GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 183: GADIS IDOLA


__ADS_3

    Kedatangan Melian di rumah Gedongmulyo tentu banyak diketahui oleh tetangga. Terutama bakul sarapan. Karena Melian lebih memilih beli sarapan di tempat tetangganya itu. Alasannya, tentu tidak usah repot-repot memasak, hanya jalan sebentar, sudah bisa menikmati sarapan sesuka seleranya. Harganya pun sangat murah.


    Awalnya, hari Minggu pagi, memang Melian bersama bapak dan ibunya yang datang ke warung tetangganya itu. Tentu untuk sarapan tiga orang bersama-sama. Juminem dan Melian yang sudah pernah jajan di warung itu, lama saat selesai renovasi rumah, sekitar satu setengah tahun yang lalu. Melian masih kelas dua SMA. Dan kini Melian sudah lulus, meski ijazahnya belum keluar. Tetapi bagi Jamil, belum pernah ke warung itu.


    Walau sudah selang waktu yang lama, tetapi ibu penjual sarapan itu masih ingat dengan Melian dan Juminem. Ya tentu, karena Melian sangat cantik dengan kulit yang putih dan mata sipit. Cucu Babah Ho yang sangat terkenal. Wajar kalau Melian langsung diingat oleh para tetangganya.


    "Mau sarapan apa, Nonik cantik ...? Kok sudah lama tidak pernah kemari ...?" tanya bakul sarapan itu pada Melian.


    "Iya, Bu .... Saya sarapan sama nasi pindang, Bu ..., minumnya teh hangat." jawab Melian yang langsung memesan sarapan.


    "Melian kemarin persiapan ujian, Bu .... Jadi belajar terus, ndak boleh pergi-pergi .... Biar lulus." kata Juminem yang menjelaskan pada ibu bakul sarapan itu.


    "Ooo .... Lha terus ..., ini khan sudah pengumuman to ...?" tiba-tiba salah seorang pembeli yang makan di situ ikut nimbrung bicara.


    "Eh, iya .... Melian sudah lulus dan diterima kuliah di Jakarta .... Makanya ini mumpung masih libur ngajak dolan ke Gedongmulyo .... Ya, sambil bersih-bersih.


    "Ooo .... Wah pinter banget ini anaknya .... Lha kok sudah di terima kuliah di Jakarta, to .... Kan belum keluar ijazahnya ...? Lha wong keponakan saya juga baru lulus SMA kemarin itu kok ...." kata orang itu lagi.


    "Iya .... Melian itu diterima kuliah tanpa tes .... Langsung diterima, wong anak saya ini ranking terus, kok .... Lha ini tinggal nunggu ijazahnya saja, terus dibawa kuliah ke Jakarta." jawab Juminem dengan bangga menceritakan anaknya.


    "Walah .... Pinter tenan anaknya ...." kata orang itu.


    "Ya mesti .... Anaknya orang kaya kok disamakan dengan ponakanmu yang nggak punya .... Bisa sekolah saja sudah beruntung." kata si ibu penjual sarapan.


    "Anaknya dileskan, ya ...?" tanya perempuan lain yang juga antri membeli.


    "Tidak .... Ya hanya sekolah saja ...." jawab Juminem.


    "Sekolahnya di mana, Nik ...?" tanya perempuan itu lagi.


    "Di Pati ...." jawab Melian sambil makan.


    "Ini mau liburan di sini lama, ya ...?" bapaknya yang membuat minuman, suami penjual sarapan itu ikut nimbrung bertanya.


    "Iya, Pak ...." jawab Melian.


    "Nggih, Pak .... Nanti saya titip Melian ya, Pak ...." Jamil ikut menyaut si bapak itu.


    "Lhoh ..., memang ditinggal?" tanya si bapak itu.


    "Lha saya kan harus kerja, Pak ...." jawab Jamil.


    "Iya .... Lha ini kok dengaren si Parmo yang biasa mematikan lampu, kok ya belum kemari ...." kata ibu penjual sarapan yang sudah mengenal Parmo, adik iparnya Irul, yang setiap hari menyalakan dan mematikan lampu.


    "Paling nanti Mas Irul sama Cik Indra yang kemari .... Wong sudah saya beri tahu, kok ...." jawab Jamil yang memang sudah memberi tahu ke Irul kalau mau menginap di Lasem.


    "Ooo ...." si penjual sarapan itu melongo.


    Jamil, Juminem dan Melian pun asyik menikmati sarapan yang disajikan di warung itu. Murah meriah, tetapi sangat nikmat.


    Saat itu, datang seorang ibu dengan anak perempuannya yang sudah gadis. Masuk ke warung, tentu untuk mencari sarapan.


    "Ee ..., lha ini .... Temannya Nonik Melian .... Ini juga baru lulus SMA .... Ini, Nduk ..., ada temanmu .... Sana kenalan ...." tiba-tiba si bapak yang membantu istrinya membuatkan minuman para pembeli itu menunjuk ke gadis yang baru datang, yang memang sepantaran dengan Melian.


    "Siapa, Pak ...?" tanya sang ibu yang baru saja datang dengan anak gadisnya itu.

__ADS_1


    "Ini .... Nonik Melian .... Cucunya Babah Ho .... Anaknya Cik Lan itu lho ...." jawab si bapak itu.


    "Masak, sih ...?! Ini anaknya Cik Lan ...?! Siapa namanya ...?!" tanya perempuan itu tidak percaya, sambil mengamati Melian.


    "Iya, Bu .... Nama saya Melian ...." jawab Melian.


    "Ya ampun .... Kamu sudah jadi gadis cantik .... Seperti ibumu .... Eh, ibumu itu dulu teman saya sekolah .... Kalau berangkat dan pulang sekolah mesti bareng saya .... Eh, anaknya kok sudah besar dan cantik sama ibunya." kata perempuan itu yang tentu sudah memeluk tubuh Melian, dan tentunya teringat pertemanannya dengan Cik Lan dulu.


    "Ya pas, to .... Lha wong anakmu juga sama dengan Nonik ini kok .... Ini juga baru lulus SMA ...." kata ibu penjual sarapan itu ikut nimbrung.


    "Yo ndak to, Mak .... Lha Ria ini kan anak saya yang ragil .... Kakaknya kan sudah kerja .... Nikahnya duluan saya sama Cik Lan ...." sahut perempuan itu.


    "O, iya ..., ya ...." ibu itu baru ingat.


    "Ayo, main ke rumahnya Ria .... Dulu ibu kamu juga sering kok main ke rumah saya ...." kata perempuan yang sebaya dengan Juminem itu.


    "Iya, Bu .... Terima kasih .... Mbak Ria main ke rumahku, ya ...." kata Melian yang langsung menyalami gadis sepantarannya yang bernama Ria itu.


    "Ya ..., Ria main ke rumahnya Nonik Melian .... Ngobrol-ngobrol di sana .... Dari pada rumahnya sepi ...." kata si ibu penjual sarapan itu.


    "Hooh, Nduk .... Biar nggak suntuk di rumah terus .... Sambil tanya-tanya, si Melian mau kuliah di mana ...?" kata ibunya.


    "Ya, Bu .... Nanti habis mandi, saya main ke rumah Melian ...." jawab Ria yang langsung ngobrol dengan Melian di luar warung.


    "Anak sekarang itu kalau nggak disuruh orang tua, nggak diajari ..., dia itu nggak mudeng ...." kata si ibu penjual sambil meladeni para pembeli.


    "Betul, Bu .... Tahunya itu baca sama nonton TV." sahut yang lainnya.


    "Sudah, ini .... pesanannya. Tambah apa lagi ...?" kata ibu penjual sarapan itu sambil menyerahkan tas kresek berisi bungkusan sarapan kepada ibu yang mengaku temannya Cik Lan itu.


    Lantas mengajak anak gadisnya yang masih berbincang dengan Melian tadi untuk pulang.


    "Yam sudah .... Nanti saya main ke rumah kamu ...." kata Ria, si gadis itu.


    "Ya ..., saya tunggu." jawab Melian.


    Jamil, Juminem dan Melian pun juga sudah selesai sarapan. beranjak untuk pulang. Juminem yang membayar. Orang tiga makan kenyang, cuman habis lima belas ribu rupiah. Sungguh murah, walau bukan murahan. Ya, maklum, warung kampung yang melayani kaum kecil. Tentu kalau kemahalan pasti tidak ada yang mau beli, malah bangkrut. Untung sedikit, yang penting dapat hasil. Setidaknya sudah untung ikut makan sekeluarga.


    "Kulanuwun .... Melian ...." terdengar suara perempuan di luar rumah.


    Melian yang mendengar dirinya dipanggil, langsung keluar untuk melihat siapa yang memanggilnya, Dan memang benar. Seperti yang dijanjikan oleh Ria, anak teman ibunya Melian, sekitar jam sepuluh datang ke rumah Melian. Tetapi tidak sendiri. Gadis itu mengajak temannya, perempuan.


    "Ee ..., Ria .... Ayo sini masuk ...." ajak Melian pada teman barunya itu.


    "Kita duduk di teras saja .... Ini temanku SMA ..., namanya Anik. Dia juga baru lulus kemarin itu ...." kata Ria yang mengenalkan temannya.


    "Saya Melian ...." kata Melian sambil menyalami teman baru yang satunya lagi. Lantas mengajak teman-temannya itu duduk di teras. Mereka pun langsung ngobrol.


    "Katanya Melian sudah diterima kuliah, ya ...? Kuliah di mana?" tanya Ria yang tentu ingin tahu. Karena Ria memang ingin kuliah. Tapi keluarganya bilang tidak sanggup membiayai.


    "Iya .... Kebetulan saya diterima tanpa tes, di Jakarta ...." jawab Melian.


    "Ih, enak banget .... Pasti kamu pintar .... Kamu rangking terus, ya? Kok milihnya jauh sekali ...?" kata dua temannya, yang tentu sangat kagum dengan Melian.


    "Biasa saja kok .... Itu saja sebenarnya Mak-e gak setuju saya mau kuliah di Jakarta .... Bilangnya sama kayak kalian, terlalu jauh .... Yah, tapi Pak-e justru senang kalau saya kuliah di Jakarta." jawab Melian.

__ADS_1


    "Kalau begitu sama .... Ibuku juga yang tidak mengizinkan saya kuliah. Katanya jauh-jauh ngapain .... Perempuan itu kalau sudah nikah, paling-paling cuman masak sama ngurus anak .... Begitu." kata Ria yang tentu sangat ingin bisa kuliah seperti teman barunya itu.


    "Ya, dimaklumi saja .... Namanya juga orang tua. Pikirannya diterapkan untuk dirinya sendiri." kata Melian.


    "Iyam betul .... Kolot ...." Anik nimbrung.


    "Rencanamu mau kuliah di mana?" tanya Melian.


    "Kalau saya penginnya jadi guru .... Mau kuliah yang dekat saja. Di Tuban ada, kok." jawab Ria.


    Tetapi si Anik justru terdiam. Tidak enak mau menjawab. Karena sebenarnya orang tuanya minta agar ia bekerja saja. Tapi mau kerja apa hanya lulusan SMA. Paling-paling jadi buruh. Dan saat ini pun ia bukannya mencari perguruan tinggi, tapi malah mencari lowongan kerja.


    "Kamu mau kuliah di mana, Nik ...?" tanya Melian yang memecah kediamannya teman satunya itu.


    "Saya mau kerja kok ...." jawab Anik memelas.


    "Nggak papa .... Yang penting usaha. Apalagi kalau bisa kerja sambil kuliah, enak itu." kata Melian yang maklum.


    "Memang bisa ...?" tanya Anik yang penasaran.


    "Ada ..., banyak .... Jangankan sambil kerja, sambil momong anak saja boleh ...." jawab Melian.


    "Ih, mosok, sih ...?!" tentu Anik dan Ria kaget dengan jawaban Melian yang terakhir.


    "Iya ..., betul .... Kemarin ada guru saya kuliah lagi, sambil hamil .... Kasihan juga itu ...." kata Melian menceritakan gurunya yang hamil dan kuliah lagi.


    "Lhoh, sudah jadi guru kok masih kuliah?" tanya teman-temannya.


    "Iya .... Kalau di sekolahku, guru-guru yang belum sarjana diwajibkan kuliah lagi. Katanya untuk menambah nilai akreditasi sekolah." jawab Melian.


    "Oo ..., begitu, ya .... Ya nanti kalau saya ada uang hasil kerja mau saya buat kuliah." kata Anik yang langsung semangat.


    "Eh, Mel ..., kita rujakan, yuk ...." ajak Ria.


    "Rujakan di sini saja .... Itu di depan ada mangga. Tinggal nambahi mentimun sama benkuwang. Nanti biar dibuatkan sambel Mak-e." kata Melian, yang tentu masih belum berani untuk pergi-pergi ke tempat lain.


    "Saya ajak teman lain boleh, nggak?" tanya Ria.


    "Boleh .... Silahkan saja .... Suruh ke sini." kata Melian yang langsung beranjak, tentu bilang ke ibunya yang masih masak di dapur, menyampaikan kalau teman-temannya mengajak rujakan.


    Saat itu, Ria yang sudah memegang HP, langsung mengirim SMS ke teman-temannya, mengabari kalau dirinya mau rujakan. Dan pasti, teman-temannya yang saat ini masih dalam posisi senang dan gembira karena kemarin baru saja pengumuman kelulusan, pasti setuju dan siap ikut rujakan.


    "Wee .... Ada tamu, to ...? Mau rujakan, ya ...? Yo wis, nanti Mak-e buatkan sambal rujak." kata Juminem yang keluar menengok teman-teman Melian yang main ke rumahnya.


    "Maaf, Bu .... Merepotkan." dua temannya itu tersipu.


    "Pak-e .... Tolong anake diantar beli buah untuk rujakan ...!" teriak Juminem menyuruh suaminya.


    "Tidak usah, Mak .... Saya sudah minta tolong Mas Irul .... Saya sudah SMS Cik Indra. Sebentar lagi mau diantarkan ...." kata Melian yang ternyata sudah menghubungi Cik Indra.


    "O, ya sudah .... Wis, Mak-e buatkan sambalnya." kata Juminem yang kembali ke dapur.


    Sebentar saja, teman-teman Ria maupun Anik yang di-SMS, sudah berdatangan. Rumah Melian menjadi riuh ramai. Ada banyak anak dengan usia sebaya Melian. Anak-anak SMA yang baru saja menerima kelulusan. Dan kini ramai-ramai di rumah Melian, gadis baru yang belum mereka kenal secara dekat. Tetapi siang itu, Melian sudah menjadi pusat perhatian teman-teman barunya. Pasti karena kulit dan matanya yang berbeda. Yang tentu tidak hanya anak perempuan saja, tetapi juga anak laki-laki.


    Melian memang gadis supel yang periang. Puluhan teman baru yang sebelumnya memang belum kenal, sudah akrab semuanya, dan seolah sudah berteman sangat lama. Pastinya teman-teman yang baru dikenalnya itu ingin banyak ngobrol dengan gadis cantik berkulit putih itu. Melian tidak sombong. Semua teman barunya itu diajak ngobrol tanpa pandang pilih. Melian menjadi pusat ngobrol mereka. Melian menjadi idola teman-teman barunya.

__ADS_1


    Dan terutama beberapa anak laki-laki yang ikut nimbrung rujakan di situ, matanya lirak-lirik mencuri pandang ke arah Melian. Yang pasti, pikiran mereka sudah melayang, membayangkan seandainya bisa pacaran dengan Melian. Dasar nak laki-laki, kalau lihat yang bening-bening langsung berkhayal.


__ADS_2