
Ternyata pembeli-pembeli asing itu bukan hanya sekadar wisatawan manca yang belanja untuk souvenir. Namun ia justru berbelanja untuk dijual lagi di negaranya. Gampangnya, orang menyebut ekspor impor. Ya, membeli barang-barang dari Indonesia untuk dibawa ke negerinya, di Eropa. Karena ternyata orang-orang asing yang berdatangan ke Jepara untuk belanja mebel ukir, atau yang ke toko Jamil untuk memborong kerajinan kuningan itu ada yang berasal dari Jerman, Spanyol dan Perancis.
Rupa-rpanya, orang-orang asing ini adalah orang yang memanfaatkan kesempatan dalam krismon, untuk membeli barang-barang dari Indonesia dengan harga murah. Tentu karena nilai tukar mata uang mereka jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan rupiah. Kalau satu dolar bisa ditukar dengan lima belas ribu rupiah, maka hanya dengan membawa satu lembar uang seribu dolar saja, mereka bisa mendapat nilai tukar sebesar lima belas juta rupiah. Tentu dengan uang sebanyak itu ia bisa belanja barang dalam jumlah yang cukup banyak.
Itulah sebabnya, saat krismon barang-barang kerajinan ukir dari Jepara langsung diborong oleh para eksportir, untuk dikirim ke Eropa dan Amerika. Termasuk yang mendapatkan pembelian besar-besaran itu adalah kerajinan kuningan yang diproduksi oleh perusahaannya Jamil.
Seperti yang diharapkan oleh Jamil, orang-orang asing itu bersedia datang ke outletnya agar bisa melihat semua produk yang dihasilkan. Karena kalau hanya melihat barang yang dibawa, saat ke bos ukir di Jepara, pasti tidak komplit, tidak lengkap. Tetapi kalau bisa melihat di outlet dan di gudang, pasti sangat lengkap dan sangat banyak jenisnya. Tidak hanya asesoris wanita, tetapi juga hiasan-hiasan rumah dan aneka perabot rumah tangga lainnya.
Harapan Jamil pun menjadi kenyataan. Setelah para calon pembeli asing itu tiba di tempat usaha Jamil, mereka langsung terlihat senang. Kini giliran Mbak Ika, penjaga outlet kerajinan kuningan itu yang harus sibuk mengeluarkan barang-barangnya. Pasti untuk diperlihatkan kepada calon pembelinya.
Seperti yang dipesankan oleh bos ukir tadi, Jamil meminta tolong Pak Jumari, guru bahasa Inggris SMP negeri, untuk mengartikan dan menerjemahkan, serta membantu bicara kepada para calon pembelinya yang berasal dari luar negeri tersebut. Makanya, kini Pak Jumari bersama Jamil mendampingi tiga orang pembeli asing tersebut.
"Where are the other items?" tanya pembeli itu.
Pak Jumari langsung menyampaikan kepada Jamil, menanyakan barang-barang yang lain. Jamil pun langsung menunjukkan barang-barang itu yang ada di gudang.
"It's in the warehouse.... Please have a look." kata Pak Jumari yang langsung mengajak para pembeli itu mengikuti Jamil yang sudah menuju tempat penyimpanan barang-barang hasil produksi.
"Only this much?" tanya calon pembeli itu pada Pak Jumari.
"This is what's in the warehouse, the other items haven't been packaged yet. Take a look at the stuff." kata Pak Jumari yang menjelaskan kalau barang yang lain belum dipacking. Lantas ia menunjukkan ke tumpukan barang yang belum dikemas tersebut.
Tentu tiga orang asing itu senang melihat barang-barang yang cukup banyak. Dan pasti ia sangat berminat untuk membelinya. Lantas mereka pun langsung mengambil barang-barang yang dipilihnya.
Para karyawan langsung sibuk membantu para bule itu, mengambil barang-barang kerajinan kuningan yang masih menumpuk. Pasti karyawan-karyawan ini juga senang, karena kalau barangnya banyak yang laku, pasti mereka akan bayaran.
"I want to buy these items. But I ask for things to be packed in nice cardboard boxes. Because this I will send to my country." kata para bule itu meminta agar kemasan barangnya bagus karena akan dikirim ke negaranya.
"No problem, we'll pack it in a safe box." kata Pak Jumari yang tentu sangat meyakinkan.
"OK, I agree ...." kata para bule itu menyetujui.
"All right, please have a seat in the living room. We will calculate the price." kata Pak Jumari yang mengajak tamunya duduk di ruang tamu, sambil menunggu hitung-hitungan harga yang harus dibayar.
"Bagaimana, Pak Jumari?" tanya Jamil yang memang tidak tahu apa-apa yang dibicarakan oleh orang-orang tadi.
"Ini para pembeli sudah memilih barang-barang, tetapi minta dikemas dalam kotak yang bagus, agar tidak rusak saat dibawa ke negaranya." kata Pak Jumari pada Jamil.
"Tentu, Pak .... Akan kami packing dengan kardus tebal." jawab Jamil yang langsung menyuruh para karyawannya untuk membantu Mbak Sri melakukan pengemaran. Jamil juga menyuruh Mbak Ika untuk menghitung jumlah barang dan harganya.
__ADS_1
Di meja tamu, sudah disiapkan minuman air mineral dan wedang cemuoi, minuman khas ala Juwana, serta camilan ala kadarnya. Tentu untuk menunggu waktu.
Pak Jumari yang menemani di ruang tamu itu mengajak ngobrol. Meski tidak selihai orang-orang barat, tetapi setidaknya Pak Jumari tahu maksud yang dibicarakan oleh tamunya, dan juga bisa menjawab atau menjelaskan. Setidaknya Pak Jumari bisa tahu asal para tamu manca negara tersebut.
Kini yang sibuk adalah Mbak Ika, yang harus mengetik nama barang-barang yang dipilih oleh pembelinya itu ke dalam alat hitung, memasukkan harganya satu persatu, serta menghitung jumlah barangnya. Nanti di situ akan muncul jumlah uang yang harus dibayar. Mesin kasir yang cukup bagus waktu itu.
Namun yang tidak kalah sibuk adalah Mbak Sri dan seluruh karyawan lain, yang harus bekerja cepat untuk mengepak barang-barang yang dibeli itu ke dalam kardus. Beruntung kardus dan plastik bantalan udara tinggalan bos lama masih cukup banyak.
Jamil mengatur para karyawannya itu, terutama dalam pengepakan. Ia memastikan kalau barang-barang yang dibungkus kardus itu dalam posisi yang baik dan benar. Dan tentu untuk pengepakan yang mau dibawa ke luar negeri itu harus dibungkusdengan plastik bantalan udara. Tentu agar barang yang dikemas tidak bergerak dan aman. Dan setelah barang yang kecil-kecil dipak, selanjutnya ditata ke dalam kotak kardus besar. Lantas di luar kotak kardus itu ditulisi nama barang dan jumlahnya.
Lantas Jamil mengatur karyawannya untuk mengangkat dan menata di mobil box yang nanti akan dibawa ke Jepara, ke tempat para pembeli asing itu tinggal sementara. Tentu harus hati-hati dan ditata secara rapi, agar nanti dalam perjalanan tidak rusak. Jamil yang sudah pernah ikut mengantar barang saat jadi karyawan dahulu, tentu kini sudah bisa menata barang secara baik dan cepat. Yang pasti pengalaman-pengalamannya dulu bisa dijadikan ilmu yang bermanfaat.
Akhirnya, hingga matahari lengser ke arah barat, semua barang yang dibeli oleh orang asing itu sudah selesai dimasukkan ke mobil box yang siap berangkat mengantar.
"Mas Tarno sama Soleh, ditambah satu orang lagim siapa yang mau ikut, nanti langsung mengantar barang ini ke Jepara, ke rimah singgah pelanggan." kata Jamil yang meminta kepada Mas Tarno dan Soleh untuk mengantar barang.
"Ya, Pak .... Siap ...." jawab sopir box itu.
"Hati-hati, jangan sampai barangnya kocar-kacir .... Nanti pelanggannya bisa marah ...." pesan Jamil.
"Iya, Pak ...." jawab Mas Tarno yang pasti akan menjalankan pekerjaan secara baik.
"Ini, Pak .... Rincian barang dan jumlah harganya." kata Mbak Ika yang menyerahkan kertas nota pembelian, ada beberapa lembar jumlahnya. Tentu bagi Mbak Ika, ini adalah pembelian barang terbesar selama ia bekerja di kerajinan kuningan tersebut. Tidak hanya jumlah barangnya yang banyak, bahkan jumlah uangnya juga sangat besar.
"Iya, Mbak Ika .... Terima kasih." Kata Jamil yang menerima rincian pesanan.
Tentu Jamil bingung, bagaimana cara menyampaikan kepada pembelinya. Maka ia langsung menempel ke Pak Jumari, guru bahasa Inggris tersebut.
"Pak Jumari, ini nota pembeliannya, bagaimana cara menyampaikan?" kata Jamil pada Pak Jumari.
"Sini ..., saya yang menyampaikan ...." kata Pak Jumari sambil meminta nota.
Lantas Pak Jumari yang sudah memegang nota catatan barang pembelian itu menyampaikan kepada tiga orang bule yang memborong barang-barang kerajinan kuningan milik Jamil tersebut.
"Sir, here is the shopping receipt.... This is the name of the item and the quantity.... Here's the price. And ..., this is the total price." kata Pak Jumari yang menyampaikan nota itu dan menjelaskan nama barang serta harga dan jumlah keseluruhan yang harus dibayar.
"OK .... How should I pay? Can I transfer the money?" tanya bule yang menerima nota tersebut.
Pak Jumari langsung menoleh ke Jamil, lantas bertanya, "Membayarnya bagaimana? Bisa ditransfer atau bayar tunai?"
__ADS_1
"Transfer itu apa, Pak ...?" tanya Jamil yang tidak paham tentang transfer.
"Transfer itu pembayaran di kirim ke rekening bank .... Berarti uangnya langsung masuk ke rekening." kata Pak Jumari yang menjelaskan tentang cara pembayaran transfer.
"Walah .... Saya belum punya rekening, Pak Jumari .... Bayar kontan saja, uang langsung." kata Jamil yang memang masih buta tentang perbankan.
Lantas Pak Jumari menyampaikan ke pembeli, "Sir, he's the owner of the shop asking for payment in cash."
"OK .... We will pay it in cash." sahut bule itu, lantas salah satu dari mereka membuka tas yang dari tadi dipangkunya. Ia mengeluarkan uang untuk membayarnya. Uang itu masih diikat dengan kertas bank. Warnanya biru semua. Gambar Pak Harto mesem, uang terbesar kala itu. Setumpukan uang itu sudah ditaruh di atas meja.
"Ini uangnya, Pak Jamil .... Tolong dihitung ...." kata Pak Jumari kepada Jamil.
"Mbak Ika .... Tolong uangnya dihitung ...." Jamil ganti menyuruh Ika, perempuan muda yang melayani penjualan.
"Ya, Pak ...." jawab Ika yang langsung menuju meja itu, dan menghitung uang setumpuk banyaknya.
Mbak Ika menghitu setiap bongkoknya, yang jumlahnya dalam setiap ikatan yang terbuat dari kertas dan ada cap bank itu ada seratus lembar. Sehingga setiap ikatan itu totalnya ada lima juta rupiah. Jika angka yang tertera di nota mencapai hampir seratus juta, berarti ikatan uang itu ada dua puluh bendel.
Tentu untuk menghitung jumlah uang sebanyak tumpukan itu, jika dilakukan oleh Mbak Ika sendirian akan sangat lama. Itulah mengapa di bank untuk menghitung uang cukup dilakukan dengan mesin hitung. Maka Pak Jumari langsung ikut membantu menghitung, biar cepat selesai.
"Sudah genap jumlahnya, Pak .... Ini ada sembilan belas bendel, dan yang ini satu bendel dikurang sepuluh lembar, sisa pembayaran. Jadi jumlah totalnya ada sembilan puluh sembilan juta lima ratus ribu rupiah. Ini yang sepuluh lembar saya kembalikan ke pembeli." Kata Mbak Ika yang sudah menghitung dan dibantu oleh Pak Jumari itu. Ya, jumlah uang yang sangat banyak pada masa itu, setidaknya bisa digunakan untuk membeli dua mobil bagus.
"There's still some money left in the payment." kata Pak Jumari kepada bile yang memangku tas berisi uang untuk pembayaran tadi, sambil memberikan kembali uang sisa pembayaran.
"Ok, thank you. The rest of this money is for you, because it has helped us in communicating." kata bule yang menerima kembalian itu, tetapi langsung diberikan kepada Pak Jumari, sebagai ucapan terima kasih dari para pembeli asing tersebut, karena sudah membantu bicara.
"Ya, Allah .... Maturnuwun ya, Allah .... Thank you sir .... Thank you sir .... Please come again ...." kata Pak Jumari sambil menyalami bule-bule itu. Tentu Pak Jumari sangat senang diberi uang lima ratus ribu. Bayarannya satu bulan sebagai pegawai negeri saja hanya tiga ratus delapan puluh ribu. Makanya Pak Jumari sangat gembira dan berharap pembeli-pembeli asing itu akan datang berbelanja lagi.
Setelah beres semuanya, para pembeli dari manca negara tersebut berpamitan pulang, dan mengatakan kapan-kapan akan datang kemari lagi untuk membeli barang kerajinannya lebih banyak lagi. Dan tidak lupa, mereka meminta nomor telepon toko.
Sungguh luar biasa hari itu. Jamil mendapat rezeki yang sangat besar dari dampak krismon. Ia mendapat untung besar. Demikian juga Pak Jumari, guru bahasa Inggris yang hanya sekadar mendampingi orang asing belanja, juga dapat rezaki yang luar biasa besarnya. Tidak hanya dari orang bule tadi, Jamil juga memberi tiga lembar uang kopi untuk Pak Guru.
Jamil bahagia, bisa membayar para karyawannya. Tidak hanya membayar gaji yang kurang, tetapi juga memberi bonus kepada para karyawannya. Tentu, para karyawan juga bahagia dan lebih semangat dalam bekerja.
"Pak Jamil ..., tolong segera buka rekining di bank. Untuk mempermudah proses transaksi jual beli ...." kata Pak Guru Jumari kepada Jamil, saat akan meninggalkan tempat itu.
"Saya takut nanti tempat usaha ini disita bank lagi ...." jawab Jamil.
"Disita bank itu kalau tidak bisa membayar utang .... Kalau tidak utang ya tidak masalah .... Uangmu lebih aman dan transaksinya lebih mudah ...." kata Pak Jumari yang sudah melangkah pulang.
__ADS_1