
"Haa.... Haaa..... Haaaa."
Setelah membunuh semua bandit itu Lin Yan merasa sedikit kesulitan untuk bernafas dan Jantungnya juga berdetak dengan sangat cepat.
Mulai dari baju, wajah, tangan dan pedangnya dilumuri oleh darah para bandit itu. Lin Yan dapat dengan jelas mencium bau amis dari darah itu.
"Are,, mengapa aku tidak bisa melepaskan pedang ini."
Lin Yan mencoba untuk melepaskan pedangnya, namun tangannya yang bergetar tidak mau menuruti apa yang dia inginkan. Tangan itu memegan pedang itu dengan sangat kuat.
Lin Yan mencoba melepaskannya dengan tangannya yang lain, namun dia masih tidak dapat melepas pedang itu. Tidak hanya itu, Lin Yan mencoba untuk mengerakkan kakinya namun dia juga tidak dapat melakukannya dan Pandangan Lin Yan secara perlahan mulai gelap.
"Uwah, tempat ini benar benar dipenuhi oleh darah."
'siapa?'
Meski samar samar Lin Yan dapat mendengar seorang pria yang mendekatinya.
"Apa kau baik baik saja Lin Yan?"
'ah, itu guru ya.'
"Sepertinya kau telah mencapai batas mu Lin Yan."
Mental Lin Yan saat ini sedang shock, ini adalah pertama kali baginya membunuh orang. Meskipun pada awalnya dia tidak merasakan apapun saat sedang membunuh namun sekarang mentalnya telah mencapai batasnya.
'guru, entah kenapa aku tidak dapat melepaskan pedang ini.'
Itulah yang ingin Lin Yan katakan, namun sama seperti anggota tubuhnya yang lain Lin Yan juga tidak dapat membukan mulutnya.
Namun meski Lin Yan tidak mengatakannya Zen tau apa yang ingin Lin Yan katakan. Zen lalu memegang tangan kanan Lin Yan dan sedikit mengelusnya.
"Jangan terlalu kaku Lin Yan, cobalah untuk lebih rileks."
Zen terus menerus mengelus tangan Lin Yan, elusan Zen itu membuat Lin yang menjadi lebih tenang. Nafas dan detakan jantungnya secara perlahan kembali menjadi normal.
Tubuh Lin Yan menjadi lebih rileks, dia telah kembali dapat menggerakkan tubuhnya. Lin Yan pun melepaskan pedang itu dari tangannya dan menaruh kepalanya kedada Zen.
"Guru, entah kenapa aku merasa sangat lelah."
"Kerja bagus Lin Yan."
Itulah kata kata yang ingin Lin Yan dengar dari Zen, sekarang dia akhirnya dapat mendengar hal itu. Lin Yan lalu menutup matanya dan diapun langsung tertidur.
"Apa dia baik baik saja?"
Liu Yu yang baru saja sampai tidak terlalu tau apa yang telah terjadi, diapun bertanya kepada Zen.
__ADS_1
"Dia hanya tertidur saja."
Zen mengendong Lin Yan dan memasuki goa yang ada didekat mereka itu.
"Apa aku bisa menitipkannya sebentar?"
"Apa kau akan pergi?"
"Iya, ada sesuatu yang harus aku lakukan."
"Kalau begitu aku akan menjaganya."
"Terima kasih Liu Yu."
Zen pergi meninggalkan mereka dan dengan cepat mencari tempat yang sepi.
"Sepertinya ini adalah tempat yang cocok."
Zen lalu meminum pil untuk menerima malapetaka miliknya yang tertunda.
*******
Setelah cukup lama malapetaka Zen akhirnya selesai, sekarang tubuhnya jauh lebih kuat dari pada para seniman beladiri yang berada dialam dunia dewa. Dari 11 malapetaka yang dia terima Zen hanya mendapatkan sedikit luka saja.
"Kurasa saatnya bagiku untuk meninggalkan dunia ini."
Meski Zen belum mencapai alam dunia dewa lapis ke 5 namun sudah tidak ada gunanya baginya untuk tetap berada didunia ini.
Zen kembali ke goa tempat Lin Yan dan Liu Yu berada. Begitu sampai Zen dapat melihat Lin Yan yang sedang tertidur nyenyak dan Liu Yu yang sedang bermeditasi.
"Lebih baik aku tidak menggangu mereka."
Zen lalu pergi keluar goa untuk mencari sebuah hiburan.
Hari telah berganti, Zen Kembali ke goa untuk melihat keadaan mereka. Begitu Zen ingin memasuki goa Zen dapat melihat Liu Yu dan Lin Yan berjalan keluar.
"Apa tubuhmu sudah baik baik saja Lin Yan?"
"Iya, sekarang sudah lebih baik."
"Kalau begitu aku akan sedikit membuatmu Merasakan rasa sakit."
"Ha???"
"Segini seharusnya cukup."
Sebuah api biru kecil muncul dijari telunjuk Zen, meski itu adalah sebuah api namun itu sama sekali tidak memiliki panas.
__ADS_1
"Cobalah untuk tidak berteriak Lin Yan."
Zen lalu memasukan api itu kedalam tubuh Lin Yan.
"Ahhhhh."
Lin Yan merasakan rasa sakit yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Rasa sakit itu disebabkan karena Zen memberikan sedikit kekuatannya pada Lin Yan.
Dengan cara ini Lin Yan yang berada dialam peningkatan jiwa lapis ke 5 akan langsung memasuki alam bencana lapis pertama. Tentu saja ini bukanlah cara yang bagus karena cara ini memiliki banyak kekurangan.
Lin Yan menahan rasa sakit itu selama 4 jam lebih dan akhirnya dia memasuki alam bencana lapis pertama.
"Ayo kita pergi Liu Yu."
"Iya."
Liu Yu tau kalau Lin Yan akan menghadapi malapetaka pertamanya, karena itulah dia sama sekali tidak menolak ajakan Zen.
Awan dilangit mulai gelap, petir muncul dan langsung menyerang Lin Yan. Karena petir itu hanya mengandung hukum petir lapis pertama Lin Yan jadi tidak mengalami kesulitan sedikitpun.
Petir petir itu lalu membentuk sebuah tombak dan kembali menyerang Lin, sama seperti sebelumnya Lin Yan dapat menghadapi petir itu dengan mudah.
Awan awan gelap di langit mulai menghilang dan dengan begitu malapetaka Lin Yan yang pertama telah selesai.
"Kerja bagus Lin Yan, kalau begitu mari kita kembali ke kota."
Zen sama sekali tidak memberikan Lin Yan waktu untuk istirahat, Mereka dengan cepat pergi kembali ke kota dan tidak membutuhkan waktu lama merekapun akhirnya sampai.
"Apa yang terjadi Disini?"
Banyak pasukan yang berjaga dipintu gerbang kota, namun Zen sama sekali tidak memperdulikan mereka Zen dengan tenang memasuki kota.
Beberapa prajurit melihat Zen, dan merekapun langsung pergi memberikan sebuah laporan.
"Apakah itu benar?'
"Iya tuan, ciri cirinya sangat cocok dengan apa yang dikatakan."
"Apa kau tau kemana dia pergi?"
"Iya, saat ini ada seorang prajurit yang mengikutinya. Jadi kita dapat mengetahui posisinya."
"Hahaha, kerja bagus. Saat membuatnya merasakan neraka."
Disisi lain Liu Yu menyadari kalau ada yang mengikuti mereka.
"Apa yang ingin kau lakukan padanya?"
__ADS_1
"Tidak perlu melakukan apapun, biarkan dia mengikuti kita hingga dalangnya muncul."
Mereka lalu memasuki sebuah tempat makan, tidak lama setelah itu seorang pria dengan penuh wibawa mendatangi Zen dengan banyak orang dibelakangnya.