Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci

Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci
Matinya Sang Kaisar


__ADS_3

Telah beberapa hari berlalu semenjak Zen mengirim Irene dan Fernanse kedunia lain. Zen terbangun dari tidurnya, dikamar yang biasanya ada Irene yang sedang membaca buku atau Fernanse yang biasa sangat lasak kini telah kosong tanpa ada suara.


"Hah, aku masih belum terbiasa juga dengan situasi ini."


Zen bangun dari kasur miliknya, Zen kemudian memakai baju dan bersiap siap.


"Saatnya melakukan apa yang diinginkan oleh kakek itu."


Zen membuka gate dan memasukinya. Gate tepat terbuka diruang tahta kekaisaran suci. Zen dapat melihat sang kaisar sedang duduk di kursinya dengan ekspresi yang terkejut.


Disekelilingnya Zen melihat para prajurit yang mengarahkan tombak kepadanya.


Zen lalu mengeluarkan pedang terkutuk miliknya dan Seperti pisau Panas yang memotong mentega, Zen membunuh semua prajurit itu tanpa kesulitan sedikitpun.


Zen kemudian melihat kearah pintu dan memejamkan matanya, Zen sama sekali tidak merasakan hawa keberadaan dari para pahlawan atau pun dari orang orang menerima pelayan darinya.


'Para pahlawan dan para penerima pelayan dariku tidak ada disini ya?'


Zen kemudian berjalan menuju ketempat sang kaisar berada, sang perdana menteri yang ada disampingnya pun segera mencoba untuk melindungi sang kaisar.


Namun sang perdana menteri hanyalah seorang manusia biasa, dihadapan Zen keberadaannya sama sekali tidak penting sama seperti seekor nyamuk.


Zen lalu memenggal kepada perdana menteri itu, Dengan tatapan kosong Zen menatap sang kaisar.


Rasa takut, rasa terkejut, dan rasa marah tercampur menjadi satu diwajah sang kaisar. Meski rasa takut akan kematian mengelilinginya, sang kaisar bertanya kepada Zen.


"Siapa kau? Mengapa kau lakukan hal ini?"


"Hmm, pertanyaan yang bagus. Pertama siapa aku? Apakah anda tidak denganku lagi paman?"


Mendengar perkataan Zen, wajah kaisar membuat sebuah ekspresi terkejut. Hanya sedikit saja orang yang dapat memanggilnya paman, sang Kaisar pun langsung tau kalau orang yang ada didepannya ini adalah orang yang seharusnya sudah mati sejak lama.


"Kau Zen, Zen Cavalier."


"Benar sekali."

__ADS_1


Zen lalu mengeluarkan sebuah pisau terbang miliknya dan menusuk tangan kanan sang kaisar.


"Aaargggg."


Tusukan itu membuat sang kaisar berteriak dengan keras karena rasa sakit yang dia terima.


"Kudengar kau menjadi seorang leluhur Vampire, apakah itu benar?"


Belum terlalu lama semenjak sang kaisar menerima laporan dari Kufa kalau leluhur pertama yang sekarang adalah mantan seorang manusia, namanya adalah Zen dengan rambut berwarna merah.


Semenjak saat itu sang kaisar terus berdoa kalau leluhur pertama yang sekarang adalah Zen yang berbeda dengan Zen Cavalier yang seharusnya mati sejak dulu.


"Memang benar aku salah leluhur Vampire, hanya saja aku bukanlah Vampire murni."


Sekarang seperti doanya tidak pernah didengar, sang kaisar kini melihat Zen Cavalier yang harusnya telah mati sejak dulu sekarang menjadi seorang leluhur Vampire.


"Apa kau kesini untuk membalas dendam kepadaku?"


"Mana mungkin, aku kesini hanya untuk mewujudkan keinginan seorang pria tua."


Penyihir kekaisaran suci August Aubert, pria itu adalah salah satu orang yang ikut dalam pembantaian keluarga Cavalier (disebut juga dengan keluarga pedang suci karena setiap generasi sang kepala keluarga pasti dapat menggunakan pedang suci.). Namun begitu pembantaian selesai pria itu menghilang dan tidak pernah muncul lagi dihadapan sang kaisar.


"Ya, benar sekali."


Zen lalu meletakkan pedang miliknya kedada sang kaisar dan hendak menusukkan.


"Berhenti!!!"


Sang kaisar menghentikannya didetik detik terakhir.


"Jangan bunuh aku, sebagai gantinya aku akan mengabulkan apapun yang kau inginkan?"


"Apapun?"


"Iya apapun."

__ADS_1


Sebuah senyuman kecil muncul diwajah Zen,dia menusukkan pedang terkutuk miliknya kedada sang kaisar.


"Sialan kau Zen Cavalier."


Darah terus keluar dari dada dan mulutnya, sang kaisar terus menerus mengucapkan kata kata kutukan Kepada Zen.


"Setidaknya aku telah mewujudkan apa yang kau inginkan, kakek."


Tidak lama kemudian sang kaisar pun mati dan Zen menari pedangnya. Pintu ruangan tiba tiba terbuka, ratusan prajurit pun mulai memasuki ruangan.


Zen dengan cepat langsung membunuh semua prajurit prajurit itu. Lantai yang tadinya dilapisi oleh karpet yang mahal kini dipenuhi oleh darah yang terus mengalir.


Zen pergi keluar ruangan itu, dia terus membunuh siapapun yang dia temui. Mau itu bangsawan, pelayan, ataupun seorang prajurit.


Zen akhirnya sampai ke pintu kastil, dia memandangi ibu kota kekasiaran yang tampak indah itu.


"Fire wall"


Dinding api mengelilingi ibu kota, dinding itu membuat siapapun tidak akan dapat masuk ataupun keluar.


"Fire Despair."


Sebuah lingkaran sihir besar terbentuk dilangit ibu kota. Orang orang yang melihat lingkaran itupun langsung panik dan berterbaran seperti koloni semut yang diganggu.


Dari lingkaran sihir itu keluar sebuah magma yang mengalir tanpa henti. Magma itu membakar apapun yang dia sentuh, kota yang tadinya tampak indah itu kini dipenuhi oleh lautan api.


Suara teriakan keputusasaan dapat terdengar dimana mana. Beberapa orang yang bisa menggunakan sihir berusaha untuk menahan magma itu, namun sayangnya mereka tidak cukup kuat dan akhirnya mati terkena magma itu.


"Sepertinya aku telah terbiasa dengan hal ini."


Dari tempatnya saat ini Zen dapat melihat dengan jelas orang orang yang mati, meski emosi miliknya telah kembali namun Zen tidak merasakan hal apapun. Seolah olah emosinya masih belum kembali sepenuhnya.


Setengah hari telah berlalu, matahari sudah berada diatas kepala. Ibukota telah sepenuhnya hancur dan jutaan nyawa yang tinggal dikota itu juga telah mati semuanya.


Zen merasa puas dengan apa yang dia lakukan, diwajahnya sama sekali tidak tergambar sebuah penyesalan sedikitpun. Zen kemudian membuka gate dan kembali ke kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2