GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 219: TERGILA-GILA


__ADS_3

    Rupanya ditolak Melian seperti itu, Kim Bo tidak mencari ganti cewek lain. Padahal kalau mau, banyak cewek yang pasti suka pada Kim Bo. Tentu saja, Kim Bo ini cukup ganteng. Potongannya seperti Andi Lauw bintang filem Hongkong itu. Mobilnya keren. Uangnya banyak. Dia anak orang kaya. Orang tuanya pengusaha sukses eksport import. Mau apa saja pasti bisa.


    Karena sering menghambur-hamburkan uang itulah, maka banyak gadis-gadis yang ingin mendekat pada Kim Bo. Untuk apa lagi kalau bukan ingin mendapatkan uangnya. Entah yang dibelikan baju, dibelikan cincin atau perhiasan, serta pastinya diajak makan-makan.


    Namun begitu cintanya tidak digapai oleh Melian, Kim Bo justru tergila-gila pada gadis yang ditaksirnya itu. Berkali-kali Kim Bo meminta bantuan kepada Putri, untuk merayu Melian agar mau ditemui Kim Bo.


    "Halo, Melian .... Ini kamu ada di mana?" tanya Putri saat menelepon Melian.


    "Biasa, Putri .... Cari hiburan." jawab Melian.


    "Ini lho, si Kim Bo nyari kamu ...." kata Putri menyampaikan pesan.


    "Ih, gile .... Ngapain nyari-nyari ...?!" sahut Melian.


    "Katanya cuman mau minta maaf ...." kata Putri lagi.


    "Nggak perlu, lah .... Dia kan gak punya salah ...." sahut Melian lagi.


    "Iya .... Tapi katanya pengin ketemu sama kamu ...." tandas Putri.


    "Kalau mau, susul saja ke Ciliwung. Ini aku di bantaran Sungai Ciliwung .... Lagi ada urusan sama para pemulung ...." kata Melian yang tentu ingin mencoba apakah laki-laki itu mau masuk ke kawasan kumuh.


    "Oke, aku sampaikan ...." kata Putri yang tentu akan langsung menelepon Kim Bo.


    Tentunya, Melian memang tidak suka dengan laki-laki tipe seperti Kim Bo. Laki-laki yang suka membanggakan kekayaan orang tuanya. Pemuda yang menganggap cewek-cewek hanya tergila-gila dan menurut dengan uang menjadi kekuatannya. Dan Melian pasti tidak akan menanggapi apa kata-kata Kim Bo.


    Rupanya Kim Bo memang sedang tergila-gila dengan Melian. Makanya, apa yang dikatakan oleh Putri, kalau Melian berada di bantaran Sungai Ciliwung, Kim Bo langsung melajukan mobil mewahnya menuju Ciliwung. Pasti penuh harap akan ketemu Melian. Dan pasti di sana nanti ia bisa ngobrol leluasa bersama Melian. Setidaknya bisa bersanding bersama dengan Melian. Angan-angannya sudah jauh melayang, untuk bercanda dan berbincang bersama. Melian pasti akan jatuh cinta padanya.


    Maka Kim Bo pun melajukan mobilnya secara cepat. Tergesa untuk bertemu gadis yang didambakan. Dan dalam waktu lumayan cepat, Kim Bo sudah masuk ke daerah Kanal Banjir Barat.


    "Pak, kawasan gubug pemulung ada di sebelah mana, ya?" Kim Bo bertanya pada laki-laki di sekitar kawasan Ciliwung.


    "Itu, ke sana ...." jawab laki-laki yang ditanyai, sambil menunjukkan arah rumah-rumah gubug di bantaran Sungai Ciliwung.


    Tanpa mengucap terima kasih, Kim Bo langsung membelokkan mobilnya ke arah yang ditunjukkan laki-laki itu. Mobil mewah sedan berwarna merah membelok ke kawasan kumuh di bantaran Sungai Ciliwung. Hanya beberapa meter ia masuk. Tetapi langsung berhenti. Karena tidak ada jalan. Hanya tanah yang ditumbuhi rumput, dan bagian tengahnya yang terlihat tanah, karena dilewati gerobak-gerobak para pemulung setiap hari. Di kanan kirinya bertengger gubug-gubug kumuh serta timbunan barang-barang rongsokan. Mobilnya yang rodanya pendek, tidak bisa masuk. Kalau memaksa masuk, pasti akan menatap tanah-tanah di sekitarnya.

__ADS_1


    Belum sempat ia turun dari mobilnya, tiba-tiba di depan mobil itu sudah berdiri lima orang pemulung, menghadang mobilnya. Lima laki-laki dengan pakaian kotor itu pada membawa potongan balok-balok kayu. Dengan wajah marah, sambil memukul-pukulkan potongan-potongan kayu yang dipegangnya, di telapak tangan kirinya. Seakan lima laki-laki ini akan meremukkan mobil bagus yang baru saja masuk ke wilayahnya. Anggapan lima orang pemulung ini, pasti orang kaya ini akan mencari masalah. Jangan-jangan akan menggusur wilayahnya.


    Salah satu dari pemulung itu, sudah mengangkat kakinya, diinjakkan pada kabin mobil merah itu, yang memang sangat pendek, sehingga mudah saja untuk dinaiki kaki. Tidak hanya kakinya yang naik di kap mobil, tetapi potongan kayu yang dipegangnya juga sudah diletakkan di atas kabin. Seolah-olah orang-orang itu sudah siap untuk merusak mobil yang sudah masuk ke lahan kekuasaannya.


    "Ya ..., ya .... Maaf, saya akan pergi ...." kata Kim Bo dari dalam mobilnya, sambil memundurkan mobilnya kembali. Tentu ketakutan oleh lima orang yang menghadangnya dengan membawa pemukul dari potongan-potongan balok kayu itu.


    Apalagi, saat Kim Bo memundurkan mobilnya itu, lima orang yang siap memukulkan balok-balok, terus mengikuti. Terus menakut-takuti.


    Walau mobil itu pakai AC, tetapi jelas terlihat keringat Kim Bo bercucuran karena saking takutnya. Dan setelah bisa mundur, sampai di jalan, ia langsung pergi ngacir meningggalkan tempat itu. Ngebut sekencang-kencangnya karena saking takutnya.


    "Hahaha ....!!" lima orang pemulung itu tertawa puas sudah berhasil mengusir orang yang pamer kekayaan masuk wilayahnya.


*******


    Sementara itu, di kamar asrama, Melian yang baru datang dari kampung kumuh bantaran Sungai Ciliwung, tentu langsung mandi. Seperti biasa, pakaiannya pasti kotor dan bau tidak sedap. Pakaian-pakaian itu langsung masuk ke dalam mesin cuci.


    "Mel .... Kamu tadi ketemu sama Kim Bo, nggak?" tanya Putri pada Melian yang baru saja keluar dari kamar mandi.


    "Nggak .... Memang kenapa?" tanya Melian yang tentu tidak begitu respek dengan masalah Kim Bo.


    "Dia tadi telpon saya ..., nyari kamu ke bantaran Sungai Ciliwung .... Katanya saat sampai di tempat pemukiman kumuh, dia langsung dicegat oleh orang-orang  warga sana .... Katanya mau dikeroyok." kata Putri yang tentu sangat perhatian pada Kim Bo yang mencari Melian tersebut.


    "Ih, kok gitu ...?!" Putri kecewa.


    "Laki-laki macam apa yang hanya takut dicegat pemulung? Lhah, kalau saya ada masalah, apa yang bisa dia lakukan? Kalau saya dicegat orang, apa yang akan dia lakukan? Bagaimana dia akan melindungi ceweknya kalau penakut semacam itu?" kata Melian yang langsung menunjukkan kelemahan laki-laki itu pada Putri.


    Putri terdiam. Merenungi kata-kata Melian. Benar juga kata-kata itu. Laki-laki itu harus menjadi pelindung perempuan. Kalau laki-lakinya lemah, bagaimana nanti istrinya?


    "Tapi, Mel ..., dia itu katanya dihadang lima orang yang sudah siap memukulinya ...." Putri masih berusaha beralasan.


    "Itu baru lima orang .... Bagaimana kalau yang menghadang dia orang sekampung ...?! Dengar ya, Putri .... Hidup itu bukan sekadar menghitung berapa banyak harta benda yang dimiliki. Hidup itu bukan sekadar pamer mobil mewah. Hidup itu bukan sekadar senang-senang memuaskan nafsu. Tapi hidup itu punya banyak pertanggung jawaban. Bagaimana hubungan kita dengan Sang Pencipta, bagaimana hubungan kita dengan orang-orang yang ada di sekitar kita, dan bagaimana kita bisa memberikan arti dalam kehidupan ini. Banyak hal yang harus kita lakukan dalam hidup ini. Itu yang harus kamu pahami, Putri ...." Melian kini tegas menceramahi temannya, yang memang beberapa hari ini mulai berubah, sejak mengenal cowok.


    Putri terdiam. Ia tahu dirinya keliru berbicara dengan Melian. Melian memang berbeda dengan dirinya. Melian itu orangnya sangat mandiri dan pemberani. Tetapi dirinya, terlalu manja dan hanya mengandalkan harta kekayaan orang tuanya. Wajar kalau Melian mulai tidak senang dengan apa yang sudah dilakukannya. Dan itu terlihat ketika Melian sering menghindari bersama dengannya. Bahkan sering pulang larut malam saat Putri sudah tidur. Itu artinya Melian sudah malas berbincang dengan Putri.


    "Mel .... Melian ...." Putri memanggil dari tempat tidurnya.

__ADS_1


    Melian diam saja tak bersuara lagi. Kini, Melian sudah tidur.


    Pagi hari saat Putri bangun, Melian sudah tidak ada. Tidak seperti biasanya, Melian menyiapkan roti bakar dan susu. Setelah itu membangunkan Putri mengajak sarapan bersama. Tapi kali ini, di meja tidak ada sarapan, dan di kamar itu juga tidak ada Melian. Tidak ada pesan apapun. Entah pergi ke mana Melian. Tentu Putri bingung. HP-nya dipencet berkali-kali menelepon Melian, tetapi tidak ada dering panggilan. Artinya HP Melian dalam posisi of.


    "Ya ampun .... Ke mana sih anak ini ...?" gumam Putri sendiri, karena bingung ditinggal Melian.


    Akhirnya Putri keluar kamar. Lantas turun, tentu ingin menanyakan perginya Melian kepada petugas security yang ada di ruang lobi.


    "Pak, lihat Melian, gak ...?" tanya Putri pada petugas security yang kebetulan berjaga di luar lobi.


    "Tadi keluar .... Katanya mau jalan-jalan sambil cari sarapan." jawab si satpam.


    "Ya ampun, Melian .... Kok gak ngajak-ngajah sih ...." gumamnya agak kesal.


    Belum sempat pergi dari depan lobi asrama, sebuah mobil mewah masuk halaman asrama. Putri tahu, itu mobilnya Kim Bo.


    "Hai, Putri ...! Meliannya ada ...?!" Kim Bo langsung menanyakan Melian.


    "Tauk .... Orangnya hilang ...!" sahut Putri ketus.


    "Hilang ke mana? Biar aku cari ...." kata Kim Bo yang sok pahlawan.


    "Gombal ...!!" ejek Putri.


    "Benar .... Gue siap mencarinya ....!" kata Kim Bo lagi yang seakan meyakinkan.


    "Ah, orang dihadang pemulung saja ketakutan .... Sok jago, lo ...." kata Putri lagi yang mengejek Kim Bo.


    "Ayolah, Putri .... Di mana Melian ...? Gue mau ketemu nih ...." Kim Bo terus menanya.


    "Gak tahu ....!! Cari sendiri sana ...!!" sahut Putri yang kesal dengan Kim Bo.


    Memang benar yang dikatakan Melian semalam. kalau laki-laki model Kim Bo ini pasti tidak bertanggung jawab. Hanya mementingkan kebutuhannya sendiri saja. Cowok model seperti ini, tidak mungkin sanggup menjaga ceweknya. Paling-paling hanya butuh untuk memuaskan nafsu saja. Aslinya dia itu penakut.


    Akhirnya, Putri meninggalkan halaman asrama. Langsung naik ke kamarnya lagi. Tidak mau berurusan dengan Kim Bo. Bikin emosi. Biarlah dirinya akan menunggu Melian sampai nanti kembali ke kamarnya.

__ADS_1


    Kim Bo yang tergila-gila dengan Melian, mencoba menghubungi Putri melalui HP. Tapi sayangnya semua panggilannya tidak diangkat. Dibiarkan saja oleh Putri.


    "Akan aku tunggu Melian di sini, sampai nanti dia kembali. Pasti akan lewat sini." begitu kata Kim Bo yang benar-benar berharap bisa ketemu Melian.


__ADS_2