GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 244: KEMBALI KE JAKARTA


__ADS_3

    Sebentar lagi Melian akan diwisuda. Ia harus mengurus pendaftaran dan perlengkapannya. Paling tidak mempersiapkan toga wisuda serta pakaian apa yang nantinya akan dikenakan. Maka sore itu, Jamil bersama Juminem, mengantarkan Melian ke Stasiun Tawang. Melian akan naik kereta malam. Besok fajar akan sampai di Jakarta. Perjalanan malam naik kereta itu lebih nyaman dan tenang. Setidaknya bisa tidur nyenyak. Tahu-tahu sudah sampai di tempat tujuan.


    Dari Stasiun Gambir, Melian langsung naik taksi menuju bantaran Ciliwung. Menuju Kampung Tranformer. Kembali menemui para pemulung yang sudah menjadi bagian dari komunitasnya.


    Bukan Jakarta namanya, kalau fajar orang-orangnya masih tidur. Apalagi Kampung Transformer, yang penghuninya adalah para pemulung. Bahkan sebelum ayam berkokok, orang-orang di Kampung Transformer ini sudah sibuk dengan pekerjaannya. Yaitu berkeliling kampung, keluar masuk gang, mencari rongsok. Jika mereka berangkat kesiangan atau terlambat sedikit saja, maka hasilnya tidak akan banyak barang rongsok yang diperoleh. Sudah kalah duluan dengan teman-temannya. Barang rongsok yang biasanya ditaruh di depan rumah atau di tempat sampah, sudah kedahuluan diambil orang.


    Saat taksi yang ditumpangi Melian masuk halaman Kampung Transformer, hari belum juga terang. Tetapi di tempat itu sudah ada beberapa orang yang mendorong gerobak rongsok. Dan begitu melihat siapa yang turun dari taksi itu, mereka langsung berlari menyambutnya.


    "Neng Melian ...!" teriak pembawa gerobak rongsok yang pertama kali melihat orang yang turun dari taksi.


    "Kak Melian ...!" sahut yang lainnya.


    "Hai ..., halo .... Selamat pagi semuanya ...." sahut Melian yang baru saja keluar taksi.


    "Kak Melian .... Selamat datang kembali .... Kami rindu pada Kak Melian ...." kata remaja laki-laki yang juga sudah menyambut kedatangan Melian.


    "Iya .... Kakak juga kangen sama kalian semua .... Tolong dibantu bawa oleh-olehnya, ya ...." kata Melian yang sambil mengambil barang bawaan yang ada dalam bagasi taksi itu.


    Dan remaja-remaja yang tadinya mendorong gerobak pemulung itu, langsung bergegas menuju ke bagasi taksi, mengangkat semua barang bawaan Melian. Lumayan banyak. Langsung dinaikkan ke atas gerobak rongsok. Pantas Melian memilih naik kereta, kalau naik pesawat pasti sudah membayar bagasi barang yang melebihi beban. Tentu ongkosnya sangat mahal. Kalau naik kereta, tidak masalah dengan barang bawaan. Yang penting bisa membawanya. Paling-paling hanya memberi upah petugas porter yang membawakan.


    Setelah selesai mengangkat seluruh barang bawaannya, Melian membayar taksinya. Tentu ditambah tip. Setidaknya membagi rezeki kepada orang lain, yaitu sopir taksi yang sudah mengantarnya.


    "Kamsia, Cik ...." kata sopir taksi itu. Mestinya sopir taksi itu heran, kenapa ada cacik-cacik cantik, kok turunnya di tempat tinggal para pemulung? Dan yang mengherankan, para pemulung yang ada di kampung itu sangat akrab dengan gadis keturunan Cina yang cantik itu.


    Masih penuh dengan tanda tanya di benaknya, sopir taksi itu memutar mobilnya, dan akan kembali ke pangkalan di Stasiun Gambir. Pastinya sambil mencari penumpang di jalan. Mumpung hari masih pagi, mencari rezeki semaksimal mungkin.


    Melian bersama-sama dengan para remaja yang mendorong gerobak rongsokan itu, menuju kediaman, di rumah antik yang terbuat dari barang-barang bekas.


    "Melian ...!! Welcome to the village of transformers .... " teriak temannya sesama volunteer yang menginap di rumah antik. Mahasiswa dari Pajajaran, Bandung.


    "Yes..., I came back ...." sahut Melian yang langsung bersalaman dengan temannya.


    "Kak Melian ..., ini barang-barangnya ditaruh di mana?" tanya pemulung-pemulung yang membawakan barang-barangnya.


    "O, ya .... Tolong nanti kalau pagi sudah terang, semua oleh-oleh ini kamu bagi rata ke seluruh warga. Ini ada bandeng presto, ada wingko babat, ada madu mongso sama enting-enting. Kalian bagikan secara rata, ya .... Pokoknya sedikit-sedikit tapi kebagian semua ...." kata Melian yang menyerahkan barang oleh-olehnya itu kepada tiga remaja pemulung yang sudah membawakan barangnya.


    "Ya .... Terima kasih ya, Kak ...." kata para remaja itu, tentu dengan perasaan yang sangat senang.

__ADS_1


    "Kembali kasih ...." sahut Melian.


    Tiga remaja itu langsung membawa gerobak dengan barang hasil pulungannya menuju tempat penyimpanan rongsok. Lantas berkeliling ke rumah-rumah singgah, membagikan oleh-oleh yang diberikan oleh Melian.


    Sementara itu, di rumah unik, teman volunteer yang ada di situ, memberi tahu tentang peristiwa yang menimpa Akbar.


    "Mel ..., Akbar sudah meninggal .... Mengalami kecelakaan." kata temannya itu.


    "Iya .... Saya sudah mendapat kabar. Teman-teman sudah kirim SMS. Namun saya masih ada urusan di Jawa, jadi tidak mungkin balik langsung. Terus bagaimana pengurusan jenazahnya?" tanya Melian yang tentu ingin tahu prosesnya.


    "Orang tuanya dari Sumatera yang mengurusi. Kebetulan saudara-saudara Akbar banyak yang tinggal di Jakarta. Jadi tidak ada masalah .... Langsung gerak cepat. Teman-teman juga ikut membantu. Ada yang ikut ambulan mengantarkan ke Sumatera." cerita temannya.


    "Syukurlah .... Apa di sini ngadakan doa untuk almarhum?" tanya Melian.


    "Iya .... Malah sampai tiga malam .... Tempatnya ya di sini .... Semua warga singgah, laki perempuan, anak-anak juga pada ikut mendoakan .... Kita ngadakan tahlilan. Itu yang mimpin malah Pak Man ...." cerita temannya itu lagi.


    "Syukurlah .... Saya senang mendengarnya ...." kata Melian lagi.


    "Cuman masalahnya itu teman-teman pada heran ..., kenapa Akbar kok mau diajak jalan-jalan ke Puncak. Apa pacarnya Akbar, ya ...?" tanya temannya yang keheranan.


    Melian bingung mau menjawabnya. Ingin mengatakan temannya, khawatir nanti justru akan dituntut oleh teman-temannya. Kalau mau mengatakan itu pacarnya Akbar, Melian juga ragu. Apalagi sebenarnya Melian baru saja melakukan pendekatan kepada Akbar. Tetapi begitu cepatnya Akbar berpacaran dengan Putri. Kalau memang pacaran, ya benar saja kalau diajak ke Puncak sama Putri. Tentu Melian sudah kenal siapa Putri, mantan pacarnya Wijaya yang senang dengan dugem dan kebebasan. Tapi apa mungkin Akbar seperti itu? Atau Akbar sudah dipengaruhi oleh Putri untuk menikmati cara pacaran ala anak orang kaya? Entahlah.


    "Sebelum peristiwa kecelakaan, Akbar selalu makan bersama dengan gadis itu. Ya, di cafe itu. Teman-teman bilang, Akbar dengan gadis itu terlihat mesra ...." kata temannya.


    "Hmhemmm .... Mesra bagaimana?" tanya Melian.


    "Ya, kayak pacarnya begitu ...." jawab temannya.


    "Ya, mungkin saja .... Kan sudah besar .... Sudah cukup umur. Yang penting semua sudah mendoakan, dan semuanya berjalan lancar dan diberi kemudahan. Dan kita yang di sini, tetap mengenang jasa Akbar di tempat ini. Ada berita lain, nggak?" sahut Melian.


    "Ada, Mel .... Kemarin kamu dicari Pak Dosen .... Itu, tuh ...." kata temannya sambil tersenyum simpul, seakan ada yang dirahasiakan.


    "Pak Dosen siapa?" tanya Melian.


    "Dosen kamu .... Pak Dosen muda yang dulu pernah wawancara kepada teman-teman, dsan sempat memotret kamu ...." kata temannya itu yang mencoba mengingatkan Melian. Maklum temannya itu lupa dengan nama dosennya Melian yang mencari.


    "Oo .... Pak Endang .... Memang ngapain?" kata Melian menyebutkan nama dosennya.

__ADS_1


    "Gak tahu .... Dia cuman bilang mau ketemu Melian. Tapi karena kamu gak ada, teman-teman bilang kalau kamu pulang Jawa, Pak Dosen itu langsung balik. Tidak pesan apa-apa." kata temannya.


    "Ya udah kalau gak pesan .... Berarti kan gak penting ...." sahut Melian.


    "Mungkin naksir kamu, Mel ...." kata temannya menggoda.


    "Iih .... Enak aja ...." Melian mencubit pinggang temannya itu.


    "Melian ke kampus kapan?" tanya temannya.


    "Ini nanti .... Mau ambil toga untuk wisuda." jawab Melian.


    "Hah ...?! Melian sudah mau wisuda ...?! Cepat sekali ...." temannya itu kaget. tapi juga bahagia.


    "Iya, lah .... Kan sudah selesai." jawab Melian.


    "Kapan wisudanya?" tanya temannya lagi.


    "Besok Selasa, Minggu depan itu ...." jawab Melian.


    "Selasa lusa besok itu ...? Selamat ya, Mel ...." kata temannya yang langsung memberi ucapan selamat.


    "Terima kasih .... Eh, iya .... Rencana besok Minggu, orang tua saya mau kemari. Mau menyaksikan saya diwisuda .... Maaf sebelumnya kalau ngrepoti, rencananya orang tua saya mau aku ajak nginep di sini." kata Melian.


    "Kok gak nginep di hotel saja, Mel?" tanya temannya.


    "Tidak .... Orang tuaku ingin tahu tempat yang sudah memberi kehidupan beda pada diri saya. Tempat ini sudah mengajarkan banyak hal kepada saya, Mer .... Biar orang tuaku tahu." kata Melian.


    "Apa orang tuamu bisa hidup di tempat seperti ini?" tanya temannya.


    "Mery ..., orang tuaku itu asli orang miskin. Sejak kecil mengajarkan hidup sederhana kepada saya. Hanya karena kegigihannya, ia bisa berhasil. Jadi kalau hanya tinggal di tempat seperti ini, orang tuaku sudah biasa. Kamu tidak usah khawatir, Mer ...." jelas Melian pada temannya, untuk meyakinkan orang tuanya sanggup tinggal di pemukiman pemulung.


    "Ya, aku percaya, Mel .... Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Kalau kamu bisa seperti ini, pasti orang tuamu juga orang yang baik, yang punya rasa dan empati kepada mereka-mereka yang kurang beruntung." kata temannya.


    "Oke, Mer .... Saya mau mandi, dan nanti mau ke kampus .... Keburu siang, jalannya macet." kata Melian yang akan beranjak mandi.


    "Iya, lah .... Kan mau ketemu Pak Dosen ganteng .... Ehm ...." temannya lagi-lagi menggoda.

__ADS_1


    "Iih ..., apaan sih ...." kata Melian yang tentu berusaha mencubit temannya. Tapi dia sudah melarikan diri.


__ADS_2