
"Dari mana ...?" tanya Cik Ivon teman satu kost, kepada Melian dan Vanda yang baru saja pulang dengan wajah berbinar karena senang.
"Latihan wushu, Cik ...." jawab Melian yang tentu menyembunyikan rahasianya.
"Nggak latihan ..., tapi tanding ...!" sahut Vanda yang menegaskan jawaban Melian.
"Tanding ...? Memang ada lomba ...?" tanya Cik Ivon lagi.
"Wah ..., serem, Cik .... Melian ternyata hebat ....! Pokoknya keren ...!" kata Vanda menggebu-gebu.
"Serem apanya ...? Hebat apanya ...? Keren apanya ...? Tadi Melian berkelahi di sekolah, ya?" tanya Cik Ivon, yang tentu juga mendengar berita tentang perkelahian Melian di sekolah.
"Betul ...!! Tadi pagi Melian dikeroyok anak laki-laki kelas I B. Tapi semuanya dikalahkan oleh Melian." jawab Vanda yang langsung bersemangat.
"Kok bisa?! Ngapain lagi berkelahi ...?! Apa itu tidak membuat masalah ...?!" tanya Cik Ivon yang tentu lebih bijak karena sudah kelas tiga SMA.
"Habis ..., anak-anak pada mengejek saya, Cik .... Sebenarnya saya diejek sudah tidak mau ngurusi, tidak mau membalas .... Dan saya sudah diam .... Tapi mereka malah pada mau memukul saya .... Ya sudah, apa boleh buat .... Terpaksa saya harus membela diri. Eeee ..., ternyata anak-anak laki-laki yang mengeroyok saya, malah pada berjatuhan kena pukulan saya. Itu pun tidak maksud saya untuk memukuli mereka, Cik ...." jelas Melian kepada Cik Ivon, kakak kelasnya yang tinggal satu kost.
"Mengejek bagaimana ...?!" tanya Cik Ivon lagi, tentu ingin tahu persoalannya secara jeleas.
"Ibu saya yang di hina .... Mereka mengejek saya, bilang begini Cik, "Juminem babu meteng". Coba kalau Cik Ivon yang dihina seperti itu .... Bagaimana coba?" kata Melian yang terlihat sedih karena ingat saat ibunya diejek oleh teman-temannya itu.
"Kok bisa seperti itu ...?!" Cik Ivon pun sadar dengan sakit hatinya Melian jika orang tuanya dihina.
"Dan ternyata, Cik ..., yang nyebar fitnah itu sahabat Melian sendiri .... Mei Jing yang pinter wushu itu." tambah Vanda.
"Mei Jing yang katanya nglatih kamu wushu itu ...?" tanya Cik Ivon.
"Iya .... Tadi pagi kami di sidang oleh kepala sekolah. Saya sudah memaafkan. Tapi Mei Jing tidak mau minta maaf. Malah menantang saya untuk tanding. Dia tidak terima kalau teman-temannya sudah saya pukuli. Ia ingin membalaskan dendam dan sakit hati teman-temannya. Itulah sebabnya, tadi kami tanding di tempat latihan." jelas Melian.
"Ooo ..., begitu .... Jahat sekali anak itu ...." sahut Cik Ivon yang kini tahu duduk persoalannya.
__ADS_1
"Benar, Cik .... Padahal tadi sudah dinasehati oleh Pak Pendeta .... Tapi Mei Jing keras kepala, tetap ingin melawan Melian. Bahkan teman-temannya satu kelas diajak semua untuk nonton dan memberi suport. Ramai sekali tadi di klenteng." kata Vanda yang masih kelas dua SMA itu, yang tadi menyaksikan pertarungan antara Mei Jing dan Melian.
"Terus ...?! Jadi bertanding ...?!" tanya Cik Ivon yang mulai penasaran.
"Baru kali ini saya melihat orang ahli silat bertanding secara nyata, Cik .... Tidak hanya nonton film kungfu di tivi. Tapi benar-benar menyaksikan langsung. Wuah ..., keren Cik .... jurus-jurusnya presis kayak film kungfu itu. Si Mei Jing menyerang terus, tapi tidak pernah kena. Padahal Melian hanya diam di tempatnya. Tapi saat tangan Melian bergerak, musuhnya langsung jatuh tersungkur. Waaah ..., pokoknya serem, Cik ...." kata si Vanda.
"Terus ...?!" Cik Ivon semakin penasaran.
"Nah, saat si Mei Jing itu kalah, berkali-kali terjatuh ..., tiba-tiba guru pelatihnya datang .... Orangnya gagah, gede, besar .... Seperti Ade Ray, begitu .... Eee ..., dia tidak melerai, malah membela Mei Jing dan melawan Melian." kata Vanda.
"Melian diapakan ...?" Cik Ivon penasaran.
"Guru itu ikut-ikutan melawan Melian .... Beruntung ada Pak Pendeta yang langsung masuk ke lapangan. Maka pertarungan antara guru pelatih itu dengan Melian, di wasiti oleh Pak Pendeta." kata Vanda selanjutnya.
"Melian kalah ...?" tanya Cik Ivon penasaran.
"Eee .... Ngejek ...." sergah Melian yang tidak mau dikatakan kalah.
"Benar, Cik .... Awalnya saya khawatir .... Takut kalau Melian dipukuli oleh guru yang nglatih dengan badan besar itu .... Tapi ternyata sebaliknya. Sama seperti yang dialami oleh Mei Jing ..., guru yang nglatih itu, pukulannya tidak pernah mengenai tubuh Melian. Tapi justru saat tangan Melian bergerak, pelatihnya langsung jatuh tersungkur tepat di depan Mei Jing. Sudah begitu, Cik ..., mereka berdua itu tidak mau mengalah, tidak mau minta maaf, tidak mau menghentikan pertarungannya, mereka berdua malah mengeroyok Melian." cerita Vanda.
"Saya jengkel, Cik .... Saya emosi .... Saya tidak bisa mengendalikan kemarahan. Rupanya mereka memang harus diberi pelajaran. Maka, ya ..., saya lawan mereka berdua. Yah, sekadar memberi pelajaran saja, biar kapok." sahut Melian.
"Mereka kalah?" tanya Cik Ivon yang penasaran.
"Tidak cuman kalah .... Mereka berdua gelangsaran semua di lapangan, sambil bilang, "Aduh ..., aduh ..., aduh ...". Begitu, Cik ...." kata Vanda sambil memperagakan gerakan-gerakan mereka. tentu sangat lucu.
"Ah, enggak .... Itu Cik Vanda yang mengada-ada ...." bantah Melian.
"Terus ..., mereka berdua kamu hajar habis-habisan ...?" tanya Cik Ivon yang tentu sangat penasaran.
"Sebenarnya mereka masih penasaran mau mengalahkan saya .... Tapi beruntung, ada Pak Pendeta yang menghentikan saya. Tapi rupaya mereka tidak kapok. Mereka tidak mau menghormat saat pertandingan itu diselesaikan oleh Pak Pendeta. Mereka masih memandang saya dengan sinis .... Tapi biarlah, nanti Tuhan yang akan mengajari mereka tentang sopan santun." kata Melian yang bisa menerima kenyataan.
__ADS_1
"Itu Melian beruntung ..., Pak Pendeta tidak ikut melawan kamu .... Coba kalau Pak Pendeta ikut melawan kamu, pasti Melian akan dikalahkan." seloroh Cik Ivon.
"Kalau Pak Pendeta ikut-ikutan melawan saya, besok klentengnya harus ditutup ...." jawab Melian.
"Lhoh, kok begitu?" tanya teman-temannya.
"Habis, pendeta tidak membela kebenaran, tidak menunjukkan kebaikan ..., berarti dia bukan pendeta .... Heheh ...." jawab Melian sambil tertawa.
"O, iya ..., ya .... Pendeta harus membela kebenaran dan kebaikan ...." sahut Ivon.
Saat itu, teman-teman kost yang lain berdatangan. Cacik-caciknya yang sudah pada bekerja, yang tinggal di kost itu pulang dari kerja.
"Wuah, ramai banget ...?!" kata Cik Indra, pegawai bank swasta yang cantik itu menyapa tiga anak SMA tersebut.
"Eh ..., Iya, Cik .... Ini ada cerita hebat ...." sahut Ivon.
"Cerita apaan ....?" tanya Cik Indra yang memang akrab dengan anak-anak SMA itu.
"Kita punya pengawal hebat .... Ternyata Melian ini jago wushu, jago kungfu .... Pakoknya tenang, Cik .... Nanti kalau ada apa-apa pada kita, biar Melian yang melawannya. Hahaha ...." sahut Vanda.
"O ya ...?! Memangnya Melian bisa wushu ...?!" tanya Cik Indra yang meragukan.
"Waaah .... Jangan diragukan, Cik .... Ini tadi, Pagi tadi, Melian sudah memukuli banyak anak laki-laki di sekolahan .... Semua dipukul bergelimpangan. Bahkan barusan ..., Melian mengalahkan guru pelatihnya. Ia dikeroyok dua orang pelatih, langsung dirobohkan bersamaan .... Lho. hebat kan, Cik ..." kata Vanda menggebu-gebu.
"Haah ...?! Kamu berkalhi di sekolahan ...?! Melawan anak laki-laki ...?!" tanya Cik Indra yang tentu sangat kaget.
"Iya, Cik .... Melian dikeroyok anak laki-laki satu kelas ...." tegas Vanda.
"Ya ampun ..., Melian .... Mimpi apa kamu semalam ...?" sahut Cik Indra.
"Habis ..., mereka pada mengejek ibu saya ...." kata Melian yang tentu sebenarnya juga sedi, jika mengingat ibunya diejek oleh teman-temannya.
__ADS_1
"Sudah, gak papa .... Gak usah sedih .... Yang penting Melian harus memaafkan mereka semua itu. Ya .... Jangan sedih ...." kata Cik Indra yang langsung mengelus kepala Melian, sebagai tanda kasih sayang.
"Iya, Cik .... Terima kasih semuanya, sudah membimbing Melian ...." kata Melian pada cacik-caciknya itu.