
Gerbang terbuka diatas bukit tempat Irene berada, Zen dan Fernanse segera keluar dari sihir gerbang itu.
"Selamat datang kembali yang mulia."
Irene memberikan hormat kepada Zen.
"Ngomong ngomong Irene, mengapa kau membiarkan Fernanse pergi ketempatku?"
Tanpa basa basi Zen segera bertanya kepada Irene.
"Itu... Karena... "
Irene bingung dengan apa yang harus dia katakan kepada Zen, meski dia memberitaukan alasannya fakta kalau dia membiarkan Fernanse pergi tidak akan berubah.
"Kau sudah melihatnya bukan?"
Zen bertanya dengan kepada Irene dengan pelan.
"......."
Irene hanya diam tanpa menjawab pertanyaan dari Zen.
"Kau sudah melihatnya bukan, Irene? Karena itulah kau menyarankanku untuk tidak pergi kesana."
"........"
Irene kembali hanya diam tanpa menjawan Zen.
"Jawab aku Irene."
Zen mengangkat dagu Irene, Irene yang tadinya menatap kebawah kini menatap mata Zen secara langsung.
"Seperti yang mulia katakan, saya telah melihatnya meskipun tidak terlalu banyak."
"Begitu ya."
Zen melepaskan tangannya dari dagu Irene. Fernanse yang tadinya hanya melihat kini mulai berbicara.
"Heh, tidak kusangka nona Irene memiliki kekuatan yang semenarik itu. Dari mana anda mendapatkannya?"
Fernanse bertanya kepada Irene dengan penuh penasaran.
"Bawaan dari lahir."
Irene menjawab Fernanse dengan tenang.
"Bawaan dari lahir ya? Dan apa bayaran untuk kekuatan itu?"
Setiap kekuatan menerlukan bayaran, contohnya sihir. Untuk dapat menggunakan sihir seseorang harus membayarnya dengan mana miliknya. Contoh selanjutnya adalah Zen, untuk sebagai ganti keabadian Zen harus membayarnya dengan semua emosi miliknya.
Semangkin kuat kekuatan yang ingin didapatkan oleh seseorang, maka bayarannyapun semangkin besar. Kekuatan Irene bukanlah sesuatu yang bisa didapatkan oleh ras vampire, karena itulah Fernanse pernasaran dengan bayaran yang harus Irene bayarkan untuk kekuatan itu.
"Jadi apa bayarannya nona Irene?"
Fernanse kembali bertanya kepada Irene.
__ADS_1
"Itu..... "
"Berhentilah menanyakan masalah itu Fernanse."
Sebelum Irene mengatakannya, Zen langsung memotong perkataan Irene.
"Heh, tapi aku ingin mengetahuinya."
"Setiap orang memiliki sesuatu yang tidak dapat dikatakan. Kau harus tau itu Fernanse."
Setiap orang memiliki rahasia yang tidak dapat dikatakan. Bahkan terkadang ada rahasia yang tidak dapat dibicaran sedikitpun, mau itu kepada keluarga, sahabat ataupun kepada yang lainnya.
"Aku tau itu, tapi aku ingin mengetahuinya."
"Fernanse, kau sudah hidup selama lima ratus tahun bukan? Jadi seharusnya kau tau semangkin banyak rahasia orang yang ketahui itu akan membuatmu semangkin cepat menuju kematian."
Biasa orang yang menyimpan banyak rahasia orang lain adalah orang yang dapat dipercaya. Namun untuk menjadi orang yang dapat dipercaya itu tidaklah mudah, terkadang banyak masalah yang mereka hadapi. Semangkin besar rahasia orang yang diketahui, maka akan semangkin besar bahaya dan rasa bersalah yang menunggu.
"Tapi... "
"Fernanse."
Zen menatap Fernanse dengan tajam, Fernanse yang melihat Zen itu tau arti dari tatapan itu dan Fernanse pun lebih memilih untuk diam.
Situasi mereka menjadi cukup sunyi selama beberapa saat, tidak ada yang berbicara sedikitpun sejak Zen menatap tajam Fernanse. Namun situasi sunyi itu menjadi pecah begitu suara raungan naga terdengar ditelinga mereka.
"Sudah datang ya?"
Zen melihat kearah suara raungan itu berasal, disana Zen dapat melihat puluhan naga sedang terbang.
Dibarisan paling depan terdapat naga merah yang ukurannya lebih besar dari naga yang lainnya. Naga merah itu merupakan salah satu dari empat raja naga, dan juga itu adalah naga yang Zen tunggu kehadirannya.
"Aku akan pergi kesana sekarang. Apa yang kalian ingin lakukan? Jika kalian ingin kembali kekasti maka aku dapat mengantar kalian."
Zen bertanya kepada Irene dan Fernanse.
"Aku akan tetap disini. Untuk apa aku kembali sedangkan disini ada sebuah tontonan yang menarik."
"Bagaimana denganmu Irene?"
"Saya juga akan disini, bersama nona Fernanse."
"Baiklah jika kalian ingin tetap disini, dan juga berhentilah untuk menanyakan hal bodoh seperti tadi Fernanse."
"Iya."
"kalau begitu aku pergi dulu."
Zen melompat dari atas bukit itu meninggalkan Irene dan Fernanse. Zen langsung mengarah ketempat raja naga mereh itu berada.
Raja naga merah itu merasakan sebuah energi yang besar menuju kearahnya dari atas. Raja naga merah itu mencoba untuk menghindar, namun sayang dia kurang cepat.
Tendangan Zen mengenai punggung dari raja naga merah itu. Tendangan itu membuat raja naga merah itu terhempas ketanah dengan sangat kuat. Para prajurit manusia yang ada dibawahnyapun mati karena terkena efeknya.
"Ah, sepertinya aku terlalu berlebihan. Tapi yasudahlah sekarang saatnya aku mencari jendral Taks."
__ADS_1
Dari atas tubuh raja naga merah itu, Zen melihat kesegala arah. Dia mencari Jendral Taks, setelah beberapa saat Zen akhirnya menemukannya.
"Disana ya."
Zen langsung menuju kearah Taks berada. Dengan capat Zen sudah sampai kedepan Taks. Taks kaget dengan kedatangan yang sangat tiba tiba, dia pun langsung menunduk dan memberikan hormat kepada Zen.
"Hormat kepada yang mulia."
"Berdirilah Taks, sekarang aku akan memberikan perintah kepadamu. Bawalah mundur semua pasukan yang ada."
"Mundur sampai sejauh mana yang mulia?"
"Sejauh mungkin, jika bisa mundurlah sampai kekastil."
Taks kaget dengan perintah yang diberikan oleh Zen. Jarak dari perbatasan ini dengan kestil sangatlah jauh. Dibutuhkan waktu berhari hari untuk kesana, Taks tidak mengerti mengapa Zen memberikan perintah seperti itu. Taks pun langsung bertanya kepada Zen.
"Mengapa kami harus mundur sejauh itu yang mulia? Bukankah mereka hanyalah para naga muda?"
"Taks, apa kau dapat melihat naga itu?"
Zen menunjuk kearah raja naga merah yang mulai berdiri kembali.
"Iya, saya dapat melihatnya yang mulia."
"Itu bukanlah lawan yang dapat kau kalahkan."
Zen kemudian melihat kearah langit tempat para naga yang lainnya berterbangan.
"Ya meskipun kekuatan individu para naga itu masih berada dibawahmu, namun kau juga tetap tidak mungkin dapat melawan mereka semua sekaligus bukan? Karena itulah lebih baik kau mundur untuk sekarang, perperangan yang selanjutnya akan lebih mengerikan dari ini."
Zen melihat langsung kearah mata Taks. Taks yang melihat mata Zen cukup lama itu, hanya ada satu hal yang dia rasakan yaitu rasa 'Takut'.
Warna Mata Zen adalah merah darah, namun jika ada orang yang menatap mata Zen cukup lama maka orang itu akan merasa kalau mata Zen berubah warna menjadi hitam. Hitam yang sangat gelap yang bahkan cahaya mungkin tidak akan dapat bersinar disana.
Didalam kegelapan itu hanya satu hal yang dapat dirasakan oleh orang itu, yaitu kematian. Jika orang itu menatap kegelapan itu terlalu lama, maka dia akan dapat melihat kematian yang tak terhitung jumlahnya.
Seperti itulah yang sedang dirasakan Taks saat ini. Taks tidak dapat mengedipkan matanya untuk beberapa saat, dan Tanpa dia sadari sebagian tubuhnya gemetaran dengan cukup kuat.
Taks yang sudah tidak tahan lagi melihat jumlah kematian yang sangat banyak itu pun akhirnya dapat memejamkan matanya. Taks kembali membuka matanya dan kegelapan yang dia lihat dari mata Zen pun sudah menghilang sepenuhnya.
"Jadi bagaimana Taks, apakah kau bersedia untuk mundur?"
"Ya, saya bersedia yang mulia."
Tanpa ada rasa ragu sedikitpun Taks setuju untuk mundur.
"Kalau begitu pergilah sekarang."
"Baik yang mulia. Semuanya mundur sejauh mungkin."
Taks memberikan perintah dengan sangat keras, para prajurit vampire yang mendengar perintah itupun langsung mundur dengan capat.
Begitu para prajurit vampire telah meninggalkan medang perang sepenuhnya, raja naga itu berdiri dan mengerluarkan raungan yang sangat kuat. Mendengar raungan itu, Zen langsung melihat kearah raja naga merah itu.
"Baiklah, Sekarang saatnya bermain dengan mahluk yang satu ini."
__ADS_1