Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci

Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci
Malapetaka Zen


__ADS_3

Pada saat menyerap pecahan kekuatan itu, Zen telah lebih dahulu memakai pil penunda malapetaka. Pil itu bukanlah sesuatu yang bisa didapatkan didunia bawah ini, Zen mendapatkan pil itu dari Ling Hao.


Seperti namanya, pil itu memiliki fungsi untuk menunda malapetaka seseorang. Hanya saja pil ini hanya dapat digunakan oleh orang yang berada di alam dunia dewa atau dibawahnya.


"Apa kau yakin dapat menahan semua malapetaka itu?"


Jumlah Malapetaka tidaklah menentu, terkadang untuk menembus satu lapis seseorang harus melewati 2 malapetaka atau lebih. Semangkin banyak malapetaka yang dilewati maka akan semakin baik potensi orang tersebut.


"Iya, aku yakin. Lagi pula itu bukanlah sesuatu yang sulit."


"Begitu ya."


Pria tua itu tidak tau dari mana kepercayaan diri Zen berasal. Zen mengatakan kepadanya kalau dia akan menerima semua malapetaka nya setelah dia memasuki alam dewa.


Dengan kata lain pada saat itu juga Zen akan menerima malapetaka dari enam lapis terobosan. Kemungkinan terbaiknya Zen hanya akan menerima sekitar 12 malapetaka dan kemungkinan terburuknya Zen akan menerima lebih dari 20 malapetaka.


Meski menerima 12 malapetaka adalah kemungkinan terbaik yang akan Zen dapatkan, namun tetap saja jumlah itu terlalu banyak. Menurut pengalam pria tua itu menerima 5 malapetaka berturut- turut saja sudah cukup untuk membunuh seorang seniman beladiri yang berada dialam dewa lapis ke 1.


Hanya saja ada sesuatu yang tidak diketahui oleh pria tua itu, dahulu Zen adalah satu satunya orang yang memiliki 3 mahkota sekaligus. Bagi Zen melewati 10 sampai 20 malapetaka kecil bukanlah sesuatu yang sulit.


"Kalau begitu lakukanlah sesukamu."


"Ah, tolong tunggu."


Pria tua itu hendak berjalan kembali kerumahnya, namun Zen langsung menghentikannya.


"Bisakah kau membiarkan dia berlatih didekat rumahmu, dan jika memungkinkan aku ingin agar kau melindungi dirinya saat aku menerima malapetaka ku."


Pria tua itu kemudian melihat kearah Lin Yan.


"Siapa dia? Adikmu?"


"Tidak, dia murid ku."


"Murid yang bagus, bakatnya tidaklah buruk. Tidak masalah, aku akan menuruti apa yang kau inginkan."


"Terima kasih, ah ngomong ngomong aku masih belum mengetahui namamu. Nama ku adalah Zen Cavalier, dan dia adalah Lin Yan."


"Duan Jie, itulah namaku."


"Begitu ya, terima kasih atas kebaikamu Duan Jie."


"Tidak masalah, lagi pula aku juga ingin melihat bagaimana cara agar kau dapat menerima semua malapetaka itu."


Duan Jie berjalan kembali kerumahnya dengan Lin Yan mengikuti dirinya.


"Sekarang saatnya melakukan persiapannya."


Ditanah yang terbuka itu Zen melakukan persiapan untuk kembali menyerap pecahan kekuatan spiritual itu.


Persiapan Zen membutuhkan waktu cukup lama hingga matahari telah terbenam dan diganti dengan langit yang berbintang.


"Bintang ya, entah kenapa hubunganku dengan mereka tidak terputus bahkan setekah aku mati."


Zen melihat langit dimana terdapat puluhan bintang yang bersinar itu.

__ADS_1


"Tidak ada gunanya memikirkan hal itu, sekarang lebih baik aku segera menyerap kekuatan itu."


Zen langsung memakai 2 pil yang dia buat dan langsung bermeditasi, pil itu sangatlah efektif. Energi spiritual dalam jumlah besar memasuki dantian Zen.


Sama seperti yang sebelumnya, kali ini Zen juga merasakan rasa sakit yang luar biasa. Hanya saja kali ini Zen tidak akan merasakan rasa sakit itu dalam waktu yang lama.


Zen menyerap pecahan kekuatan itu hingga pagi, dan diapun berhasil memasukkan lama dewa lapis pertama.


Duan Jie langsung mendatangi Zen ketika Zen telah berhasil memasuki alam dewa lapis pertama.


"Selamat, apa kau akan menerima malapetaka mu sekarang?"


"Iya, aku akan melakukannya."


"Kalau begitu aku akan menyaksikannya sambil melindungi murid mu."


Duan Jie langsung kembali kerumah nya dan memang sebuah penghalang. Duan sangat penasaran dengan cara Zen menerima semua malapetakanya, dan diapun melihat Zen dari depan rumahnya.


Zen lalu langsung meminum sebuah pil pembatal penunda malapetaka. Dengan pil itu malapetaka Zen yang tadinya tertunda langsung bersiap untuk menyerang Zen.


Langit pagi yang tadinya cerah kini mulai tertutup oleh awan yang gelap.


"Malapetaka pertamaku mengandung hukum petir ya."


Dari awan itu petir petir ungu mulai berkumpul dan membentuk menjadi seekor naga (naga yang disini bukan seperti naga dalam cerita fantasi biasanya, melainkan seperti naga pada mitologi Cina).


"Itu adalah naga, dan juga itu hukum petir lapis ke 3."


Naga itu langsung menyerang Zen, Zen lalu mengumpulkan kekuatan ditangannya dan memukul naga itu. Pukulan itu membuat naga itu langsung menghilang, bahkan membuat awan gelap itu langsung tercerai berai.


"Mustahil, bagaimana bisa seperti itu?"


Setelah naga petir itu menghilang, kini muncul pedang pedang emas besar dilangit. Pedang pedang itu mulai menyerang Zen, sama seperti sebelumnya Zen langsung memukul pedang pedang itu.


Tekanan angin dari pukulan Zen membuat pedang pedang itu menjadi hancur. Malapetaka terus muncul, dan Zen selalu berhasil menghancurkannya.


Sekarang adalah Malapetakanya Zen yang kesepuluh, puluhan api berbentuk burung beterbangan dilangit.


"Sekarang hukum api lapis ke 5 ya."


Zen melihat burung burung itu, dan Zen masih tidak dapat Merasakan kalau mereka akan menyerangnya.


Disisi lain Duan Jie sangat tidak percaya dengan apa yang dia lihat, Zen telah melawan 9 Malapetaka tanpa menerima luka sedikitpun. Bahkan semua malapetaka itu jauh lebih kuat dari malapetaka yang Duan Jie terima saat dia memasuki alam dewa lapis pertama.


"Sekarang malapetaka dengan hukum api ya, meski aku tidak tau itu hukum api lapis keberapa namun jika aku yang terkena api itu maka pasti akan langsung menjadi debu."


Burung burung api itu menuju kearah Zen dengan cepat, hukum api lapis ke 5 bukankah sesuatu yang dapat Zen lawan dengan tangan kosong. Zen pun langsung mengeluarkan pedang miliknya, dengan pedang itu Zen memotong setiap burung yang menyerangnya.


Butuh waktu yang lama bagi Zen untuk dapat menghancurkan semua burung api itu, hingga pada akhirnya dia berhasil menghancurkan semuanya.


Sekarang adalah malapetaka yang kelima belas, sama seperti malapetaka yang pertama. Awan gelap mulai muncul dan menciptakan petir emas berbentuk naga.


"Sekarang lapis ke 5 ya."


Naga itu dengan cepat langsung menyerang Zen, dengan pedangnya Zen mencoba untuk memotong naga itu. Namun berbeda dengan burung burung api yang sebelumnya, pedang Zen sama sekali tidak dapat menghancurkan naga itu.

__ADS_1


Serangan naga itu membuat Zen merima luka yang cukup parah. Dan daerah sekitarnya menjadi hancur. Dengan kekuatannya yang sekarang Zen tidak akan dapat menghancurkan naga emas itu, dia tidak memiliki pilihan lain selain menggunakan mana miliknya.


Petir dapat dihancurkan oleh angin, Zen lalu membuat sebuah angin topan yang besar. Dengan putarannya angin topan itu membuat naga itu terhisap kedalam nya dan menghilang.


Setelah itu Zen terus melawan malapetaka 5 elemen yang mengandung hukum lapis ke 5.


Tubuh Zen mendapatkan luka yang sangat parah, sangking parahnya dia bahkan hampir kehilangan kesadarannya.


Namun untungnya Zen telah menghadapi semua malapetakanya yang berjumlah 25. Zen hendak beristirahat namun sesuatu yang tidak terduga terjadi.


Sebuah gate muncul di atas langit, dari gate itu muncul sebuah laser hitam. Laser itu langsung menyerang Zen, dan Zen menahannya dengan pedang miliknya.


"Dasar kehendak dunia sialan."


Leser hitam itu adalah sebuah malapetaka dari kehendak dunia, berbeda dengan dunia mana, kehendak dunia ini tidak takut dihancurkan.


Dengan Pedangnya Zen terus mengirimkan kekuatan kerusakan leser itu kedunia Medan perang. Namun leser hitam itu tidak ada habisnya, pedang ilahi Zen Tidak dapat bertahan lebih lama lagi.


Banyak retakan yang muncul akibat leser itu, namun Zen sedang beruntung saat ini. Sebelum pedangnya hancur menjadi banyak bagian, kehendak dunia telah berhenti menyerangnya.


kesadaran Zen secara perlahan mulai menghilang dan diapun langsung pingsan. Duan Jie yang melihat Zen pingsan tidak bisa membiarkannya begitu saja, diapun Dengan cepat mendatangi Zen dan membawa tubuh Zen kerumahnya.


******


Pesan dari Author, Mohon Dibaca :


Sekarang Novel ini akhirnya telah mencapai arc dunia energi spiritual. Saya tidak terlalu tau mengenai hal hal yang berkaitan dengan kultivasi Tapi karena arc ini cukup penting jadi saya harus menambahkan nya.


Mungkin akan ada beberapa hal yang akan sangat berbeda cerita yang biasanya mungkin kalian baca, mohon dimaklumi.


Jika kalian bertanya mengapa tidak ada penjelasan dalam tingkat kultivasi itu karena saya berfikir untuk saat ini saya tidak perlu memberikan penjelasannya.


Sama seperti sistem pada arc yang sebelumnya, saya juga berencana untuk membuat penjelasan tingkat kultivasi pada cerita yang selanjutnya.


Saya akan sangat terbantu jika kalian mau memberitau saya mengenai hal kultivasi melalui kolom komentar atau melalui chat grub.


Sekian pesan dari saya, terima kasih karena telah mendukung saya.


******


Petir dapat dihancurkan oleh angin, Zen lalu membuat sebuah angin topan yang besar. Dengan putarannya angin topan itu membuat naga itu terhisap kedalam nya dan menghilang.


Setelah itu Zen terus melawan malapetaka 5 elemen yang mengandung hukum lapis ke 5.


Tubuh Zen mendapatkan luka yang sangat parah, sangking parahnya dia bahkan hampir kehilangan kesadarannya.


Namun untungnya Zen telah menghadapi semua malapetakanya yang berjumlah 25. Zen hendak beristirahat namun sesuatu yang tidak terduga terjadi.


Sebuah gate muncul di atas langit, dari gate itu muncul sebuah laser hitam. Laser itu langsung menyerang Zen, dan Zen menahannya dengan pedang miliknya.


"Dasar kehendak dunia sialan."


Leser hitam itu adalah sebuah malapetaka dari kehendak dunia, berbeda dengan dunia mana, kehendak dunia ini tidak takut dihancurkan.


Dengan Pedangnya Zen terus mengirimkan kekuatan kerusakan leser itu kedunia Medan perang. Namun leser hitam itu tidak ada habisnya, pedang ilahi Zen Tidak dapat bertahan lebih lama lagi.

__ADS_1


Banyak retakan yang muncul akibat leser itu, namun Zen sedang beruntung saat ini. Sebelum pedangnya hancur menjadi banyak bagian, kehendak dunia telah berhenti menyerangnya.


kesadaran Zen secara perlahan mulai menghilang dan diapun langsung pingsan. Duan Jie yang melihat Zen pingsan tidak bisa membiarkannya begitu saja, diapun Dengan cepat mendatangi Zen dan membawa tubuh Zen kerumahnya.


__ADS_2