
Sudah satu setengah bulan lebih, Melian belum pernah pulang ke rumahnya. Ada rasa kangen dengan masakan ibunya. Kangen juga dengan Mbak Ika yang selalu diajak ngobrol. Ingin rasanya ia pulang ke kampung. Apalagi setelah ada perselisihan dengan Mei Jing, teman sekolah yang sudah sangat akrab dengannya, dan ternyata justru menghina ibunya. Tentu Melian justru sangat kangen dengan ibunya yang diejek temannya itu.
"Besok Sabtu, pulang sekolah, aku mau mudik ke Juwana .... Siapa yang mau ikut ...?!" kata Melian pada teman-teman kost, saat makan malam bersama-sama di ruang makan.
"Aku mau ...."
"Aku ikut ...."
"Aku juga mau ...!"
Tentu teman-temannya yang belum pernah pergi ke Kota Pati, mereka ingin tahu. Dan tentunya ingin ikut Melian, mudik ke Juwana. Terutama Vanda, yang ingin sekali tahu tahu rumah Melian.
"Tapi jangan kaget .... Juwana udaranya cukup panas, maklum di daerah pantai." kata Melian yang memberitahu kondisi daerahnya.
"Jauh, nggak ...?" tanya yang lain.
"Lumayan .... Tapi nanti naik bus jurusan Semarang - Surabaya, langsung tidur. Nggak terasa ...." jawab Melian.
"Lhoh ..., kok malah tidur ...? Kita kan maunya sambil lihat-lihata kanan kiri .... Kan kita belum pernah ke Juwana ...." sahut Ivon, kakak kelasnya yang tentu lebih ingin tahu.
"Iya .... Naik bus Surabaya enak kok .... Nyaman dan cepat. Tidak berhenti sembarangan. Paling-paling nanti hanya berhenti di Demak, Kudus, dan Pati .... Sudah ..., sampai." sahut Melian memberi gambaran.
"Dik, aku ikut ya ...." kata Cik Indra tiba-tiba, yang rupanya juga kepengin tahu daerah Juwana.
"Iya, Cik .... Saya senang kalau Cik Indra mau ikut bersama kami." sahut Melian yang sangat girang.
"Ada bandengnya, nggak ...?" tanya Cik Indra, tentu ingin beli oleh-oleh khas Juwana.
"Ada, banyak .... Besok kita ke tambak, makan bandeng bakar lumpur ...." sahut Melian.
"Asyik ...." sahut yang lain yang juga pasti senang.
"Apa itu bandeng bakar lumpur?" tanya Cik Indra penasaran, baru kali ini ia mendengarnya.
"Itu ..., bandeng yang baru diambil dari tambak, kemudian dibalut dengan lumpur tambak, tanah liatnya, kemudian dibakar dengan api kayu. Rasanya enak ...." jelas Melian yang sering dibelikan oleh ibunya.
"Iih ..., bikin ngiler .... Aku mau .... Besok tolong bawakan, ya ...." sahut yang lain.
"Kalau sisa .... Hehe ...." sahut Cik Indra meledek.
*******
Hari sudah kelewat siang. Matahari sudah mulai condong ke langit barat. Terminal Terboyo, terminal bus Semarang yang ada di daerah Kaligawe, sudah penuh sesak oleh orang-orang yang akan naik bus. Maklum hari Sabtu. Para pekerja yang menglaju saatnya untuk pulang. Demikian pula yang ngekost dari daerah, biasanya di akhir pekan mereka pulang kampung untuk menengok keluarga. Makanya setiap hari Sabtu sore, bus penuh para pemudik. Dan besoknya, hari Senin pagi, gantian yang ramai penuh sesak dengan orang-orang yang akan berangkat kerja ke kota. Itu kebiasaan yang terjadi di terminal.
Melian bersama Ivon, Vanda dan Cik Indra, gadis-gadis cantik ini ikut mengantri untuk naik bus. Tetapi bagi empat perempuan cantik dengan kulit putih dan bermata sipit tersebut, tidak terlalu sulit untuk mendapatkan tempat di bus. Pasalnya, Melian langsung naik bus jurusan Surabaya, yang hanya mau menurunkan penumpang setelah Kudus. Penumpang yang akan turun di Demak maupun Kudus tidak boleh naik. Kalaupun mau naik, ongkosnya membayar sampai Surabaya. Tentu para penumpang yang dekat turunnya, tidak mau naik bus itu.
"Surabaya ..., Surabaya ....!" teriak kondektur menawarkan.
Melian langsung mengajak teman-temannya naik ke bus Indonesia Raya itu. Empat gadis itu langsung masuk. Begitu mau masuk, kondektur langsung bertanya, "Turun mana?"
"Juwana ...." sahut Melian yang terus masuk mencari tempat duduk, empat berjejeran.
"Non ekonomi, ya ...!" kata kondektur itu lagi.
"Ya .... Nanti berhenti di depan Kuningan Bima Sakti, ya ...." sahut Melian memberi tahu kondektur.
Sebentar saja bus Indonesia Raya itu sudah penuh. Bus itu pun terus berangkat, meninggalkan terminal, menyusuri jalan pantura. Mereka berempat duduk di jok sisi kiri. Melian bersama Cik Indra duduk bersama di jok depan, sedangkan Ivon dan Vanda duduk di belakangnya.
Ya, untuk menyaksikan pemandangan di pinggir jalan, paling nyaman memang duduk di depan atau sisi kiri. Mereka berempat tentu ingin menikmati pemandangat di sepanjang jalan yang dilaluinya. Maklum, selain Melian, tiga orang temannya itu belum pernah lewat jalan pantura.
"Iih ..., itu kok aneh ...? Hihihi ...." Vanda menepuk tangan Ivon, menunjukkan sesuatu kepada temannya.
"Apaan ...?" tanya Ivon.
"Itu ..., tuh .... Itu yang di sungai .... Hehehe ...." Vanda menunjukkan.
"Iih, jorok .... Dasar anak pikirannya ngeres ...!" Ivon yang tahu langsung ngomel.
__ADS_1
"Ada apaan, sih ...? Kok pada ribut ...?" Cik Indra penasaran.
"Nih, anak jorok ....!" sahut Ivon.
Ya, Vanda tadi menunjukkan pada Ivon, kalau di sungai sedang ada orang mandi. Itu hal biasa. Pemandangan sore atau pagi di sepanjang pantura Demak, sungai yang ada di kanan kiri jalan memang masih digunkan oleh penduduk atau warga sebagai tempat MCK, mandi, cuci dan kakus. Dan saat itu, waktu sudah sore. Tentu banyak orang sedang mandi. Itu membuat Vanda jadi geli menyaksikannya. Dan saat ditunjukkan ke Ivon, pasti jengkel, walau mungkin juga ingin tahu.
Setelah Cik Indra tahu yang dimaksud oleh dua orang yang ribut itu, ia pun ikut berseloroh, "Itu namanya Sungai Mekong ...." sahut Cik Indra.
"Sungai Mekong ...?!" anak perempuan berdua itu bingung dengan yang dimaksud Cik Indra.
"Iya .... Pamer Bokong .... Hahaha ...." ternyata Cik Indra bisa juga gojek.
"Uuh .... Cik Indra ...!" dua anak yang serius itu sudah kena dikerjain oleh caciknya.
Mereka pun kembali asyik menyaksikan pemandangan. Hingga akhirnya melintas di tengah Kota Demak.
"Sebentar lagi kita akan sampai di Masjid Demak, yang dibangun oleh para wali zaman dahulu ...." kata Melian yang paham saat akan melintas di alun-alun Demak. Kala itu bus luar kota masih boleh masuk dalam kota, melewati Masjid Agung Demak.
"Mana ..., mana ..., mana ...?" tanya teman-temanya.
"Sebentar lagi .... Lihat di kiri ...." kata Melian.
"Yang masuk dalam buku sejarah itu, ya ...?" tanya Ivon dan Vanda.
"Ya, betul .... Itu sejarah bangsa, masa penyebaran agama Islam di tanah Jawa yang diprakarsai oleh Wali Songo. Masjid Demak ini dibangun oleh Wali Songo." jelas Melian.
"Nah ..., itu dia ...." kata Cik Indra sambil menunjukkan bangunan masjid yang ada di sebelah kiri jalan.
"Wao .... Ini bangunan zaman dahulu, ya .... Yang dibangun oleh Wali Songo itu? Bagus sekali ...." kata Vanda yang berdecak kagum.
"Kalau keratonnya ada di mana? Dulu kan ada Kerajaan Demak." tanya Ivon.
"Wah, kalau itu saya belum tahu .... Karena belum ada obyek wisatanya." jawab Melian berterus terang, karena memang sampai saat ini belum ada wisata ke Keraton Demak. Entah di mana bekas kerajaannya.
"Kalau ini apa?" tanya Ivon lagi.
Bus Indonesia Raya itu pun terus melaju dengan kecepatan yang tinggi. Minibus kecil-kecil yang hanya antar terminal itu disalip berkali-kali. Pertanda kalau bus jurusan Surabaya itu memang sangat cepat. Apalagi tidak menurunkan penumpang disepanjang perjalanan antara Semarang - Demak. Paling hanya menaikkan beberapa penumpang saat di terminal Demak, itu pun sangat cepat. Maka tidak heran kalau bus antar kota antar provinsi initerkenal dengan sebutan bus cepat. Di kaca depan sopir ada tulisannya bus cepat, AC non ekonomi.
Bahkan di terminal Kudus, bus Indonesia Raya ini juga tidak menurunkan penumpang. Pasti tidak ada yang berani naik kalau turun Kudus, karena bayarnya harus sama dengan yang ke Surabaya. Hanya menaikkan dua penumpang saja, sehingga kursinya kurang. Beruntung penumpangnya laki-laki dewasa yang gagah.
"Ke tengah dulu .... Nanti di Juwana ada yang turun ...." kata kondektur yang menyuruh penumpang yang berdiri tadi agar maju ke tengah. Tentu sambil narik ongkos.
Dua penumpang laki-laki itu menurut. Lantas merogoh dompet untuk mengambil uang guna membayar.
"Turun mana?" tanya kondektur.
"Tuban." jawab dua penumpang itu.
"Tancap terus ....!" kata kondektur itu, saat sang sopir menyalip beberapa mobil.
Pasti kendaraan akan mengalah jika akan disalip oleh bus luar kota ini. Pasalnya takut kesrempet atau diklakson dengan suara keras dan kadang-kadang digertak oleh kernet ataupun kondektur. Apalagi sepeda motor atau sepeda ontel. Kena anginnya saja bisa kabur tertiup hempasannya. Inilah yang terkadang tidak disadari oleh sopir, yang akan mengakibatkan kecelakaan yang fatal.
"Nah, ini sudah mulai masuk Kota Pati." kata Melian pada teman-temannya.
"Sudah dekat, ya ...?" tanya temannya.
"Masih lumayan ..... Itu gapuranya, ada tulisan Pati Bumi Mina Tani ...." sahut Melian sambil menunjukkan gerbang masuk kota.
"Artinya apa, Mel ...?" tanya temannya.
"Kata guru SMP saya waktu itu, katanya berarti kalau Pati itu merupakan daerah penghasil ikan dan pertanian. Mina itu artinya ikan, tani itu artinya pertanian. Makanya di Kota Pati ini ada pabrik kacang yang terbesar di Indonesia, karena rakyatnya banyak yang bercocok tanam kacang." jelas Melian.
"O, iya ..., ya .... Itu bahkan produk kacangnya sudah diekspor ke luar negeri." sahut temannya.
Bus itu tidak masuk terminal. Bablas meninggalkan Kota Pati. Dan tentu sebentar lagi akan sampai Juwana.
"Juwana ..., Juwana ..., Juwana .... Siap-siap ...!" kata kondektur memberitahukan ke penumpang.
__ADS_1
"Ayo, kita siap-siap ...." ajak Melain pada teman-temannya.
"Sini, Cik .... Mendekat ke pintu ...." kata kondektur itu sambil memegangi tangan penumpangnya agar bersiap di pintu, untuk bergegas turun.
Bus berhenti dekat dengan toko kerajinan kuningan Bima Sakti. Mereka berempat, Melian bersama teman-temannya langsung turun dari bus. Tentu sangat tergopoh, karena kondektur bus itu menyuruh cepat, dan bus langsung melaju kembali.
Hanya sekitar satu setengah jam, bus Indonesia Raya yang berangkat dari Semarang itu sudah sampai di Juwana. Waktu belum begitu sore. Pabrik dan toko kerajinan kuningan baru saja ditutup. Maklum, sudah jam empat lebih. Namun pintu pagar dan pintu kecil ke ruang dalam belum ditutup, masih banyak karyawan yang belum pulang. Termasuk Jamil, sang pemilik pabrik.
"Melian ....!!" teriak Mbak Ika yang keluar dari ruang toko yang sudah tertutup, kaget melihat Melian datang. Tentu Ika langsung memeluk Melian.
"Mbak Ika ...." sahut Melian yang tentu juga kengen dengan pegawai bapaknya itu.
"Pak ...!!! Melian pulang ...!!" Ini sama teman-temannya ...!" kata Ika yang tentu memberi tahu pimpinannya.
"Mana ...?!" sahut Jamil yang langsung berlari keluar.
"Pak-e ....!!" Melian langsung menubruk dan memeluk bapaknya.
"Melian ....! Piye, Nduk ...? Sehat awakem ...? Numpak opo iki mau?" kata Jamil yang tentu juga kangen pada anaknya.
"Naik bus, Pak-e .... Ini ..., sama teman-teman Melian satu kost, pengin ikut ke Juwana. Ingin tahu rumah kita ...." jawab Melian sambil menunjukkan teman-temannya yang masih berdiri di situ. Dan kemudian teman-teman Melian ini menyalami Jamil dan beberapa karyawan yang masih ada di situ. Terutama pada Mbak Ika.
"Yo wis, ayo .... Teman-temannya diajak masuk dulu. Nanti ke rumah bareng, biar Mak-e kaget .... Hehehe ...." kata Jamil yang langsung menyuruh anaknya mengajak temannya duduk di dalam. Tentu minta tolong Mbak Ika untuk mengambilkan minuman.
"Ayo, masuk sini .... Ini tempat usaha bapakku ...." kata Melian mengajak masuk teman-temannya.
"Mas Tarno ...! jangan pulang dahulu .... Tolong nanti Melian dan teman-temannya diantar ke rumah ...." kata Jamil pada sopirnya.
"Nggih, Pak .... Sekarang?" tanya Tarno.
"Sebentar .... Biar minum dahulu ...." jawab Jamil.
"Nggak usah diantar Mas Tarno .... Nanti kita naik becak saja .... Biar lebih asyik." kata Melian yang tidak berminat diantar Mas Tarno.
"Pakai mobil baru, Mbak Mel ...." sahut Mas Tarno.
"Hah ...?! Ada mobil baru ...?" Melian kaget.
"Itu, Mbak Mel .... Plat nomernya masih putih ...." kata Mas Tarno sambil menunjukkan mobil barunya ke Melian.
Melian pun mengikuti Mas Tarno, ingin melihat mobil baru yang dikatakannya.
"Wao .... Mobil siapa ini, Mas Tarno ...?" tanya Melian.
"Ya mobil Pak Jamil, lah ...." kata sang sopir itu yang tentu agak pamer.
"Asyiiik .... Tapi kami mau naik becak saja, sambil keliling kota. Mau lihat-lihat ...." jawab Melian yang tetap ingin mengajak temannya naik becak.
Dan benar, setelah beberapa saat istirahat, minum teh botol, dan sudah pada ke kamar kecil, Melian mengajak teman-temannya naik becak. Tujuan utamanya pulang ke rumah di Kampung Naga. Tetapi ia ingin sekalian mengajak temannya berkeliling menyaksikan keindahan Kota Juwana saat menjelang malam.
Bapaknya sudah pulang duluan. Tentu akan mengabari Juminem agar bersiap memberikan suguhan untuk anaknya yang pulang bersama dengan teman-temannya.
Setelah berkeliling, Melian pun meminta tukang becak yang mengantarkan dirinya dan teman-temannya itu untuk pulang ke rumahnya yang di Kampung Naga. Tukang becak itu sudah tahu dan kenal Melian. Karena setiap hari mangkal di depan toko bapaknya.
Tentu teman-teman Melian senang sudah diajak keliling, bahkan sampai ke muara sungai yang dijadikan sandaran perahu-perahu nelayan. Kalau pagi pasti lebih ramai, karena kapal-kapal nelayan menepi menurunkan hasil tangkapan ikan. Mendengar cerita itu, pasti teman-temannya tertarik untuk melihat besok pagi.
Kali ini, becak sudah sampai di halaman rumah Melian. Menurunkan para penumpangnya yang sudah diantar keliling melihat keindahan kota kecil Juwana.
"Melian ...!!" teriak ibunya, saat tahu anaknya pulang.
"Mak-e ...!!" Melian juga berteriak dan langsung memeluk ibunya, karena rasa kangennya.
Teman-temannya menyaksikan ibu dan anak yang berpelukan itu. Ada rasa heran bagi mereka. Karena ibu dan bapak Melian memang bukan Cina. Tidak ada goresan sedikitpun yang memberi ciri kalau orang tua Melian itu keturunan Cina. Maka Ivon dan Vanda pasti agak bingung. Apa mungkin yang dituduhkan oleh Mei Jing itu benar.
Beda dengan Cik Indra yang sudah pernah ketemu bapak dan ibunya Melian. Memang bukan keturunan Cina. Tapi itu bukanlah urusannya. Tuhan itu maha kuasa. Apapun bisa tercipta karena kuasa Tuhan. Tidak baik untuk diperdebatkan, dipermasalahkan, atau bahkan untuk dijadikan bahan pertengkaran.
"Ayo, masuk .... Sini, kemari .... Ini rumahnya Melian ...." kata Jamil yang meminta teman-teman Melian untuk masuk ke rumah.
__ADS_1