
Hoarrr.....
Dengan wujud naganya, Ariabls mengaung dengan keras.
"Sudah sangat lama aku tidak melihat wujud itu."
Ini adalah pertama kalinya Ariabls dan Elizabeth saling bertarung setelah puluhan tahun. Pada saat itu meski Elizabeth telah menggunakan kekuatan penuhnya dia masih tetap tidak dapat mengalahkan Ariabls yang sedang dalam bentuk naga nya.
"Elizabeth, sebagai bentuk rasa hormatku padamu aku akan membuatmu merasakan kekuatan penuhku setelah puluhan tahun terakhir kali kita bertemu."
Ariabls mengumpulkan api hitam dalam jumlah besar di mulutnya, lalu dia menyemburkan api itu kearah Elizabeth.
Api itu sendiri bukanlah sebuah sihir, melainkan kemampuan yang dimiliki Ariabls sebagai seekor naga.
Api itu menuju kearah Elizabeth dengan sangat cepat, Elizabeth sama sekali tidak mencoba untuk menghindari api itu. Dan pada akhirnya api itu mengenai dirinya, serta bangunan yang ada disekitarnya.
*********
Disisi lain, Argares sedang menikmati pertarungannya dengan Daelus dan Legion.
Dengan pelayan miliknya Argares tanpa henti terus menerus menyerang kedua raja naga itu.
"Sangat lemah, Apa hanya segini kekuatan kalian berdua? Bahkan leluhur kecil kami masih lebih kuat dari ini meski dia kehilangan sebagian besar kekuatannya."
Argares terus tersenyum kecil kepada kedua raja naga itu, sedangkan kedua raja naga itu telah kehilangan sebagian besar kekuatan mereka.
"Apa yang harus kita lakukan Legion? Jika terus begini kita pasti akan kalah."
"Kau alihkan perhatiannya selama beberapa saat, aku akan mempersiapkan sebuah sihir untuk menyerangnya."
"Baiklah."
Dengan pedang ditangannya, Daelus melesat dengan cepat kearah Argares. Dengan pedangnya dia menyerang Argares, tapi sayang Argares jauh lebih kuat darinya. Dengan mudah Argares dapat menahan pedang itu, namun Daelus tidak kecewa. Malahan dia tersenyum kecil kearah Argares, meski Daelus tidak berbicara tapi senyuman itu menunjukan kalau ini adalah apa yang Daelus inginkan.
Setelah melihat senyuman Daelus, Argares dengan cepat berbalik melihat kearah Legion. Tepat seperti yang Argares perkirakan, sebelum dia dapat melihat wajah Legion sebuah tombak api menuju kearahnya dengan cepat.
"Terlalu lemah."
Sama seperti serangan pedang Daelus, tombak api itu sama sekali tidak berguna. Tepat didepan wajah Argares tombak api itu pecah perkeping keping lalu menghilang.
"Yang benar saja, bahkan sihir ini juga tidak dapat melukai mu."
Legion melihat Argares dengan tatapan tidak percaya atas apa yang dia lihat.
"Disini sudah mulai membosankan, mungkin aku harus bergabung dengan Elizabeth. Datanglah Uphaganda!!!"
__ADS_1
Argares memanggil salah satu pelayan miliknya, 2 ekor ular raksasa kembar keluar. Ular itu memiliki kepala seperti king kobra namun tubuhnya berwarna ungu gelap.
"Lakukan."
Begitu perintah dari Argares keluar, kedua ular itu masing masing langsung menuju ketempat Legion dan Daelus dengan cepat. Kedua raja naga itu sedikit terlambat untuk menghindar dan akhirnya mereka terkena serangan ular itu.
Serangan itu membuat tubuh mereka terluka sangat parah, meski mereka memiliki kekuatan regenerasi namun kekuatan itu tetap memiliki batasan. Kini Kekuatan itu tidak dapat meregenerasi luka ditubuh mereka.
"Yah meskipun kalian terluka parah yang penting kalian masih hidup."
Tujuan ke 3 leluhur itu datang kesini bukanlah untuk membunuh melainkan hanya untuk membuat sedikit kekacauan. Jika Argares membunuh kedua raja naga itu maka dia pasti akan dihakimi oleh Elizabeth dan Zen.
"Baiklah serang saatnya bergabung dengan Elizabeth."
Argares dengan santai berjalan keluar kastil meninggalkan kedua raja naga itu.
************
" Yang benar saja, apa kau bercanda"
"Apa yang kau lakukan Zmei, sihir itu sama sekali tidak dapat melukainya."
Zmei dan Vanes menunjukan ekspresi tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Sihir tingkat tinggi milik Zmei dengan daya hancur yang besar dapat ditahan oleh Zen dengan mudah.
Pelayan ini sedikit berbeda dengan pelayan Zen yang lainnya, pelayan yang lainnya memiliki tubuh sekitar 2 sampai 3 kali ukuran tubuh Zen sedangkan Ariel memiliki tubuh yang sama besar dengan Zen.
Selain wajah Ariel memiliki Zirah yang menutupi tubuhnya, dikedua tangannya terdapat sebuah tameng dan sebuah pedang. Dengan tameng itu Ariel dapat menahan sihir Zmei dengan mudah.
"Zmei gunakan sihirmu sekali lagi. Aku akan mengulur waktu untukmu."
"Baiklah."
Sekali lagi Vanes menyerang Zen dengan pedang miliknya, skill berpedang mereka hampir sama sama ditingkat menengah. Pedang mereka berdua terus beradu tanpa ada mengenai tubuh satu sama lain.
Disisi lain Zmei sedang mengumpulkan mana miliknya untuk membuat sihir dengan daya hancur yang besar.
"Menjauhlah Vanes, aku akan mengarahkan sihir ini......"
*Bam
Sebelum dia dapat menggunakan sihirnya untuk menyerang Zen, Zmei terkena serangan yang sangat kuat dari belakangnya. Dia terlempar dengan sangat jauh.
"Haaa haa, apakah para raja naga sangat suka untuk menyerang dari belakang?"
Itu adalah Argares, dia adalah orang yang menyerang Zmei dari belakang. Argares kemudian melihat kearah Zen yang sedang bertarung melawan Vanes.
__ADS_1
"Zen cepatlah selesaikan pertarunganmu, nona kita sedang dalam bahaya."
Mendengar perkataan Argares, Zen menjadi sedikit penasaran dengan bahaya yang dimaksud. Zen kemudian melihat kearah kota, disana dia dapat melihat seekor naga besar dengan warna hitam bagaikan kegelapan.
'Sepertinya nona Elizabeth memang dalam bahaya, itu adalah lawan yang mustahil untuk dia kalahkan saat ini.'
Zen lalu melihat kearah Vanes yang sedang terengah- engah.
"Saatnya aku mengakhir ini."
Zen mengeluarkan pedang terkutuk miliknya yang satu lagi.
"Bersiaplah."
Dengan kedua pedang terkutuk ditangannya, Zen dengan cepat menuju kearah Vanes. Pedang mereka saling beradu satu sama lain, namu tidak sama seperti yang sebelumnya. Kali ini Zen lebih unggul, banyak serangannya yang tidak dapat ditahan oleh Vanes.
Tidak lama mereka saling beradu pedang, Zen mengakhiri pertarungan antara mereka berdua dengan sebuah tendangan. Tendangan itu membuat Vanes terlempar hingga kedalam kastil yang telah hancur itu.
"Pertarungan yang bagus."
Argares bertepuk tangan sambil berjalan menuju kearah Zen.
"Lalu bisakah kau membantu nona kita yang sedang melawan naga itu?"
"Mengapa tidak anda saja yang melakukannya, kekuatan saya yang saat ini sangatlah terbatas."
"Aku tidak memiliki sihir yang tepat untuk menyerangnya dari jarak sejauh ini. Bukankah kau memilikinya?"
"Aku juga tidak dapat memiliki sihir yang seperti itu."
Lebih tepatnya Zen tidak memiliki sihir dengan daya hancur besar yang dapat digunakan dalam waktu singkat.
"Tapi aku memiliki cara untuk membuat celah agar nona Elizabeth dapat kabur."
"Kalau begitu cepatlah lakukan."
Jika dia terlalu lama bertindak Elizabeth mungkin akan mati.
"Baiklah."
Zen lalu mengeluarkan sebuah tombak dari ruang penyimpanannya. Zen mengalirkan mana dalam jumlah besar kedalam tombak itu. Setelah selesai Zen langsung melemparkan tombak itu kearah Kaisar naga sedang berada.
********** ***********
NOTE: Bulan ini saya harus fokus ujian dulu jadi Bulan ini mungkin update nya akan sangat tidak menentu. Terima kasih telah mendukung saya dengan membaca novel ini.
__ADS_1