GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 50: ZIARAH


__ADS_3

    Sudah satu bulan Jamil tinggal di Kampung Naga. Benar seperti yang diceritakan oleh Pak Lurah, kampung itu


meskipun prural, dengan latar sosial budaya yang macam-macam, tetapi masyarakatnya hidup tenteram damai dan saling menghargai satu sama lain. Dari segi kepercayaan dan keyakinan yang berbeda-beda, tetapi mereka tidak saling hujat, tidak saling ejek. Kerukunan beragama sangat toleran di Kampung Naga ini. Bahkan dalam peringatan-peringatan hari besar agama, para penganut agama atau kepercayaan yang lain saling memberi ucapan dan ikut memeriahkan acaranya.


    Demikian juga dengan etnis yang ada di Kampung Naga. Meski menurut sejarahnya kampung itu dulunya adalah kamping pecinan, namun seiring waktu, Kampung Naga ditempati oleh berbagai etnis. Ada Jawa, keturunan Cina, keturunan Arab, bahkan juga banyak perantau dari Bugis dan Dayak yang menetap di situ. Mereka tidak pernah mempersoalkan asal usulnya. Oleh sebab itulah, kampung ini sangat pantas kalau disebut Kampung Binneka Tunggal Ika. Semua warganya hidup rukun dalam keberbedaan etnis. Saling menghormati budaya masing-masing daerah, yang tentunya dengan berbagai bahasa yang sering digunakan untuk percakapan dalam pergaulan sehari-hari. Oleh sebab itulah, di Kampung Naga ini lebih banyak yang berbahasa Indonesia untuk memudahkan komunikasi antar warga.


    Demikian juga dari segi profesi atau pekerjaan. Meski ada yang jadi pejabat pemerintah, jadi pengusaha, jadi pedagang, buruh maupun karyawan, bahkan ada juga yang jadi tukang tambak dan nelayan. Tetapi mereka semua berbaur, menyatu, dan akrab. Tidak ada yang membeda-bedakan. Tidak ada yang merasa paling hebat, paling penting maupun paling menonjol. Antara kaya miskin, pejabat dan buruh, semuanya setara, senasib seperjuangan. Inilah kampung yang katanya dulu pernah diidam-idamkan oleh ayahnya Nenek Amak. Kampung yang damai, tentram dan sejahtera.


    Sore itu, saat Jamil pulang kerja, seperti biasa ia langsung menyapu halaman rumah. Dan di saat-saat seperti itu pula yang sudah diamati oleh Jamil, Nenek Amak datang ke rumahnya. Ya, sampai hari ini Jamil tetap menganggap kalau rumah itu adalah milik Nenek Amak. Bukan miliknya. Maka ia tidak risau, tidak gusar, dan tidak jengkel jika Nenek Amak datang ke rumah itu. Apalagi, Nenek Amak selalu baik untuk menasehati Jamil maupun Juminem. Dan yang paling disenangi Juminem, Nenek Amak ini selalu menimang dan menidurkan Melian saat malam tiba.


    Namun yang selalu dirasa aneh oleh Jamil maupun Juminem adalah kedatangan dan kepulangan sang nenek itu yang tanpa diketahui. Itulah yang mesih menjadi tanda tanya bagi mereka berdua. Sebenarnya ingin rasanya bagi Jamil untuk menanyakan, tetapi takut hal itu salah atau dianggap tidak sopan. Maka ia pun diam dan hanya membatin dalam hatinya.


    Seperti biasa, Nenek Umak memangku Melian yang sudah tidur di kursi tamu. Pasti sambil berbincang yang intinya kalau tidak menceritakan masa lalu pasti menasehati Jamil dan Juminem. Banyak kebaikan yang dituturkan.


    "Kapan kamu libur, tidak kerja?" tanya Nenek Amak itu kepada Jamil.


    "Hari Minggu, Nek .... Memang ada apa, Nek?" kata Jamil.


    "Nenek mau ajak kalian kalan-jalan ...." jawab sang nenek.


    "Ke mana, Nek?" tanya Juminem yang langsung merespon senang.


    "Ke tempat makam ibunya atau bapaknya anak ini." sahut sang nenek.

__ADS_1


    "Lah, ke Lasem, Nek? Kita nyekar, berziarah kubur?" tanya Juminem lagi.


    "Iya .... Tidak ada salahnya kita menengok kubur orang tua. Setidaknya, Melian besok tahu siapa orang tuanya." kata nenek itu.


    "Iya, Nek .... Kalau kuburnya Cik Lan kami tahu. Di Lasem .... Tapi kalau kubur bapaknya Melian saya tidak tahu, Nek ...." jelas Jamil yang memang tidak tahu sama sekali seperti apa ayahnya dan di mana kuburnya.


    "Betul, Nek .... Waktu itu kami ikut ke kubur waktu pemakaman Cik Lan .... Wah, menakutkan sekali, Nek ...." sahut Juminem.


    "Menakutkan bagaimana?" tanya nenek itu.


    "Iih ..., serem, Nek .... Waktu acara pemakaman itu, dari cuaca yang tadinya terang benderang, tiba-tiba langit berubah jadi gelap. Kilat menyaka bagai cemeti neraka, petir menyambar-sambar seakan mau menghancurkan bumi. Seketika itu juga hujan teramat deras turun mengguyur tanah makam. Saking derasnya hujan itu sampai-sampai mata tidak sanggup melihat apa yang ada di sekitar. Tentu orang-orang pelayat yang mengantar ke kuburan langsung ketakutan dan mencari tempat berteduh. Termasuk para pekerja makam yang akan menguburkan peti Cik Lan. Semuanya meninggalkan peti mati Cik Lan di pinggir lubang pekuburan. Saat itu kami bersama Melian berteduh di bangunan rumah makam, cukup lumayan jaraknya ke tempat penguburan Cik Lan. Tetapi anehnya, kami bisa melihat apa yang terjadi pada jenazah Cik Lan. Peti jenazah Cik Lan itu tiba-tiba terangkat ke atas, tanpa ada orang yang mengangkatnya, karena di sana memang sudah tidak ada orang sama sekali. Lalu peti jenazah itu turun dan masuk ke lubang kubur, seakan ada yang menguburkan. Padahal di situ tidak ada siapa-siapa. Hanya dalam sesaat, tiba-tiba hujan berhenti. Petir berlari untuk sembunyi. Langit yang tadinya gelap gulita diselimuti awan hitam, seketika itu berubah menjadi biru cerah tanpa ada mendung sedikitpun. Dan ketika orang-orang kembali ke kubur itu, ternyata pemakaman Cik Lan sudah selesai dan sangat sempurna. Sangat aneh. Kami heran menyaksikan itu." cerita Juminem kepada Nenek Amak.


    Tentu Nenek Amak terkesima mendengarkan cerita Juminem tersebut. Numun bukan karena keanehan peristiwa yang terjadi kala itu. Nenek Amak sudah mulai berpikir, mungkinkah wanita itu yang ada hubungan dengan misteri gelang giok yang pernah dikenakan ayahnya?


    Maka Nenek Amak pun ingin untuk sesegera mungkin melihat kuburan wanita yang bernama Cik Lan tersebut.


    "Besok Minggu, Nek .... Saya libur, Jadi bisa mengantar Nenek ke makam. Nanti sekalian ngajak Melian." jawab Jamil.


    "Kalau begitu besok Minggu kita berangkat ke makam. Ajak istri dan anakmu." kata Nenek Amak.


    "Kalau naik bis, kita kesulitan menuju ke makam, Nek .... Tempatnya jauh. Saya akan coba cari carteran mobil yang mau mengantar kita." kata Jamil yang tentu berpikir dua kali jika disuruh naik bus menuju makam Cina yang ada di Bukit Lasem tersebut.


    Namun tentunya, untuk menyewa mobil carteran pasti juga berat bagi Jamil. Karena ia belum punya uang untuk menyewa mobil tersebut. Bingung. Paling-paling, besok dia akan kasbon ke majikannya.

__ADS_1


    Pagi itu, Jamil berangkat kerja lebih awal. Tujuannya ingin menemui majikannya untuk kasbon, pinjam uang bayaran. Kalau ia berangkat awal, temannya belum ada yang datang, sehingga tidak ada yang tahu kalau ia kasbon.


    Maka begitu sampai di tempat kerja, Jamil langsung tengak-tengok. Tentu mencari majikannya.


    "Mas Jamil ...." tiba-tiba saja majikannya justru memanggil lebih dulu.


    "Nggih, Pak .... Ada apa, Pak?" sahut Jamil yang langsung menghampiri majikannya yang memanggil tersebut, tentu Jamil menjadi agak ragu. Takut untuk menyampaikan niatnya mau kasbon tadi.


    "Ini ada rezeki untuk Mas Jamil .... Buat beli susu untuk anaknya ...." kata majikannya itu yang langsung menjulurkan tangannya memberikan amplop berisi uang kepada Jamil.


    Tentu Jamil bingung. Rezeki apa itu? Niatannya kasbon kok malah diberi uang.


    "Terima kasih, Pak atas pemberian rezeki ini, semoga berkah, barokah melancarkan rezeki Bapak ...." kata Jamil yang tentu sangat senang dapat rezeki nomplok tersebut.


    "Sama-sama, Mas Jamil .... Itu pelanggan kita yang di Tuban kemari, yang Mas Jamil ikut mengantar ke sana ..., dia senang barangnya bagus-bagus. Dan beliau juga cerita, katanya kamu mau disangoni malah ditolak. Itu gantinya, Mas Jamil .... Memang susah nyari karyawan yang bisa mengambil hati pelanggan. Untung ada Mas Jamil ...." kata majikannya.


    "Tapi, Pak ..., kalau boleh uang ini akan saya gunakan untuk sewa mobil. Untuk nyarter .... Karena besok Minggu rencananya kami mau nyekar ke Lasem." kata Jamil yang meminta izin menggunakan uang pemberian majikannya itu tidak untuk membelikan susu anaknya, tetapi untuk menyewa mobil.


    "Walah, Mas Jamil .... Lha kalau hanya untuk nyekar, tidak usah sewa mobil .... Pakai saja mobil itu, tinggal nanti kamu minta tolong sopir untuk mengantar .... Yo wis kalau tidak berani minta tolong sopir, nanti saya yang nyuruh .... Yo ..., gak usah sewa. Eman-eman uangnya. Nanti buat jajan saja, sopirnya diajak makan." kata majikannya yang amat baik kepada Jamil.


    "Nggih, Pak .... Maturnuwun .... Saya mohon izin untuk ke tempat kerja." kata Jamil yang langsung ke tempat kerja, karena teman-temannya sudah pada datang.


    Akhirnya, hari Minggu pagi, mobil station milik majikan Jamil sudah datang ke halaman rumah Jamil. Temannya yang menyetir untuk mengantarkan keluarga Jamil ke makam di Bukit Lasem. Makam para leluhur keturunan Cina.

__ADS_1


    Jamil duduk di depan menemani temannya yang menyetir. Sedangkan Juminem memangku Melian duduk di bangku tengah bersama Nenek Amak. Tentu Juminem sangat senang diajak naik mobil carteran. Seumur hidupnya baru kali ini ia naik mobil pribadi. Kalaupun bepergian yang agak jauh, paling banter naik bus. Maka ia merasakan sangat enak dan asyik. Apalagi mobil itu hanya diisi empat orang penumpang ditambah Melian yang masih bayi. Pasti sangat leluasa dan nyaman.


    Harapannya, Jamil dan Juminem bisa menunjukkan makam Cik Lan kepada Nenek Amak.


__ADS_2