
"Melian ...!" terdengar suara perempuan memanggil Melian.
Melian langsung menoleh ke arah suara yang ditelinganya memang tidak asing itu.
"Hai .... Putri .... Apa kabar? Ayo, kemari ...." jawab Melian setelah tahu yang datang adalah sahabatnya, Putri.
Putri pun langsung berbaur dengan anak-anak yang bau keringatnya menyengat itu. Awalnya, tentu Putri agak kurang nyaman dengan bau sengak itu. Namun saat menyaksikan Melian yang begitu akrab dan sangat enjoi berbaur dengan anak-anak, Putri pun berusaha untuk bisa ikut beradaptasi.
"Ini lagi ngapain ...?" tanya Putri yang ingin tahu dengan keramaian itu.
"Rencananya anak-anak ingin membuat pembangkit listrik tenaga air ...." jawab Melian.
"Wao .... Keren banget ...." sahut Putri yang tentu semakin takjub.
"Ini idenya Akbar ...." sahut Melian.
"Akbarnya mana ...?" tanya Putri, tentu sambil tolah toleh mencari nama laki-laki yang baru saja disebut itu.
"Masih kuliah ...." jawab Melian.
"Memang ini nanti bisa jadi alat pembangkit listrik?" tanya Putri yang penasaran.
"Tidak tahu .... Katanya Akbar sih modelnya seperti ini. Pak Man yang tadi sudah menerima penjelasan dari Akbar. Anak-anak yang membantu. Katanya sih, bisa ...." kata Melian.
"Hebat ...." kata Putri.
"Apanya yang hebat?" tanya Melian.
"Ini .... Rencana pembuatan pembangkit listrik ini .... Akbar memang genius." begitu kata Putri, yang tentu mulai memuji Akbar.
"Eh, ini Putri ada acara apa ke Kampung Transformer?" tanya Melian yang tentunya ingin tahu maksud kedatangan sahabatnya itu.
"Cari inspirasi, Mel .... Di asrama aku suntuk banget .... Gak bisa mikir ...." kata Putri pada Melian.
"Sudah makan, belum ...?" tanya Melian.
"Belum ...." jawab Putri sambil memegang perutnya, menunjukkan pertanda lapar.
"Ayo, kita ke cafetaria .... Kita ngobrol sambil makan." kata Melian langsung mengajak Putri untuk makan.
__ADS_1
Setelah Melian menyampaikan pesan pada Pak Man, dan tentu juga kepada anak-anak yang menyaksikan proses pembuatan kincir air itu, Melian bersama Putri menuju cafetaria. Mereka berdua memesan menu, yang sekaligus untuk makan siang.
"Putri mau makan apa?" tanya Melian menawarkan kepada sahabatnya itu.
"Nasi ulam ..., sama es selendang mayang." jawab Putri.
"Saya mau gado-gado Betawi sama minumnya bir pletok." pilihan menu Melian.
Memang, cafetaria Kampung Transformer ini khusus menyediakan makanan-makanan khas Jakarta. Yang tentunya saat ini menu-menu seperti itu susah untuk ditemukan direstoran-restoran besar yang merebak di Jakarta. Oleh sebab itulah para volunteer yang membantu untuk mengubah citra pemukiman para pemulung itu, tetapi mereka berniat untuk menonjolkan nilai-nilai tradisi Betawi. Makanya, cafetaria yang dibangun di pinggir Sungai Ciliwung ini memang menyajikan menu-menu khas Betawi, seperti soto betawi, kerak telor, sayur babanci, nasi ulam, semur jengkol, es selendang mayang serta bir pletok. Dan menu-menu inilah yang menjadi tujuan utama para wisatawan yang mengunjungi Kampung Transformer. Wisata kuliner khas makanan tradisional Betawi.
"Kamu hari ini tidak kuliah?" tanya Melian pada Putri sambil menikmati menu makanannya.
"Kuliahku sudah habis, ya .... Tinggal nulis skripsi, nih ...." jawab Putri yang memang tinggal menyelesaikan skripsinya.
"Cepetan ...." sahut Melian.
"Kamu enak ya, Mel .... Sudah selesai semuanya, tinggal nunggu wisuda saja. Lulusan tercepat lagi .... Udah begitu, nilainya istimewa. Keren ...." kata Putri yang tentu juga ngiri pada Melian.
"Makanya .... Jangan pacaran melulu ...." ejek Melian.
"Iih .... Siapa yang pacaran ...?!" sahut Putri sambil cemberut.
"Eh, Mel .... Si Akbar itu cakep, ya ...." kata Putri sambil melirik Melian.
"Kamu naksir, ya ...?" tanya Melian, yang tentu menebak perasaan hati Putri.
"Iih ..., apaan sih ...." Putri memukul bahu Melian, seakan tidak mau digoda seperti itu, dikatakan naksir Akbar. Tentu wajahnya langsung memerah karena malu. Padahal sebenarnya di dalam hati Putri, sangat senang dan mengatakan iya. Tapi tentu ia tidak berani mengatakan isi hati yang sesungguhnya. Pastinya malu pada Melian.
"Eh, Mel ..., kamu sering bersamaan sama Akbar?" tanya Putri pada Melian, yang tentunya akan menelisik seluk beluk tentang Akbar.
"Memang kenapa?" tanya Melian. Tetapi dalam hatinya, ia mulai merasa ada sesuatu dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Putri. Pasti Melian mulai curiga dengan sikap sahabatnya itu. Pastinya Putri mulai naksir Akbar.
"Enak ya, Mel ..., bisa barengan sama Akbar terus. Bahkan setiap hari .... Anaknya pintar, kuliah di ITB, rajin dan baik." sahut Putri sambil membayangkan kalau duduk bersama Akbar.
"Kami di sini ada banyak volunteer, Put .... Tidak cuman saya sama Akbar doang .... Jadi, ya kami akrab dengan semuanya ...." kata Melian yang tentunya mengelak kalau dituduh hanya berdua sama Akbar saja. Walaupun sebenarnya, dalam hati Melian mulai merasa senang kalau bisa berduaan dengan Akbar.
"Yaa ..., siapa tahu .... Kan kalian berdua sama-sama di sini ...." kata Putri lagi, yang masih saja mencoba menelisik Akbar dengan Melian. Tentunya, Putri ingin tahu apakah Akbar sudah punya cewek atau belum.
"Putri .... Kamu kok nanya-nanya Akbar terus, sih .... Putri naksir, ya ...?" tanya Melian pada Putri, yang tentu sudah mulai curiga dengan sahabatnya itu.
__ADS_1
"Iih .... Apaan, sih ...? Cuman nanya-nanya doang ...." sahut Putri yang langsung berpura-pura hanya sekadar nanya. Padahal, dalam hatinya Putri, memang pertanyaan dari Melian seperti itulah yang diharapkan olehnya. Setidaknya biar mendapat respon dari sahabatnya itu.
"Habis ..., dari tadi yang dibicarakan Akbar melulu .... Biasanya kalau membicarakan terus, itu kan ada maksudnya ...." sahut Melian yang sebenarnya juga jengkel dengan sikap Putri yang membicarakan Akbar terus-terusan. Karena dalam hati Melian sendiri sebenarnya baru saja terbersit wajah Akbar.
"Ya ampun, Melian .... Namanya saja cowok baik, cowok pinter, cowok ganteng .... Wajar kan kalau banyak orang yang membicarakan ...? Apalagi cewek-cewek .... Pastilah tertarik sama Akbar ...." sahut Putri yang memberi memaparkan argumentasinya.
Memang tidak bisa dipungkiri, yang namanya cowok ganteng, baik dan pintar, pasti banyak yang suka, banyak yang naksir. Paling tidak senang bisa berdekatan dengan Akbar. Bahkan di Kampung Transformer saja, tidak hanya anak-anak yang dekat dengan Akbar. Tidak hanya bapak-bapak yang senang kalau diajari membuat teknologi tepat guna. Bahkan ibu-ibu, jika disuruh kumpul, dan tahu akan diajari membuat keterampilan oleh Akbar, maka tidak ada yang kelewat, semuanya ikut berkumpul, semuanya ikut datang, walau hanya sekadar bisa ketemu Akbar.
"Jujur saja, Putri .... Coba jawab pertanyaanku .... Kamu naksir Akbar ...?" tanya Melian, tentunya dengan kata-kata yang sangat berat diungkapkan. Karena sebenarnya Melian sendiri baru akan mau memulai pendekatan kepada Akbar.
Putri terdiam. Tapi bibirnya yang terlihat bergerak, tidak bisa dipungkiri bahwa Putri memang menaruh rasa terhadap cowok yang bernama Akbar itu. Peristiwanya sudah terjadi saat naik bajai bersama Akbar dari kampusnya sampai ke Kampung Transformer. Namun bagi seorang wanita, tentunya tidak patut untuk mengungkapkannya. Apalagi, belum tentu laki-laki yang ditaksirnya itu mau dengan dirinya. Maka meski Putri benar-benar naksir, ia tidak mungkin mau mengatakan ya.
"Kelihatannya, menurut dugaanku ..., Melian yang naksir Akbar .... Benar kan ...?" Putri tidak menjawab pertanyaan Melian, tetapi justru membalikkan kata-kata itu untuk menjebak Melian.
"Iih ..., enak aja ...." kata Melian, tetapi wajah halus putihnya itu sudah berubah memerah. Pertanda memang rasa cinta itu sudah mulai muncul dalam hatinya. Namun sebenarnya, sama seperti halnya Putri, kalaupun Melian mulai ada rasa dengan Akbar, itu pun tidak bakal akan ia sampaikan kepada Putri.
Dua orang itu terdiam. Masing-masing memainkan sendok makannya. Berpura-pura menikmati makanan, namun angan-angannya jauh melayang. Walau tidak terlihat, namun pikiran mereka sama, yaitu membayangkan Akbar.
Hati Putri mengatakan rahasia yang disembunyikan, "Melian ..., seandainya kamu bisa menyaksikan isi hatiku, seandainya kamu tahu perasaanku .... Saat ini aku sebenarnya sangat mengharapkan kehadiran Akbar."
Demikian juga yang tersimpan dalam benak Melian, yang mengatakan hal senada, " Putri ..., saat ini aku sedang memikirkan Akbar .... Perasaanku jadi tidak karuan kalau kamu selalu menyebut-sebut nama Akbar. Apakah kamu tidak tahu isi hatiku ...?"
Dua perempuan yang saling bersahabat itu, ternyata memiliki perasaan yang sama, yaitu sama-sama naksir satu cowok yang sudah mampu menggoda hatinya.
"Melian ..., aku pamit pulang dahulu, ya .... Rencananya aku mau ke kampus, mau cari referensi untuk skripsiku di perpustakaan ...." kata Putri yang sudah menhabiskan makan siangnya di cafetaria bersama Melian, dan tentunya sudah puas mengobrol untuk mencurahkan perasaannya.
"Yakin mau pulang sekarang ...? Tidak nanti saja ...? Tidak menunggu Akbar kemari?" Melian masih sempat menggoda, padahal dalam hatinya, ia sangat senang kalau Putri segera berlalu dari kampungnya. Stidaknya tidak bakal ketemu sama Akbar.
"Memang Akabar pulangnya jam berapa?" tanya Putri yang kembali terhenti.
Tentu Melian kaget saat melihat Putri membalik dan menanyakan kepulangan Akbar. Lalu jawabnya, "Tidak tahu lah, Putri .... Bandung itu jauh .... Jaraknya hampir seratus enam puluh kilo .... Lama perjalanannya dua setengah jam .... Dia mau pulang ke Ciliwung atau ke kost-kostannya, atau menginap di mana, atau mau pulang kampung sekalian, saya tidak tahu, Putri .... Mosok saya disuruh nanyain urusan orang lain .... Malu, lah ...." jawab Melian yang tentu juga berharap agar Putri tidak datang lagi.
"Ya udah ..., salam saja buat Akbar ...." kata Putri yang kembali melangkah meninggalkan cafetaria dan menuju ke gerbang utama. Paling akan naik taksi.
"Iya .... Nanti akan saya sampaikan .... Tetapi tidak dengan kata-kata cinta, kan ...?" goda Melian.
"Cintanya buat kamu saja ...!" teriak Putri.
"Beneran, nich ...?!" goda Melian lagi.
__ADS_1
Putri tidak menjawab. Tentunya dengan wajah yang memerah memendam malu. Ia langsung masuk ke taksi yang memang banyak mangkal di depan Kampung Transformer. Meninggalkan kampung itu dengan cinta yang belum sempat diungkapkan.