
Kedatangan Irul dan Indra di rumah Jamil, tentu sangat menyenangkan bagi keluarga Jamil. Terutama Melian, yang langsung menuju halaman rumah, saat tahu ada mobil Carry pickup milik Irul yang masuk ke halaman rumahnya.
"Cik Indra ...." Melian langsung memeluk Indra yang baru turun dari mobil. Indra pun mencium Melian.
"Gimana sekolahnya ...?" tanya Indra yang tentu ingin tahu perkembangan sekolah Melian.
"Pasti baik ..., lah ...." jawab Melianm yang lalu tersenyum lebar.
"Melian ...." kata Irul yang turun dari mobil, langsung menghampiri Melian yang masih bersama Indra.
"Mas Irul .......!" sahut Melian yang langsung memeluk Irul. Pasti dipeluk lama dan kuat. Itu yang selalu dilakukan oleh Melian setiap kali ketemu Irul. Memang Melian terlalu manja kalau dengan Irul.
"Ayo, masuk rumah ...!" teriak Jamil dari teras rumah, yang menyuruh tiga orang yang ada di halaman itu untuk segera naik dan masuk ke rumah.
Lantas Irul, Indra dan Melian berjalan bersama melangkah masuk ke ruang tamu. Duduk bersama di ruang tamu. Dan Melian, tetntu tidak mau dipisahkan dengan Irul.
Juminem yang begitu tahu kalau ada Irul datang, langsung membuatkan minum. Teh hangat lima gelas. Dan langsung disuguhkan ke ruang tamu. Satu persatu tamunya, dan anak serta suaminya disodori minum. Termasuk satu gelas untuk dirinya sendiri. Lantas Juminem pun ikut duduk di situ, bersanding dengan suaminya.
"Monggo ..., diminum dulu ...." kata Juminem menyuruh tamunya minum.
"Nggih, Mbak Jum .... Terimakasih ...." sahut Irul dan Indra.
"Lha ..., jajanannya mana Jum ...?" tanya suaminya, karena yang dikeluarkan Juminem hanya minuman saja.
"Nanti, sekalian makan malam .... Jajanannya di ruang keluarga." jawab Juminem yang tentu karena sudah menganggap Irul dan Indra sebagai anggota keluarganya sendiri.
"Lha, apa makan malam sekarang saja ...?" tanya Jamil.
"Sebentar ..., Pak .... Ngaso dulu sejenak. Kan baru saja datang ...." sahut Juminem, yang langsung mengangkat nampan yang sudah kosong itu dibawa ke belakang. Dan pasti langsung menyiapkan acara makan malam.
"Ada kabar apa ini, Mas Irul ..., Cik Indra ...?" tanya Jamil yang tentu sudah menduga kedatangan Irul dan Indra ini dalam rangka akan menyampaikan berita.
"Iya, Pak Jamil .... Itu ..., masalah rumah dan tanah Babah Ho ...." jawab Irul yang mulai menyampaikan kabar.
"Bagaimana jadinya ...?! Rumah Engkong bisa diminta lagi, kan ...?!" Melian langsung menyergap. Tentu karena saking inginnya memiliki kembali rumah warisan kakek neneknya itu.
"Iya .... Kemarin lusa sudah diurus oleh Cik Indra ...." kata Irul.
"Bagaimana ceritanya, Cik Indra ...?" tanya Jamil yang tentu ingin tahu.
"Iya, Pak Jamil ..., Melian .... Itu tadinya tanah dan bangunan milik Babah Ho memang dijadikan jaminan utang di bank. Tetapi karena tidak diangsur, makanya jaminannya itu disita ...." jelas Indra pada Jamil dan Melian.
"Jaminan hutang ...? Untuk kredit ...?!" tanya Melian sambil mengkerutkan batuknya.
"Iya .... Tapi tidak membayar .... Makanya disita ...." kata Indra yang menjelaskan pada Melian.
__ADS_1
"Lhah ..., kok bisa dipakai jaminan ..., itu yang makai siapa?! Kan Babah Ho sudah tidak ada ...?! Kok bisa, banknya menerima jaminan yang bukan pemiliknya ...?!" tanya Jamil yang tentu juga ikut bingung.
"Zaman sekarang apa sih yang sulit, Pak Jamil ...? Jika ada uang, semuanya berjalan gampang .... Jika ada duit, tidak ada kata sulit .... Aparatur bisa diatur, Pak Jamil ...." kata Indra yang kemarin sudah berdebat dengan pegawai bank.
"Kok begitu, ya ...?" tentu Jamil merasa heran, ketika mendengar penuturan Cik Indra, kalau persoalan seperti itu mudah saja dilakukan.
"Iya, Cik Indra .... Kan Engkong sudah meninggal, sudah tidak ada sanak saudara .... Kok bisa tanah dan rumahnya dijadikan jaminan bank ...? Lantas siapa yang melakukannya ...? Pasti orang jahat ...!" Melian yang sudah kelas dua SMA tentu juga paham masalah ekonomi dari pelajaran yang diberikan oleh gurunya.
"Itu, Pak Jamil .... Koh Han .... Saudaranya Babah Ho yang dari Semarang, yang dulu menyuruh saya mengelola tokonya ...." Kata Irul menyebutkan nama orang yang menggunakan tanah dan rumah Babah Ho sebagai agunan kredit.
"Koh Han ...?! Saudara Babah Ho ...?!" tanya Jamil yang tentu ingin tahu.
"Betul, Pak Jamil .... Dulu yang mengambil alih toko di pasar, meski saya yang tetap kerja di situ ....Tapi karena pelit dan galak, makanya saya tidak betah ..., Pak Jamil." sahut Irul.
"Lhah, kok hutang tidak bayar itu bagaimana ...? Apa pihak bank tidak mencari untuk menagih ...?!" kata Jamil yang tentu heran.
"Memang benar, Pak Jamil .... Orang ini sengaja tidak membayar dan tidak memperhatikan teguran bank .... Mungkin karena merasa bangunan dan tanah itu bukan miliknya, maka ia sengaja untuk membiarkan disita oleh bank. Bahkan menurut penuturan dari pihak bank, mengatakan kalau debitur ini meninggal. Itulah sebabnyam maka oleh pihak bank, aset itu disita." jelas Indra yang sudah menangani masalah aset Babah Ho.
"Dia mengatakan kalau yang utang itu sudah meninggal ...?!" tanya Jamil yang tentu sangat kecewa.
"Iya, Pak Jamil .... Dan ...." sahut Irul.
"Dan ..., apa, Mas Irul ...?" tanya Pak Jamil.
"Koh Han ..., memang meninggal beneran, Pak Jamil ...." jawab Irul.
"Betul, Pak .... Ini beritanya ...." kata Irul yang langsung menunjukkan koran yang tadi dibeli dari anak penjual koran di perempatan Museum Kartini.
Jamil langsung mengamati koran itu, membaca iklan keluarga yang memuat berita duka. Tentu ia membaca nama dan mengamati fotonya secara seksama. Ingin tahu secara presis, seperti apa orang yang sudah berani menyelewengkan hak milik orang lain itu.
"Benar ini orangnya, Mas Irul ...?" tanya Pak Jamil pada Irul yang sudah menunjukkan foto di korang itu.
"Betul, Pak Jamil .... Kan pernah jadi juragan saya ...." kata Irul yang meyakinkan pada mantan pimpinannya itu.
"Waduh .... Orang ini kemarin ke pabrik Bima Sakti, Mas Irul .... Dia membawa barang-barang dan belum bayar ...." kata Jamil yang langsung menepuk jidatnya.
"Walah .... Kecolongan, Pak Jamil .... Banyak, Pak?" tanya Irul.
"Ya tidak banyak sih ..., tapi lumayan .... Ada sepuluh jutaan ...." jawab Jamil yang masih terlihat kecewa.
"Lhah, kok bisa, Pak Jamil ...?" tanya Irul lagi.
"Dia ngasih cek .... Bayarnya pakai cek .... Saya suruh transfer tidak mau .... Pagi harinya, Mbak Ika saya suruh ke bank untuk ngambil, ternyata ceknya kosong Tidak ada uangnya .... Dia menipu saya, Mas Irul ...." jelas Jamil yang tentu kecewa.
"Lain kali hati-hati, Pak Jamil .... Sekarang banyak penipuan yang menggunakan modus bank ...." Indra mengingatkan Pak Jamil.
__ADS_1
"Iya, Cik Indra .... Terima kasih sudah diingatkan." kata Pak Jamil yang masih lenger-lenger ditipu oleh orang.
"Cik Indra ..., saya mau tanya .... Kalau utang bank dengan jaminan tanah dan bangunan, tapi tidak sepengetahuan yang punya, apa bisa?" tanya Melian yang tentu ingin tahu prosedurnya. Mungkin gurunya mengajarkan berbeda dengan kenyataan di dunia perbankan yang senyatanya.
"Sebenarnya tidak bisa. Jika mengikuti aturan sesuai undang-undang, mestinya untuk menggunakan aset sebagai jaminan pun harus diketahui oleh pihak keluarga, setidaknya suami dan istri. Apalagi ini aset milik orang lain, mestinya pemilik aset itu harus membubuhkan tanda tangan persetujuan." jelas Indra yang mantan pegawai bank.
"Tapi kenapa ini bisa diloloskan kreditnya ...?! Padahal kan Engkong sudah tidak ada dan sudah tidak penya keluarga ...?!" tanya Melian yang penasaran.
"Itulah fakta .... Jika di dunia ini masih ada banyak orang, tidak semuanya baik ..., tentu diantaranya masih ada yang jahat." Indra tidak bisa menjelaskan secara rinci.
"Dia sudah melepas aset milik Engkong, kemarin menipu perusahaan Pak-e .... Pasti yang dulu-dulu masih banyak penipuan-penipuan lain yang ia lakukan. Sungguh keterlaluan." gerutu Melian.
"Pak Jamil akan melayat ke Semarang ...?" tanya Irul pada mantan pimpinannya itu.
"Mosok melayati orang yang sudah menipu ...?! Kalau masih hidup mungkin bisa saya tendang dan pukuli ... Lha kalau sudah mati terus mau diapain ...?!! Keluarganya paling juga tidak mau membayar utangnya." Jamil tentu tidak respek lagi dengan Koh Han yang sudah menipunya.
"Tapi ..., orang ini masih saudaranya Babah Ho .... Apa Melian tidak diajak melayat?" tanya Irul lagi.
"Bagaimana, Melian ...? Apa kita mau melayat ke Semarang ...?" tanya Jamil kepada anaknya, tentu ingin meminta pendapat Melian. Karena yang masih ada hubungan persaudaraan adalah Melian.
"Besok sore ya, Pak .... Ya, menengok sebentar saja di rumah duka. Tidak usah ngenal-ngenal sama keluarganya. Nanti malah jadi ribet lagi .... Mas Irul sama Cik Indra ikut sekalian, ya ...." kata Melian yang mau untuk melayat orang yang sebenarnya masih saudaranya.
"Iya ..., Mas Irul kan pernah dekat ...." jawab Irul menanggapi ajakan Melian.
"Tapi besok saya izin tidak sekolah .... Saya mau diantar Cik Indra untuk tanya ke bank, terkait masalah yang meloloskan kredit dari Koh Han ini, kok sampai bisatanah dan rumah Engkong jadi jaminan utang." kata Melian yang penasaran dengan permasalahan perbankan tersebut. Tentu karena antara teori yang didapat dari bangku sekolah dan fakta di lapangan sangat jauh berbeda.
"Lhah .., kan jaminan sertifikatnya sudah diambil .... Lha ini sertifikatnya Engkong sudah diserahkan oleh Cik Indra .... Mau ngurus apa lagi ...?" tanya bapaknya.
"Melian pengin tahu, Pak ...." jawab anaknya.
"Oh, iya .... Lha terus ini biaya untuk menebusnya berapa, Cik ...?" tanya Jamil yang ingin tahu ongkos untuk memberesi aset sitaan itu.
"Sudah beres, kok, Pak Jamil ...." kata Indra yang tentunya tidak mau kalau uang pelunasannya diganti. Ini sebagai ucapan terima kasih karena sudah dinikahkan dengan Irul, yang semua biayanya ditanggung oleh Pak Jamil.
"Lho ..., kok begitu ...?" tentu Jamil jadi bingung.
"Ee ..., jangan gitu to, Cik Indra .... Biayanya berapa untuk menebus jaminan ...?" Juminem yang tiba-tiba datang ikut menimbrung. Pasti tadi sudah menguping.
"Tidak usah diganti, Mbak Jum ..., Pak Jamil .... Ini sebagai tanda syukur kami sudah mempunyai orang tua seperti Pak Jamil dan Mbak Juminem .... Anggap saja ini sebagai bakti seorang anak kepada orang tuanya ...." kata Irul yang tentu sudah bersepakat dengan istrinya, kalau urusan bank tersebut ikhlas dilakukannya.
"Iya, Mbak Jum, Pak Jamil .... Yang penting rumah itu bisa ditempati lagi. Kalau sewaktu-waktu keluarga Pak Jamil ke Lasem, kan sudah ada rumah yang bisa digunakan untuk menginap ...." Indra juga memberi pendapat.
"Waduh .... Kok malah diurusi semua sama Cik Indra .... Jadi merepotkan ini ...." kata Jamil yang merasa hutang kebaikan.
"Ayo, makan dahulu .... Nanti keburu dingin masakannya ...." kata Juminem yang mengajak makan malam.
__ADS_1
"Yah, yuk .... Makan bareng ...." ajak Jamil yang sudah berdiri dan melangkah menuju ruang makan.
Mereka pun asyik makan malam sambil mengobrol. Tentu rasanya akan lebih nikmat. Karena rasa senang akan menambah bumbu dalam setiap makanan yang disantap bersama-sama.