GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 169: PENJUAL KORAN


__ADS_3

    Sore itu, setelah menutup tokonya, Sekitar jam lima, Irul dan Indra berangkat ke Juwana. Tentu menuju rumah keluarga Jamil. Setelah mengurus seluruh masalah perbankan terkait dengan agunan bangunan rumah Babah Ho yang akan disita oleh bank, yang tentu sangat menguras energi, karena harus bolak balik ke bank yang ada di Kota Rembang. Walau boleh dikatakan tidak terlalu jauh dari Lasem, tetapi membuat pikiran jadi capek dan lelah. Itulah urusan dengan kredit di bank. Enak di depan saat menerima uang, tetapi susah saat melunasinya.


    Dengan mengendarai mobil tepak, Jamil berjalan santai. Istrinya yang ada di sampingnya juga menikmati perjalanan sore itu. Tentu karena keduanya sudah plong, menyelesaikan urusan bank yang berbelit-belit. Dulu Indra pernah mengatakan kepada Irul, kalau butuh modal usaha bisa mengajukan kredit ke bank. Kala itu Irul langsung menolaknya, pokoknya jangan sampai berurusan dengan hutang, apalagi sampai mengajukan kredit ke bank untuk modal usaha. Karena utang akan menambah penderitaan. Indra yang mantan pegawai bank, tentu sangat bertolak belakang dengan pandangan suaminya itu. Namun sebagai istri yang patuh pada suami, ia menurut apa yang dikatakan suaminya.


    Kini, saat dirinya mengalami, betapa susahnya orang berurusan dengan bank, Indra membenarkan semua yang dikatakan oleh suaminya. Bahkan meski Irul itu hanya lulusan SMP, yang jauh dari pendidikan dirinya, tetapi dalam berbagai hal, Irul sangat cerdas dan mampu memprediksi secara tepat. Hal itu tentu membuat Indra semakin kagum dengan suaminya.


    Di perempatan dekat Museum Kartini, jalannya ramai. Agak macet. Tentu perjalanan tersendat. Irul pun menyetir perlahan sekali, bahkan sesekali berhenti.


    "Koran ..., koran .... Bu, beli koran .... Buat makan, Bu ...." tiba-tiba ada anak kecil penjual koran yang menawarkan dagangannya kepada Indra yang ada di dalam mobil. Entah anak itu masih sekolah atau tidak, melihat ikuran fisiknya mestinya ia masih sekolah sekitar kelas empat atau lima SD.


    "Eh ..., iya, Le .... Sini, saya beli satu ...." kata Indra pada anak penjual koran tersebut.


    Anak penjual koran itu langsung menempel di pintu mobil tempat duduk Indra. Sambil menyodorkan koran yang ia jual. Mestinya koran itu sudah dijual sejak pagi. Kalau sore, biasanya sudah sangat jarang yang beli. Tentu beritanya sudah usang. Tetapi rupanya koran yang dijual sejak pagi itu belum habis. Dalam lipatan plastik yang digunakan untuk wadah koran, masih ada beberapa eksemplar.


    Indra kasihan menyaksikan anak itu. Apalagi tadi, anak itu bilang buat makan. Maka kata-kata itu sangat menyentuh perasaan Indra.


    "Ini, Bu ..., korannya." kata anak itu yang tentu menyerahkan koran dan menunggu uang pembayaran.


    Indra menerima korannya, sambil memberikan uang koran.


    "Kamu belum makan ...?" tanya Indra pada anak itu.


    "Belum, Bu ...." jawab anak penjual koran itu.


    "Makan bareng saya, ya .... Ayo, saya yang bayar .... Sini ikut saya ...." kata Indra pada anak penjual koran tersebut, lalu bilang sama suaminya, "Mas, kita minggir dahulu .... Ajak makan anak penjual koran itu ...."


    Irul menuruti kata-kata istrinya. Lalu meminggirkan mobilnya, membelok ke kiri dan berhenti dan parkir di pinggir warung-warung tenda yang sudah mulai buka.

__ADS_1


    Indra turun, lantas menggandeng anak penjual koran itu. Mengajak masuk ke warung tenda Lamongan, yang menyediakan menu ayam goreng, bebek goreng, pecel lele, serta menu lainnya. Masih gasik, belum begitu ramai.


    "Ayo ..., duduk sini, makan apa saja yang kamu suka. Silahkan pilih sendiri." kata Indra yang duduk bersama anak itu, bersebelahan.


    "Saya pesan bebek goreng ...." kata anak itu pada penjual yang ada di depannya.


    "Minumnya apa?" tanya si penjual.


    "Es teh ...." jawab anak penjual koran itu.


    "Dek ..., kita makan sekalian?" tanya Irul yang sudah duduk di samping istrinya.


    "Iya ..., Mas Irul, kita makan sekalian. Tapi saya mengudap ayam goreng saja ...." jawab Indra.


    "Ayam goreng dua, Pak .... Satu pakai nasi yang satunya tidak usah. Minumnya jeruk anget ...." kata Irul memesan makan pada penjualnya.


    Sambil menunggu pesanan yang harus digoreng dahulu, Indra mengamati berita yang ada di koran, yang baru dibelinya dari anak yang kini ada di sampingnya, untuk diajak makan bersama. Indra membuka-buka koran itu. Hingga akhirnya Indra membuka halaman yang ada iklan keluarga. Di iklan keluarga itu ada berita kematian. Sudah biasa jika ada keluarga yang meninggal, berita kematiannya dipasang di iklan keluarga pada koran. Tentu untuk memberitakan kepada sanak saudara serta kerabat yang ada di berbagai tempat. Iklan keluarga itu ada yang besar dan ada juga yang kecil. Di situ ada beberapa berita kematian dari orang-orang keturunan. Indra menyempatkan melihat, siapa tahu ada yang ia kenal.


    "Mas Irul ..., coba lihat ini, Mas ...." kata Indra yang menunjukkan koran itu kepada suaminya.


    "Ada berita apa?" tanya Irul yang belum paham dengan apa yang disampaikan oleh istrinya.


    "Ini ...! Ini, lho .... Berita duka .... Namanya Hartono .... Coba lihat fotonya, apa benar ini Koh Han yang pernah mempekerjakan Mas Irul di kios Babah Ho ...?" tanya Indra sambil menunjukkan foto pada berita duka yang terpampang di koran tersebut.


    Irul langsung memegang koran itu. Ia mengamati foto yang ditunjukkan oleh istrinya.


    "Ya .... Ini Koh Han .... Betul, tidak salah .... Ini memang Koh Han ...." kata Irul sambil jari telunjuknya menuding-tuding foto di koran itu.

__ADS_1


    "Lhah .... Kok ...?!" tentu Indra langsung berfikir ke arah yang irasional. Ia ingat betul kala berbincang dengan pegawai bank saat akan mengambil alih aset Babah Ho yang disita oleh bank, pegawai bank itu mengatakan kalau katanya orang itu meninggal. Apa hubungannya?


    "Iya, Dek .... Ini memang benar Koh Han. Kalau begitu, ayo kita segera Pak Jamil, menyampaikan kabar ini. Biar Melian juga tahu kalau saudaranya meninggal." kata Irul pada istrinya.


    "Iya, Mas .... Lha terus ..., pesanan makan kita bagaimana?" sahut Indra yang tentu ingat dengan pesanan makanannya.


    "Suruh bungkus saja ...." jawab Irul yang sudah berdiri, tentu ingin sebera mengabari Pak Jamil.


    "Pak ..., tolong yang pesanan untuk saya, dibungkus saja .... Terus berikan ke anak ini, biar dibawa pulang." kata Indra pada penjual di warung Lamongan itu.


    "Nggih, Bu .... Kok tergesa-gesa, leh ...." jawab si penjual.


    "Ya ..., ada keperluan yang penting .... Habisnya berapa, semuanya ...?" tanya Indra yang kemudian mengeluarkan dompet, mengambil uang untuk membayar.


    "Minumnya sudah saya cucrup, tolong dibungkus plastik, nanti saya minum di jalan, biar tidak mubadhir ...." kata Irul.


    Si penjual langsung mengambil minuman jeruk hangat, kemudian memasukkan ke dalam plastik. Dua bungkus. Lantas dimasukkan ke tas kresek dan diberi sedotan. Lantas di serahkan kepada Indra.


    "Le ..., nanti yang dibungkus dibawa pulang ya .... Hati-hati di jalan .... Cari rezeki yang benar ...." kata Indra memesan kepada anak penjual koran tersebut.


    "Nggih, Bu .... Maturnuwun ...." kata anak penjual koran itu yang tentu langsung berdiri menyalami Indra dan Irul sambil mencium tangannya.


    Anak yang baik. Anak yang berbudi luhur. Walau hanya sekadar penjual koran, tetapi si anak itu sudah berusaha untuk mencari rezeki. Pertanda anak itu bukan pemalas, seperti anak-anak lain yang maunya hanya menyadongkan tangannya meminta-minta. Ada yang mengemis, dan ada juga yang hanya main icik-icik mengamen. Itu hanya sekadar alasan pemalas. Indra sangat menghargai anak kecil yang jualan koran itu.


    Irul langsung naik ke setiran. Demikian juga Indra, ia langsung masuk ke mobil bak bukaan itu. Melanjutkan perjalanan ke rumah Pak Jamil. Tentu dengan kabar berita sedih dan gembira. Kabar sedih karena orang yang masih saudara dengan Melian meninggal dunia. Kabar gembiranya karena masalah rumah Babah Ho sudah beres, kembali menjadi milik Melian. Entah kabar mana dulu yang akan disampaikan nanti.


    "Pelan-pelan saja, Mas Irul .... Hati-hati ..., tidak usah tergesa. Ini semuanya membahagiakan kok ...." kata Indra pada suaminya, yang tentu harus ikhlas dengan segala apa yang diterimanya.

__ADS_1


    "Iya, Dek .... Anak penjual koran tadi sudah memberi inspirasi untuk kita .... Tanpa dia, kita tidak tahu berita ini .... Jadi ..., apapun yang kita alami, syukuri saja .... Seperti anak penjual koran tadi ...." kata Irul pada istrinya.


    Mereka pun menikmati perjalanannya, sambil menyaksikan matahari yang terbenam.


__ADS_2