GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 72: DI PUNCAK GUNUNG BUGEL


__ADS_3

    Pagi itu, Jamil berboncengan bertiga, bersama istri dan anaknya, mengendarai sepeda motor bebek dari Juwana menuju Lasem. Tepatnya ke Gunung Bugel daerah Desa Pancur yang ada di Bukit Lasem.


    Jamil di depan menyetir motor bebek yang masih baru tersebut. Mengenakan helm dan jaket tebal, serta berkaca mata hitam. Di bagian belakang sendiri ada Juminem yang membonceng. Juga mengenakan helm dan jaket. Sedangkan di bagian tengah, dijepit antara bapak dan ibunya, Melian. Anak ini mengenakan celana panjang dan berjaket. Kepalanya mengenakan topi. Ia juga memakai kaca mata.


    Motor melaju santai, di jalur pantura Juwana - Lasem. Memang saat itu jalan raya belum begitu besar atau lebar seperti sekarang ini. Jalan raya masih dua jalur saja. Tetapi kendaraan juga belum begitu banyak. Dan yang pasti laju kendaraan juga tidak secepat jaman sekarang. Paling yang sering melaju kencang hanya bus luar kota jurusan Semarang - Surabaya.


    Memang Jamil agak susah untuk diajak bergaya hidup mewah. Di perusahaannya ada mobil box yang biasa digunakan untuk mengangkut barang-barang. Tetapi ia tetap memilih naik sepeda motor. Alasannya tidak bisa nyopir, kalau mau minta tolong Mas Tarno kasihan keluarganya. Malah-malah waktu dipaksa untuk diantar pakai mobil, katanya lebih ngirit pakai motor. Dan kalau mau mampir ke mana-mana lebih mudah. Itulah Jamil.


    Melian terlihat senang. Di sepanjang perjalanan, ia selalu menanyakan apa saja yang dilihatnya. Maklum, dari kecil hingga sepuluh tahun usianya, baru kali ini Melian diajak bepergian ke luar kota. Pasti Melian sangat asing dengan segala sesuatu yang dilihatnya. Memang selama ini ia hanya tahu daerah Juwana saja. Paling-paling hanya melihat perahu-perahu yang tertambat di pelabuhan dekat rumahnya, atau tambak ikan yang terbentang di utara Kampung Naga.


    Tapi kini, saat berkendara dengan bapak dan ibunya, Melian tahu lebih banyak hal yang ada di sekitarnya.


    "Mak ..., itu apa kok ada tumpukan putih-putih di tambak ...?" tanya Melian pada ibunya yang duduk di belakangnya.


    "Itu yang menumpuk kayak gunung-gungung kecil itu?" tanya ibunya.


    "Iya .... Itu ...." Tangan Melian menunjuk ke barang yang dimaksud.


    "Itu garam, Sayang .... Tempatnya itu bukan tambak, tapi sawah garam. Memang bentuknya seperti kolam-kolam tambak, tapi tidak ada ikannya. Itu hanya untuk menampung air laut, dan kalau air lautnya sudah menguap, garam-garamnya tertinggal di kolam itu. Para pembuat garam lantas mengumpulkannya untuk dibawa ke pasar untuk dijual." jelas Juminem.


    "Wuah .... Gampang sekali ya, membuatnya .... Dan jumlahnya sangat banyak .... Berarti kita sangat kaya dengan garam ya, Mak ...." kata Melian yang mengagumi limpahan karunia Tuhan itu.


    "Iya, Sayang .... Kalau ada pejabat yang mengatakan bangsa kita kekurangan garam, itu pasti tujuannya agar dapat proyek yang bisa dikorupsi." sahut Juminem yang sok tau.


    "Betul, Mak .... Lha itu kok rumahnya  pendek-pendek ...? Apa orangnya tidak gejedug atapnya ...? Terus kalau masuk bagaimana?" tanya Melian saat melihat bangunan rumah-rumah yang pendek-pendek.


    "Oo, itu .... Itu namanya gudang untuk menyimpan garam. Garam-garam dari sawah yang sudah jadi, diangkut dan disimpan di dalam rumah-rumah yang dijadikan gudang itu .... Lantas sawahnya diisi air laut lagi, nanti kalau airnya sudah mengering jadi garam lagi, terus diambil dan diangkut untuk disimpan ke gudang. Begitu seterusnya. Jadi setiap hari, mereka itu dapat mengambil garam terus ...." begitu penjelasan Juminem pada anaknya, dan Juminem sangat paham karena memang dia tahu proses pembuatannya.


    "Waah, mereka pasti bisa kaya dari pembuatan garam ini ...." kata Melian.


    "Iya .... Tuh, lihat .... Ada petani garam yang sedang memikul garam dari sawahnya untuk disimpan ke gudang ...." kata Juminem yang menunjukkan seorang petani sedang mengangkut garam.


    "Pak, motornya pelan-pelan .... Melian mau lihat orang mengangkut garam ...." kata Melian pada bapaknya.


    "Ya ...." jawab Jamil, yang langsung minggir ke tepi jalan. Berhenti tepat di depan gudang garam.


    Lantas Juminem yang duduk paling belakang turun dari kendaraan. Demikian juga Melian, ikut turun dan langsung menuju ke dkat bangunan gudang garam tersebut. Jamil pun mematikan mesin kendaraannya. Mereka bertiga melihat bagaimana para petani garam ini membuat, mengambil, mengangkut dan menyimpan garam ke dalam gudangnya.


    "Bagus, hasilnya, Pak ...?!" tanya Jamil kepada orang yang sedang memikul garam itu.


    "Lumayan .... Kalau terang begini terus, hasilnya cukup banyak ...." jawab petani garam tersebut.


    "Pak, boleh saya beli sedikit ...?" tiba-tiba Juminem ingin membeli garam itu.


    "Ini belum bisa dipakai untuk masak .... Nanti masih diproses lagi di pabrik untuk ditambah yodium. Garam yang seperti ini namanya garam krosok. Paling dipakai untuk membuat telur asin. Kalau untuk masak beli di pasar saja." kata petani garam tersebut.

__ADS_1


    "Ooo .... Masih garam murni, ya Pak?" Melian ikut bertanya.


    "Iya, betul ..., Neng ...." jawan petani garam itu.


    "O, ya sudah .... Terima kasih ya, Pak .... Maaf sudah mengganggu." kata Juminem yang langsung berpamitan untuk melanjutkan perjalanan.


    Jamil kembali menyetir. Lagi-lagi, Melian yang baru pertama kali diajak melintasi jalan Juana - Rembang itu, terus bertanya dan bertanya. Banyak hal baru yang ia saksikan. Dan tentunya itu adalah pengalaman yang sangat menyenangkan.


     Kali ini Jamil agak mempercepat motornya. Melintas di jalan yang lumayan lebar dan halus. Memasuki Kota Rembang. Tandanya adalah gapura besar yang berdiri di kanan kiri jalan, dan di dinding gapura itu tertulis Selamat datang di Kota Rembang. Setelah beberapa menit, sampai di tengah Kota Rembang. Di tempat yang agak teduh, Jamil berhenti sejenak. Tetapi tidak turun dan tidak mematikan mesin motor.


    "Itu, namanya Pantai Kartini ...." kata Jamil sambil menunjukkan pantai yang ada di sebelah utara jalan.


    "Kok namanya Paktai Kartini, Pak? Memang itu dulu miliknya Raden Ajeng Kartini?" tanya Melian.


    "Dulu Raden Ajeng Kartini sering ke pantai itu. Untuk melihat para nelayan yang mencari ikan." jawab Jamil.


    "Ooo .... Jadi Ibu Kartini sering kemari ya, Pak?" tanya Melian lagi.


    "Ya iya .... Kan Ibu Raden Ajeng Kartini itu istrinya Bupati Rembang, namanya Kanjeng Raden Mas Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat. Makanya makam ibu Kartini ada di sini." jelas Jamil pada anaknya.


    Selanjutnya Jamil menjalankan motornya kembali. Melintas di jalan raya, ke arah timur, menuju Lasem. Tidak lama dari pusat Kota Rembang. Jamil membelokkan kendaraannya ke Pasar Lasem.


    "Lhoh, kok masuk pasar, Kang?" tanya Juminem yang agak heran.


    "Iya, kita mampir sebentar .... Kamu beli bunga untuk ke kubur. Saya akan mencoba tengok Kios Babah Ho, menemui Mas Irul. Siapa tahu masih ada." jawab Jamil yang ingin tahu keadaan di Pasar Lasem. Setidaknya sudah sepuluh tahun ia meninggalkan kota kecil itu, semenjak peristiwa pembakaran rumah miliknya.


    Jamil berjalan ke arah tempat kios Babah Ho yang ia tahu waktu itu. Mungkin agak sedikit lupa, karena keadaan pasar sudah berubah. Para pedagangnya juga sudah banyak yang ganti. Jamil sudah tidakpada kenal. Jamil mencoba mengamati ke atas, membaca nama-nama kios. Tetapi di situ sudah tidak ada lagi nama Kios Babah Ho. Jamil berhenti sejenak. Di depan kios yang ia yakini dulu adalah Kios Babah Ho. Tentu matanya tengak-tengok mencari kios itu.


    Tiba-tiba, ada laki-laki berdiri dari dalam kios, kemudian laki-laki setengah baya dengan tubuh agak gemuk itu mendekati Jamil.


    "Maaf, mencari apa, ya? Mau beli apa, ya?" tanya laki-laki itu, yang juga memandangi Jamil seakan menyelidik.


    "Maaf, saya mencari penjual di pasar ini yang namanya Mas Irul .... Dulu ia pelayan di Kios Babah Ho, kelihatannya tokonya ini .... Apa Sampeyan tahu?" tanya Jamil pada laki-laki yang berjualan di kios sembako itu.


    "Apa Sampeyan ini Mas Jamil ...? Yang rumahnya di Sarang itu?" tanya laki-laki itu.


    Jamil langsung menyeret laki-laki itu masuk ke kiosnya, sambil menutup mulut orang yang diduga pasti Mas Irul tersebut. Telunjuk tangannya langsung ditempelkan di bibir laki-laki itu.


    "Sampeyan ini, Mas Irul?" tanya Jamil pelan-pelan yang seakan terlihat berbisik.


    "Betul .... Kalau begitu Sampeyan ini pasti Mas Jamil." kata Irul yang dulu adalah pelayan Babah Ho.


    "Saya dulu pernah kemari, untuk memastikan tentang berita kecelakaan yang merenggut nyawa Babah Ho .... Tapi para pedagang di sini, katanya Mas Irul ikut mengurus jenazah Babah Ho dan Cik Jun. Bagaimana ceritanya?" tanya Jamil kepada Irul.


    "Iya, gara-gara pembakaran rumah Mas Jamil itu, Cik Jun sakit-sakitan. Saat dibawa ke Semarang, rencananya akan dirawat di Rumah Sakit Pusat, ambulan yang membawa mengalami kecelakaan. Semua yang ada dalam ambulan itu tewas. Cik Jun dan Babah Ho ikut jadi korban. Tetapi jenazahnya dikremasi oleh saudaranya yang ada di Semarang. Kios Babah Ho oleh sudara-saudaranya diambil alih. Tetapi yang disuruh ngurusi saya. Kiosnya sekarang sepi. Hasilnya tidak bisa diharapkan. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga saja tidak cukup. Apalagi di masa krismon seperti ini, Mas Jamil .... Saya tidak nyaman jaga kios ini, Mas .... Penginya cari kerja yang lain saja, yang pasti hasilnya." Irul menceritakan kisahnya.

__ADS_1


    "Ini kiosnya bagus, lho ya ....  Tapi kok namanya diganti?" tanya Jamil.


    "Ini semua yang mengatur saudara Babah Ho yang dari Semarang itu .... Sekarang Mas Jamil tinggal di mana? Bagaimana kisahnya, Mas? Kata orang-orang di Sarang, Mas Jamil sekeluarga ikut terbakar di dalam rumah?" tanya Irul.


    "Ssstttt .... Jangan membahas itu. Nanti kalau ada yang tahu malah mengejar-kejar saya lagi. Yang jelas waktu itu saya bersama istri dan Melian bisa lari dan menyelamatkan diri. Tolong ini dirahasiakan, jangan sampai ada yang tahu." kata Jamil.


    "Iya, Mas Jamil ...." jawab Irul sang penjaga toko itu.


    "Ini saya tergesa, karena mau ke makam Cik Lan .... Mau ziarah .... Saya pamit dulu ...." kata Jamil yang langsung membalikkan tubuhnya akan pergi.


    Tiba-tiba Irul memegang lengannya, lantas berkata, "Mas Jamil, pokoknya tolong saya .... Saya sudah tidak betah kerja di sini ...."


    "Iya, besok kapan-kapan saya datang lagi mengajak kamu." kata Jamil yang kemudian melangkah keluar pasar.


    Di sepeda motor, Juminem dan Melian sudah menunggu Jamil. Juminem mencangking satu tas kresek berisi bunga tabur untuk ziarah di makam leluhur anaknya. Yang pasti tabur bunga di makam ibunya.


    "Sudah, Kang ...? Ketemu ....?" tanya Juminem yang juga masih ingat dengan wajah Irul yang dulu sering datang ke rumahnya mengirim sembako dan susu untuk Melian.


    "Iya .... Itu orangnya berdiri di depan kios melihat kita ...." kata Jamil sambil kepalanya ditolehkan ke arah Irul.


    Irul yang di lihat oleh Juminem dan Melian, langsung melambaikan tangan. Memberi tanda melepas kepergian orang-orang yang dulu pernah bersamanya. Tentu Irul masih ingat Juminem. Tapi saat melihat gadis cilik yang bersama Jamil dan Juminem, ia langsung memastikan, gadis cilik itu adalah Melian. Sudah terlihat dari kulit dan matanya. Tapi seperti pesan Jamil, ia diam untuk tutup mulut.


    "Walah ..., lha kok sekarang jadi gemuk kayak gitu ...?" kata Juminem.


    "Siapa, Mak ...?" tanya Melian.


    "Itu namanya Mas Irul .... Dulu sering ke rumah kita sebelum dibakar orang." jawab Juminem.


    "Ayo, kita berangkat menuju makam ...." ajak Jamil pada anak dan istrinya agar segera naik ke motor.


    Melian langsung naik di tengah. Juminem yang berada di belakang. Tentu tangannya samil mencangking tas plastik kresek berisi bunga kiriman untuk ziarah.


    Lantas Jamil melambaikan tangan kepada Irul, yang diikuti oleh Melian dan Juminem yang juga ikut melambaikan tangan. Tentu Irul membalas lambaian tangan itu dari teras kiosnya. Selanjutnya, Jamil melajukan motornya ke arah selatan, menuju Gunung Bugel.


    Tidak butuh waktu lama. Jamil sudah sampai di daerah Pancur di kawasan Makam Cina terbesar di Pantai Utara Jawa. Makam Cina Gunung Bugel Lasem. Jamil langsung memarkirkan kendaraannya, di halaman depan komplek makam. Mereka langsung turun, untuk melanjutkan perjalanan naik atas bukit.


    "Ayo, kita naik ke puncak bukit. Kita akan menuju makam Mamahnya Melian ...." kata Jamil pada anaknya.


    "Pak ..., aku kok takut, ya ...." kata Melian yang malah jadi ragu-ragu.


    "Lho .... Katanya pengin lihat tempat Mamah ...?" kata Jamil yang kaget dengan kata-kata anaknya. Masalahnya yang ia tahu, Melian itu anak aneh yang tidak pernah takut sama siapa-siapa. Tapi kali ini, mengapa anaknya berkata seperti itu?


    "Iya, Pak .... Tapi kok ada perasaan lain dalam hati Melian." jawab anaknya.


    "Ndak papa .... Kita kirim bunga dan doa untuk Mamah .... Tanda bakti dan hormat seorang anak pada ibunya." Juminem mencoba membangkitkan keberanian anaknya.

__ADS_1


    Tentu rasa takut memang selalu muncul pada seseorang, ketika ia masuk komplek kuburan. Banyak cerita horor tentang kuburan. Mungkin cerita-cerita temannya yang sudah melekat dalam pikiran Melian. Sehingga ketika mereka sampai di komplek makam yang sangat luas itu, tiba-tiba saja Melian mengatakan takut.


    Memang ada apakah di puncak bukit itu? Apakah ada kekuatan gaib yang sudah merubah keberanian Melian menjadi penakut? Ataukah Melian sudah ditunggu oleh ibunya di bongpai yang berada di puncak bukit itu? Atau mungkin getaran gelang giok berukir naga yang melingkar di lengannya itu yang sudah memunculkan kekuatan mistik?


__ADS_2