
Melian sudah mulai kuliah. Sebutannya sudah menjadi seorang mahasiswa. Gedung megah perguruan tinggi ilmu bisnis Universitas Harapan sebagai almamater kebanggaannya. Rata-rata yang kuliah di situ anak dari keluarga orang kaya. Dan pastinya, orang-orang tua mereka berlatar belakang dari pengusaha-pengusaha atau pebisnis. Dan tentunya rata-rata mereka adalah keturunan orang kaya.
Hari Senin pagi, Melian mulai kuliah Studium Generale, yaitu mata kuliah umum yang wajib diikuti oleh semua mahasiswa baru. Kuliah Studium Generale pelaksanaannya dilakukan secara bersama-sama atau gabungan mahasiswa dari berbagai jurusan. Satu fakultas kumpul jadi satu untuk mengikuti penjelasan secara umum dari dosen atau pengajar yang biasanya dari pakar terkenal. Kali ini yang diundang untuk memberikan kuliah umum adalah Bapak Menteri Perdagangan. Tentu para mahasiswa sangat tertarik dengan pemateri yang menyampaikan. Yaitu Menteri Perdagangan. Sangat sulit untuk ketemu seorang menteri. Dan kali ini, mereka menerima penjelasan langsung dari seorang menteri.
"Saya tidak tahu alasan Anda kuliah di Universitas ini .... Mungkin karena sudut pandang orang tua kalian, yang ingin anaknya menjadi orang sukses .... Tapi saya percaya, pasti Anda juga punya niat untuk kuliah di perguruan tinggi yang sangat mewah ini ..., bahkan memilih menduduki bangku kuliah di gedung perdagangan dan bisnis yang sangat megah ini ..., karena Anda ingin menjadi orang sukses." kata Pak Menteri mengawali kata-kata dalam memberikan kuliah umum.
Tentu langsung mendapat tepuk tangan yang meriah dari para mahasiswa baru. Mereka berbangga karena bisa menjadi bagian dari almamater universitas yang terkenal tersebut.
"Di ruangan aula yang megah ini, pasti Anda sudah mempunyai sudut pandang sendiri-sendiri tentang usaha, bisnis, perdagangan, bahkan ekonomi secara mikro maupun makro. Sebagai mahasiswa universitas yang sangat terkenal dan mahal ini, perguruan tinggi yang mahasiswanya mayoritas adalah orang kaya, lebih tepatnya memiliki orang tua yang kaya raya, pasti Anda semua sudah mempunyai modal besar." kata Pak Mentri selanjutnya yang tentu membombong para mahasiswa.
"Alumunus Universitas Harapan, hampir seluruhnya menjadi pengusaha yang sukses. Bahkan terkadang, belum lulus saja sudah jadi pengusaha .... Karena meneruskan usaha bapaknya ...." kata Pak Mentreri.
"Hahaha ........." para mahasiswa yang mengikuti kuliah Studium Generale itu pada tertawa. Tahu kalau Pak Menteri berkelakar. Tepuk tangan pun kembali bergemuruh.
__ADS_1
"Kalau mau sukses di usia muda, ya harus kerja keras .... Saya punya gambaran perbandingan sederhana. Ada seorang tukang ojek, beli nasi goreng yang harganya lima puluh ribu, pasti dia akan pikir-pikir. Harga nasi goreng itu terlalu mahal. Kalaupun bisa beli, besok keluarganya mau makan apa? Uang saku anaknya bagaimana? Utang istrinya di warung tetangga bagaimana? Macam-macam yang dipikirkan .... Sangat sayang kalau uang lima puluh ribu dibelikan nasi goreng yang hanya sekali makan, habis itu, besok pagi bentuknya sudah menjijikkan. Tetapi apa yang dilakukan oleh anak orang kaya yang harta kekayaan bapaknya mencapai triliunan? Saat anak orang kaya ini beli nasi goreng harga jutaan rupiah, sudah seperti beli permen di warung. Bahkan, saat makan nasi goreng itu dikeceh-keceh, dan tidak dihabiskan." tutur Pak Menteri yang membuat perbandingan yang sangat menyolok.
Semua mahasiswa yang ada di gedung aula yang megah itu, yang mengikuti kuliah Studium Generale tersebut, diam melongo. Pasti mereka sudah tahu perbandingannya, antara si miskin dan si kaya. Tetapi akan menekankan apa Pak Menteri ini?
"Apakah Anda ingin membeli nasi goreng dengan banyak pertimbangan seperti si tokang ojek itu? Atau Anda kepingin seperti anak orang kaya yang makan nasi goreng dengan harga jutaan itu?" Pak Menteri melempar pertanyaan yang tentu sangat menggelitik, tetapi juga sulit untuk memilih jawabannya.
Lagi-lagi, para mahasiswa terdiam. Tetapi kali ini mereka bingung untuk memilih jawaban.
"Anda pengin bisa beli nasi goreng dengan harga jutaan seperti anak orang kaya ini? Tidak semudah itu .... Anda perlu kerja keras, belajar terus menerus, semangat tinggi pantang menyerah, jangan mudah putus asa, meningkatkan kreatifitas, mengembangakan inovasi-inovasi, dan itu semua harus dimulai dari sekarang .... Jangan pernah menyia-nyiakan waktu." papar Pak Menteri yang tentu menyemangati para mahasiswa.
Lantas Pak Menteri mengupas masalah kaya dan miskin. Yang diceritakan dengan kemasan-kemasan lucu. Menurutnya, ada si miskin karena di situ ada yang kaya. Dan ada si kaya karena di situ ada yang miskin. Kalau di situ semua keadaan masyarakatnya sama, atau kondisi ekonominya sebanding, maka di situ tidak ada yang kaya dan juga tentunya tidak ada yang miskin.
"Saya pernah mengamati orang yang kesehariannya duitnya minus, hidupnya hanya bergantung dari utang, kondisi rumahnya sangat meprihatinkan .... Pokoknya serba kekurangan. Dalam kesempatan ini, saya ingin mengungkapkan fakta .... Keadaan yang sesungguhnya terjadi di kehidupan orang itu. Saya prihatin dengan orang ini, bukan karena ia kekurangan atau miskin, tetapi sikap perilakunya yang saya tidak bisa terima. Mereka memang pemalas. Tidak mau kerja keras, bahkan disuruh kerja juga malaspmalasan, dan hanya berharap diberi bantuan oleh orang lain. Makanya, sebenarnya saya tidak setuju dengan orang-orang seperti ini dimanjakan dengan BLT, Bansos, atau bantuan apapun. Enakan dia, tidak bekerja langsung dapat bantuan. Coba bayangkan para petani yang mencangkul di sawah, banting tulang peras keringat, tidak mendapat tambahan gaji sebagai petani yang berjasa. Saat tanam harga pupuk jadi mahal, saat panen hasil penenan harganya anjlog. Adil apa tidak ini? Kok bukannya yang rajin dibayar lebih? Kok malah yang malas-malasan diberi bantuan?" Pak Menteri kembali memberi gambaran yang ironis.
__ADS_1
Tentu para mahasiswa pikirannya kembali berkecamuk. Ada ketidak-adilan dalam menyelesaikan masalah kemiskinan.
"Ini penyakit bangsa kita. Ada lagi orang yang kerjanya hanya tiduran saja, bangunnya kesiangan, sholat malam enggak, doa malam enggak, sholat wajib kelewat, diminta kerja keras pasti malas, diminta ide bingung, disuruh belajar males, diajak ikut pelatihan nggak mau, sedekah ogah-ogahan, tapi pengennya kaya raya. Begitu melihat temannya sukses ..., dianya langsung iri, diajak sukses malah menyalahkan diri sendiri, menyalahkan kondisi, atau bahkan menyalahkan temannya. Bagaimana kalian bisa sukses kalau kalian malas, tidak mau belajar, ogah-ogahan ...? Memang, sebenarnya tidak semua orang miskin malas, ogah-ogahan. Tetapi perlu Anda ketahui, saat orang miskin tadi menjadi rajin, bekerja keras, tidak pantang menyerah, mereka berhemat dalam hidupnya, maka ia akan merubah kehidupannya. Menjadi kaya itu sebuah proses, bukan keturunan. Beberapa kali saya bertamu ke rumah orang kaya, dirumahnya mereka makan tahu, tempe, telur, sama sayur asem atau sayur bening. Mereka tidak mau berboros untuk sekedar makan. Bahkan saya juga menjumpai rekan-rekan saya yang kekayaannya luar biasa, religiusnya juga luar biasa. Padahal sudah kaya, sudah aman, sudah nyaman, masih sempat bangun malam, sholat malam, doa malam. Setelah subuh tidak tidur lagi, lanjut aktivitas lain, entah itu olahraga, baca buku, atau aktivitas produktif lainnya. Saya pernah berdiskusi, belajar, makan bersama, dengan orang yang dulunya miskin sekali, dan sekarang pendapatannya mencapai milyaran per hari. Saya ulang, milyaran per hari ...! Beliau cerita bagaimana perjuangannya, jualan karpet gulungan, bayangin karpet tebal yang digulung itu, karena saking nggak punya duit, belum punya motor, karpet itu digendong, tiap hari jalan kaki belasan kilo.Yang saya pelajari, orang-orang kaya ini lebih memilih menunda kesenangan jangka pendek untuk kesenangan jangka panjang di kemudian hari, memilih bekerja keras selagi muda, selagi bisa, selagi mampu. Mereka sudah bekerja ketika orang lain sudah beranjak tidur, dan masih bekerja ketika orang lain sudah bangun dari tidur. Saya rasa Anda bisa baca profil dan biografi orang-orang hebat seperti Bob Sadino, Dahlan Iskan, Chairul Tanjung, Oprah Winfrey, dan lain sebagainya. Mereka semua itu adalah pekerja keras. Orang-orang yang bekerja tanpa mengenal waktu." kata Pak Menteri yang memang ingin para mahasiswa baru ini mempunyai jiwa enterprener yang kuat.
Tentu saat mendengar kuliah seperti ini, para mahasiswa baru itu langsung merasa tertantang. Pastinya ia ingin lebih dari yang sudah dihasilkan oleh orang tuanya. Atau setidaknya, mereka akan menciptakan terobosan-terobosan baru untuk mencetak mesin penghasil kekayaan.
"Jika Anda sudah menentukan pilihan kuliah di Universitas Harapan ini, maka harapan saya ..., kalian semua akan menjadi orang-orang sukses, orang-orang hebat, orang-orang yang cerdas, orang-orang yang bisa memajukan bangsa kita. Terima kasih." Pak Menteri mengakhiri kuliahnya.
Para mahasiswa berdiri dari duduknya. Tepuk tangan bergemuruh. Mahasiswa memberi apresiasi yang luar biasa, menyambut kuiah yang sangat istimewa.
Melian masih duduk di bangku kuliah, saat temanptemannya sudah pada keluar. Ia merenungi semua kata-kata Pak Menteri yang menyampaikan kuliah Studium Generale. Mungkinkah dirinya bisa membuat terobosan untuk memajukan bangsanya? Sementara yang ia lihat di masyarakat, memang masih banyak ketimpangan.
"Melian .... Kamu mau balik ke asrama?" tiba-tiba temannya membuyarkan lamunannya.
__ADS_1
"Eh ..., iya .... Putri .... Kita ke asrama bersama ...." jawab Melian yang langsung beranjak berdiri, melangkah berjalan bersama temannya, kembali ke asrama.
Ya, Melian di Jakarta lebih memilih tinggal di asrama kampus. Tentunya lebih dekat dengan tempat kuliahnya, dan keamanannya lebih terjaga. Mereka berdua tinggal dalam satu kamar asrama.