Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci

Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci
Grim


__ADS_3

"Dia sudah pergi ya."


Zen tidak lagi dapat Merasakan aura milik Vlad.


*Hoarrrt


Sebuah suara raungan terdengar.


"Apa lagi sekarang?"


Zen melihat kearah suara itu berasal, 3 ekor naga terbang dilangit dekat tembok kota.


Zen segera membuka gate dan pergi menuju atas tembok tempat dia yang sebelumnya.


Zen melihat para prajurit dan petualang berusaha untuk membunuh naga itu. Mereka terus menyerang naga itu dengan sihir namun mereka masih belum dapat membuat naga itu terjatuh.


Kemudian dengan pedang ditangannya, Grim melompat dengan sangat tinggi hingga mencapai salah satu naga. Grim kemudian menebas sayap naga itu dan naga itu langsung terjatuh.


Para petualang itu langsung membunuh naga itu, sekarang tinggal 2 naga yang tersisa. Grim mencoba untuk melakukan hal yang sama, namun kali ini dia tidak berhasil.


"Hmm."


Zen Merasakan sebuah aura berada tidak jauh disampingnya, diapun segera melihatnya. Disana Zen melihat seorang perempuan berambut biru muda dengan wajah yang manis.


"Siapa dia?"


Perempuan itu menatap 2 naga yang terbang dilangit itu, setelah beberapa saat perempuan itu menyadari kalau Zen sedang melihatnya.


Perempuan itu lalu melihat kearah Zen dan sedikit tersenyum kepadanya. Perempuan itu kembali menatap 2 naga itu.


"Ice Spears."


Puluhan tombak es terbentuk, tombak tombak itu kemudian langsung menyerang kedua naga itu. Serangan itu membuat kedua naga itu mengalami luka dan terjatuh.


"Fire despair."


Perempuan itu kemudian mengeluarkan api biru dan membakar kedua naga itu. Api biru itu sangatlah panas hingga para petualang dan prajurit yang ada dibawah sana tidak dapat mendekat, meski begitu api itu itu masih belum cukup untuk membunuh naga itu.


"Hell fire."


Zen mengeluarkan api hitam dan membakar kedua naga itu. Kini api biru yang tadinya membakar naga itu berubah menjadi api hitam yang jauh lebih panas. Dalam waktu singkat kedua naga itu telah mati karena api hitam itu.


Zen melihat perempuan yang ada disampingnya itu, dan Perempuan itu menatap dirinya dengan tajam. Perempuan itu kemudian mengeluarkan pedang miliknya dan langsung menyerang Zen.


'Ada apa dengan perempuan ini?'


Perempuan itu terus menyerang Zen dengan bertubi- tubi, Zen menjadi sedikit binggung dengan situasinya saat ini. Dia kemudian memegang pedang perempuan itu dan mematahkannya. Perempuan itu menjadi lebih lebih marah dari yang sebelumnya.


"Ice Spears."


Perempuan itu berteriak Dengan keras, puluhan tombak es muncul. Zen terus menghancurkan tombak Tombak yang menuju kearahnya.


'Ini sangat merepotkan.'


Zen melihat kearah langit yang mulai gelap, lalu dengan cepat Zen menutup mata perempuan itu dan Zen langsung pergi dari tempat itu.


'Seperinya dia tidak akan tau aku berada disini.'


Ditengah kerumunan para petualang dan prajurit Zen berjalan dengan Santai, Zen melihat kesekitarnya dan dia melihat Grim berada.

__ADS_1


Zen berjalan menuju ketempat Grim dan Griadin.


"Yo Grim, sepertinya kau membunuh cukup banyak monster."


Baju dan celana Grim dipenuhi oleh darah para monster, bahkan ada beberapa luka ditubuhnya.


"Sepertinya kau baik baik saja Zen."


Grim melihat kearah Zen, banyak noda darah dan sobekan pada baju Zen. Meski begitu Grim sama sekali tidak dapat melihat sebuah luka sedikitpun ditubuh Zen.


"Bagaimana jika sekarang mencari penginapan Grim?"


Sebelumnya mereka juga berniat untuk mencari sebuah penginapan, namun karena ada beberapa hal yang tidak terduga mereka jadi harus menundanya.


"Iya, kita harus mencarinya sekarang."


"Kita akan berbicara besok Griadin."


Zen dan Grim meninggalkan Griadin sendirian, mereka menuju sebuah penginapan yang tidak terlalu jauh dari guild petualang.


Mereka berdua kemudian memesan 2 buah kamar dan langsung beristirahat.


*********


Hari telah berganti, telah cukup lama waktu berlalu sejak sinar matahari menyinari dunia. Zen dan Grim telah beristirahat dengan cukup, Mereka saat ini sedang sarapan di penginapan.


"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya Zen?"


Sambil mengunyah makanannya Grim bertanya pada Zen.


"Kurasa aku akan mengambil bayaranku. Bagaimana denganmu Grim?"


"Hmm, begitu ya."


Mereka berdua akhirnya selesai makan, dan merekapun langsung pergi keguild petualang.


Mereka berjalan ke meja resepsionis, dan mengatakan kalau ingin bertemu dengan Griadin. Perempuan itupun langsung menyuruh mereka untuk menunggu selagi dia melapor kepada Griadin.


"Ngomong ngomong apa kau melihat hutan yang terbakar kemarin Zen."


"Ah, aku melihatnya."


Bukan melihat, mungkin lebih tepat jika mengatakan kalau Zen adalah salah satu alasan mengapa hutan itu terbakar.


"Hmm."


"Kemarin aku melihatmu melawan seekor naga kecil, sepertinya kau kesulitan saat melawan mereka."


"Apanya yang naga kecil, dan juga jika kau melihatnya bukankah lebih baik jika kau membantuku?"


"Apa yang kau katakan, aku sudah membantumu membunuh 2 naga kemarin."


"Apanya yang membunuh 2 naga, kau bahkan..... Ah."


Pada awalnya Grim tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Zen. Namun dia kembali teringat kalau pada saat itu ada sebuah tombak es yang menjatuhkan 2 naga tersisa, lalu 2 naga itu dibakar oleh api biru.


"Apa kau yang menggunakan tombak es itu?"


"Tidak, itu bukan aku. Seorang perempuan cantik yang melakukannya."

__ADS_1


"Apa bercanda Zen?"


"Tidak, aku sama sekali tidak bercanda. Perempuan itu...."


Tiba tiba ada seseorang yang menyerang mereka berdua dengan menggunakan pedang, Zen dan Grim pun secara spontan langsung menghindar.


"Itu tadi cukup berbahaya."


Grim berbicara sambil membersihkan debu yang ada di bajunya.


"Iya, tadi itu benar benar berbahaya. Siapa orang bodoh yang berani membuat kekacauan didalam guild?"


Zen melihat kearah orang yang menyerang mereka, orang itu adalah perempuan yang Zen temui kemarin.


"Kita bertemu lagi nona."


"Iya, sayang sekali kita bertemu kembali."


Perempuan memasang ekspresi kesal kepada Zen, diapun kembali menyerang Zen dengan pedangnya.


Zen dengan cepat langsung menghindar dan dia telah berada dilantai dua bangunan guild.


"Grim, bisakah kau menghentikan dia mengamuk?"


"Aku tidak akan melakukannya, lagi pula dia sepertinya hanya memiliki masalah dengamu."


Grim berjalan menuju sebuah bangku yang kosong dan mendudukinya.


"Karena kau menolak maka aku tidak punya pilihan lain."


Zen lalu membuat sebuah penglang yang membuat orang tidak akan dapat naik kelantai 2, Zen juga membuat sebuah penghalang agar tidak ada yang dapat keluar masuk bagunan guild.


"Nona jika kau ingin melawanku maka kau harus mengalahkannya terlebih dahulu."


"Apa aku dapat memegang perkataanmu?"


"Iya, aku dapat memegangnya."


"Baguslah kalau begitu."


Perempuan itu lalu melihat kearah Grim dan langsung menyerangnya, Grim dengan cepat langsung mengeluarkan pedang miliknya dan menahan serangan perempuan itu.


"Kau sialan Zen, apa yang kau katakan padanya."


Grim terus menerus mengutuk Zen sambil menahan setanah perempuan itu.


"Berjualang Grim, jika kau lengah maka kau mungkin akan mati."


Tepat sepertinya yang Zen katakan, perempuan itu terus menyerang Grim dengan sekuat tenaganya. bahkan properti yang ada disana menjadi hancur, para petualang yang ada disana hanya dapat melihat dari pinggir saja, jika tidak mereka mungkin juga akan terkena serangan perempuan itu.


Jika Grim lengah sedikit saja maka dia mungkin akan mendapatkan sebuah luka yang parah.


"Sialan kau Zen."


"Hahaha."


Dari atas Zen terus melihat pertarungan mereka sambil tertawa.


"Apa yang terjadi disini?"

__ADS_1


Selagi Zen asik menyaksikan pertarungan mereka, seorang pria mendekatinya dan bertanya kepadanya.


__ADS_2