
Zen dan raja naga merah terus menerus beradu pukulan. Setiap pukulan yang mereka kerahkan memiliki kemampuan untuk membunuh naga yang berusia sekitar lima puluh tahunan.
Efek dari pertarungan mereka tidaklah kecil, setiap kali mereka beradu pukulan mereka selalu mengubah permukaan tanah. Sungai yang ada disekitar mereka menjadi kering dan pepohonan yang ada disekitar mereka menjadi abu.
Raja naga merah tau kalau pertarungan mereka tidak akan mencapai akhir jika mereka terus menerus beradu pukulan. Raja naga merah pun berhenti dan mulai berbicara kepada Zen.
"Untuk seorang vampire muda kekuatanmu cukup besar. Lebih besar dari para jendral naga kami."
"Terima kasih atas pujiannya, Raja naga merah yang terhormat."
Tidak hanya sekedar perkataan, Zen saat ini menunjukan sikap hormatnya kepada raja naga merah.
"Hoo, jadi kau tau siapa diriku. Meski begitu masih dapat dengan berani melawanku. Aku menyukai sikap beranimu itu, Siapa namamu vampire muda pemberani?"
"Zen, saya hanyalah seorang vampire muda yang sedang mencari pengalaman."
"Zen ya...? Nama yang bagus. Kalau begitu Zen, jika kau dapat menahan pukulanku yang satu ini maka aku akan membiarkanmu pergi."
"Terima kasih atas kebaikannya, raja naga merah yang terhormat."
Raja naga merah mengepalkan tinjunya. Dia memusatkan kekuatnnya pada tinjunya itu, kekuatan itu lima kali lebih besar dari pada kekuatan yang dia gunakan untuk saling beradu tinju dengan Zen.
Setelah selesai melakukan persiapannya, Raja naga merah dengan cepat menuju kerah Zen. Dia mengarahkan pukulannya tepat kewajah Zen.
Gelombang kejut yang dihasilkan dari pukulannya itu sangatlah besar. Gelombang kejut itu menghancurkan daerah sekitara mereka. Namun meskipun begitu, pukulan itu sama sekali tidak dapat melukai Zen. Pukulan raja naga merah terhenti beberapa centimeter tepat diwajah Zen.
"Sihir ruang dan waktu, dinding yang tak terlihat."
Tidak ada waktu untuk terkejut bagi raja naga merah. Dia segera mengetahui
kekuatan yang menghalagi pukulannya.
"Itu bukanlah kekuatan yang dapat digunakan oleh vampire muda sepertimu."
Seperti yang raja naga merah katakan, itu bukanlah kekuatan yang dapat digunakan oleh vampire muda. Bahkan vampire ataupun naga yang berusia seratus tahun juga belun tentu dapat menggunakan kekuatan itu.
Selain membutuhkan mana yang sangat banyak, sihir itu juga bukanlah sihir yang dapat digunakan dalam waktu singkat.
__ADS_1
Namun beda cerita jika Zen yang menggunakannya, meski Zen baru serusia tujuh belas tahun tapi sebagai leluhur pertama dia memiliki pengetahuan dan kekuatan yang setara dengan orang yang telah hidup selama ribuan tahun.
Zen memiliki kekuatan dan pengetahuan yang dimiliki oleh para pewaris yang sebelumnya. Karena itulah tidak aneh jika Zen dapat menggunakan sihir itu dengan mudah dan dalam waktu yang singkat.
"Siapa kau sebenarnya?"
"Hanya seorang vampire muda yang sedikit ahli dalam sihir."
"Sedikit ahli ya?.... Sudahlah, itu tidak penting lagi. Pukulan selanjutnya pasti akan mengenaimu."
"Bukankah anda bilang kalau tadi adalah yang terakhir?"
"Memang benar aku berkata seperti itu, tapi sekarang aku berubah pikiran."
Meski raja naga merah tidak tau kapan sihir milik Zen berakhir, namun Raja naga merah tetap memfokuskan kekuatan pada tangannya. Dia bersiap untuk menyerang kembali Zen begitu dinding yang tak terlihat didepan Zen menghilang.
"Haa, begitu ya. Tapi sayangnya pukulan yang selanjutnya mungkin juga tidak akan mengenaiku juga."
Raja naga merah menyadari apa yang dimaksud oleh Zen, dia melihat kesekelilingnya.
Raja naga merah kaget dengan daerah sekelilingnya. Puluhan lingkaran sihir mengelilingi raja naga merah.
"Bukankah sudah kubilang sebelumnya kalau aku sedikit ahli dalam sihir."
"Yang benar saja, seberapa besar kekuatan yang kau miliki?"
"Tidak terlalu besar, namun mungkin cukup untuk membunuh anda dalam satu kali penyerangan."
"Ini akan sedikit merepotkan."
Raja naga merah berhenti memfokuskan kekuatan pada tangannya. Raja naga merah kemudian mengangkat tangannya dan membuat sebuah lingkaran sihir besar berwarna putih.
"Dispel."
Sebagian besar lingkaran sihir milik Zen menghilang karena mantra sihir dispel.
"Sudah kuduga anda akan melakukan itu."
__ADS_1
Meski sebagian lingkaran sihir miliknya menghilang, Zen sama sekali tidak khawatir. Itu karena semua lingkaran sihir itu hanyalah umpan. Sejak awal Zen telah menggumpulkan kekuatnnya didaerah sekitar tangannya.
Zen kemudian mengarahkan sebuah pukulan kearah raja naga merah. Raja naga merah yang terlambat menyadari hal itu tidak dapat menggumpulkan kekuatan untuk menahan pukulan Zen.
Raja naga merah yang terkena pukulan zen itupun terhempas sejauh puluhan kilo meter.
"Untung saja itu berhasil, jika tidak.... Ugh."
Zen merasa kalau pandangannya semangkin gelap. Tubuhnya juga gemetaran dan semangkin lemas.
"Lebih baik aku kembali sekarang."
Zen membuka sihir gate miliknya. Zen memasuki sihir itu dan langsung berada dibukit tempat Irene dan Fernanse berada.
"Zen, apa yang terjadi denganmu?"
Fernanse keget dengan kemunculan Zen yang tiba tiba dan dengan keadaan tubub yang terlihat lemas.
"Fernanse ya?"
Zen tidak dapat melihat dengan jelas, tapi dia dapat menebak dari suara yang dia dengar.
"Tidak ada waktu untuk menjelaskannya. Untuk sekarang masuklah kedalam sihir ini."
Zen membuat sihir gate lagi.
"Yang benar saja, apa yang terjadi padamu Zen?"
"Tidak ada waktu untuk menjelaskannya, untuk sekarang masuklah kedalam sihir itu. Ugh...."
Zen memuntahkan banyak darah dari mulutnya.
"Cepatlah masuk Fernanse, Irene. Sebelum aku kehilangan kesadaranku."
Melihat keadaan Zen, Fernanse dan Irene langsung masuk kedalam sihir gate itu. Zen pun menyusul mereka berdua.
Setelah melewati sihir gate itu Zen langsung berada dikamarnya. Tanpa berbicara Zen menuju kekasur miliknya, Zen berbaring dikasur itu dan dia pun langsung menutup matanya.
__ADS_1