
Aura adalah bentuk dari mana seseorang. Semangkin banyak mana yang dapat dikendalikan oleh seseorang maka akan semangkin besar juga aura yang dimiliki oleh orang itu. Biasanya hanya orang yang kuatlah yang dapat merasakan besar aura orang lain meski orang tersebut sudah menyembunyikan auranya.
Aura juga dapat digunakan untuk mengancam orang lain dengan mengarahkan aura ke arah orang yang ingin diancam. Hal seperti ini biasanya hanya dilakukan oleh orang kuat kepada orang yang lemah. Pada saat itu orang yang kuat akan mengintimidasi orang lemah itu dengan auranya.
Zen dan Cilkus sama sama mengeluarkan aura mereka, mereka berdua saling menyerang dengan aura mereka. Meski mereka berdua masih belum bergerak, tapi akibat dari benturan aura mereka berdua daerah didalam ruangan sedikit demi sedikit menjadi retak.
"Berhentilah Kalian Berdua!!!"
Selain aura Zen dan Cilkus, muncul sebuah aura milik leluhur lain. Aura itu adalah milik dari Elizabeth, dia mengelurakan aura yang sama dengan mereka berdua. Retakan didalam ruangan itu menjadi lebih banyak dari sebelumnya.
"Apa kalian berdua ingin menghancurkan kastilku?"
Elizabeth mengeluarkan aura yang lebih besar lagi, Dia menatap Zen dan Cilkus dengan sangat tajam. Namun Zen dan Cilkus tidak memperdulikan tatapan dari Elizabeth, mereka berdua masih mengeluarkan aura mereka.
Melihat Reaksi Zen dan Cilkus yang tidak memperdulikan tatapannya, Elizabeth menjadi kesal. Dia berjalan ketempat Zen dan Cilkus sedang berdiri. Elizabeth terus berjalan kearah mereka berdua, setiap langkahnya membuat lantai menjadi retak.
"Kupikir kau harus berhenti mengeluarkan aura yang seperti itu."
Lapis berdiri dibelakang Elizabeth, Lapis membuat Elizabeth berhenti bejalan dengan memegang bahunya.
"Apa yang kau lakukan Lapis?"
Dengan kesal Elizabeth bertanya kepada Lapis yang membuatnya berhenti berjalan.
"Elizabeth, aku tidak memiliki masalah apapun kepadamu. Hanya saja dengan kau mengeluarkan aura sebesar itu, kau hanya membuat masalah menjadi lebih besar. Lihatlah daerah sekitarmu Elizabeth!"
Mendengar perkataan Lapis, Elizabeth melihat daerah disekitarnya. Elizabeth melihat Retakan yang ada diruangan menjadi lebih banyak dari yang sebelumnya, Dia juga melihat beberapa orang yang pingsan didalam ruangan itu.
Orang orang itu adalah bawahan dari para leluhur yang dibawa kedalam pertemuan. Mereka yang tidak dapat menahan aura yang dikeluarkan oleh ke 3 leluhur itu menjadi pingsan, ada juga yang hampir pingsan. Melihat semua itu, Elizabeth menutup matanya sebentar.
"Kurasa kau benar Lapis, aku hanya memperburuk keadaan."
Elizabeth berhenti mengeluarakan aura besar miliknya. Melihat itu Lapis menjadi tenang, namun ketenangan itu tidak bertahan lama. Lapis dapat merasakan kalau aura yang dikeluarkan oleh Zen dan Cilkus menjadi lebih kuat secara perlahan.
"Sekarang bagaimana cara kita mengentikan mereka berdua? Jika dibiarakan lebih lama lagi maka itu akan berbahaya untuk Cilkus."
Lapis bertanya kepada Elizabeth, Elizabeth sendiri sedang mencari cara untuk menghentikan Zen dan Cilkus. Setelah beberapa saat berfikir, Elizabeth akhirnya menemukan caranya.
__ADS_1
Elizabeth melihat kearah Argares sedang berdiri. Elizabeth memberikan kode kepada Argares Dengan menunjuk kearah Zen dan Cilkus berada. Menerima kode dari Elizabeth, Argares menjadi sedikit tersenyum.
Argares mendekati Zen dan Cilkus dengan sangat cepat. Argares mengarahkan tinjunya kepada Zen, Namun tinjunya terhentikan oleh tangan Zen. Zen melihat kearah Argares, Zen menatap Argaras dengan tajam. Melihat tatapan itu, Argares menarik kembali tangannya dan hanya tertawa kecil.
"Berhentilah mengeluarakan aura sebesar itu. Beberapa orang telah pingsan, lihatlah daerah sekitarmu"
Argares memegang bahu Zen sambil memberitaunya. Zen melihat daerah sekitarnya, dia melihat hal yang sama dengan apa yang dilihat oleh Elizabeth. Zen mengeluarkan nafas sedikit panjang.
"Haaa, Baiklah."
Zen berhenti mengeluarkan aura miliknya.
"Kau juga Cilkus berhentilah mengerluarkan aura sebesar itu."
Menuruti perkataan Argares, Cilkus juga berhenti mengeluarkan aura miliknya. Elizabeth yang melihat Zen dan Cilkus yang sudah tenang kini mulai berbicara.
"Aku tidak peduli tentang permusuhan diantara kalian berdua dan aku juga tidak ingin ikut campur. Hanya saja aku berharap kalian tidak membuat kastilku menjadi rata dengan tanah jadi kalian tidak dapat bertarung diruangan ini."
"Kalau begitu Nona Elizabeth, bisakah kau meminjamkan kami ruang latihanmu?"
"Itu tidak bisa Zen, bukankah sudah kubilang kalau aku tidak ingin kalau kastilku rata dengan tanah. Mau Kalian bertarung diruangan ini ataupun ditempat latian itu tidak ada bedanya."
"Bocah, Siapa yang kau sebut pria tua?"
Cilkus menjadi kesal kembali setelah mendengar perkataan Zen.
"Cilkus apakah benar benar ingin melawannya?"
"Tentu saja Elizabeth."
"Tapi kau bisa saja mati ditangannya, apakah kau benar benar yakin?"
"Ya, tidak ada yang perlu kau khawatirkan Elizabeth. Meski dia adalah pewaris leluhur pertama, dimataku dia tetaplah seorang manusia."
"Baiklah Cilkus jika kau berkata seperti itu. Dan Zen apakah kau benar benar ingin melawannya?"
"Tidak terlalu, tapi karena tuan Cilkus ingin melawanku jadi aku akan melawannya."
__ADS_1
"Baiklah jika kalian berdua berkata seperti itu. Aku memang tidak dapat meminjamkan tempat latihanku, tapi aku akan membawa kalian ketempat dimana kalian berdua bisa bertarung."
Elizabeth membuka sebuah gate.
"Silahkan kalian masuk kesini. Bagi kalian yang ingin melihat pertarungan mereka kalian juga bisa masuk kesini."
"Wow, itu sangat membantu Elizabeth."
Cilkus adalah yang pertama memasuki gate. Mengikuti Cilkus para leluhur yang lainnya juga memasuki gate, hanya saja para pengawal mereka tidak ada yang ikut.
"Bagaimana denganmu Zen, apa kau tidak akan masuk?"
"Silahkan anda duluan tuan Argares."
"Baiklah, kalau begitu akan masuk duluan."
Argares pergi memasuki gate terlebih dahulu. Saat ini untuk para leluhur hanya tinggal Zen dan Elizabeth yang memasuki gate.
"Bagaimana Dengan kami Zen, apakah kami juga akan memasuki gate itu?"
"Tentu saja Fernanse, bukankah aku bilang kalau kau akan melihat sesuatu yang menarik. Maka kau akan melihatnya sebentar lagi."
"Baiklah."
Zen berjalan kearah gate yang dibuka oleh Elizabeth, Fernanse dan Irene mengkutinya dari belakang.
"Pada akhirnya semuanya berjalan sesuai dengan keinginanmu bukan?"
"Apa yang anda katakan Nona Elizabeth, aku benar benar tidak mengerti."
"Jangan berpura pura bodoh Zen, bukankah ini yang kau inginkan dariku?"
"Entahlah."
Zen sedikit tersenyum kepada Elizabeth, lalu Zen memasuki gate begitu pula dengan Fernanse dan Irene.
"Dasar bocah kurang ajar."
__ADS_1
Pada akhirnya Elizabeth juga memasuki Gate.