
"Apa yang terjadi disini?"
Selagi Zen asik menyaksikan pertarungan mereka, seorang pria mendekatinya dan bertanya kepadanya.
Zen melihat kearah pria itu, seorang pria Dengan rambut berwarna hitam pekat dengan sebuah pedang dipinggang nya.
"Hanya sedikit pertarungan saja."
"Tapi dimataku tidak terlihat seperti itu."
Pria itu melihat pertarungan antara Grim dan perempuan itu, skala pertarungan mereka tidaklah kecil. Beberapa properti milik guild telah hancur parah.
"Mungkin kau menganggapnya terlalu serius."
"Apa benar begitu?"
"Ya."
Tidak lama kemudian Griadin datang kedekat Zen.
"Apa kau yang memulai semua itu?"
"Yah, mungkin bisa dibilang begitu."
"Hmm, meski begitu mereka terlihat imbang sampai saat ini."
"Apa benar begitu."
Dimata Zen pertarungan antara Grim dan perempuan itu sama sekali tidak imbang. Dalam sihir perempuan itu mungkin lebih kuat dari pada Grim, namun dalam ilmu berpedang Grim lebih kuat dari perempuan itu.
Grim sama sekali tidak serius melawan perempuan itu, dia mungkin mencoba untuk bertahan sambil tidak melukai perempuan itu dengan parah.
"Apa kau memiliki sebuah masalah dengan perempuan itu?"
"Entahlah, aku hanya membunuh 2 naga yang coba dia bunuh. Ah, dan aku juga mematahkan pedang miliknya."
"Begitu ya."
"Apa kau mengenal perempuan itu Griadin."
"Aku kenal dia, namanya adalah....."
"Namanya adalah Tina Aubert. Dia adalah salah satu rank S di guild ini."
Tiba tiba pria yang ada disamping Zen itu memotong pembicaraan mereka dan memberikan tau nama perempuan itu.
"Rank S ya. Ngomong ngomong kau siapa?"
"Ha, hahahaha. Kau baru bertanya sekarang?"
Pria itu telah berada disamping Zen bahkan sebelum Griadin datang. Meski begitu Zen baru menanyakan namanya sekarang.
"Perkenalkan, namaku adalah Emelard Elexis. Sama seperti Tina, aku adalah salah satu Rank S. Dan kau, Siapa namamu?"
__ADS_1
"Rank S ya. Namaku adalah Zen Cavalier."
"Zen ya, salam kenal Zen."
"Ya."
Mereka kembali menyaksikan pertarungan Grim dan Tina.
"Zen bukankah itu sudah sedikit berbahaya?"
Ucap Griadin dengan ekspresi cemas diwajahnya.
"Ya, kurasa kau benar."
Tina sudah mulai tidak sabar karena dia tidak dapat melukai Grim sedikitpun, Diapun mulai menggunakan sihir miliknya.
Jika hanya pertarungan ilmu pedang tidak akan ada masalah bagi Griadin, namun sekarang Tina mulai menggunakan sihirnya. Jika dia melepaskan sihir itu maka bangunan guild mungkin akan hancur hanya dalam hitungan detik.
"Apa kau bisa menghentikannya?"
"Itu bukankah hal yang sulit."
Zen mengarahkan tangannya kearah Tina, Zen lalu mengepal tangannya dan sihir yang Tina keluarkan menjadi hilang tanpa bekas.
Tina kembali mengeluarkan sihirnya, dan Zen kembali menghilangkan sihir milik Tina. Tina menyadari kalau yang membuat sihirnya menghilang adalah Zen, diapun langsung menatap Zen dengan tajam. Meski begitu Zen hanya membalas tatapan itu dengan sebuah senyuman kecil.
"Berhentilah bertarung Grim, saatnya mengambil bayaran."
"Bukakan kau yang membuatku terpaksa bertarung?"
"Apa benar aku melakukan hal itu?"
Zen membalas perkataan Grim seolah -olah dia tidak tau apa yang sedang Grim bicarakan.
"Kau sialan."
"Sudahlah, berhentilah mengoceh Grim. Griadin telah berada disini."
"Hemp."
Grim lalu menyimpan pedang miliknya dan berjalan menuju lantai 2 bangunan guild.
"Mari kita bahas mengenai kesepakatan kita kemarin Griadin."
"Iya, ikuti aku."
Griadin dan Zen hendak berjalan menuju ruangan milik Griadin, namun Tina dengan cepat menuju lantai ke 2 dan menghalangi mereka.
"Ada apa lagi nona Tina, kau tidak dapat mengalahkan Grim jadi kau tidak dapat melawanku."
"Lalu apa yang akan kau lakukan jika aku tetap bersikeras?"
"Entahlah, mungkin aku akan terus mengabaikan mu."
__ADS_1
"Oh, tapi apa kau masih akan mengabaikan ku setelah aku melakukan hal ini."
Tina mengarahkan pedangnya ke leher Zen, dan pada saat itu ekspresi Zen berubah dengan sangat drastis. Sebuah senyuman kecil diwajahnya kini telah menghilang dan digantikan dengan ekspresi marah.
"Kau tau nona, aku paling tidak menyukai orang yang mengarahkan senjatanya kepadaku."
Bagi Zen senjata bukanlah sesuatu yang dapat diarahkan kepada orang lain dengan begitu mudah, karena itulah dia kurang menyukainya perbuatan Tina saat ini.
Zen kemudian mengeluarkan sebagian aura miliknya dan mengintimidasi Tina, Tina yang Merakan aura intimidasi itu menjadi sedikit goyah. Dia merasakan sebuah ketakutan yang sangat besar, ini adalah pertama kalinya Tina merasakan hal ini.
Tina tidak dapat lagi mempertahankan posisinya, kakinya bergetar begitu juga dengan pedang yang dia arahkan Ke Zen.
"Saat seseorang telah bersiap untuk mengarahkan senjatanya kearah orang lain, maka orang itu juga harus siap ketika orang lain mengarahkan senjata kepadanya."
Zen lalu memegang pedang Tina, dan dengan sedikit kekuatan miliknya Zen mematahkan kembali pedang Tina untuk yang kedua kalinya.
"Lain kali cobalah untuk tetap tenang didalam situasi apapun Nona Tina."
Griadin dan Zen kembali berjalan menuju ruangan Griadin. Pada awalnya Zen hanya akan pergi dengan Grim, Namun Zen sangat tidak menyangka kalau Tina dan Emerald juga akan masuk kedalam ruangan Griadin.
Mereka semua berkumpil diruangan itu, kali ini Tina tidak menatap Zen dengan tajam. Dia hanya duduk dengan tenang, tidak mungkin lebih tepat jika dia masih merasakan ketakutan yang dia rasakan dari Zen.
Namun Zen tidak memperdulikan hal itu dan dia langsung membahas masalah utamanya dengan Griadin.
"Griadin, sesuai dengan kesepakatan kita kemarin aku akan mengambil bayaranku sekarang."
"Uang dan Informasi bukan. Untuk uang aku hanya dapat memberikan sebanyak 100 emas koin saja, dan untuk informasi itu semua tergantung dari apa yang kau tanyakan."
"Iya, itu tidak masalah untukku. Ah, dan juga jangan lupa potong bayaranku untuk mengganti properti yang rusak dibawah sana."
"Haha, tidak kusangka kalau kau akan Menganti rugi. Rosvelt berikan bayaran kepada Zen setelah dipotong biaya kerusakan."
Griadin menyuruh Rosvelt yang berdiri disampingnya, dan Rosvelt langsung melakukan apa yang disuruh Griadin.
"Dan untuk informasinya...."
"Sebelum kita berbicara mengenai hal itu, bisakah aku menjawab pertanyaanku terlebih dahulu?"
Sebelum Zen menyelesaikan perkataannya Griadin lebih dahulu memotong dan mengajukan sebuah pertanyaan kepadanya.
"Tidak, Masalah. Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Apa yang terjadi di hutan itu kemarin?"
Tentu saja Griadin pasti akan menanyakan hal itu kepada Zen. Lagi pula akan aneh bagi dirinya yang merupakan seorang guild master tidak ingin tau apa yang terjadi setelah melihat kehancuan yang seperti itu.
"Yah jika aku harus mengatakannya maka aku akan mengatakannya. Disana ada seorang vampire yang menggiring para monster itu datang kesini, lalu aku bertarung dengannya."
Zen sama sekali tidak bohong kepada Griadin Dan yang lainnya, hanya saja dia lebih memilih untuk tidak mengatakan kalau vampire itu adalah seorang vampire murni yang turun dari dunia atas.
" Seorang Vampire?"
Tidak hanya wajah Griadin, wajah Grim dan Emerald juga menunjukan Ekspresi terkejut ketika Zen mengatakan hal itu.
__ADS_1