
Melian sangat sedih, ketika harus selalu menyakiti laki-laki yang mendekatinya. Tidak hanya menyakiti saja, tetapi sampai meninggal. Bahkan banyak yang meninggal secara tragis. Tidak hanya kepada satu laki-laki saja, tetapi sudah banyak korbannya. Tentu, Melian yang sebagai gadis wajar, sangat sedih, karena hingga sudah lulus sarjana, ia belum punya kekasih yang mendampinginya.
Sore itu, Irul datang ke rumah Engkong, kembali membawakan makanan untuk Melian. Seperti biasa, tentu antara sebungkus nasi goreng dan sebungkus bakmi goreng. Ya, memang kalau dulu, ketika masih ada Indra, istrinya Irul, ia selalu membeli tiga bungkus. Tapi karena sekarang, Indra sudah tidak ada, Irul sudah menjadi seorang duda yang sudah tidak punya istri lagi, maka ia hanya membelikan makanan dua bungkus saja. Sebungkus untuk Melian dan sebungkus lagi untuk dirinya. Ya, tentunya mereka akan makan bersama di rumah Engkong. Pasti karena Irul tidak ingin Melian pergi keluar-keluar nyari makanan. Tetapi Irul langsung membelikan makanan itu dan di bawakan ke rumah Engkong untuk dimakan bersama Melian yang tinggal sendirian di rumah.
"Melian ...! Melian ...!" begitu kata Irul yang memanggil Melian, saat dia masuk ke rumahnya.
Seperti biasa, Melian selalu berlama-lama kalau di dalam kamar mandinya Engkong. Entah apa yang dilakukan di dalam kamar mandi, tetapi seolah Melian memang suka menikmati enaknya mandi di kamar mandinya Engkong.
Setelah beberapa saat Irul menunggu sambil duduk di ruang tengah, akhirnya Melian yang mandi keluar juga dari kamar mandi. Dan pasti hanya mengenakan handuk yang digunakan untuk menutup tubuhnya. Beruntung Irul itu orang baik. Kalau tidak, pasti Melian sudah jadi sasaran pelampiasan dudanya.
"Haih ..., ada Mas Irul ...." begitu kata Melian yang keluar dari kamar mandi dan melewati tuang tengah itu untuk menuju ke kamarnya.
"Iya .... Ini saya belikan nasi goreng sama bakmi goreng .... Kamu pilih yang mana ...?" kata Irul yang menunjukkan bungkusannya.
"Suka kedua-duanya ..., Mas ...." begitu kata Melian menjawab tawaran dari Irul.
"Ya sudah, sana ganti pakaian yang baik .... Ini saya bawa ke ruang makan .... Nanti kita makan bersama." begitu kata Irul yang kemudian menuju ke ruang makan, menyiapkan dua piring untuk makan bersama. Satu piring untuk Melian, dan satu piring lagi untuk Irul. Piring yang berisi bakmi goreng dan nasi goreng.
Dan setelah berganti pakaian, Melian langsung menuju meja makan. Seperti biasanya Melian selalu makan keduanya. Ya makan bakmi, ya makan nasi goreng. Tetapi tentu jumlahnya juga tidak dua porsi habis. Seperti biasa, nanti mereka akan saling mencicipi dua jenis makanan tersebut. Ya, malam itu mereka akan menikmati makan malam bersama.
Sebenarnya Irul sudah menempatkan piring itu berhadapan. Maksud Irul, nanti Melian akan duduk di depannya. Namun ternyata, setelah Melian datang, ia tidak duduk di hadapan Irul, tetapi kali ini Melian makan duduk bersanding dengan Irul. Dua kursi yang berjejeran. Ya, Melian duduk berjejeran dengan Irul, bahkan sambil menempel pada bahu Irul.
"Mas Irul .... Aku disuapin, dong ...." pinta Melian yang memanja kepada Irul.
__ADS_1
"Iih, kayak anak kecil ...." kata Irul, tetapi juga sudah mengulurkan sendiknya yang berisi nasi goreng ke mulut Melian.
"Baru pengin dimanja ini, Mas ...." sahut Melian yang sambil memandangi wajah Irul seperti layaknya sepasang kekasih.
"Makanya, cepetan cari cowok .... Kalau sudah punya suami, pasti asik ...." kata Irul yang lagi-lagi menyuapkan nasi gorengnya ke mulut Melian.
"Penginnya begitu, Mas .... Tapi ...." Melian menghentikan kata-katanya. Lagi-lagi ia teringat dengan peristiwa tragis yang selalu dihadapinya.
"Tapi kenapa ...?" tanya Irul mendesak.
"Saya penginnya disuapin sama Mas Irul saja .... Hehe ...." kata Melian yang mengalihkan kata-kata.
Sebenarnya Irul ingin tahu persis cerita tentang diri Melian yang katanya sering membuat laki-laki jadi meninggal. Tetapi tentunya, Irul tidak berani untuk menanyakannya. Namun tiba-tiba, Melian mengungkapkannya kembali. Itulah rahasia di ruang makan. Enaknya makanan, juga akan memberikan cerita-cerita menarik.
"Mas Irul ..., Mas Irul .... Kalau saya cerita, mesti Mas Irul tidak percaya. Terus terang saya itu bingung, Mas .... Saya bingung dengan keadaan saya. Bingung dengan peristiwa-peristiwa yang menimpa diri saya. Usia saya sekarang sudah menginjak dua puluh empat tahun, Mas Irul .... Saya sudah menjadi perawan dewasa, perawan yang sudah besar, tentu Mas Irul tahu bagaimana perasaan seorang wanita yang sudah dewasa seperti saya ini, tetapi saya belum pernah punya pacar yang sebenarnya. Saya belum pernah merasakan bagaimana orang pacaran itu ...." kata Melian pada Irul.
"Memang benar, Mas Irul .... Tapi itu belum sampai pacaran yang sesungguhnya .... Itu baru pendekatan saja. Misalnya saya dengan Jonathan, itu pun baru sebatas bonceng-boncengan, Mas ..., belum pernah mengatakan kata-kata, ya seperti kata-kata orang pacaran itu ...." kata Melian yang tentu protes karena memang dia belum pernah mengatakan kata-kata cinta kepada siapapun. Demikian juga dengan laki-laki yang mendekatinya, belum ada laki-laki yang mengatakan kata-kata cinta kepada dirinya.
"Masak, sih ...? Bukannya Melian sudah teramat dekat dengan Pak Endang?" tanya Irul yang tentu tidak percaya, karena saat melihat kesedihan Melian ketika Pak Endang meninggal dunia, Melian menangis sejadi-jadinya, ibarat kata Melian sampai gulung koming saat menyaksikan Pak Endang meninggal. Bahkan setiap malam, acara pengiriman doa, saat acara tahlilan di rumah Pak Endang, yang sampai tiga malam pun, Melian masih saja selalu menangis, karena merasa kehilangan Pal Endang. Itu artinya bahwa sebenarnya, Melian dan Pak Endang sudah pacaran teramat dekat. Pasti percintaan Melian dan Pak Endang sudah jauh. Ya, seperti itu pandanganIrul terhadap percintaan Melian dengan Pak Endang. Ibarat kata, nereka sudah sepakat untuk melakukan pernikahan.
"Kami baru pendekatan, Mas Irul ...." sahut Melian.
"Bukankah Melian dengan Pak Endang sudah amat sangat dekat dalam mempersiapkan hidup berumah tangga?" tanya Irul pada Melian.
__ADS_1
"Benar, Mas Irul .... Saya dengan Pak Endang itu belum berpacaran yang seperti orang-orang pacaran itu. Saya dengan Pak Endang itu memang sudah saling menaruh rasa suka, sudah saling menaruh rasa cinta. Tetapi saya belum pernah mengatakan kata-kata cinta kepada Pak Endang. Demikian juga Pak Endang, ia pun belum pernah mengatakan kata-kata cinta itu kepada saya. Walaupun kami sudah dekat, walaupun kami sudah tahu perasaan masing-masing. Tetapi saya memang tidak pernah mengungkapkan kata-kata cinta itu. Saya khawatir justru akan menjadi petaka. Dan kenyataannya, waktu malam sebelum wisuda, Pak Endang kirim SMS ke saya, dari SMS itu dia mengatakan kalau dirinya mencintai saya. Pak Endang menuliskan kata-kata cinta. Itulah kenyataannya yang kemudian pada pagi harinya, kata-kata cinta yang ditulis dalam SMS Pak Endang itu justru menjadi petaka bagi diri Pak Endang. Peristiwa itu justru terjadi di hadapan saya, Mas Irul ..., di hadapan Mas Irul, juga dihadapan Pak'e dan Mak'e. Dan itu terjadi saat kita bahagia, Mas Irul .... Tentu Melian kembali bersedih." kata Melian yang tentu langsung menjatuhkan wajahnya di dda Irul. Mereka berhenti makan sejenak, karena teringat dengan peristiwa itu.
Memang, walaupun mereka belum saling mengungkapkan kata-kata cinta, tetapi dari perbuatan, dari sikap yang diperlihatkan, dari tingkah lakunya itu sudah menandakan bahwa dua orang antara Melian dan Pak Endang memang saling suka dan saling mencintai. Walaupun keduanya hanya memberikan kiasan-hiasan, tetapi kiasan itulah yang dinamakan cinta. Seperti itulah kenyataannya, ungkapan cinta orang-orang uang bisa mengendalikan nafsu.
"Melian ..., adakah yang kamu rasakan saat akan mengalami nasib-nasib yang dialami oleh para teman laki-laki kamu itu?" tanya Irul pada Melian, yang tentu curiga dengan gelang giok yang dikenakan oleh Melian.
Terus terang, saat Melian menceritakan tentang gelang gioknya, Irul mulai curiga dengan gelang giok yang dimiliki oleh Melian itu. Pastinya, itu bukanlah gelang sembarangan. Buktinya, dikeryok oleh enam orang berandal saja semuanya dapat dikalahkan. Dikeroyok banyak orang di tepi Sungai Ciliwung saja, semua orang yang mengeroyoknya klebus tercebur ke dalam sungai semuanya. Itu berarti memang ada kekuatan lain yang ada di luar kemampuan diri Melian yang hanya seorang gadis lugu.
"Benar Mas Irul .... Setiap kali gelang giok saya itu bergetar, setiap kali gelang giok saya itu ada perubahan gerakan, itu pasti akan terjadi sesuatu. Ya ..., saya ingat betul, Mas Irul .... Setiap kali saya rasakan ada perubahan gelang giok yang berukir naga ini, selalu memberi tanda kepada saya. Ya, tanda akan kematian-kematian mereka itu, Mas Irul." kata Melian kepada Irul. Melian ingat betul bagaimana getaran yang dirasakan oleh dirinya saat gelang giok itu bereaksi, yang akan mengakibatkan kematian pada orang-orang yang dekat dengan dirinya. Bahkan juga orang-orang yang berniat jahat kepadanya.
"Melian, maaf saya ingin tanya, kalau boleh Mas Irul tahu, bagaimana perubahan yang kamu rasakan, getaran yang kamu alami, saat gelang giok itu ada reaksi, ada pertanda apa yang kamu ketahui sehingga mengakibatkan kematian dari setiap laki-laki yang dekat kepada kamu?" tanya Irul yang ingin tahu.
"Bagaimana saya mau ceritain, Mas ...? Saya bingung ngomongnya .... Tetapi Mas Irul boleh percaya boleh tidak percaya, yang saya rasakan kalau ada laki-laki yang dekat dengan saya dan laki-laki itu menaruh hasrat cinta kepada saya, dan laki-laki itu mempunyai getaran rasa cinta kepada saya, maka gelang giok yang ada di lengan saya ini, gelang giok yang saya kenakan ini, dia akan bergetar seakan-akan getaran itu menyeret tubuh saya untuk tidak rela, untuk tidak mau, untuk tidak bisa menerima laki-laki yang akan mendekat pada diri saya itu. Seakan gelang giok itu sudah memberikan tanda bahwa dia menolak kehadiran laki-laki itu, Mas ...." kata Melian kepada Irul, yang tentu sangat-sangat dirasakan getaran gelang giok yang berkali-kali mengakibatkan kematian setiap laki-laki yang dekat dengan dirinya.
Irul terdiam. Matanya memandang Melian. Ia menatap tajam pada gadis yang sudah dewasa itu, gadis yang semestinya kalau di kampungnya sudah harus menikah itu, gadis yang semestinya kalau di kampungnya sudah ngomong seorang bayi. Ya, Melian memang sudah pantas untuk menikah. Melian memang sudah pantas untuk menjadi seorang istri. Tetapi apa yang diungkapkan oleh Melian itu terhadap dirinya, apa yang disampaikan semua itu menjadi ketakutan bagi diri Melian, dan tentu juga menjadi ketakutan bagi Irul. Kalau saja setiap ada lelaki yang mendekati Melian, nantinya akan berakhir dengan kematian.
Irul menduga dan yakin, pasti tidak hanya laki-laki yang disebutkan oleh Melian saja yang meninggal dunia karena hasratnya untuk mencintai Melian. Tetapi mungkin masih ada banyak laki-laki yang juga mati saat mencoba memiliki Melian. Tentu masih banyak orang yang sekiranya sudah menjadi korban karena dia ingin mendekati Melian.
"Maaf, Melian .... Kalau boleh saya tanya, pernahkah Melian berkelahi dengan laki-laki ...?" tanya Irul ingin tahu.
Melian tersenyum memandangi Irul, yang tentu ia tidak mungkin untuk berbohong kepada Irul ketika ditanya apakah sudah pernah berkelahi dengan laki-laki? Setidaknya, tentu Melian ingin membela diri. Bukannya Melian mau pamer bisa berkelahi, atau unjuk kehebatan. Tetapi Melian hanya ingin menyelamatkan dirinya, atau orang lain yang butuh bantuan.
"Iya, Mas Irul .... Saya sudah berkali-kali berkelahi. Tetapi itu hanya melawan para penjahat. Melian hanya ingin membela kebenaran, Melian hanya ingin menolong orang yang lemah. Yang saya lawan hanyalah kejahatan dan ketidak adilan." kata Melian. Tentu ia tersenyum pada Irul.
__ADS_1
Ya, memang, Melian sudah mengalahkan banyak orang. Melian sudah mengalahkan setiap laki-laki yang berusaha akan melecehkan dirinya, bahkan laki-laki yang ingin memperkosa dirinya. Mestinya sudah banyak orang yang tersungkur minta ampun, banyak para penjahat yang lari tunggang langgang ketakutan.
Irul terkesima dengan cerita-cerita Melian. Irul pun bingung dengan apa yang diceritakan oleh Melian itu. Yang jelas bahwa fakta, kenyataan kalau Melian itu mempunyai gelang giok yang berukir naga, memang bukanlah gelang sembarangan. Dalam gelang itu, pasti ada kekuatan aneh yang tidak diketahui oleh siapapun. Tapi satu hal yang jelas, Melian yang tahu pertanda dari gelang giok tersebut.