
*******
"Apa kau tidak bosan Irene?"
"Memang bosan, tapi jika saya tidak mengerjakan dokumen ini lalu siapa yang akan mengerjakan nya?"
"Maaf Irene karena selalu membuatmu mengerjakan semua itu."
"Tidak apa yang mulia."
Irene terus mengerjakan tumpukan dokumen dokumen yang ada dihadapannya, sedangkan Zen duduk dengan santai disofa yang ada diruangan itu.
"Oh iya, mengapa tidak kau biarkan saja dokumen dokumen itu. Lagi pula pasukan kaisar naga akan menyerang kastil ini dalam beberapa hari."
"Sayangnya itu tidak bisa yang mulia."
"Begitu ya."
Suasana diruangan itu menjadi sunyi, mereka berdua hanya diam tanpa ada mengatakan sepatah kata. Hanya suara pergesekkan antara pulpen dan kertas yang dapat terdengar.
Waktu berjalan dengan cepat, matahari mulai terbenam dan langit mulai gelap. Tumpukan dokumen yang ada dihadapan Irene akhirnya tinggal sisa sedikit.
"Irene, ada sesuatu yang ingin kuminta darimu. Bisakah kau mengabulkan nya?"
Tangan Irene langsung berhenti bergerak ketika dia mendengar perkataan Zen, sangat jarang bagi Irene untuk mendengar Zen meminta sesuatu kepadanya. Dan juga kata kata yang diucapkan oleh Zen terdengar seperti orang yang akan mati dalam waktu dekat.
"Ada apa dengan anda yang mulia? Anda terdengar seperti akan mati dalam beberapa hari."
"Mati ya? Ya kurasa aku akan benar benar akan merasakannya suatu hari nanti."
Sebuah perasaan sedih dapat terlihat di ekspresi Zen, ketika Zen mengingat tentang banyak nyawa yang telah dia bunuh Zen merasakan kalau hidupnya tidak akan lama lagi.
Irene yang melihat ekspresi Zen itu menarik nafas dalam dalam, sampai batas tertentu Irene tau alasan mengapa Zen menunjukan ekspresi seperti itu
"Apa yang anda inginkan yang mulia?"
"Apakah kau akan mengabulkannya?"
"Saya akan berusaha yang mulia."
__ADS_1
"Kalau begitu kau sudah tau bukan apa yang kuinginkan. Apa perlu aku mengatakannya?"
"Jika anda tidak ingin mengatakannya maka anda tidak perlu mengatakannya."
"Kalau begitu, aku akan menunggumu di kamarku."
"Baiklah saya akan kesana ketika saya menyelesaikan dokume ini."
Zen pergi meninggalkan Irene.
"Ini lebih cepat dari pada yang seharusnya, aku tidak tau seberapa banyak perubahan yang terjadi."
*******
"Mabas, apa kau hanya akan menjadi sampai perang ini selesai?"
"Lapis, aku tidak tau apa yang terjadi dimasa depan. Jadi aku tidak akan bergerak sampai benar benar yakin."
"Mabas, aku pada awalnya tidak ingin mengatakan hal ini. Namun sekarang izinkan aku mengatakannya, sifatmu yang suka hati hati itu pada akhirnya tidak menyelamatkan siapapun. Kau hanya akan melakukan hal yang sama seperti dulu."
"Lapis!!!"
"Aku tidak ingin mendengar hal itu lagi Lapis. Lagi pula bukan berarti aku tidak mengambil bagian dalam perang ini, aku sedikit sibuk dengan perperangan yang terjadi diperbatasan."
"Tidak usah mengelak Mabas, kita semua telah sepakat kalau wilayah perbatasan dengan dataran manusia akan menjadi tugas leluhur ke 6 sampai ke 10."
Baru baru ini para leluhur Vampire melakukan sebuah pertemuan yang tidak dihadiri oleh Zen. Pada pertemuan itu mereka semua mengambil keputusan kalau leluhur ke 2 Sampai ke 5 akan pergi ke kastil Zen dan membantunya melawan ras naga jika Abrials datang.
Dan untuk leluhur ke 6 sampai ke 10 mereka akan berperang melawan ras manusia diperbatasan, dan mereka juga bertanggung jawab dalam penghancuran kerajaan kerajaan manusia.
"Sudah cukup Lapis, aku memiliki urusan yang harus diselesaikan "
Dilorong yang sepi itu Mabas meninggalkan lapis sendirian.
"Mabas, pada akhirnya kau tidak pernah dapat melindungi orang yang kau sayangi. Kau hanya akan selalu membuat orang yang yang aku sayangi menderita."
Mabas sama sekali tidak memperdulikan perkataan Lapis, dan tanpa ada keraguan sedikitpun Mabas terus berjalan meninggalkan Lapis.
*********
__ADS_1
"Abrials apa kau yakin dengan ini?"
Vanes bertanya kepada Abrials dengan suara yang penuh kekhawatiran.
"Tentu saja aku yakin, leluhur kecil itu telah membunuh Zmei. Tidak ada alasan bagi kita untuk menahan diri lagi."
Sebelumnya pada pertempuran dipadang rumput Abrials mencoba menahan kekuatannya untuk tidak membunuh para leluhur Vampire.
Meskipun pada akhirnya dia tidak dapat menahan kekuatannya ketika dia melihat kematian Zmei tepat didepan matanya.
Pada saat itu Abrials merasakan kemarahan yang sangat dalam, dia tidak lagi peduli dunia. Dan tanpa dia sadari dia mengeluarkan serangan yang sangat besar hingga menghancurkan gunung.
"Baiklah Abrials jika itu keputusan mu, bagaimanapun aku juga bersalah. Pada saat itu aku ada disana namun aku tidak dapat menghentikan leluhur kecil itu."
"Kalau kau memang Merasakan hal itu maka lakukanlah yang terbaik ketika kita menyerang mereka."
"Baiklah Abrials. Kalau begitu aku permisi dulu."
Vanes berjalan meninggalkan Abrials, setelah beberapa langkah dia berhenti berjalan. Dia kembali melihat kearah Abrials dan mulai berbicara.
"Aku lupa memberitau mu hal ini Abrials, dipertarungan yang selanjutnya berhati hatilah terhadap leluhur ke 3 lapis. Wanita itu jauh lebih kuat dari pada kelihatanya.
Vanes kemudia kembali berjalan meninggalkan ruangan itu. Diluar Daelus telah menuggu kehadiran Vanes.
"Bagaimana keadaan nya?"
"Sangat parah, bahkan beberapa lukanya meraih ada yang belum sembuh."
"Apa dia tetap akan melakukan rencananya?"
"Ya, dia sama sekali tidak berniat membatalkannya."
"Begitu ya, kurasa itu akan menjadi tugas yang berat untuk kita."
"Mau bagaimana lagi, bagaimanapun juga dia adalah tuan kita."
"Hahaha, kau Banar. Untuknya kita harus mempertaruhkan nyawa kita."
Kedua orang itu saling tertawa, kemudian mereka berpisah untuk mempersiapkan pasukan masing -masing.
__ADS_1