
Siang itu ada empat orang yang berboncengan dengan mengendarai dua sepeda motor, datang ke rumah orang tua Irul, di dusun Babagan. Empat orang yang saling berboncengan motor tersebut, langsung memasukan motor yang dikendarainya ke halaman rumah orang tua Irul. Kemudian mereka turun, dan tentunya langsung menuju ke teras, masih di depan pintu dan mengetuk rumah orang tua Irul tersebut.
"Kulonuwun ...!! Kulonuwun ...." begitu kata empat orang itu memberi salam kepada pemilik rumah, yang semuanya sudah berdiri di teras di depan pintu rumah orang tua Irul yang masih tertutup.
Sebentar kemudian terdengar suara dari dalam rumah yang tertutup tersebut.
"Monggo .... Sebentar ...." ibunya Irul keluar membukakan pintu rumah itu. Tentu ibunya Irul kaget, karena di depan pintu rumahnya ada empat orang laki-laki dengan tubuh yang gagah-gagah, berdiri di depan pintu dan langsung menghadapi ibu tua itu.
"Ada apa ya, Pak ..., Ma ...? Sampetan itu siapa dan ada perlu apa ...? Ini kok membikin saya jadi deg-degan." kata ibunya Irul yang menanyai keempat orang yang datang di rumahnya itu.
"Maaf, Bu .... Kedatangan kami sudah mengagetkan dan mengganggu Ibu .... Kami ini warga dari Dusun Pancur .... Terus terang Dusun Pancur tempat kami tinggal, saat ini sedang mengalami prahara, dusun kami sedang mengalami bencana. Oleh sebab itulah, kami berempat diutus oleh para warga dusun, disuruh oleh para sesepuh untuk datang ke tempat ini, untuk menemui orang yang dulu pernah kami tolong, orang yang dulu pernah kami antarkan ke rumah ini ...." kata orang yang terlihat paling tua diantara empat orang itu. Pastinya ia yang disuruh untuk mewakili warga kampungnya, mencari bantuan.
"Walah .... Siapa ya? Di sini tidak ada dukun ...." sahut ibunya Irul, yang tentu sudah langsung mengarah kepada dukun. Maklum, orang desa, jika ada masalah, biasanya larinya ke dukun.
'Kami lupa namanya .... Sekitar empat tahun yang lalu kami mengantarkan laki-laki muda dan perempuan cantik berkulit putih dan matanya sipit, pulang ke rumah ini ...." begitu kata empat orang laki-laki yang berdiri di depan pintu rumah orang tua Irul itu.
"Aduh .... Siapa, ya ...? Apa Irul dan si Indra ya ...? Kalau perempuan keturunan Cina, itu menantu saya, dulu istrinya Irul, tetapi dia sedah lama meninggal ...." kata ibunya Irul.
"Inalillahi .... Lha kalau yang laki-lakinya, yang jadi dukun ...?" tanya orang itu lagi.
"Walah ..., kok dukun .... Anak saya bukan dukun .... Sebentar, orang yang dimaksud itu ciri-cirinya bagaimana?" tanya ibunya Irul kepada empat lelaki yang berdiri di hadapannya, dan tentu ibunya Irul yang seorang diri di rumah, tidak berani menyuruh empat orang itu masuk maupun duduk di kursi tamunya. Takut kalau mereka itu rampok. Ia ingat, menantunya dulu meninggal gara-gara dibacok-bacok oleh perampok.
"Begini, Bu .... Kejadian itu sudah sangat lama .... Waktu itu kami menemukan dua orang itu. Yang satu laki-laki masih muda, dan yang satu lagi perempuan keturunan Cina. Dia berada di atas makam Gunung Bugel. Ya, waktu itu memang keadaan di puncak Gunung Bugel dalam keadaan yang aneh, dalam keadaan yang menakutkan. Di puncak Gunung Bugel terdapat cahaya semacam ndaru. Cahaya ungu yang menyelimuti puncak pemakaman. Pagi harinya, kami warga dari Dusun Pancur, menemukan dua orang itu, ya ..., laki-laki dan perempuan itu yang berada di puncak Gunung Bugel. Yang laki-laki, dia sedang melakukan pertapaan. Pastilah laki-laki ini orang yang sakti. Sebut saja dia pasti dukun hebat. Kami menemukannya orang yang bertapa itu menempel pada batang pohon beringin. Lantas kami bersama warga menolong menurunkan dua orang itu. Lantas, ya kami ini, sama saya, yang memboncengkan dua orang itu ke rumah ini. Tetapi kami lupa dengan namanya. Yang jelas kami mengantarkannya ke rumah ini, Bu .... Betrul, kami yang memboncengkannya kemari, karena katanya rumahnya yang ia tunjukkan ya rumah ini. Makanya saat ini, ketika di kampung kami sedang mengalami bencana, sedang mengalami musibah kekeringan, kami percaya orang yang dulu bertapa di puncak Gunung Bugel itu mampu menyelesaikan permasalahan kampung kami. Orang itu saya Kami anggap adalah orang yang punya kekuatan supranatural, dia pasti dukun sakti, dan pasti bisa menolong kekacauan di kampung kami." begitu jelas salah satu dari empat orang yang mengendarai motor yang mengaku dulu pernah mengantarkan orang yang ditemukan di puncak Gunung Bugel tersebut.
__ADS_1
"Walah .... Itu pasti Irul dan Melian ...." kata ibunya Irul, yang tentunya teringat kala itu Irul dan Melian bilang kalau dia ditolong orang, diantarkan orang, diboncengkan kendaraan ketika mereka pulang dari nyekar di tempat makam ibunya Melian. Tetapi Irul tidak pernah bercerita kalau dirinya waktu itu bertapa di puncak Gunung Bugel. Apakah benar yang dimaksud itu memang Irul? Atau mungkin ada orang lain yang dimaksud sebagai dukun oleh empat orang itu.
"Coba ya, nanti saya panggilkan anak saya dulu. Kalau memang benar orang yang kalian maksud itu anak saya yang bernama Irul, biar nanti sampeyan bicara sendiri sama Irul .... Saya tidak mudeng itu." begitu kata ibunya Irul, yang kemudian tentu mengangkat telepon untuk memanggil anaknya.
"Nggih, Bu ...." jawab empat orang yang sabar menanti. Tentu mereka juga saling pandang, kenapa ibunya sendiri tidak bilang kalau anaknya itu dukun?
"Halo, Irul ...." kata ibunya yang menelepon Irul. Tentu ibunya Irul juga sudah fasih menelepon anak-anaknya. Ia sudah diberi HP agar bisa menghubungi anak-anaknya. Karena memang, mereka sudah mampu dan memiliki harta yang berkecukupan maka di rumahnya pun Irul menyediakan HP untuk ibunya ataupun bapaknya. Kalau sewaktu-waktu mereka ada kepentingan yang mendadak, maka tinggal memencet telepon saja untuk memanggil anak-anaknya. Ya, karena semua anaknya dan menantunya serta cucu-cucunya, sekarang berada di tokonya Irul. Mereka semuanya bekerja mengelola tokonya Irul, sehingga tidak ada yang di rumah selain ibunya sendirian yang mengurusi rumahnya. Sedangkan bapaknya Irul masih saja selalu pergi ke ladang untuk mencangkul atau mengurusi tanamannya. Katanya kalau tidak pergi ke ladang, tubuhnya malah terasa sakit semua.
"Iya .., Bu .... Ada apa ...? jawab Irul dalam telepon. Ya, waktu itu Irul masih berada di rumah Engkong. Tentu masih bersama dengan Melian, Jamil dan Juminem. Mereka masih sibuk mencari silsilah dari keturunan Melian. Mereka masih mengamati foto-foto yang ada di dalam album keluarganya Melian.
"Ini, lho ..., Irul .... Di rumah ada tamu yang mencari orang, katanya dia itu pernah menolong kamu mengantar kamu dari pemakaman Gunung Bugel, yang memboncengkan kamu ke sini .... Coba kamu cepat pulang sebentar .... Siapa tahu orang ini kenal kamu. Saya tidak paham yang mereka maksud, makanya biar mereka ketemu sendiri sama kamu ...." begitu kata ibunya di dalam telepon.
"Iya, Bu ..., sebentar saya akan pulang ...." begitu jawab Irul yang kemudian mematikan teleponnya. Pasti Irul akan segera datang karena ada orang yang mencarinya.
Dan setelah Irul masuk ke halaman rumahnya, tiba-tiba saja empat orang itu langsung menyebutnya.
"Ya, benar .... Ini orangnya .... Ya betul, ini orang yang pernah kita tolong dulu. Ya ..., ini orang yang dulu pernah melakukan pertapaan di puncak Gunung Bugel." begitu kata orang-orang itu, yang tentu sangat gembira ketika melihat kedatangan Irul. Mereka memang mencari Irul untuk meminta pertolongan. Mereka pun langsung menyalami Irul, bahkan sampai mencium tangannya, sebagai pertanda sangat menghormat kepada Irul.
"Bapak-bapak ..., ini ada apa, ya ...?" tanya Irul kepada empat orang itu, yang tentunya ingin tahu maksud kedatangan mereka.
"Begini, Mas Irul .... Kampung kami saat ini sedang mengalami bencana kekeringan. Padahal di kampung kami ini, selama ini tidak pernah mengalami permasalahan air. Kampung kami tidak pernah mengalami kekurangan air. Jangankan sampai kekeringa, kampung kami sangat berlimpah dengan air, air mengalir di mana-mana. Makanya di tempat kami ini dinamakan Dusun Pancur, karena di sana ada air selalu mengalir. Tetapi sudah hampir setahun ini, di tempat kami semua sumber air mengalami kekeringan. Sumber air semuanya mati. Bahkan yang namanya pancuran yang ada di tempat kami, itu benar-benar sudah tidak meneteskan air sama sekali. Terus terang kampung kami saat ini sedang mengalami bencana kekeringan, Mas .... Oleh sebab itulah, kami mau minta tolong kepada Mas Irul bisa membantu kami memecahkan akar permasalahan yang terdapat di kampung kami." begitu kata orang yang paling tua, yang mungkin ditunjuk untuk mewakili warganya.
"Saya kok jadi bingung ....? Kenapa harus saya yang diminta membantu? Saya itu tidak tahu apa-apa .... Saya itu manusia biasa .... saya itu orang lumrah .... Saya bukan dukun .... Saya bukan orang pintar .... Saya tidak bisa membantu bapak-bapak semuanya ...." begitu jawab Irul yang tentunya mengatakan kalau dirinya tidak sanggup untuk membantu. Karena Irul memang tidak pernah merasa dirinya bisa melakukan sesuatu yang seperti diharapkan oleh warga dari dusun tersebut.
__ADS_1
"Tetapi, Mas Irul .... Kemarin dari hasil rapat para sesepuh, dari para orang tua kampung, dari para orang yang dianggap pintar itu mengatakan kalau yang sanggup menolong dusun kami, orang yang sanggup membantu warga kami adalah orang yang dulu pernah bertapa di puncak Gunung Bugel. Dan kami sudah membantu orang yang dulu pernah kami temukan di puncak bukit Gunung Bugel itu. Dari pemikiran mata batin yang dilakukan oleh orang-orang para tetua dan para sesepuh kampung itu, mengatakan bahwa orang yang pernah bertapa di puncak Gunung Bugel itu adalah orang yang sanggup mengurai permasalahan di kampung kami. Dan orang itu, pernah kami antar ke rumah ini. Ya sampeyan itu, Mas Irul. Makanya kami datang kemari untuk meminta bantuan kepada Mas Irul ...." begitu penjelasan orang yang mewakili keempat orang tadi.
Irul terdiam. Ia bingung. Ia tidak bisa menjawab apa-apa. Ia juga tidak mungkin akan melakukan hal-hal yang memang ia tidak sanggup untuk melakukannya. Dan tentu Irul tidak mau berbohong, tidak ingin menjadi dukun palsu, tidak ingin tidak jujur kepada warga yang pernah menolongnya.
"Mas Irul, mungkin kita harus ke sana, Mas .... Mungkin kita harus melihat apa sebenarnya yang terjadi di Dusun Pancur itu. Siapa tahu nanti kita bisa memecahkan masalah, setelah mengetahui persoalannya." begitu tiba-tiba Melian berkata kepada Irul.
"Tapi ini masalah yang rumit, Melian .... Ini masalah kekuasaan yang di atas sana ...." sahut Irul yang tentu sangat ragu-ragu.
"Mas Irul .... Kita tidak mungkin sanggup mengurai permasalahan ini. Yang namanya bencana kekeringan itu memang merupakan faktor alam. Kita memang tidak mungkin bisa melawan kehendak dari Yang Kuasa, tetapi kita sebagai manusia yang diberi akal dan pikiran, mesti berusaha untuk menyelesaikan permasalahan itu .... Maju tidaknya suatu kampung, itu tergantung dari usaha masyarakat di situ yang niat untuk merubah kampungnya. Demikian juga dengan masalah kekeringan ini, Mas Irul .... Saya yakin, pasti ada hikmah dibalik musibah ...." kata Melian yang memberi penjelasan sepintas tentang bencana kekeringan yang dialami di kampung Pancur tersebut. Itulah pemikiran seorang sarjana yang menjadi lulusan terbaik dan tercepat di universitasnya.
Irul terdiam, merenungi kata-kata Melian. Benar juga kata-kata Melian. Untuk memajukan suatu kampung, memang dibutuhkan pemikir-pemikir yang mau merubah kampung itu. Dan tentunya Irul tidak meragukan Melian. Kenyataannya, ia sanggup menata pemukiman para pemulung yang tadinya kumuh, dan disulap menjadi Kampung Transformer, yang artinya kampung yang sudah berubah total.
"Ya .... Mungkin alangkah baiknya kalau kita melihat ke sana. Kita mencoba mencari, ada masalah apa sebenarnya, seperti apa kekeringan yang dialami itu, bahkan mungkin juga kita bisa melihat di lingkungan sekitarnya. Siapa tahu di situ masih ada sumber air yang bisa membantu kehidupan masyarakat di kampung Pancur." begitu kata Irul yang memberi harapan kepada keempat orang yang mendatanginya itu.
Akhirnya, Irul dan Melian bersama empat orang tamunya dari Dusun Pancur itu, berangkat menuju Dusun Pancur. Melian membonceng Irul, mengikuti keempat orang yang mengajaknya, dan sudah melajukan motornya di depan. Irul mengikuti dua motor itu, berjalan beriringan bersama untuk datang ke Dusun Pancur.
Sanggupkah Irul membantu memecahkan masalah kekeringan di Dusun Pancur? Benarkah anggapan orang-orang kampung itu tentang Irul yang dianggapnya sebagai penolong Dusun Pancur?
--------
Ikuti episode terakhir "GELANG GIOK BERUKIR NAGA"
Jangan lupa, untuk mengikuti kisah mistis berikutnya: PULAU BERHALA, Kisah tentang keserakahan manusia untuk memperoleh harta benda dan kekayaan dengan mengabdi kepada BERHALA.
__ADS_1