Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci

Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci
Apa Yang Tidak Ingin Dia Lihat


__ADS_3

Pukulan pria itu menarik perhatian orang orang yang ada disana. Sebagian dari mereka melihat kearah Zen dan sebagian yang lain berpura pura tidak melihat apa yang sedang terjadi.


"Hoi orang itu menyinggung tuan muda Qiu, dia mungkin akan mati."


"Mana mungkin, apa kau tidak lihat kalau orang itu berada di alam peningkatan jiwa lapis ke 3. Dia tidak akan mati dengan mudah."


Zen menggunakan cara khusus untuk menyembunyikan tingkatan Kultivasi nya, dengan begitu orang yang tingkat kultivasi nya lebih rendah darinya tidak akan dapat melihat tingkatan Zen saat ini.


"Meski begitu para tetua dari keluarga Qiu beberapa berada dialam bencana, jika mereka menyerangnya bersama orang itu mungkin akan mati."


"Diamlah kalian, apa kalian tidak melihat kalau dia sedang menatap kalian?"


Kedua orang itu langsung menyadarinya kalau Zen sedang menatap mereka berdua. Dan kedua orang itupun langsung terdiam.


"hahhhh."


Zen menarik nafas yang cukup dalam, pria itu membuat dirinya menjadi sedikit kesal.


"Lin Yan, pada situasi yang sepeti apa yang seharusnya kita lakukan?"


Tanpa memperdulikan pria itu ataupun tuan muda yang ada dibelakangnya Zen bertanya kepada Lin Yan.


"Saya rasa kita harus mengalah dan membiarkan mereka menduduki kursi ini?"


"Mengapa begitu?"


"Karena kita harus memberikan tempat ini kepada mereka yang membutuhkan."


"Begitu ya."


Sangat jelas kalau Lin Yan sama sekali tidak mengerti bagaimana dunia bekerja. Dia bahkan menganggap tuan muda itu adalah orang yang membutuhkan, memang benar kalau manusia harus memiliki sifat baik.


Namun sama seperti kejujuran, pada akhirnya sifat baik itu hanya akan membawa diri menuju kehancuran.


"Berhentilah berbicara dan cepat pergi dari tempat ini."


"Aku menolak."


"Kalau begitu aku akan memaksamu menyesali keputusan itu."


Pria itu bersiap untuk memukul Zen, namun Zen hanya diam tanpa memperdulikan nya.

__ADS_1


"Tenanglah sedikit Cui Xie, biarkan aku berbicara terlebih dahulu."


Qiu Ming menghentikan Cui Xie dan dia berjalan mendekati Lin Yan.


"Bagaimana jika kau membiarkan gadis ini ikut denganku, dengan begitu aku akan melupakan semua kekurang ajaranmu tadi."


Qiu Ming mengarahkan tangannya kewajah Lin Yan, hal itu membuat Lin Yan menjadi takut.


"Percayalah, jika kau berani menyentuhnya aku tidak dapat menjamin kalau kau masih akan dapat menggunakan tangan itu."


"Kau pikir orang rendahan seperti mu memiliki hak untuk mengancam tuan muda ini."


Tangan Qiu Ming menyentuh pipi Lin Yan, dan seketika Zen bergerak dengan sangat cepat hingga tidak ada siapapun yang dapat melihat pergerakannya. Tanpa Qiu Ming sadari Zen telah memegang tangannya dengan kuat.


"Apa yang ingin kau lakukan?"


"Bukankan aku sudah memperingatkan mu sebelumnya."


"Apa kau berani melukai tuan muda ini.'


Qiu Ming masih sangat sombong, dia sangat yakin dengan statusnya tidak akan ada orang yang berani melukainya. Namun sangat disayangkan bagi Qiu Ming, Dimata Zen statusnya sebagai tuan muda tidaklah berarti apa apa.


Zen lalu dengan kuat memegang tangan Qiu Ming hingga membuatnya merasakan rasa sakit yang luar biasa.


Zen tidak memperdulikan ucapan Qiu Ming, Zen terus menggenggam tangannya hingga patah.


"Arrgg."


Qiu Ming kesakitan dengan sangat kuat.


"Apa yang kau lakukan kepada tuan muda."


Cui Xie langsung menyerang Zen dengan pukulannya, Zen tidak menghindari pukulan itu. Dia dengan cepat mengelukan pedang miliknya dan memotong tangan milik Cui Xie.


Tidak berhenti disana Zen lalu memotong tangan Cui Xie yang lainnya. Melihat apa yang Zen lakukan tidak ada yang berani bergerak, bahkan para pelayan Qiu Ming yang lain merasa takut dengan Zen.


"Jika kalian ingin tuan muda kalian tetap hidup maka panggil kesini orang penting dalam keluarga Qiu."


Zen lalu mengeluarkan belati dan menarik tangan Qiu Ming.


"Apa yang ingin kau lakukan?"

__ADS_1


Dengan penuh ketakutan Qiu Ming bertanya kepada Zen.


"Bukankah kau menginginkan meja ini, maka aku akan membuatmu menyatu dengannya."


Zen meletakkan tangan Qiu Ming diatas meja dan dia langsung menusukkan belati miliknya ke telapak tangan Qiu Ming.


"Aaaaa."


Darah terus keluar dari telapak tangan Qiu Ming, dia terus merasakan rasa sakit yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Karena belati itu Qiu Ming sama sekali tidak menarik tangannya, dan jika dia mencoba untuk menariknya dengan paksa maka itu hanya akan membuat tangannya terkoyak.


"Cepatlah panggil orang penting dari keluarga Qiu, jika tidak dia akan mati sebentar lagi."


Salah satu orang pelayan Qiu Ming langsung berlari dan memanggil orang dari kediaman Qiu.


Sementara itu selama orang itu sedang pergi melapor, Lin Yan berusaha untuk tidak muntah sejak dia melihat Zen memotong kedua tangan milik Cui Xie.


Lin Yan telah biasa melihat darah miliknya namun dia masih belum pernah melihat hal itu sebelumnya. Lin Yan tidak lagi dapat menahannya, dan dia langsung muntah pada saat itu juga.


Lin Yan tidak tahan lagi dengan apa yang dia lihat, Lin Yan kemudian langsung menutup kedua matanya.


"Buka matamu Lin Yan."


Zen melihat Lin Yan menutup matanya dan Zen langsung menyuruhnya untuk membukanya.


"Tidak bisa, aku tidak bisa melihat itu lebih lama lagi."


Lin Yan menolak apa yang Zen perintahkan, dia tidak ingin lagi melihat apa yang ada didepannya itu. Dia ingin melupakannya, namun Zen tidak membiarkan Lin Yan melupakan apa yang telah dia lihat.


Zen kemudian berjalan kearah Lin Yan dan memaksanya untuk membuka mata.


"Buka matamu Lin Yan, sekarang tidak ada jalan bagimu untuk kembali."


Lin Yan telah melihat darah orang lain terus keluar untuk pertama kalinya, tidak ada cara bagi Lin Yan untuk dapat melakukan hal itu. Apa yang dia lihat hari ini adalah sesuatu yang akan selalu dia ingat.


"Bukankah kau ingin melihat dunia luar? seperti Inilah dunia luar yang ingin kau lihat itu."


Dunia dimana yang lemah selalu memakan yang lemah, itulah hukum alam yang ada disemua dunia. Karena Zen telah memutuskan untuk mengangkat Lin Yan sebagai muridnya, dia tidak bisa membiarkan Lin Yan terus terjebak didalam keindahan dunia yang dia impikan itu.


"Bukalah matamu Lin Yan, lalu lihat apa yang ada didepanmu itu."


Kali ini Lin Yan tidak bisa menolak apa yang Zen katakan, diapun secara perlahan membuka matanya. Lin Yan dapat dengan jelas melihat wajah Qiu Ming yang terus kesakitan itu, dan Lin Yan kembali muntah ketika dia melihat darah yang keluar dari tangan Qiu Ming.

__ADS_1


"Muntahlah sampai kau merasa tidak bisa muntah lagi Lin Yan."


Bagi Zen, Lin Yan yang muntah itu masih lebih baik dari pada dia menutup matanya. Karena meskipun tubuh dan pikirannya tidak dapat menahan apa yang dia lihat namun otaknya akan terus mengingat hal itu. Dengan begitu Lin Yan tidak bisa lagi menolak pemandangan dunia luar yang ada didepan matanya saat ini.


__ADS_2