GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 81: INGKAR LAGI


__ADS_3

    Setelah lima tahun krisis moneter melanda Indonesaia,  reformasi sudah tidak terdengar lagi gaungnya. Masalah korupsi, kolusi dan nepotisme atau yang disebut dengan KKN yang didengung-dengungkan, kenyataannya hanya menjadi slogan belaka. Fakta di masyarakat, korupsi justru semakin merajalela. Katanya jadi pejabat ingin mengabdikan diri untuk membangun negeri, faktanya banyak pejabat yang ditangkap oleh KPK karena koprupsi. Yang namanya korupsi ada di mana-mana. Tidak hanya di kota besar, bahkan di pelosok desa yang jauh dari modernisasi juga terjadi korupsi.


    Termasuk yang menjadi kebingungan masyarakat adalah reformasi di bidang hukum. Keadilan yang didambakan oleh rakyat hanyalah dongeng belaka. Faktanya, banyak orang benar menjadi salah, dan orang salah bisa menjadi benar. Orang jahat semena-mena melakukan kejahatannya, sementara orang baik menjadi korban kebiadaban. Tokoh yang berani meneriakkan keadilan, menuntut hak azasi, ingin membela yang lemah, akhirnya tokoh-tokoh seperti itu mati konyol, atau hilang tanpa bekas. Katanya ada yang menculik, tetapi siapa yang mendalangi tidak ada yang bertanggung jawab. Jika ada orang berani berkata lantang tentang kejujuran, maka jangan ditanya kalau bisa selamat dalam hidupnya. Katanya hukum bisa diperjual belikan. Orang kecil selalu kalah oleh orang-orang yang beruang. Orang miskin semakin menderita. Ada tembok pemisah yang sangat tinggi, yang membentengi antara si kaya dan si fakir.


    Seperti yang disaksikan oleh Jamil dan karyawannya. Konon katanya juragannya yang lama, yang nama sebenarnya adalah Basuki, yang tadinya dipanggil Pak Bas, tapi karena para karyawan menganggap Pak Basuki itu adalah bosnya, maka para karyawan memanggilnya jadi Pak Bos, mestinya  mendapat hukuman empat belas tahun dengan kasus pembunuhan pada istrinya, yang kemudian diskenario seakan-akan istrinya itu mati gantung diri. Namun kenyataannya, baru lima tahun menjalani hukuman, mantan juragan kuningan, Pak Bos itu sudah bebas.


    Bagaimana para karyawan Bima Sakti tidak kaget, terutama karyawan lama, saat tahu matan juragannya yang mestinya menurut hitungan masih berada di dalam penjara, hari itu datang ke pabrik. Dan tentu masih berlagak seperti bosnya zaman dulu.


    "Halo, Ika .... Wah, bagus sekali sekarang, toko kerajinan kuningan yang kamu jaga ini ...." kata mantan Pak Bos itu yang sudah duduk di kursi bundar yang ada di toko.


    Betapa kagetnya Ika, saat melihat orang yang menyapanya itu adalah mantan bos-nya.


    "Lhoh .... Pak Bos ....?!" Ika yang kaget hanya bisa melongo.


    "Kok kaget .... Tidak usah ragu .... Aku ini bosmu dulu ...." kata Pak Bos itu, yang selalu ingin dipanggil bos.


    "Maaf, Pak .... Saya hampir tidak percaya .... Bagaimana kabarnya, Pak Bos?" tanya Ika kepada mantan bosnya itu yang sudah senyam-senyum.


    "Ya, baik gini, kok .... Kamu kaget ya lihat saya? Ini saya .... Sudah bebas dari penjara .... Saya sudah kembali menghirup udara bebas ...." kata Pak Bos itu sambil menggerak-gerakkan tangannya, dan tentu sambil tersenyum mengejek.


    "Ya ..., ya ..., ya, Pak Bos .... Kapan bebasnya, Pak Bos ...?" tanya Ika lagi yang tetap masih kurang yakin.


    "Pokoknya sudah keluar, sudah bebas .... Di mana si Jamil?" tanya Pak Bos itu, yang tentu ingin ketemu Jamil, yang sudah dipasrahi mengelola perusahaannya.


    "Ada di pabrik, Pak .... Di tempat finishing ...." jawab Ika, yang pasti memberitahukan posisi Jamil kepada mantan bosnya. Bagaimanapun juga ada rasa takut dalam benak Ika.


    Pak Bos itu langsung berdiri dari duduknya, dan melangkah menuju ke ruang dalam, di tempat para tamu biasa berembug untuk memesan barang.


    "Tolong panggilkan Jamil." kata Pak Bos itu menyuruh Ika.


    "Iya, Pak." jawab Ika, yang segera menuju ke tempat Jamil biasa bekerja, untuk memberi tahu.


    Sebentar kemudian, Jamil pun menuju ruang tamu. Tentu ingin menemui mantan bos-nya yang menurut cerita Ika sudah bebas dari penjara. Tidak hanya Jamil, karyawan-karyawan yang lain, terutama mantan anak buahnya dulu, ikut berbondong menuju ruang tengah, ingin menemui mantan bos-nya yang sudah bebas dari penjara. Para karyawan ini berjalan di belakang Jamil.


    Namun, alangkah kagetnya saat Jamil sampai di ruang tengah itu. Dan tidak hanya Jamil saja yang kaget, tetapi juga para karyawan lain yang ikut ke situ. Mereka heran menyaksikan mantan majikannya itu tidak duduk di kursi tamu, tetapi justru duduk di kursi pimpinan, menghadapi meja besar yang biasa digunakan untuk transaksi antara Jamil dengan para pelanggannya. Mantan bos itu duduk layaknya majikan perusahaan itu. Dan yang lebih menjengkelkan, orang itu duduk jegrang sambil tertawa saat Jamil dan orang-orang mantankaryawannya itu masuk ke ruang itu. Seakan ia adalah bos perusahaan yang sudah berubah sangat maju tersebut.


    "Hahaha .... Silakan duduk situ, Jamil .... Hahahaha .... Kalian semua silakan duduk di situ juga ...." kata mantan juragannya sambil memutar-putar kursi yang didudukinya.


    "Nggih, Pak ...." kata Jamil yang sudah duduk di kursi tamu.

__ADS_1


    Tentu para karyawan itu melongo, penuh tanda tanya. Mengapa mantan bos yang katanya baru saja keluar dari penjara itu duduk di kursi pimpinan, seakan ia yang menjadi direktur perusahaan. Apa dia akan meminta kembali perusahaan yang sudah menjadi maju tersebut?


    "Jamil .... Terima kasih kamu sudah memajukan perusahaan ini." kata mantan Pak Bos itu dengan sifat congkaknya.


    "Ya, Pak ...." sahut Jamil yang tetap merendah. Maklum, orang itu adalah mantan bos-nya.


    "Begini ..., Jamil ..., dan para karyawan semua ...." kata mantas bos itu lagi.


    Para karyawan yang pada berdiri di ruang itu terdiam tanpa gerak. Ika tengak-tengok dari ruang toko. Mbak Sri mengintip dari belakang. Tentu heran menyaksikan sikap mantan majikannya itu. Tentu dia perempuan itu juga ingin tahu, apa yang akan disampaikan oleh mantan majikannya tersebut.


   "Jamil, dan para karyawan semuanya.... Saya sangat berterimakasih jika selama ini, saat saya tidak ada di sini, karena nasib saya yang harus menjalani ujian, cobaan hidup.... Maka saya harus tidur di tempat yang kurang nyaman. Kalian semua sudah menjalankan perusahaan ini dengan baik, dan menjadi lumayan. Jika saja saya tidak harus berada di rumah tahanan, pastinya perusahaan ini akan lebih maju dan untung besar. Setidaknya pasti lebih besar dari tempat usaha yang ada sekarang ini.... Yah, namanya juga Jamil, orang dari desa..., bagaimana mungkin bisa memajukan perusahaan.... Tapi tidak mengapa, yang penting tempat usaha ini tetap jalan. " kata mantan bos yang congkak itu.


   Tentu para karyawan langsung merah telinganya mendengar kata-kata orang itu. Walau dulu mereka menghormati, tetapi begitu mendengar orang itu menghina Jamil, yang sekarang memimpin perusahaan itu, pasti mereka sangat emosi.


   Tetapi bagi Jamil, Kata-kata seperti itu dianggap hal yang biasa. Pahit getir diejek orang sudah sering ia alami. Apalagi ia hanya berasal dari seorang kuli. Maka ejekan semacam itu sudah sering didengarnya. Apalagi memang orang yang menduduki kursinya itu adalah mantan bos nya. Orang yang dulu punya perusahaan itu. Jadi lumrah kalau ia berkata seperti itu. Hanya saja, orang ini Jelas-jelas tidak tahu tata krama. Kurang ajar.


   "Maaf, Pak..., jika boleh tahu Bapak ke sini ada perlu apa, ya? " Tanya Jamil yang sebenarnya juga menahan emosi.    "Lhoh.... Kamu itu bagaimana? Tahu kalau saya sudah keluar dari penjara, ya mestinya akan kembali mengatur perusahaan ini.... Apa tidak melihat kalau saya sudah duduk di kursi ini, berarti kedudukan saya adalah direktur.... Berarti saya yang wenang mengatur karyawan.... Kok tanya?! " jawab laki-laki mantan bos tersebut.


   "Maaf, Pak.... Maksudnya bagaimana? " tanya Jamil yang tetap menggunakan bahasa halus dan kata-kata yang lembut.


   "Huuh..., kamu ini bagaimana?! Ya mestinya kamu tahu to, Jamil.... Kalau saya sudah selesai menjalani hukuman, dan sekarang saya sudah kembali, ya saya akan mengurusi perusahaan ini lagi.... Kok pada bingung itu bagaimana?! Apa kata-kata saya kurang jelas...?!" kata mantan bos tersebut, yang tentu tidak rela kalau usaha nya yang dirintis dulu, kini dikuasai oleh Jamil. Apalagi kini usahanya sangat maju.


   "Kenapa pada bingung? Kalian tidak mau menerima kedatangan saya...?! Kalau tidak mau menerima saya, ya silahkan angkat kaki, keluar dari perusahaan ini.... Gampang, kan...!! " kata mantan bosnya.


   Suatu kata-kata yang sangat menusuk perasaan. Menyakitkan hati. Pastinya para karyawan itu sangat tersinggung. Mereka merasa dihina. Namun hanya bisa diam, takut tidak berani bersuara.


   "Jamil tidak setuju ...?! Kalau memang tidak setuju, keluar saja dari pabrik ini...! " ancam mantan bosnya itu.


   "Maaf, Pak.... Bukannya saya tidak setuju, tetapi saya hanya ingin bertanya, apakah kata-kata Bapak ini hanya bergurau?" tanya Jamil yang tetap dengan nada sopan.


   "Bergurau ...?! Gurauan apa ...?! Saya bicara keras seperti ini dianggap gurauan?! " Kata mantan bosnya itu langsung memerah wajahnya, tanda marah.


   "Bukannya dulu Bapak sudah menyerahkan tempat ini kepada saya? Sebagai ganti kalau saya bisa membayar seluruh utang di bank? Karena kalau utang itu tidak dibayar, tempat usaha ini akan disita. Dan waktu itu, saya mau menerima ini karena desakan dari anak-anak dan saudara Bapak, dan tentu saya harus membayar seluruh utang dan memberikan pesangon kepada para karyawan, bahkan juga harus membayar gaji karyawan yang belum dibayarkan.... " Kata Jamil mencoba mengusik sejarah lima tahun silam, yang mestinya tidak ingin diungkapkan. Tapi kali ini Jamil sudah tidak bisa menahan emosi.


   "Huuh, dasar bodoh .... Saya kan hanya titip selama saya dipenjara.... Lha kalau saya sudah pulang, sudah kembali, sudah bisa ke pabrik lagi, ya mestinya saya tarik lagi, saya kelola sendiri lagi. Kok enak saja mau menguasai pabriknya orang.... " kata Pak Bos yang rupa-rupanya tidak mau melepas pabriknya.


   "Ooo.... Seperti itu, ya ...? Dulu perusahaan ini akan disita oleh bank, Bapak nangis-nangis di rumah saya agar saya menutup tagihan bank. Lantas uang saya yang dipakai untuk melunasi utang-utang Bapak di bank bagaimana? Terus uang saya yang dipakai untuk membayar gaji karyawan yang tidak dibayar oleh Bapak bagaimana? Terus uang saya yang digunakan untuk memberi pesangon karyawan-karyawan yang di PHK bagaimana?" Jamil berargumentasi, tentu ingin mengingatkan mantan majikannya itu.


   "Itu bisa dihitung.... Nanti saya ganti semua. Berapa jumlahnya? " Kata mantan majikannya yang menganggap enteng masalah itu. Padahal dia belum tahu berapa banyak uang yang dikeluarkan Jamil untuk menghidupkan kembali pabrik itu.

__ADS_1


   "Saya akan mundur dari perusahaan ini, saya akan keluar, jika uang saya sudah diganti seluruhnya. Jika Bapak tidak bisa mengembalikan uang saya, maka silahkan Bapak meninggalkan tempat ini." Jamil mulai bersikap tegas dan berani menantang kepada mantan bosnya itu.


   "Ya, saya setuju...." sahut salah seorang karyawan.


   "Ya, saya juga...! " karyawan yang lain Ikut-ikutan berteriak.


   "Saya juga.... Pokoknya kalau Pak Jamil dikeluarkan, saya ikut keluar....!" timpal yang lain.


   "Ingat Pak... Perusahaan ini dulu sudah gulung tikar.... Semua ini bisa jalan lagi dan maju, itu karena Pak Jamil.... Pak Jamil sudah mengorbankan semuanya ...! Tanpa ada Pak Jamil, perusahaan ini sudah tidak ada. Dan kami tentu sangat berhutang budi baik pada Pak Jamil. Maka saya tidak rela kalau Pak Jamil diusir begitu saja!!" Tiba-tiba Mbak Sri yang tadi hanya mengintip, kini keluar dan berani bicara.


   "Betul... Perusahaan ini dulu sudah mati... Pak Jamil yang bersusah payah menghidupkan kembali .... Bukan Bapak...! " Mbak Ika juga ikut nimbrung.


   "Ya, betul.... Kembalikan dulu uangnya Pak Jamil, kalau mau meminta perusahaan ini." yang lain ikut menimpal.


   "Oke, nanti akan saya kembalikan... Dan tempat ini akan menjadi milik saya lagi." kata mantan bos itu, yang kemudian berdiri dari kursi yang layaknya diduduki Jamil, kemudian melangkah meninggalkan tempat itu.


   Orang-orang memandangi dengan amarah, namun tidak berani bergerak. Tentu para karyawan itu tidak setuju kalau tempat usaha itu kembali dikuasai oleh majikannya yang lama. Dirinya pasti akan ditekan, dan tidak ada kesejahteraan.


   Jamil yang masih duduk di kursi tamu itu, diam menunduk tidak memandangi kepergian mantan bosnya. Ia termenung, memikirkan sikap orang yang serakah, orang yang jahat, orang yang sudah pernah mengingkarinya dulu, dan kini akan mengingkari lagi, setelah Jamil bisa memajukan perusahaan itu, setelah ia bersusah payah.


    Namun tentu itu adalah hal yang wajar, manakala tempat usaha yang dulunya sudah bangkrut dan ketika dikelola orang lain dan menjadi maju, maka rasa ingin memiliki lagi itu pasti muncul. Termasuk mantan majikannya itu, setelah tahu tempat usahanya dulu kini menjadi maju, maka timbul hasrat untuk kembali memiliki, kembali menguasai pabrik itu.


   "Tunggu satu minggu lagi, semua uang kamu akan saya kembalikan... Dan tempat ini akan menjadi milik saya lagi." kata mantan Pak Bos itu, saat melintas di samping Jamil. Lantas orang itu berlalu pergi.


    Setelah mantan majikannya itu pergi, pasti celoteh dan macam-macam perkataan bermunculan dari para karyawan.


   "Pak Jamil ..., bagaimana ini, Pak? " tanya para karyawannya.


   "Pokoknya kalau sampai Pak Jamil melepas perusahaan ini kepada penjahat itu, saya keluar... " timpal yang lain.


   "Iya, Pak.... Kami tidak mau dipimpin orang jahat itu lagi.... "


   "Yaah .... Kita lihat nanti. Janjinya dia satu minggu. Dalam waktu satu minggu, kalau memang dia bisa membayar semua uang saya, silahkan saja.... Biar dia ambil pabrik ini." kata Jamil yang selalu pasrah pada kehendak Tuhan.


   "Tapi, Pak .... Kami bagaimana?!" tentu para karyawan jadi bingung, dan tentunya khawatir.


   "Saya yakin dia tidak sanggup.... Utangnya sangat banyak.... " Kata Jamil lagi, menenangkan karyawannya.


   "Tapi dia itu orang jahat, Pak.... Istrinya sendiri saja digantung.... Nanti kalau dia jahat kepada kita, bagaimana ...??? " ungkap para karyawan.

__ADS_1


   Benar juga kata para karyawan itu. Jamil sudah pernah ditipu. Sudah pernah dibohongi. Sudah pernah diingkari. Dan apakah saat ini akan dibohongi lagi? Hari ini saja, dia sudah mengingkari lagi. Besok pasti juga akan ingkar. Tukang ingkar biasanya akan selalu ingkar.


__ADS_2