
Pertarungan Melian melawan pendekar Sungai Kuning sudah mencapai puncak kulminasi. Mereka bertarung tanpa lelah. Namun bagaimanapun juga, tenaga mereka lama-kelamaan mulai berkurang. Terutama Melian, yang memang bukan orang yang biasa berkelai. Melian bukan seorang prajurit yang selalu berlatih tempur untuk berperang. Melian justru gadis baik yang selalu membela kebenaran. Hingga pada suatu ketika, tendangan perempuan dari Sungai Kuning itu mengenai tubuh Melian.
"Hiyaaaa ....!!" teriak perempuan dari Sungai Kuning.
"Dught ...." suara kaki yang enghantam tubuh.
Melian terpental jatuh, bergiling di tanah. Tepat berada di depan Irul.
"Melian ....!" tentu Irul sangat khawatir. Makanya begitu Melian berguling di hadapannya, Irul langsung berusaha membantu untuk membangunkannya. Tangan Irul langsung memegangi punggung Melian, membantu untuk berdiri.
Namun rupanya, perempuan dari Sungai Kuning itu tidak mau membiarkan lawannya bangun lagi. Ia langsung melancarkan serangannya,sambil meloncat akan menendang Melian yang masih dibantu oleh Irul tersebut.
"Hiyaaaa ....!!" teriak perempuan dari Sungai Kuning yang melancarkan tendangan kakinya, menyapu musuh yang masih tergeletak.
Irul yang tidak sadar kalau ada tendangan sakti datang ke arahnya, tidak bisa mengelak untuk menghindari tendangan itu.
"Awas, Mas Irul ....!!!" Melian berteriak memberitahu Irul agar waspada. Tangan Melian langsung mendekap tubuh Irul, ingin menyelamatkan dari tendangan yang sangat berbahaya tersebut. Namun sudah terlambat. Tendangan itu sudah menyasar ke tubuh Irul.
"Duaaaarrrr .........!!!" terdengar suara benturan yang sangat keras.
Melian berguling bersama Irul. Dua tubuh yang saling berpelukan, menggelundung di tanah.
Namun ternyata, tidak hanya Melian dan Irul yang bergulingan di tanah. Tetapi wanita dari Sungai Kuning itu juga terpental jauh ke belakang. Jatuhnya terjengkang, bagian pantatnya yang lebih dulu menyentuh tanah. Wanita itu meringis kesakitan. Lagi-lagi, ia terkaget saat tendangannya mengenai laki-laki yang berusaha melindungi Melian itu. Ada benturan keras yang terjadi saat kakinya yang bertenaga penuh, mengenai bagian tubuh Irul. Wanita itu merasa tengah menendang sebuah drum yang terbuat lempengan baja. keras dan tidak bisa dipecahkan.
__ADS_1
Seandainya saja tendangan wanitu itu mengenai tubuh manusia biasa, pastilah akan remuk dan hancur tubuh orang itu. Namun lagi-lagi, ada yang aneh yang terjadi ketika tendangan perempuan itu mengenai tubuh Irul. Apa sebenarnya yang terjadi. Tentunya perempuan Sungai Kuning itu terheran dengan kejadian yang dialaminya. Sudah dua kali tubuhnya terpental, saat melancarkan serangan yang mengenai Irul. Maka perempuan aneh itu, langsung menatap Irul yang dianggap sudah sanggup memberi perlawanan yang kuat kepada dirinya.
Bagi para lelembut yang menjadi saksi pertempuran di komplek pemakaman Gunung Bugel itu, peristiwa diluar nalar ini bukan hal aneh. Dua kubu penonton yang saling berlawanan itu, memang sanggup menyaksikan apa yang sebenarnya terjadi. Yaitu munculnya makhluk gaib yang berasal dari tubuh Irul. Kali ini yang keluar adalah manusia besar dengan tubuh yang sangat gemuk, tanpa mengenakan pakaian, hanya selembar kain yang melilit menutupi bagian yang vital. Seperti tokoh sumo dalam bela diri Jepang. Sehingga perutnya yang besar itu terlihat bagaikan tanjidur atau tong. Itulah yang menyebabkan bunyi keras seperti drum yang dipukul saat terkena tendangan wanita itu.
"Waaah ..., isi sudah tidak benar .... Gadis gelang giok itu mendapat bantuan dari orang lain. Itu artinya sudah bukan perlawanan satu lawan satu ....!" teriak salah satu pendukung dari perempuan tusuk konde.
"Iya, benar ...! Ini namanya kecurangan ...!" yambah penonton yang lainnya, yang tentu akan merasa dicurangi kalau sampai wanita tusuk konde itu kalah.
"Hahaha .... Itu kesalahan wanita tusuk konde, jagomu itu .... Dia yang menendang laki-laki itu. Padahal laki-laki itu tidak ikut-ikutan .... Wajar kalau Tong Bujel keluar dan melindungi tuannya ...!" sahut penonton-penonton siluman yang ada di seberangnya. Tentu ia akan membela Irul.
"Kalau begitu, jika nanti wanita tusuk konde itu mendapat bantuan dari dayang-dayangnya, jangan disalahkan kalau sampai mengalahkan jagomu." sahut dari botoh-botoh yang ada di sebrangnya.
"Silahkan saja .... Kita ini hanya penonton .... Yang terjadi di arena pertandingan itu urusan yang masuk dan mengikuti pertarungan." jawab musuhnya.
Di area pemakaman, wanita tusuk konde itu sudah kembali pulih. Ia sudah berdiri tegak. Kini matanya tertuju pada Irul. Laki-laki yang dianggap sudah menghalang-halangi niatannya untuk menculik Melian. Perempuan Sungai Kuning itu, kini justru bersiap untuk melawan Irul. Ia melangkah, berdiri kokoh di depan Irul.
"Hiyyaaaaa .........!!!!" perempuan itu berteriak lantang, dan langsung menerjang Irul dengan hantaman-hantaman tangannya.
"Duaaaarrrr .........!!! Glabrought!" lagi-lagi terdengar suara benturan keras. Wanita itu kembali terpental dan jatuh di atas bongpai. Kepalanya membentur batu pemakaman. Pasti kesakitan.
Irul kaget sendiri dengan peristiwa itu. Padahal tangannya tidak bergerak melawan. Hanya ditutupkan ke wajahnya. Tapi kenapa wanita itu jatuh gelangsaran?
Cepat bergegas bangun wanita Sungai Kuning yang tentu masih menahan sakit itu. Ia tidak mau memandang remeh musuhnya. Ia langsung mencabut pedang yang terselip di pinggangnya. Pedang yang sangat tajam. Ia sudah berniat membabat habis musuhnya, agar tidak berlamaan untuk mengemban amanat, membawa Melian ke Kerajaan Naga di Sungai Kuning.
__ADS_1
"Hiyyaaaaa .........!!!!" perempuan itu mulai menghujamkan pedangnya, siap menebas leher Irul.
"Awas, Mas Irul ...!!!" Melian berteriak memberitahu Irul, kalau ada bahaya yang akan mengancamnya.
Sebenarnya, Irul sudah pasrah dengan keadaannya. Tentu karena ia menyadari kalau dirinya tidak bisa berkelahi atau membela diri. Tetapi tiba-tiba saja, tubuh Irul bergerak dengan ringan sekali. Ia melompat menghindari serangan pedang dari wanita bertusuk konde itu.
Begitu tahu kalau serangannya bisa dihindari, perempuan tusuk konde itu kembali menyerang. Ia kembali mengarahkan pedangnya ke tubuh Irul. Berkali-kali dan cepat, mengarah ke segala penjuru. Namun lagi-lagi, tubuh Irul seakan berubah menjadi pesilat tangguh. Ia terus melompat kian kemari, menghindari serangan-serangan musuhnya. Dan semua serangan pedang dari perempuan Kerajaan Naga Sungai Kuning itu dapat dihindari dan tidak ada yang mengenai tubuhnya.
Kini Melian yang jadi penonton. Melian heran, katanya Mas Irul itu tidak bisa berkelahi, tidak pernah tukaran, tidak tahu silat, tapi kenyataannya Irul sangat lincah dan piawai menghadapi serangan-serangan musuhnya. Berarti sebenarnya Mas Irul itu pandai bersilat. Diam-diam Melian menaruh kagum pada Irul, orang yang bersahaja itu ternyata lebih hebat dari dirinya. Yang pasti mampu menghadapi musuhnya yang bukan perempuan sembarangan. Maka Melian tidak mau mengeroyok musuhnya. Ia yakin kalau Irul akan sanggup menghadapi perempuan aneh tersebut.
Jurus demi jurus terus dilancarkan oleh wanita tusuk konde itu. Serangan-serangan mematikan terus menghujam ke arah bagian-bagian tubuh yang rawan. Berkali-kali ujung pedang mengarah ke leher, ulu hati dan jantung. Tetapi semuanya bisa dielakkan oleh Irul.
"Hiyyaaaaa .........!!!! Hiyyaaaaa .........!!!! Hiyyaaaaa .........!!!!" perempuan itu melompat sambil memutar pedangnya. Membuat putaran yang membingungkan penglihatan Irul. Ke arah mana ujung pedang itu akan menusuk?
"Grrrrrrm ........" tiba-tiba Irul mengaum. Matanya berubah merah. Giginya berubah mengeluarkan taring. Kedua tangannya diangkat naik ke depan dengan jari-jari yang siap menerkam. Kuku-kuku jemari tangannya pun berubah menjadi tajam, seperti seekor harimau yang akan menerkam mangsanya.
Dan seketika itu, bersamaan dengan datangnya pedang yang akan menusuk tubuhnya, tiba-tiba saja Irul melompat seperti layaknya harimau menubruk mangsanya, tepat ke arah perempuan dari Sungai Kuning tersebut.
"Crapt ...! Brught ...!!"
"Wadauuuh .....!!!" suara jeritan yang melengking.
Perempuan itu sudah terjatuh diterkam tangan Irul yang menubruknya. Menjerit kesakitan dan tidak sanggup melakukan perlawanan. Tidak bisa menghindari terkaman itu. Pedangnya sudah terlempar jauh dari tangannya.
__ADS_1
Rupanya Irul yang bagaikan harimau itu mengamuk tidak karuan. Perempuan tusuk konde itu dicabik-cabik. Pakaiannya terkoyak-koyak, hingga robek-robek. Sehingga kelihatan tubuh bagian dalamnya. Darah mengucur dari kulit-kulit tubuhnya yang tersayat cakar tangan Irul. Wanita itu sudah tidak sanggup lagi untuk memberontak.
Namun tiba-tiba, berkelebat bayangan kuning, menerobos di sela-sela tangan Irul yang sedang mengamuk. Bayangan kuning itu menyaut tubuh wanita yang sudah tidak berdaya menghadapi musuhnya. Tubuh wanita itu melayang, dibawa terbang oleh bayangan kuning yang kemudian menghilang. Sirna.