Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci

Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci
Awal


__ADS_3

Zen memasuki ruangan yang telah dipersiapkan oleh Irene, Zen terkejut ketika melihat apa yang ada didalam ruangan itu.


Tata letak dan dekorasinya hampir sama dengan Ruangan Zen yang berada dikastil miliknya dulu.


Zen kemudian berjalan kesofa yang ada diruangan nya dan mendudukinya.


"Irene. Padahal dia adalah seorang gadis yang manis jika dia tidak terlalu menekan emosi miliknya."


Dalam kebanyakan situasi Irene selalu menekan emosi miliknya dan selalu memasang wajah datar. Sangat jarang bagi Irene untuk mengungkapkan apa yang dia rasakan.


"Dia benar -benar berbeda dengan Theresia."


Jika Irene adalah orang yang saat dalam sebuah masalah akan menjukan wajah datar seolah-olah tidak terjadi apa apa, maka Theresia adalah orang yang akan selalu tersenyum ketika dia mendapatkan sebuah masalah dan bersikap kalau dirinya baik baik saja.


"Apa kau dapat mendengar ku Theresia? Jika kau dapat mendengar ku maka tolong lakukan sesuatu untukku."


Zen tau kalau jiwa Theresia yang ada didalam tubuhnya sedang terbangun, saat terbangun Theresia dapat melihat apa yang dilihat oleh Zen dan dapat mendengar apa yang didengar oleh Zen.


"Bisakah kau membunuh para jiwa yang ada bersamamu itu? Dan buat mereka bereinkarnasi."


Dengan banyak jiwa didalam tubuhnya Zen merasak sedikit tidak nyaman, meski para jiwa itu tertidur namun Zen merasa kalau para jiwa itu selalu mengawasi pergerakannya.


"Meski jiwamu talah terbangun kau sepertinya tidak bisa kembali kedalam tubuhmu Theresia."


Meski tidak tau dengan pasti, namun Zen merasakan kalau Tubuh Theresia dipasang sebuah penghalang yang membuat jiwanya tidak dapat kembali ke tubuhnya.


Zen kemudian menutup matanya dan memasuki alam bawah sadarnya.


Dialam bawah sadarnya Zen melihat 3 orang pelayan didepannya, para pelayan itu adalah Shikin, Ariel, dan La Tiami.


'Ternyata benar kalau tempat para jiwa itu berada berbeda dengan tepat para pelayan ini.'


"Apa yang akan kalian inginkan sekarang?"


Zen bertanya kepada kepada 3 pelayan yang ada didepannya.


"Apa yang kau maksud?"


La Tiami bertanya kepada Zen, bagaimanapun mereka bertiga tidak mengerti maksud dari pertanyaan Zen.


"Apa kalian ingin aku membunuh dan membuat kalian bereinkarnasi? Atau kalian menginginkan sebuah wadah yang membuat kalian dapat hidup di dunia luar?"


"Kami tidak menginginkan semua hal itu, kami hanya akan terus menjadi pelayanmu?"


Bagi para pelayan seperti mereka, dapat melayani Zen sebagai tuan adalah sebuah berkah yang besar.


"Sayangnya itu mungkin tidak bisa, ketika aku kembali menjadi seorang manusia aku tidak akan dapat menggunakan kalian lagi."

__ADS_1


Zen sangat tidak menyukai tubuh Vampire nya, dia berencana untuk kembali menjadi seorang manusia. Lagi pula Zen menjadi seorang vampire karena mewariskan kekuatan dari leluhur pertama vampire, dengan memurnikan kekuatan itu Zen dapat kembali menjadi manusia.


"Apa itu artinya kau akan membuang kami?"


"Semua itu tergantung pada pilihan kalian."


Zen berjalan meninggalkan para pelayan itu, dia terus berjalan menuju kearah kegelapan tanpa ujung yang ada dialam bawah sadarnya.


*******


Hari telah berganti, Zen terbangun dari tidurnya. Dia segera pergi keluar meninggalkan ruangan nya.


Dilantai bawah Irene dan Fernanse telah menunggunya.


"Kau sudah akan pergi Zen?"


"Ya, lagi pula aku tidak bisa terlalu lama bersantai."


Zen tidak tau berapa lama waktu yang akan dia perlukan untuk mendapatkan kembali kekuatan yang sama dengan saat masa jayanya. Karena itu dia tidak bisa terlalu banyak membuang buang waktu.


"Apa anda memerlukan bantuan saya yang mulia?"


Meski belum terlalu lama Irene berada di dunia ini, namun Irene memiliki pengaruh yang cukup besar.


"Tidak, aku mungkin akan membuat sedikit kekacauan. Aku tidak bisa merusak semua yang telah kau dapatkan."


Irene memberikan sebuah kantung yang berisikan 100 koin emas kepada Zen.


"Terima kasih irene, sebagai gantinya aku akan memberikan ini kepadamu."


Zen menyentuh kening Irene, melalui sentuhan Zen memberikan beberapa pengetahuan kepada Irene.


"Dan juga jangan terlalu sering melihat masa depan orang lain Irene."


Meski kemampuan melihat masa depan adalah sesuatu yang luar biasa, namun harga yang harus dibayar juga tidaklah kecil.


"Kalau begitu aku pergi dulu."


Zen pergi berjalan menuju pintu ruangan meninggalkan mereka, setelah beberapa langkah Zen berhenti.


"Ngomong ngomong Fernanse, bisahkan kau tidak pernah membahas tentang keberadaan kepada para roh?"


"Mengapa harus begitu?"


"Didunia roh ada sebuah roh yang cukup dekat denganku, jika dia mendengar tentang keberadaan ku maka dia pasti akan langsung mencariku."


Sebuah informasi dapat dengan mudah tersebar di dunia roh, jika informasinya adalah sesuatu yang menarik maka hanya dalam beberapa bulan semua roh mungkin akan dapat mengetahuinya.

__ADS_1


"Baiklah aku tidak akan melakukan nya."


"Terima kasih Fernanse."


Zen kembali berjalan keluar pintu, Zen terus berjalan dengan percaya diri. Setelah beberapa saat, Zen akhirnya sampai ke kota.


'ngomong ngomong aku tidak tau arah menuju ibu kota, apa yang harus kulakukan?'


Zen melihat lihat kesekelilingnya, dia melihat sebuah bangunan guild petualang dan Zen pun mendatangi bangunan ini.


Zen memasuki bangunan dan menuju meja resepsionis.


"Permisi, apakah disini menjual sebuah peta?"


Zen bertanya kepada perempuan resepsionis yang cantik dengan rambut pendek.


"Kami tidak menjualnya, namun kami dapat memperlihatkan nya."


"Kalau begitu bisakah saya melihatnya?"


"Iya, tolong tunggu sebentar."


Perempuan itu kemudian mencari peta disebuah tumpukan dokumen, setelah beberapa saat perempuan itu kembali dan menunjukan sebuah peta kepada Zen.


"Ini dia petanya."


"Bisakah anda memberitahu kepada saya yang mana ibukota kerajaan?"


"yang Ini dia, jika anda berjalan kaki maka akan membutuhkan waktu sekitar 15 hari, dan jika menggunakan sebuah kereta maka anda akan membutuhkan waktu sekitar 10 hari "


"Begitu ya, terima kasih atas informasinya."


Zen kemudian mengeluarkan 5 buah koin emas dan memberikannya kepada perempuan itu.


"Uang untuk apa ini tuan?"


"Sewa atas peta itu."


"Tidak usah tuan, peta ini gratis. Anda tidak perlu membayarnya."


"Kalau begitu anggap saja ini sebagai rasa terima kasih saya kepada anda karena telah memberikan beberapa informasi kepada saya."


Zen sedikit tersenyum kepada perempuan itu. Perempuan itupun tidak dapat menolaknya karena senyuman Zen yang terlihat kalau dia tidak ingin mendengar kata kata penolakan.


"Baiklah, terima kasih tuan."


Zen kemudian pergi meninggalkan perempuan itu dan juga guild petualang.

__ADS_1


__ADS_2