-kali mengenai tumpukan barang rongsokan. Dan ia pun berjalan merangsak akan merusak rumah-rumah gubug itu.
"Ayo ...!!! Keluar semuanya ...!!! Siapa yang berani nglawan gue ...?!!!! Cepat keluar ....!!!!" orang itu berteriak-teriak menantang.
Tetapi saat berjalan akan merusak gubug-gubug, ia kaget. Terkejut bikan kepalang. Tiba-tiba saja, gadis yang tadi sudah menendangnya, sudah berdiri di depannya. Melian sudah menghadangnya. Entah dari mana datangnya gadis itu, laki-laki itu langsung terperangah keheranan. Diam berdiri, kaku memegangi parang di tangan kanannya. Tentu sambil terengah-engah menarik napasnya. Sesaat kemudian, ia sadar bahwa yang dihadapinya itulah gadis yang dicarinya.
"Elo .... Kurang ajar ...!! Rasakan ini ...!!! Hiyaaaa ..........!!!" laki-laki itu langsung membabatkan parangnya ke arah gadis yang berdiri di depannya.
Melian belum membalas, hanya mengelak dari sabetan parang yang dilancarkan oleh laki-laki itu, dengan memiringkan badannya ke kanan dan ke kiri.
"Hiya .....!!! Hiya ......!!! Hiya .....!!!" laki-laki itu terus membabatkan pedangnya.
"Terus, Bro ....!!! Jangan kasih ampun ....!!!" teman-temannya memberi semangat.
"Kenakan parangnya .... Bacok saja ....!!!" seru yang lain.
"Bunuh saja ....!!!!"
"Cepetan habisin ...!!! Biar cepat beres ....!!!"
"Hiya .....!!! Hiya ......!!!" lagi-lagi, orang itu terus membabatkan pedangnya ke arah Melian. Tentu ingin melukai Melian.
Namun sudah beberapa kali laki-laki itu menebaskan senjatanya, kenyataannya parang itu tidak pernah mengenai tubuh Melian. Pasti laki-laki itu menjadi jengkel. Dan pastinya, emosinya semakin memincak. Apalagi disaksikan oleh sekitar dua puluh lima orang anggota gengnya, tentu ia akan malu bila tidak bisa mengalahkan perempuan lemah itu. Maka gerakannya semakin membabi buta, menghantamkan parangnya secara ngawur, membabat ke segala arah. Dan pasti tidak ada yang tepat sasaran. Dan yang jelas, laki-laki itu sudah kelelahan dengan sendirinya. Lama-lama gerakannya menjadi lamban, pertanda sudah tidak kuat lagi untuk menggerakkan tubuhnya.
__ADS_1
Dan di saat itulah, saat laki-laki itu lengah, kaki Melian sudah melayang, tepat mengenai dagu laki-laki yang memegang parang tersebut.
"Gelabroughtk ......!!"
Laki-laki itu tersungkur jatuh menubruk motornya. Hingga motor itu roboh tertimpa tubuhnya. Temannya yang masih berada di atas motor, ikut terpelanting ke tanah.
"Wadaouw .....!!" laki-laki itu menjeris kesakitan, pipinya sudah menempel di knalpot. Tentu langsung mlonyos terkena knalpot yang panasnya bukan main itu.
Teman-temannya yang lain langsung membantu dua orang yang jatuh itu. Sedangkan beberapa orang temannya yang lain sudah maju dengan mengacungkan senjata tajamnya, maju bersama-sama mengeroyok gadis cantik yang sudah merobohkan temannya.
"Majuuuu .........!!!"
"Seraaaaang .........!!!"
Berbeda dengan tadi, kini Melian sudah siap untuk melawan. Melian tidak mau berlama-lama membiarkan para berandal ini menginjkak-injak tanah yang bukan wewenangnya. Melian langsung mengepalkan tangannya. Wajahnya langsung memerah. Matanya menyorot tajam memandangi musuh-musuhnya. Tiba-tiba saja, sebersit cahaya merah keluar dari kepalan tangannya. Dan cahaya merah yang hanya selebar pita rambut, ikut berkelebat dengan dirinya. Melian melompat naik turun, ke kanan dan ke kiri. Bahkan juga menendang dengan memutarkan kakinya, yang seakan kaki itu seperti baling-baling yang yang berputar kencang. Demikian juga tangannya yang bergerak cepat melayangkan pukulan-pukulannya. Keras dan menyakitkan.
Cahaya merah yang ikut berkelebat itu, seakan sudah berubah menjadi kilatan-kilatan cahaya yang menyambar-sambar kian kemari. Kilatan cahaya merah itu sudah berbaur dengan bayangan Melian, ikut menghantam para penjahat yang berani mendekat ke tubuh Melian.
Sekitar dua puluh lima orang begundal itu kewalahan melawan satu orang gadis yang terlihat lemah. Senjata mereka yang disabetkan untuk melukai lawan, kenyataannya justru menghantam dan mengenai temannya sendiri.
Dan disaat para pengeroyok itu sudah mengepung Melian, tiba-tiba saja ....
Seketika itu, para pengeroyoknya kalang kabut tersapu oleh tendangan kaki Melian. Yang tubuhnya terkena tendangan, langsung terlempar dan jatuh berguling-guling. Sedangkan pukulun tangan Melian yang mengenai tanah, seakan menggetarkan tanah yang diinjak oleh para pengeroyok itu. Bahkan angin yang keluar dari pukulan tangan itu, menyebabkan cahaya merah berubah menjadi gelombang yang menghantam orang-orang jahat yang berada di sekeliling Melian tersebut. Orang-orang itu pun terhentak dan terjengkang berjatuhan.
"Habisiiii ......!!!!" Melian berteriak.
Seketika itu, orang-orang penghuni bantaran Sungai Ciliwung itu pada keluar dari persembunyiannya, keluar dari gubug-gubugnya.
"Serbuuuuu .........!!!!" orang-orang itu pada berteriak. Ada yang membawa potongan bambu, ada yang membawa potongan kayu, bahkan juga ada yang membawa besi barang-barang rongsokannya. Mereka langsung menyerang orang-orang dari kelompok geng rewo-rewo yang pada bergelimpangan di tanah itu. Ada yang memukul tubuhnya, ada yang memukul punggungnya, bahkan ada juga yang diinjak-injak oleh para warga kampung kumuh itu. Tentu mereka bertambah kesakitan.
"Wadauuu ....!!!"
"Ampun .....!!"
"Tolooonggg .....!!"
"Ayo lari .....!!!"
__ADS_1
Akhirnya, beberapa orang yang dengan merintih kesakitan, pada melarikan diri. Demikian juga yang masih bis meraih motornya, mereka mencoba menaiki motornya, melaju meninggalkan tempat itu. Berusaha untuk menyelamatkan diri. Berusaha untuk menghindar dari hajaran dan keroyokan kelompok para pemulung itu. Tetapi banyak yang berlari begitu saja, tidak berani mengambil motornya.
Melian sudah memperkirakan, kalau para pecundang itu pasti akan melarikan diri. Saat para warga memukuli orang-orang yang akan merusak kampungnya itu, Melian sudah berpindah tempat. Ia menghadang jalan para gengster itu. Dan dugaan itu benar. Mereka yang sanggup berlari, langsung berusaha menyelamatkan diri, meninggalkan tempat yang masih geger itu.
Rupanya Melian kali ini tidak akan memberi ampun. Ia akan menghajar sampai habis anggota geng rewo-rewo itu. Maka anggota geng yang berlari itu, satu persatu dihadang dengan tendangan Melian. Kali ini tendangan yang cukup kuat. Tidak hanya menjatuhkan orang yang berlari saja, tetapi orang-orang yang mendapatkan tendangan itu langsung melayang dan ambyur masuk ke dalam Sungai Ciliwung.
"Byuuurrrr .....!!!"
"Pyoook ....!!"
"Byuuurrrr .....!!!"
"Glabrught ....!!"
Dan yang lebih parah, para gengster yang bisa membawa motornya, yang berhasil naik motor meninggalkan tempat itu, setelah sampai di depan Melian, orang-orang itu juga tidak luput dari tendangan. Melian tidak menendang orangnya. Tetapi menendang roda belakang motornya. Dan tentu motor itu langsung mencelat tidak karuan, yang akhirnya juga membawa penumpangnya masuk ke dalam sungai. Yang mengendarai motor, jatuh ke sungai dan tertimpa motornya. Ada lima motor yang masuk ke sungai.
"Cik ..... Yang ini bagaimana ...?!" tanya beberapa orang yang masih menjaga tiga orang tak berdaya tergeletak di tanah. Mukanya babak benjut dipukuli oleh warga.
"Diangkat .... Lemparkan ke sungai ....!" kata Melian.
Orang-orang pun langsung beramai-ramai mangengkat tiga orang yang sudah tak berdaya, lantas dilemparkan ke sungai.
"Byuuurrrr .....!!!"
"Byuuurrrr .....!!!"
"Byuuurrrr .....!!!"
"Horeeeee ......!!!" orang-orang langsung bersorak sorai menyaksikan kelompok geng begundal yang sudah pada kelepekan di sungai. Beberapa orang anggota geng itu berusaha menolong temannya yang tidak bisa berenang, bahkan juga tidak bisa bergerak karena kakinya remuk dipukuli para warga. mereka berusaha menepi, tetapi di seberang yang berlawanan. Tentu sudah ketakutan mau naik lagi melewati tanggul yang masih benyak orang menunggu di atas. Bahkan motornya yang masuk ke dalam sungai ditinggalkan begitu saja. Pasti kesulitan untuk mendorong atau mengangkatnya.
"Cik ..., lha ini motornya yang ditinggal bagaimana?" tanya beberapa warga.
"Ambil saja .... Anggap saja ini menjadi barang rampasan kalian. Kalau tidak mau pakai, anggap saja ini sebagai rongsokan." kata Melian.
"Terima kasih, Cik ...."
"Kamsia, Cik ...."
__ADS_1
"Nah .... Ini bukti bagi kalian semua .... Kalau kita mau bersatu, bersama-sama melawan para penjahat itu, pasti kita akan kuat dan menang." Begitu kata Melian kepada orang-orang dari kelompok para pemulung di bantaran Sungai Ciliwung.