
Zen mengendalikan ke 64 leser itu dengan sangat baik, hanya tinggal sedikit lagi leser leser itu mengenai Verdia. Namun tiba tiba untuk sesaat Zen merasakan sakit dilehernya, dan pada sesaat itu Zen kehilangan kontrol atas ke 64 leser itu. Hasilnya tidak ada satupun leser yang mengenai Verdia, meski Zen sangat kesal saat ini namun dia lebih memilih untuk memeriksa lehernya.
Zen menyentuh lehernya dan dia dapat Merasakan sebuah luka dengan darah yang terus keluar, Zen yakin kalau Verdia sama sekali tidak ada menyerangnya. Zen melihat ke sampingnya disana terdapat sebuah pisau yang tertancap ditanah.
"Pisau terbang ya."
Untung saja pisau itu bukanlah senjata tingkat suci ataupun semi ilahi, jika tidak meski tubuh Zen kuat namun pisau itu pasti dapat memotong lehernya, Zen cukup beruntung karena pisau itu hanya membuat goresan pada lehernya.
Zen dengan cepat memperkirakan dari mana pisau itu berasal dan Zen akhirnya menemukan kalau pisau itu berasal dari pohon besar yang ada disana. Diatas pohon itu Zen melihat Veldra yang duduk dengan santai sambil memegang beberapa pisau terbang.
"Dasar tukang ikut campur."
Jika Veldra tidak melemparkan pisau itu ke leher Zen maka Verdia saat ini mungkin tidak akan lagi dapat bergerak karena serangan leser miliknya.
Zen menatap Veldra dengan tajam, Veldra sama sekali tidak takut dengan tatapan itu. Malahan dia sama sekali tidak peduli, Zen yang melihat ekspresi Veldra itu menjadi sedikit mengerti. Veldra Tidak akan melawannya namun Veldra akan mencegah Zen untuk membunuh Verdia.
Untuk sekarang Zen tidak memiliki waktu untuk meladeni Veldra, Zen saat ini fokus kepada Verdia yang sedang terluka dan kesulitan untuk bergerak itu. Dengan pedang ditangannya Zen berjalan dengan tenang kearah Verdia.
"Ars Nova."
Tiba tiba sebuah bola hitam kecil muncul dihadapan Zen, Zen tau dengan jelas apa bola hitam itu. Zen dengan cepat segera menjauh dari bola hitam itu, namun Zen sedikit terlambat bola itu langsung meledak begitu Zen mengambil langkah mundur.
Berkat ledakan yang tiba tiba itu Zen mendapatkan beberapa luka pada tubuhnya, dan berkat ledakan itu Zen sama sekali tidak dapat melihat kesekelilingnya.
"Apa?...."
Zen terkejut dengan apa yang dia lihat, Begitu debu debu yang berterbangan mulai menghilang Zen dapat melihat lotus hitam berada dilangit, lotus itu telah memekarkan ke 15 kelopaknya. Lotus hitam itu dengan cepat menyerang Zen dan Verdia yang ada disana, dengan pedangnya Zen memotong leser itu sekaligus mengirimkan daya hancurnya kedunia Medan perang.
__ADS_1
Situasi saat ini sangat buruk untuk Zen, dia sama sekali tidak dapat melakukan gerakan apapun selain hanya bertahan saja. Leser hitam itu sangatlah banyak, bahkan jika Zen mencoba kabur leser leser hitam itu pasti akan mengenainya.
"Sial."
Zen terus menghancurkan leser hitam yang menuju kearahnya, setelah beberapa saat lotus hitam itu berhenti mengeluarkan leser dan tanpa jeda sedikitpun lotus hitam itu langsung meledak.
"Ahhh, ini cukup menyakitkan."
Karena ledakan lotus hitam itu tubuh Zen menerima luka yang cukup parah, namun itu masih lebih baik daripada yang Verdia terima. Karena ledakan lotus hitam itu luka Verdia menjadi sangat parah dan sendiri hampir tidak lagi dapat melakukan apapun.
"Heh, tidak kusangkan kalian masih dapat bertahan."
Zen melihat kearah suara itu berasal, disana Zen dapat melihat seorang wanita berambut hitam panjang dengan senyuman yang terlihat seksi.
"Atlanta Mariel, apa yang membuatmu datang kesini."
Nama Wanita itu adalah Atlanta Mariel, dia adalah leluhur ke 2 vampire. Dia adalah pemegang 2 mahkota yaitu mahkota king Kekuatan petir dan mahkota dosa nafsu salah satu dari 7 mahkota dosa besar.
"Aku yakin kita seharusnya tidak memiliki masalah satu sama lain."
"Kau benar itulah yang seharusnya, namun saat ini situasinya berubah."
"Berubah? Apa maksudmu?"
"Jangan berpura pura bodoh, kau membunuh leluhur kecil kami bukan?"
"Leluhur kecil, apa yang kau masuk adalah Ardiel? Sejak kapan kalian para leluhur vampire menjadi peduli satu sama lain?"
__ADS_1
Ke 10 leluhur vampire yang ada didunia atas ini sangatlah jarang berkerja sama, mereka lebih sering bersaing satu sama lain hanya untuk peringkat Kekuatan, bahkan persaingan mereka biasanya selalu membuat ratusan vampire murni tingkat Duke mati.
Selain untuk sebuah pertarungan yang memperjuangkan kelangsungan hidup ras vampire hampir mustahil bagi para leluhur itu untuk dapat saling bekerja sama.
"Seperti yang kubilang sebelumnya situasinya telah berubah."
"Itu hanyalah alasanmu saja, dari pada disini Bukankah lebih baik jika kalian mencari leluhur pertama yang baru?"
Didunia tempat ras vampire berada terdapat 10 buah kolam dengan warna yang berbeda beda, kolam kolam itu adalah kumpulan kepercayaan ras vampire yang mereka berikan kepada leluhur mereka. Setiap leluhur memiliki kolam sendiri, misalnya leluhur pertama memiliki kolam berwarna hitam yang mewakili sihir kegelapan. Ketika leluhur pertama vampire mati maka kolam itu akan menunjukkan sebuah respon dan mulai memilih leluhur pertama yang baru sesuai dengan keinginan, mau itu adalah vampire dengan status rendah atau tinggi ketika dia dipilih oleh kolam itu maka dia akan langsung menjadi leluhur pertama vampire.
"Leluhur pertama yang baru telah terpilih tepat setelah perang memperebutkan 3 mahkota yang kau buang itu selesai."
"Kalau begitu selamat, dan juga Bukankah lebih baik jika kalian merayakan kelahiran leluhur pertama yang baru?"
"Itu tidak perlu, lagi pula tidak ada yang tau berapa lama dia akan bertahan."
Para vampire sangat menghormati leluhur mereka tidak peduli leluhur itu lemah atau kuat, yang jadi masalah adalah pada saat perang kecil kecilan antar ras terjadi. Pada saat itu seorang leluhur biasanya berdiri paling depan jika leluhur itu lemah maka dia bisa saja mati pada perperangan itu.
"Yang lebih penting sekarang aku sedikit tertarik padamu, aku ingin melihat sejauh apa kau dapat bertahan."
Dengan kekuasaannya atas kekutan petir Atalanta menjatuhkan ratusan petir emas pada Zen, Zen hanya melihat petir petir itu tanpa mencoba menghindar sedikitpun. Petir emas itu jatuh dengan sangat cepat, namun ketika petir emas itu tinggal berjarak beberapa inci dari Zen beberapa bilah angin muncul dan semua petir emas itu langsung hancur.
"Tidak kusangkan kau juga akan ikut campur Cicilia."
Bilah bilah angin itu adalah perbuatan Ratu elf Cicilia.
"Jika kau ingin menyentuhnya maka mintalah izin kepadaku terlebih dahulu Atlanta."
__ADS_1
"Sejak kapan dia adalah milikmu? Bahkan setahuku dia sama sekali tidak tertarik denganmu Cicilia?"
Mendengar perkataan Atlanta wajah Cicilia terlihat sangat marah dan aura membunuh yang besar keluar dari dirinya.