
Monster itu adalah alasan kenapa shiroki mengeluarkan aura intimidasi yang mengerikan itu, namun sayangnya aura itu mungkin bisa membuat srigara es dan manusia biasa seperti ziyun ketakukan. Tapi bagiku dan monster yang ada didepan kami ini aura yang dikeluarakn oleh shiroki terasa sangat biasa dan tidak ada pengaruh.
Para monster itu sepertinya cukup pintar, meskipun Jumlah mereka ada tujuh mereka tidak langsung mengepung kami. Mereka tau jika mereka berpencar maka mereka akan lebih mudah dikalahkan, jadi mereka memutuskan untuk tetap bersama. Tapi itu merupakan keuntungan untukku karena jika mereka tetap bersama maka akan lebih mudah bagiku untuk mengalahkan mereka.
Para monster itu memiliki tubuh yang besar jika mereka menyerangku lebih dulu maka aku pasti akan kalah jika dengan kekuatanku yang saat ini. Aku melempar lima pisau sekaligus dengan tubuh mereka yang besar pasti akan sulit untuk menghindari pisau terbang dengan kecepatan tinggi. Meski kelima pisau yang kulempar mengenai empat dari mereka hal itu tidak berefek apapun.
Aku salah perhitungan, aku lupa kalau mereka monster kera es merupakan monster berelemen es yang kuat. Elemen es yang ada ditubuh mereka dapat dengan mudah memadamkan api dari sihir black hell ku. Meskipun aku hanya menggunakan sepuluh persen kakuatan dari sihir black hell tapi sihir itu sudah dapat membunuh monotaurus dan beruang bertaring dengan mudah, namun es mereka dengan mudah memadamkan apinya.
Para kera es itu datang kearahku dengan bersaamaan, seperti dugaanku mereka akan terlebih dahulu menyerang orang yang mahir bertarung. Dengan kata lain maka mereka akan mengabaikan manusia seperti ziyun, dengan mereka yang pasti tidak akan menyerang ziyun yang ada dibelakangku maka aku tidak perlu takut akan kehilangan fokus saat bertang nanti.
"Ziyun tetaplah dibelakangku bersama dia."
Aku memegang shiroki yang ada didepanku dan memberikannya kepada ziyun.
"iya, zen hati hati"
"Ya"
Bertarung dekat dengan ziyun akan cukup berbahaya baginya jadi aku mendeka para kera yang sedang menuju kearahku.
"Matilah kalian para monster kera rendahan."
Aku menggunakan pedangku yang dilapisi dengan sihir black hell, kali ini aku menaikan kekuatannya dari sepuluh persen menjadi lima belas persen. Aku menyerang tiga kera es yang paling kecil duluan, jika aku ingin mengurangi jumlah mereka maka menyerang yang paling lemah adalah cara yang terbaik. Hanya dalam beberapa gerakan aku sudah membunuh tiga dari jumlah mereka, sisanya tinggal empat kera lagi. Keempat kera ini memiliki tubuh dua kali lebih besar dari yang kubunuh tadi, mereka jugalah yang dengan mudah dapat memadamkan api dari sihirku.
Meski tadi mereka sempat berhenti menyerang kini mereka kembali menyarangku secara bersamaan. Aku terus menghindar sambil menyerang mereka, bahkan sihir black hell dengan lima belas persen kekuatannya dapat dengan mudah dipadamkan oleh es mereka. Jika begini terus maka aku pasti akan kesulitan nantinya aku menaikan lagi kekuatanku, aku menaikan kecepatanku mencapai lima puluh persen dan sihir black hell menjadi dua puluh lima persen.
Salah satu kere es itu menaikan kekuatannya dan membuat banyak bongkahan es sehingga terlihat terlihat sepert dia sedang menggunkan sihir es. Mereka melempariku dengan bongkahan es yang cukup besar, dengan sepuluh persen kekuatan dari sihir black hell pasti akan sulit untuk melelehkan bongkahan es itu, tapi dengan dua puluh lima persen kekuatannya maka melelehkan bongkahan es itu adalah hal yang mudah. Aku membelah bongkahan es yang menuju kearahku, bongkahan es yang terkena pedangku pasti akan lenyap tanpa tersisa walau hanya setetes air.
__ADS_1
Mereka kehabisan bongkahan es kali ini giliranku untuk menyerang, aku dengan cepat mendekati mereka. Aku terus menyerang mereka dengan pedangku tapi mereka dapat terus menghindar, itu bukanlah masalah untukku pisau terbang yang kulempar masih ada dibadan mereka. Aku mengarilkan mana melalui cincin sehingga pisau tebang itu merespon dan kembali terlapisi dengan sihir black hell dengan kekuatan dua puluh lima persen.
Meski api dari pisau belum dapat membunuh mereka tapi gerakan mereka sempat terhenti sejenak. Aku lansung menebas mereka secara bergantian, pada akhirnya tubuh mereka tidak dapat lagi melawan api dari pisau dan pedangku.
"Huft, akhirnya selesai juga."
Ini adalah pertarungan yang cukup meyulitkan, bahkan sampai memaksaku untuk mengeluarkan dua puluh lima persen kekuatan dari sihir black hell.
"Zen apa kau tidak apa apa? Apa kau terluka?"
Ziyun datang kepadaku dan bertanya dengan panik, shiroki masih berada ditangannya.
"Tenang , aku baik baik saja."
"Ziyun kau tunggulah disini dulu, aku mau pergi mengambil kulit kera es itu dulu."
"Kulit kera es untuk apa?"
"Untuk ditukarkan dengan uang"
"heh, jadi kulitnya bisa ditukar dengan uang, aku baru tau."
Tidak mengherankan jika dia baru mengetahui hal itu, dia hidup didesa tepencil didekat gunung ini. Mungkin saja dia belum pernah datang kekota ataupun melihat orang banyak. Aku segera pergi untuk mengambil kulit kera es, meski begitu hanya tiga dari mereka yang bisa kuambil kulitnya. Karena aku hanya menggunakan kekuatan sebanyak sepuluh persen untuk membunuh mereka jadi kulit mereka tidak tebakar karena es yang ada didalam tubuh dan disekitar gunung ini. Sedangkan empat yang lainnya kulitnya sudah tidak dapat diambil lagi, bahkan apinya sendiri masih belum padam. Kulit kera es termasuk mahal, mungkin dengan ini aku bisa mendapat sebanyak satu koin emas.
"Ziyun ayo kita pergi."
__ADS_1
"Iya"
Aku dan ziyun sdah ingin berangkat tapi sebelum itu ada yang harus kulakukan.
"Wahai air padamkanlah api yang yang sedang menyala Wave destruction."
"Mengapa apinya dipadamkan?"
"Untuk mencegah kemungkinan terburuk."
Tidak akan ada yang tau apa yang akan terjadi jika aku terus membiarkan api itu menyala. Untuk mencegah kemungkinan terburuknya adalah dengan memadamkan api Itu.
Aku dan ziyun kembali melanjutkan perjalanan kami menuju puncak, ziyun sepertinya adalah tipe orang yang mudah untuk beradaptasi. Meski tadi ada banyak monster yang mendekati kami, tapi dia tidak ada menangis. Mungkin pengalaman pahitnya yang membuatnya menjadi dirinya yang seperti ini.
"Ngomong ngomong ziyun, apa kau sudah pernah pergi kekota?'
"Tidak, aku tidak pernah pergi kekota."
Jadi dia belum pernah pergi ke kota ya, kalau gitu mungkin aku harus mengajaknya makan yang enak dan membelikan baju baru untuknya nanti jika dikota.
"Kalau begitu saat kita di kota nanti aku akan mengajakmu untuk makan yang enak."
"Benarkah? Janji ya."
Ziyun menunjukan senyumannya kepadaku untuk pertama kalinya semenjak kami bertemu. Bagiku menghabiskan waktu denganmu cukuplah menyenagkan, tidak peduli apapun yang terjadi aku pasti akan selalu melindungi mu.
__ADS_1
"Ya aku janji."