Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci

Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci
Kembalinya Zen Cavalier <Arc Dunia Dengan Sistem>


__ADS_3

Sinar matahari menyinari dunia yang penuh dengan kehidupan didalamnya. Angin berhembus dengan pelan, dedaunan Mulai berjatuhan dan digantikan dengan yang baru.


Suara kicauan burung dapat didengar, menembus celah celah dedaunan sinar matahari menerangi tubuh Zen yang sedang tertidur.


Zen perlahan membuka matanya, dia kemudian berdiri dan melihat kesekelilingnya. Hanya pepohonan dan rerumputan yang dapat dia lihat.


Zen kemudian melihat tangan kanannya, membalikan kepalan tangannya.


"Tubuh ini..... manusia?"


Zen kemudian membuka dan menutup kepalan tangannya berkali kali.


"Tidak, ini tubuh Vampire ya. Tapi ini bukan tubuh Vampire murni."


Vampire murni, itu adalah sebuah sebutan bagi seseorang yang memang terlahir sebagai ras vampire. Meski dia adalah seorang vampire, tapi Zen pada awalnya terlahir sebagai seorang manusia.


Dia berubah menjadi vampire setelah mewarisi kekuatan Theresia, dengan kata lain Zen bukanlah seorang vampir murni.


Zen kemudian memejamkan matanya, dia mencoba merasakan sesuatu yang ada didalam tubuhnya.


"Dantian dan Tanallis ku ada, hanya saja ukuran cukup kecil."


Dantian, itu adalah sebuah wadah yang dapat menyimpan energi spiritual. Dengan adanya wadah itu seorang dapat menggunakan energi spiritual.


Sedangkan Tanallis adalah wadah yang dapat menyimpan mana didalamnya. Dengan adanya wadah itu seorang dapat menggunakan Mana.


"Kekuatan Jiwaku sepertinya masih sama dengan sebelumnya."


Zen membuka kembali matanya, dia menghela nafas yang cukup panjang.


"Meski begitu mengapa ada banyak sekali jiwa didalam tubuh ini?"


Para jiwa yang Zen rasakan itu adalah jiwa milik pewaris yang sebelumnya.


Zen Kemudian merasakan sakit di kepalanya, rasa sakit yang sangat luar biasa. Berbagai ingatan masuk kedalam kepalanya, ingatan dirinya sebagai manusia yang malang, ingatan sebagai leluhur vampire, ingatan tentang Irene, ingatan tentang perperangan dan ingatan tentang Theresia.


"Jadi begitu ya, sejak awal aku memang bereinkarnasi menjadi orang ini. Hanya saja pecahan ingatan ku dibawa oleh Theresia karena itulah sebabnya aku tidak bereinkarnasi dengan ingatanku yang sebelumnya."


Zen kemudian melihat beberapa ingatan yang masuk kedalam kepalanya.


"Hahaha."


Zen tertawa begitu dia melihat beberapa ingatannya.


"Sama seperti kehidupan yang sebelumnya, dikehidupan kali ini semua keluarga ku juga telah mati dibunuh dan nama ku sama dengan yang sebelumnya."


Zen Cavalier, itulah namanya dikehidupan yang saat ini ataupun yang sebelumnya.


"Theresia, gadis kecil yang bodoh. Padahal aku telah menyuruh mu untuk tidak mencari reinkarnasi ku."


Melalui ingatannya, Zen tau tentang semua hal yang Theresia lakukan untuk dirinya. Mulai dari membimbing dirinya sampai mengembalikan pecahan kekuatan kekuatan Zen yang kabur setelah kematiannya.


"Sepertinya pecahan kekuatanku juga ada di dunia ini, hanya saja aku tidak tau keberadaannya dengan pasti."


Zen kemudian melihat kebawah, 10 pedang terletak disana. Zen kemudian mengambil salah satunya dan mengamatinya.


"Pengetahuan mahluk hidup di dunia kecil sangatlah kecil. Apanya yang pedang suci? Ini hanyalah senjata dewa tingkat 4."

__ADS_1


Tingkatan senjata yang sebenarnya adalah:


Tingkat super ilahi


Tingkat ilahi


Tingkat semi ilahi


Tingkat suci


Tingkat Dewa


Tingkat Epic


"Tapi jika semua pedang ini dijadikan satu mungkin akan dapat mencapai tingkat suci."


Zen kemudian menyimpan semua pedang itu.


"Sekarang kemana aku harus pergi?"


Zen melihat kesekelilingnya, dia sama sekali tidak tau harus menuju kearah mana saat ini.


"Yang mulia."


Selagi Zen memikirkan kearah mana dia akan pergi, suara seorang perempuan terasa tidak asing memanggilnya dari belakang. Zen langsung berbalik dan melihat wajah yang sangat tidak asing baginya.


"Irene!!"


Perempuan itu adalah Irene, Irene yang tadinya telah dikirim Zen kedunia lain kini berada di dunia yang sama dengan Zen.


"Iya seperti yang anda katakan, beberapa perubahan terjadi. Waktu Anda datang kesini seharusnya adalah besok, namun hari ini anda telah berada disini."


"Begitu ya, dengan kata lain dari jutaan kemungkinan dimasa depan aku kesini adalah pasti. Yang berbeda adalah waktu kedatanganku."


"Ya, anda benar."


"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang Irene?"


Kedatangan Irene adalah sebuah berkah bagi Zen, dengan adanya Irene Zen sekarang memiliki tempat yang akan dituju.


"Saya akan membawa anda ke rumah. Tolong ikuti saya."


"Baiklah."


Irene dengan cepat berlari, dan Zen mengikutinya dari belakang. Mereka beberapa kali bertemu dengan monster tingkat tinggi, namun mereka tidak melawannya. Zen hanya mengeluarkan sedikit aura miliknya dan para monster itu langsung pergi ketakutan.


Setelah cukup lama mereka berjalan mereka akhirnya sampai kesebuah kota, Irene dan Zen segera pergi kegerbang kota.


"Oh, kau kembali Irene."


Seorang penjaga gerbang berbicara kepada Irene, penjaga itu kemudian melihat kearah Zen yang ada dibelakang Irene.


"Siapa pemuda itu?" Tanya sang penjaga.


"Dia tamu saya."


"Begitu ya, lalu apakah dia memiliki kartu masuk?"

__ADS_1


"Tidak, karena itu tolong buatkan."


"Baiklah, kalau begitu tunggu sebentar."


Pria itu kemudian masuk kedalam pos dan kembali kehadapan Irene dengan membawa sebuah kartu bewarna emas.


Setiap warna kartu memiliki artinya sendiri sendiri. Kartu berwarna perunggu berarti kalau kartu hanya berlaku selama 10 hari.


Kartu berwarna perak berarti kalau kartu memiliki masa berlaku selama 20 hari dan kartu berwarna emas memiliki masa berlaku selama 30 hari.


"Ini kartunya."


"Berapa?"


"10 koin emas."


Irene sedikit terkejut dengan perkataan sang penjaga, 10 koin emas itu adalah harga untuk kartu bewarna perunggu. Tapi yang diberikan oleh sang penjaga adalah kartu yang berwarna emas.


"Bukankah terlalu murah?"


"Ini adalah perintah dari tuan tanah, anda telah cukup banyak membantu kami. Jadi beliau mengatakan untuk tidak menyulitkan anda."


"Begitu ya, kalau begitu aku akan menerima kebaikan anda."


Irene mengambil kartu itu dan memberikan kepada Zen. Mereka berdua lalu masuk kedalam kota. Tidak ada waktu bagi Zen untuk melihat sekitarnya, itu karena Irene berjalan dengan cepat menuju rumahnya.


Setelah beberapa saat mereka akhirnya sampai kesebuah mansion yang besar dan mereka segera memasukinya.


Pintu masuk terbuka, Fernanse yang sedang duduk didalam melihat kearah pintu.


"Kau kembali dengan cepat Irene. Apa urusanmu telah selesai?"


Sebelum meninggalkan Fernanse, Irene mengatakan kalau dia aka pergi selama beberapa hari. Namun kini Irene telah kembali setelah beberapa jam dia pergi.


"Iya, urusanku berakhir lebih cepat dari perkiraan."


"Hhmmm,"


Setelah Irene masuk Zen juga ikut masuk. Fernanse menjadi sedikit tersenyum ketika melihat Zen.


"Heh, wajah yang tidak asing. Apa urusanmu telah selesai dunia itu Zen?"


"Iya, semua berakhir sesuai dengan yang diinginkan Theresia."


"Ini sedikit aneh, bukankah kau biasanya menyebut namanya dengan menambahkan nona? Namun kali ini kau hanya langsung menyebut namanya."


"Apa itu yang kau permasalahan Fernanse? Tapi yah ada beberapa hal yang sedikit berubah, lagi pula kedudukan ku jauh lebih tinggi dari pada Theresia."


"Jadi begitu ya, apa ini yang kau maksud dengan pemeran nya yang berbeda Irene?"


"Iya."


"Yah terserahlah lagi pula kalian adalah satu."


Fernanse kemudian berdiri dan berjalan kearah Zen.


"Zen, bisakah kau memperlihatkan statusmu padaku?"

__ADS_1


__ADS_2