
Jonatan merasa heran, kenapa saat istirahat pertama maupun kedua dirinya tidak melihat Melian. Sangat aneh manakala sampai ditengok ke dalam kelas juga tidak melihat. Apa Melian bersembunyi saat tahu dicari oleh Jonatan? Tapi itulah kenyataan bahwa terkadang sesuatu kalau dicari malah justru menghilang. Tapi kalau tidak dicari malah terus terlihat.
Maka setelah diberitahu oleh temannya kalau kalau Melian sudah pulang, Jonatan langsung menjalankan motornya. Ngebut melintas ke jalan yang biasa dilalui oleh Melian. Ingin ia bertemu Melian, walau hanya sekadar melihat. Namun, tidak juga ia melihat anak mengenakan seragam abu-abu putih yang melintas di jalan yang dilalui. Dari selatan ke utara, lantas berbalik dari utara ke selatan. Tidak juga berpapasan dengan Melian. Akhirnya,karena jengkel, Jonatan langsung menarik gas motornya, pulang dengan cara ngebut.
"Glodaak ....!! Bruoght ...!!" suara gaduh di garasi.
Jonatan masuk garasi, motornya menabrak ember yang biasa dipakai oleh sopir papinya untuk mencuci mobil.
"Suara apa, Nyo ...?" tanya Yu Mun, pembantu di rumahnya.
"Ember ..., kesenggol ....!" Jonatan berteriak menjawab.
"Hati-hati, Nyo ...!" kata Yu Mun lagi.
Jonatan diam tidak menjawa. Langsung masuk dan bablas ke kamarnya.
"Dbruoghk ...!" suara pintu kamar Jonatan yang di tutup keras.
"Ada apa, Nyo ...?!" lagi-lagi Yu Mun berteriak bertanya pada Jonatan.
"Ndak papa, Yu ...!" sahut Jonatan.
"Ndak makan dulu ...?! saya masak kepiting tauco, Nyo ...." kata Yu Mun dari luar kamar Jonatan.
"Bentar ..., Yu ...!" sahut Jonatan dari dalam kamar, yang sudah terlentang di atas tempat tidur, dengan pikiran yang sangat kacau.
Ya, keluarga Jonatan sangat berada. Kalau siang begini di rumah sepi. Paling-paling Yu Mun, pembantu keluarganya. Papi dan maminya sibuk dengan usahanya berdagang emas dan perhiasan di Kranggan. Dari pagi Hingga sore, papi dan maminya ngurusi toko emas. Baru pada malam hari mereka bisa berkumpul keluarga. Terkadang papinya ke luar kota untuk urusan bisnisnya. Sehingga di siang hari, setelah pulang sekolah, paling di rumah Jonatan hanya bersama adiknya yang masih kelas enam SD dan Yu Mun pembantu rumah tangga yang ngurusi pekerjaan rumah. Namun rumah yang cukup besar di kawasan perumahan elit daerah Tanah Mas itu aman dan nyaman,karena ada satpam yang berjaga di gerbang keluar masuk perumahan.
Jonatan masih terlentang di atas kasurnya. Belum berganti pakaian. Hanya melepas sepatunya saja tadi saat di garasi. Ia menatap langit-langit kamar. Lagi-lagi, muncul wajah Melian yang kadang terlihat ceria, yang kadang juga diam, bahkan kadang juga terlihat dingin. Seperti yang ia ingat tadi pagi saat bertemu di depan kelasnya. Melian sangat dingin waktu ditanya Jonatan. Jawabannya pun seakan hanya berlalu saja. Dan yang paling membuat Jonatan resah adalah menghilangnya Melian. Sangat aneh, kenapa Melian bisa tidak terlihat sama sekali. Kenapa Melian bisa menghilang begitu saja.
"Uch ..., dasar Jonatan cuman bertubuh besar saja .... Tetapi mencari perempuan tidak bisa .... Laki-laki besar tak berguna." begitu gumam Jonatan yang menyalahkan dirinya sendiri.
Lantas Jonatan bangun. Berdiri di depan cermin. Mengamati sekujur tubuhnya.
"Uch ..., dasar tak berguna ...!" ia bergumam lagi.
Lalu menjatuhkan tubuhnya lagi di tempat tidur. Kemudian berdiri lagi. Terlihat bingung. Lantas mondar-mandir di dalam kamar sendiri.
"Nyo ..., makan dulu ...!" terdengar kata-kata Yu Mun kembali menyuruh makan.
__ADS_1
"Ya ..., Yuk-e ...!" sahut Jonatan dari dalam kamar.
Jonatan terus membuka pintu dan keluar kamar.
"Kok belum ganti baju ..., Nyo ...?!" tegur Yuk-e, "Ayo ganti dulu ...." Yuk-e memaksa Jonatan untuk berganti pakaian.
Meski bertubuh besar seperti raksasa, Jonatan patuh dan menurut perintah pembantu rumah tangganya. Akhirnya, ia ganti pakaian terlebih dahulu baru kemudian ke ruang makan.
"Enak sekali, Yuk .... Aku habiskan ya, Yuk ...." kata Jonatan yang merasakan nikmatnya masakan Yuk-e.
"Ee ..., jangan .... Nanti Papi sama Mami makan apa?" kata Yu Mun yang mencegah.
Memang Jonatan dari kecil makannya banyak. Pantas badannya besar. Tapi kali ini, ketika dimasakkan kepiting tauco yang sangat menggugah selera, pasti Jonatan penginnya menghabiskan masakan satu piring besar tersebut.
"Yuk .... Apakah ada orang yang bisa menghilang ...?" tanya Jonatan kepada Yuk-e disela-sela makan.
"Halah .... Kayak gendruwo saja .... Ya gak ada to, Nyo ...." sahut Yu Mun.
"Tapi .., tadi aku nyari orang, bisa gak terlihat ...." kata Jonatan.
"Alah ..., paling-paling orangnya sembunyi ...." jawab Yu Mun yang masih bersikukuh dengan pendapatnya. "Memang siapa yang bisa menghilang? Temanya Nyonyo ...?" tanya Yu Mun.
"Ah ..., masak sih .... Kok aneh ...." sahut Yuk-e yang pura-pura keheranan.
"Iya, Yuk .... Betul .... Aku nungguin terus, tapi orangnya itu bisa gak kelihatan. Tahu-tahu sudah pulang .... Aku kejar ke jalan yang biasa dia lewat, juga tidak ada .... Aneh, kan ...." kata Jonatan yang keheranan.
"Sebentar, Nyo .... Itu orangnya cewek apa cowok ...?" tanya Yu Mun.
"Cewek ...." sahut Jonatan.
"Naaa ..., ya benar ...." kata Yu Mun.
"Benar gimana?" tanya Jonatan.
"Dia masih malu-malu kucing .... Hehe ...." kata Yu Mun nyengenges.
"Gitu ya, Yuk ....?" tanya Jonatan yang malah bingung dengan kata-kata Yuk-e.
"Eh ..., memang ceweknya cantik? Hehe ...." tanya Yu Mun yang tentu mulai curiga.
__ADS_1
"Cantik .... Yang pasti jago berkelahi ...." sahut Jonatan.
"Hah ...?! Kok jago berkelahi ...? Lha nanti kalau dia marah bagaimana? Kita bisa dipukuli semua, Nyo ...." sahut Yu Mun yang tentu miris.
"Itulah yang menyebabkan saya penasaran, Yuk ...." jawab Jonatan.
"Lhoh, kok ...?!" Yu Mun bingung.
"Saya pernah dipukul sampai gledak, Yuk ...." kata Jonatan lirih pada pembantunya itu.
"Hah ...?! Kamu tidak apa-apa, Nyo? Mana yang sakit ...? Ada yang terluka?" tanya Yu Mun yang langsung mengamati tubuh anak majikannya itu.
"Sudah kemarin dulu, Yuk .... Tapi gak papa kok." sahut Jonatan.
"Lha sudah tahu begitu, kok Nyonyo masih kepengin nemui cewek itu .... Apa tidak takut kalau nanti dipukul lagi?" tanya Yu Mun.
"Tapi sebenarnya dia itu baik .... Tidak jahat. Waktu itu memang saya yang salah ...." kata Jonatan mengakui kesalahannya.
"Ya kalau tahu salah, Nyonyo harus minta maaf ...." kata Yu Mun memperingatkan.
"Sudah, Yu .... Tapi orangnya cuek banget. Itu yang bikin saya jadi penasaran." kata Jonatan yang masih kepikiran tentang Melian.
"Nah, kalau begitu, mestinya Nyonyo samperi ke rumahnya .... Apa itu istilahnya anak muda sekarang .... ee ..., apel .... Gitu, Nyo ...." kata Yu Mun.
"Tapi aku gak bisa ngomong, Yuk .... Terus kalau ke rumahnya aku ngomong apa? Terus aku bagaimana, Yuk? Apa aku harus duduk dan diem saja ...." kata Jonatan yang tentu bingung kalau harus datang ke rumah Melian.
"Ya sudah .... Kalau memang bingung ngomong di rumahnya, besok pagi temui saja di kelasnya." kata Yu Mun memberi solusi.
"Ngomong-ngomong sama dia di kelas, begitu?! Ih, malu, Yuk .... Nanti pasti diledeki teman-teman ...." sahut Jonatan yang langsung menolak.
"Nyonyo itu gimana, sih ...? Katanya pengin ketemu .... Katanya pengin bicara .... Katanya cintrong .... As embuh, lah ...." Yu Mun langsung pergi meninggalkan tempat makan, bingung diajak bicara oleh Jonatan.
Jonatan diam di meja makan. Masih bingung memikirkan Melian. Masih penasaran dengan Melian yang tidak bisa ia temui. Melian yang tidak bisa ia lihat. Aneh. Bagaimana mungkin?
Lalu Jonatan meresapi kata-kata Yu Mun, yang menyuruh dirinya datang apael ke rumah Melian. Atau masuk ke kelasnya dan mendekati untuk bicara dengan Melian. Tapi bagaimana caranya? Pasti kalau apel ke rumah kostnya Melian, akan diintip oleh teman-teman sekosan. Dan nanti, pasti akan diceritakan di sekolahan oleh kakak kelasnya yang kost satu rumah dengan Melian.
Seandainya Jonatan harus masuk ke kelasnya Melian, lalu duduk mendekati Melian, lantas mengobrol di situ, waduh, pasti teman-temannya langsung ribut. Pasti semua temannya akan meledek dan mengejeknya. Betapa malunya dirinya.
Jonatan berpikir keras, mencari cara bagaimana bisa ketemu Melian, tetapi tidak diketahui oleh teman-temannya. Ya, besok pagi, ia akan datang awal untuk mencegat kedatangan Melian.
__ADS_1