Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci

Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci
Awal Dari Akhir


__ADS_3

"persiapannya telah selesai tuan."


Reika melapor kepada seorang pria yang sedang duduk di kursi tahtanya. Dibelakang Reika terdapat 3 orang laki -laki dan 2 orang perempuan. Sama seperti Reika, mereka semua menundukkan kepalanya.


"Kerja bagus Reika."


Pria itu kemudian berdiri, dan mengambil sebuah senjata yang ada diruangan itu.


"Ngomong ngomong Reika, bagaimana dengan pecahan jiwa mu yang ada didunia itu?"


"Saya tidak bisa mengambilnya kembali dari sisi, jadi saya membuatnya datang ke medan perang dan saya akan mengambilnya kembali disana."


"Baiklah, sekarang saatnya kita pergi."


Pria itu kemudian membuka sebuah Gete, dan mereka semua memasukinya.


********


Zen kembali kembarnya setelah membuh kaisar kekaisaran Suci, Zen berbaring dikasurnya dan memejamkan matanya.


*Hoarrrt


Zen yang tadinya ingin tidur kini kembali terbangun setelah mendengar sebuah raungan naga.


"Akhirnya datang juga ya."


Zen kemudian membuka gate dan memasukinya, Gate terbuka digerbang kastil dan Zen segera keluar.


Dia melihat keatas langit, disana ada ribuan naga yang terbang berputar putar dengan Abrials sebagai pemimpinnya.


Semua naga itu kemudian menyemburkan sebuah serangan kekota, dalam sekejap kota yang Zen miliki hancur.


Meski begitu Zen sama sekali tidaklah kesal, berkat kerja keras Irene penduduk kota itu telah dipindahkan semua kekota milik Elizabeth dan Lapis. Jadi Sekarang kota yang dihancurkan oleh para naga itu tidak lebih dari sebuah susunan bangunan yang kosong.


Sama seperti kota, kastil saat ini juga telah dikosongkan, semua pekerja telah diberhentikan dan yang tersisa tinggal beberapa Vampire tingkat tinggi.


"Maafkan keterlambatan saya yang mulia."


Taks datang kehadapan Zen dengan beberapa Vampire tingkat tinggi dibelakangnya.


"Tidak apa- apa, lagipula kita juga sedang menunggu bantuan."


Tidak peduli sekuat apa Zen dan pasukan miliknya, mereka tetap tidak akan dapat melawan ribuan naga tua itu.


Zen membuka gerbang kastil dan pergi keluar, Kufa dan yang lainnya mengikuti Zen. Para naga yang terbang mulai turun dan menghancurkan bangunan yang ada dibawah mereka.

__ADS_1


Para naga itu kemudian berubah kedalam bentuk Humanoid mereka, Abrials menatap Zen dengan sangat tajam sambil mengeluarkan aura yang besar.


Zen membalas tatapan Abrials itu sambil mengeluarkan aura sama besar dengan yang Abrials keluarkan.


"Fire ball."


Abrials menyerang Zen menggunakan sebuah bola api dengan diameter 1 meter. Bola api itu menuju kearah Zen dengan cepat, namun begitu sampai ke depan Zen bola api langsung menghilang.


Zen tersenyum merendahkan Abrials, Abrials menjadi kesal ketika melihat senyuman yang Zen tunjukan.


Abrials meninggalkan pasukannya dan dengan cepat langsung menuju kearah Zen.


"Berpencar."


Taks dan yang lainnya langsung berpencar sesuai dengan perintah Zen.


Dalam hitungan detik Abrials telah berada didepan Zen, dengan sekuat tenaga Abrials menyerang Zen dengan pukulannya.


Sayangnya, pukulan Abrials dapat ditahan oleh Zen dengan mudah. Zen langsung menyerang balik Abrials dengan pukulannya, sama seperti Zen Abrials dapat menahan pukulan itu dengan mudah.


Mereka berdua terus saling beradu pukulan, gelombang kejut yang dihasilkan tidaklah kecil. Hanya dalam beberapa kali beradu pukulan, sebagian kastil milik Zen telah hancur.


Disisi lain, pasukan milik Abrials hanya diam sambil menyaksikan Abrials beradu pukulan dengan Zen. Begitu mereka menurunkan penjagaan mereka, tiba tiba sebuah petir turun dari langit dan menyerang mereka.


"Apa para pasukan naga begitu mudah untuk diserang?"


"Jika mereka semua itu diserang maka ini Tidak akan menarik."


Argares mengatakan pendapatnya.


"Apa yang kalian bicarakan? Tidakkah kalian melihat kalau ada yang menahan sihir petir tadi?"


Tepat seperti yang dikatakan oleh Lapis, sihir petir yang tadi hanya mengenai seseorang bukan pasukan naga.


"Itu tadi cukup berbahaya Elizabeth, bukankah kau mengatakan kalau menyerang dari belakang itu tidak baik."


Dengan sedikit luka ditangannya Vanes bertanya kepada Elizabeth.


"Apa aku pernah mengatakan hal itu?"


"Ya, saat kau menyerang kastil kami kau mengatakan hal itu."


"Aku sudah melupakan hal itu."


"Ya sudahlah jika kau lupa. Jadi apa yang kau lakukan disini Elizabeth?"

__ADS_1


"Pertanyaan yang bagus Vanes, kami disini untuk memburu beberapa kadal terbang."


"Kejam sekali kau Elizabeth, menyamakan kami dengan monster rendahan seperti itu."


"Apa aku ada mengatakan kalau kadal terbang itu adalah kalian?"


"Tidak, tapi bukankah itu maksudmu?"


"Benar sekali, jadi apa yang akan kita lakukan selanjutnya Vanes?"


"Entahlah, kira kira apa ya?"


Mereka berdua saling tersenyum kecil, Venes kemudian mengeluarkan pedang terkutuk miliknya. Pasukan yang ada dibelakangnya pun juga mulai mengeluarkan senjata mereka.


"Semuanya serang, jangan biarkan ada yang tersisa dari para kadal itu!!"


Elizabeth menyuruh pasukan miliknya untuk mulai bergerak, Argares dan Lapis pun juga melakukan hal yang sama.


"Semuanya jangan sampai kalah, bantai semua Vampire itu."


Vanes juga memberikan perintah untuk mulai menyerang. Sekarang yang masih belum bergerak adalah 3 raja naga dan 3 leluhur Vampire. Mereka saling menatap satu sama lain, hingga akhirnya mereka saling bergerak dan memulai pertempuran.


Disisi lain setelah beberapa kali beradu pukulan, Zen dan Abrials sama sama mengambil jarak. Ditubuh mereka terdapat beberapa luka, namun luka luka itu langsung pulih kembali.


Abrials kemudian mengeluarkan sebuah dua buah belati.


'Senjata? Baru kali ini aku melihatnya menggunakan senjata.'


Dari semua pertarungan yang pernah terjadi, Zen selalu melihat Abrials bertarung dengan tangan kosong saat dalam wujud humanoid. Namun kali ini Zen melihat Abrials memegang sebuah senjata untuk menyerang dirinya.


'Apa dia dapat menggunakan senjata itu dengan baik?'


Selagi Zen fokus berfikir, Abrials telah menghilang dari pandangannya.


'Kemana dia pergi?'


Zen mencari kesekelilingnya, meski begitu dia sama sekali tidak dapat melihat Abrials sama sekali. Zen terus mencari, sampai dia Merasakan hawa keberadaan Abrials tepat diatasnya.


'Dari atas.'


Zen langsung mengeluarkan pedang terkutuk miliknya. Dengan kedua belatinya Abrials menyerang Zen dengan sekuat tenaga.


"Jurus kekosongan."


Serangan Abrials itu sangatlah kuat, bahkan Zen merasa kalau dia tidak akan dapat menahan serangan itu sepenuhnya. Karena hal itu Zen terpaksa menggunakan jurus kekosongan untuk mengirimkan efek serangan Abrials kedunia Medan perang.

__ADS_1


Meski begitu, efek serangan Abrials tidak terkirim semua kedunia Medan perang. Dan menciptakan sebuah ledakan yang besar.


__ADS_2