Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci

Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci
Rubah Api


__ADS_3

Ruangan ini diterangi oleh obor yang jumlahnya cukup banyak, berbeda dengan obor dilorong yang apinya berarna biru, api yang ada pada obor disini berwarna merah. Aku berjalan mendekati berkah yang kedua, jika aku melihat dari dekorasi ruangan ini kemungkinan berkah yang ada dilantai dua ini adalah berkah api.


Ketika aku mendekati altar aku merasakan panas yang cukup kuat meskipun aku belum menyentuh berkah yang ada diatasnya. Saat diruangan berkah yang pertama aku tidak merasakan hal yang seperti ini, disana aku hanya mesakan sakit ketika aku mengambil berkahnya. Rasa sakit yang kurasakan ini sama seperti sebelumnya yaitu serangan pada jiwa bukan pada fisik.


Meski rasa sakit ini masih belum bisa dibandingkan dengan rasa sakit ketika aku mengambil berkah yang pertama, namun rasa sakit ini bisa dibilang sebagai pertanda kalau rasa sakit yang akan kurasakan saat mengambil berkah kedua akan lebih kuat dari berkah pertama. Aku mengulurkan tangan ku ntuk mengambil berkah kedua, disaat ak menyentuh berkah yang kedua aku tidak merasakan rasa sakit pada jiwa, hanya saja aku merasakan kesadaranku mulai hilang.


^^^^^^


Begitu aku tersadar aku sudah berada didalam ruangan yang dipenuhi oleh kobaran api, didepanku saat ini seorang pria mudah berdiring menghadapku sambil berdiri tersenyum.


"Yo manusia apa kau sudah bangun? kuucapkan selamat datang diruang kobaran api yang mematikan."


Pria itu berbicara dengan sangat tenang, aku sama sekali tidak merasakan adanya tanda tanda kehidupan pada dirinya.


"Namaku adalah oliver, aku ada disini untuk memberitaumu mengenai ruangan ini dan apa yang ada didalamnya."

__ADS_1


Dia mengenalkan dirinya bernama oliver, tapi aku sama sekali tidak tau nama itu. Dia sepertinya bukanlah orang yang terkenal, jika tidak aku pasti akan mengetahuinya. Apakah dia adalah salah satu orang yang membuat menara ini, tapi itu pasti tidak mungkin karena menara ini sepertinya sudah berdiri selama ratusan tahun.


"Ah aku lupa bilang, meski kau saat ini ingin bertanya tapi maaf aku tidak dapat menjawab pertanyaanmu. Ini hanyalah sebuah rekaman yang akan aktif ketika ada orang yang memasuki ruangan ini."


Sebuah rekaman, kalau aku tidak salah itu adalah sebuah sihir kuno yang biasanya digunakan oleh orang yang sudah mati ntuk menyampaikan pesan. Kalau begitu alasan aku tidak begitu mengetahui namanya karena dia adalah orang yang sudah lama mati, dan juga berarti ada kemungkinan dia adalah salah satu orang yang mendirikan menara ini.


"Ini adalah sabuah ruang ujian, jika kau ingin mendapatkan berkah api maka kau harus bertarung dengan monster yang ada disini. Ngomong ngomong dirimu yang disini adalah sebuah doppelganger, tubuhmu yang sebenarnya berada diruangan yang kau masukin tadi. Tapi meski tubuhmu yang ini hanyalah sebuah doppelganger jika kau mati disini maka jiwamu akan hilang selamanya dan kau tidak dapat kembali ketubuhmu yang ada disana."


Jadi maksud dia aku harus berusaha melawan sekuat mungkin agar tidak mati. Kalau begitu sesuai dengan keinginanmu maka aku akan membunuh semua monster yang ada disini.


"Kalau begitu hanya ini yang dapat kuberi tau padamu, semoga beruntung."


Apa pembuat menara ini meremehkanku atau dia menganggap kalau monster rubah api itu sangat kuat. Jumlah mereka hanya ada puluhan bagaimana mereka bisa menghentikanku, tapi ya sudahlah dengan begini aku lebih mudah untuk mendapatkan berkah api tanpa merasakan rasa sakit seperti yang kurasakan diruangan berkah air.


Para rubah itu mulai menyerangku dengan beramai ramai, aku masih agak bingung harus membunuh mereka dengan menggunakan apa. Jika aku menggunakan pisau terbang para rubah itu akan menyerangku sebelum aku membunuh mereka semua. Sedangkan Jika aku menggunakan pedang maka akan sedikit merepotkan untuk membunuh mereka satu persatu. Kalau begitu sihir mungkin adalah cara tercepat untuk membunuh mereka, jika menggunakan sihir api mereka mungkin masih dapat menahannya karena memiliki elemen yang sama, maka aku akan menggunakan sihir es untuk melenyapkan mereka sekaligus.

__ADS_1


"Membekulah air dan lenyapkan segala sesatu yang ada disekitarku Ice Destruction."


Sebagian lantai yang ada didalam ruangan ini membeku begitu juga dengan para rubah api yang menyerangku. Sihir ini adalah sihir yang membekukan segala sesatu yang ada disekitarku, setelah beberapa waktu es ini akan hancur begitu juga dengan apa yang ada didalam esnya.


Semua rubah api yang menyerangku mati karena terkena sihirku, sekarang yang tersisa hanya empat rubah api lagi dan berkah api ada dibelakang mereka. Sepertinya salah satu dari keempat rubah itu adalah pemimpinnya, tubuhnya lebih besar darinya yang lainnya. Sedangkan tiga yang lainnya mungkin adalah penjaganya, meski tubuh ketiga rubah itu tidak lebih besar dari para rubah yang kubunuh tadi tapi kekuatan mereka jauh lebih besar dari rubah yang kubunuh tadi.


Namun mau sebesar apapun kekuatannya mereka tetaplah hanya monster lemah dimataku, tidak peduli berapa banyak dan seberapa kuat mereka pada akhirnya mereka tetap tidak akan dapat mengalahkanku. Tapi sepertinya sang pemimpin rubah api cocok untuk dijadikan bahan percobaanku, sebaiknya aku mencoba membunuhnya tanpa memberikan kerusakan yang terlalu banyak.


Tapi bagaimana caraku untuk membunhnya tanpa memberikan banyak kerusakan, Jika aku menyerangnya dengan sihir maka tanpa diragukan lagi dia akan hancur seperti rubah yang lain. Kalau begitu sebaiknya aku menggunkan pisau terbang untuk membunuhnya lagian jumlah mereka hanya ada empat ekor dan juga mereka bukan ancaman untukku.


Aku melempar kelima pisau terbangku tanpa memasukan sihir kedalamnya, para rubah itu lebih cepat dari rubah yang sudah kubunuh dan mereka dapat menghindarinya. Ketiga rubah api yang bersama sipemimpin itu datang menyerangku dengan kecepatan penuh mereka, aku ingin melihat apakah mereka dapat melukaiku atau tidak jadi sebaiknya aku tidak melawan. Mereka terus menyerangku dengan brutal, namun perbedaan kecepatan antara aku dan mereka bertiga sangat jauh berbeda.


Tidak peduli seberapa kuat mereka, pada akhirnya jika serangan mereka tidak dapat mengenaiku maka semuanya adalah sia sia.aku sudah mulai bosan dengan serangan mereka yang bahkan tidak dapat menyentuhku sedikitpun, mungkin sudah saatnya aku mengakhiri ini. Ketika ketiga rubah itu menyerang secara bersamaan aku menghidari serangan mereka sambil melempar tiga pisau terbangku.


Sayang sekali karena perbedaan kekuatan antara kami jadi dapat membuat mereka mati tertusuk pisau terbangku walaupun aku tidak melapisinya dengan sihir. Sakarang adalah giliran sang pemimpin untuk kuburuh, dia setelah menghindar dari pisau terbangku hanya diam tanpa bergerak. Sepertinya dia sangat meremehkanku, aku datang kearahnya dengan kecepatan lima puluh persen.

__ADS_1


Dia mencoba untuk menghindar namun sayangnya gerakannya masih lebih lambat dari pada aku, aku menusuk satu pisau terbangku dikepalanya. Hanya dengan satu tusukan itu dia sudah mati, karena dia sudah mati dengan hanya luka dikepala mungkin sekarang adalah saatnya aku mencoba sihir baruku kepadanya, sihir itu adalah sihir necromancer.


"Aku sang necromancer memanggilmu. Tunjukan dirimu dan patuhi perintahku"


__ADS_2