
Setelah tahu kalau ada rumah gedung yang bagus, dan di situ terlihat ada nenek-nenek yang mengenakan pakaian serba putih, Irul yang memang ingin menanyakan tentang peristiwa kecelakaan, langsung menemui nenek itu.
"Nenek ..., bolehkah kami tanya, apakah kemarin hari ada kecelakaan yang terjadi di jurang ini?" tanya Irul pada sang nenek.
"Hehehe .... Masuklah lebih dahulu ke rumah nenek .... Mari ..., nenek buatkan minum ...." kata si nenek itu yang menyuruh irul masuk ke rumahnya.
Bagai kena gendam, Irul menurut saja ajakan si nenek itu. Ia langsung masuk rumah itu. Dan Irul sangat terpesona menyaksikan keindahan bangunan rumah yang baru saja dimasukinya. Bagian dalam rumah itu sangat indah dan luar biasa. Lantainya dilapisi karpet tebal, sehingga serasa jalannya mengambang. Dinding-dindingnya dihiasi dengan aneka warna batu permata.
"Duduklah terlebih dahulu .... Minumlah dulu, untuk melepas dahagamu." kata si nenek yang sudah membawakan minum dan menaruh di meja tamu.
Irul ragu-ragu untuk duduk di kursi yang sangat mewah. Kursi yang besar dengan busa yang sangat tebal, serta kayu ukiran yang indah. Ini pasti kursi tamu yang harganya sangat mahal.
"Duduklah .... Tidak usah ragu. Kamu adalah tamu saya. Tidak usah ragu." kata si nenek yang sudah duduk di kursi tamu yang sangat bagus itu.
"Terima kasih, Nek ...." kata Irul yang tetap masih ragu meletakkan pantatnya di kursi, walaupun kemudian juga duduk meski kurang sempurna.
"Ayo .... Ini minuman penghilang dahaga .... Silahkan diminum." kata si nenek yang menyodorkan gelas minuman, warnanya merah menyegarkan.
"Terima kasih, Nek .... Terus terang saya mencari momongan saya .... Gadis remaja masih SMA, menurut cerita teman-temannya ia berboncengan dengan temannya dan jatuh ke dalam jurang di Bandungan .... Apakah Nenek tahu?" tanya Irul yang belum mau menyentuh gelas minuman itu. Ia bukan orang yang mau tawaran orang begitu saja, tetapi lebih fokus pada amanahnya untuk mencari Melian.
"Siapa nama anak itu?" tanya si nenek yang mulai melihat Irul bukan sebagai laki-laki yang mudah diperdaya.
"Melian ...." jawab Irul.
__ADS_1
"Anak itu sudah saya serahkan ke penguasa Gunung Bugel ...." kata si nenek.
"Maksud Nenek ...?! Melian sudah meninggal ...?! Sudah dikubur di Gunung Bugel ...?!" tentu Irul langsung kaget dan khawatir.
"Jangan khawatir .... Momonganmu sudah dibawa oleh para pengawal penguasa Gunung Bugel .... Ia rindu pada ibunya .... Makanya sering-seringlah diajak berziarah, untuk menengok ibunya ...." kata si nenek.
"Tapi ..., bagaimana dengan keadaan Melian? Apakah dia mengalami luka-luka?" tanya Irul.
"Jangan khawatir .... Nenek sudah menyembuhkannya. Hanya butuh kasih sayang." kata si nenek itu menjelaskan kepada Irul.
"Lalu ..., bagaimana nasib anak ini nanti di Gunung Bugel? Dengan siapa dia? Saya khawatir, Nek .... Saya akan segera menyusulnya ke sana." kata Irul yang sudah berdiri dari tempat duduknya.
"Tidak semudah itu untuk mencapai puncak Gunung Bugel saat ini. Melian masih dijaga ketat oleh para penguasa Lasem." kata si nenek itu yang tentu justru mengkhawatirkan keselamatan Irul.
Nenek itu terdiam. Ia tahu bagaimana kuatnya niat laki-laki itu untuk mencari orang yang dirindukan oleh keluarganya. Nenek itu juga tahu perasaan ibu dan bapaknya yang sedih karena kehilangan anak. Namun sang nenek juga menghormati kewenangan dari penguasa Gunung Bugel. Ia tidak ingin mencampuri urusan kerajaan orang lain. Masing-masing penguasa pasti punya aturan sendiri-sendiri. Dan jika ada pihak lain yang mencoba mengganggu, maka pastilah akan terjadi peperangan. Nenek Jumprit tidak menghendaki hal itu terjadi.
"Mohon pamit, saya akan menyusul Melian di Gunung Bugel, Nek ...." kata Irul yang sudah bersiap untuk keluar rumah.
"Tidak semudah itu, anak muda .... Kalau tanpa restuku kamu keluar dari rumahku ini, maka tubuhmu akan terjun ke dalam jurang, dan kamu tidak akan bisa keluar lagi." kata Nenek Jumprit.
"Tapi saya harus menjemput Melian, Nek ...." kata Irul yang mengeyel.
"Jika memang tekadmu sudah tidak bisa dicegah, ikutlah denganku .... " kata si nenek yang selanjutnya mengajak Irul ke tempat sanggar pamujan. Tempat ritual yang dilakukan untuk bermeditasi orang-orang yang biasa meminta berkah.
__ADS_1
"Bersemedilah di sini .... Saya akan membantumu, untuk berkomunikasi dengan penguasa Gunung Bugel, semoga kamu bisa diterima. Bawalah bekal ini ....Suatu saat kamu butuh ini. Fokuslah untuk bertemu Melian. Jangan hiraukan suara apapun, sebelum bertemu Melian." kata si nenek itu, yang kemudian duduk bersila. Nenek itu memberikan buntalan kain putih, entah apa isinyam yang dimasukkan ke dalam saku celana Irul. Pasti itu sebagai bukti bahwa Irul akan diijinkan masuk ke kekuasaan Gunung Bugel.
Irul mengikuti perintah si nenek. Lantas duduk bersila, seperti layaknya orang yang sedang menepi, mencari wangsit. Irul memejamkan mata agar bisa fokus untuk memohon kepada Sang Kuasa.
Entah dari mana asalnya. Entah siapa yang menyulut kemenyan. Tiba-tiba di ruangan itu dipenuhi asap dan bau kemenyan. Itulah pertanda ritual. Tetapi Irul harus tetap fokus untuk bisa menemukan Melian. Maka Irul diam tak bergeming, demi terkabulnya permohonan untuk bisa kembali membawa Melian. Walau banyak suara orang-orang memanggilnya, meski ada keributan, bahkan Irul juga mendengar teriakan-teriakan yang sangat ia kenal, bahkan teriakan Cik Indra yang memanggilnya.
Namun seperti yang dipesankan oleh Nenek Jumprit, Irul tetap berusaha fokus dalam meditasi. Ia ingin menemukan Melian sebagai amanah yang pernah diterimanya, menjaga keluarga Babah Ho semampu mungkin. Apalagi mencari Melian adalah beban berat dirinya kepada Jamil dan Juminem, yang sudah banyak menolong kehidupannya. Maka tidak heran, meski dipanggil-panggil oleh Cik Indra, orang yang dia kangeni, itu semua disingkirkan dari fikirannya.
Dan akhirnya, entah apa yang terjadi, tubuh Irul seakan menjadi ringan. Tubuh Irul seakan melayang. Ia tetap konsentrasi, tidak mau membuka matanya untuk melihat apa yang terjadi. Ia mematuhi perintah Nenek Jumprit. Dan yang ia dengar di telinga, suara orang-orang yang berteriak-teriak itu semakin lamat-lamat. Semakin tidak terdengar, dan menghilang. Bahkan seakan dunia ini menjadi sepi dan sunyi.
Irul pun tetap berusaha konsentarasi. Diam tanpa memikirkan apa-apa. Diam tanpa mendengarkan apa-apa. Diam tanpa merasakan apapun yang ada di luar tubuhnya.
Hingga akhirnya, "Mas Irul ........" Melian sudah memeluk tubuhnya.
Kaget Irul menyaksikan itu. Ia pun balas memeluk Melian. Tetapi ia lebih kaget, karena dirinya sudah berpindah tempat. Sudah tidak berada di sanggar pamujan Nenek Jumprit yang rumahnya megah bak istana kerajaan. Irul hanya dusuk bersila di sebuah batu, di bawah pohon beringin besar yang di hadapannya terdapat bongpai.
Dan ketika Irul tengak-tengok, menoleh dan melihat orang-orang yang ada di situ, tentu mencari Nenek Jumprit. Nenek itu sudah tidak ada. Kini yang ia hadapi adalah warga kampung yang akan menolongnya bersama Melian.
"Melian ......." Irul yang sangat senang karena bisa bertemu kembali dengan Melian, langsung balas memeluk sangat erat.
Lantas para warga pun menolong Irul dan Melian. Irul tentu dalam keadaan sehat. Tidak mengalami masalah apa-apa. Hanya kaget karena keanehan dari peristiwa yang dialaminya. Tetapi satu keyakinan, bahwa sikapnya yang tegas dan benar, sudah memberi kekuatan pada dirinya. Maka bala bantuan pasti akan diberikan oleh Yang Maha Kuasa, dengan cara apapun yang manusia sendiri secara akal sehat tidak pernah bisa menalarnya.
Sementara, Melian yang sudah satu minggu tidak sadar diri, dan juga mengalami pengaruh obat perusak syaraf, tidak makan dan tidak minum, maka tubuhnya lemas. Bahkan kakinya terasa sakit saat akan dibuat berjalan. Maka Melian dibantu oleh warga masyarakat dengan cara ditandu.
__ADS_1
Nenek Jumprit tersenyum menyaksikan kegigihan hati Irul, yang setia menolong Melian.