Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci

Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci
Keputusan Para Leluhur


__ADS_3

"Seperti yang kita semua tau kalau pedang suci yang berada dibawah perjanjian telah dicabut. Mencabut pedang suci itu sama saja dengan menyatakan perang keberbagai ras yang ada. Jadi sekarang kita akan memutuskan langkah apa yang akan kita ambil selanjutnya."


Elizabeth membuka pertemuan dan langsung membahas masalah utamanya.


"Meski kau bilang seperti itu, tapi bagaimana cara kita tau langkah apa yang harus kita lakukan?"


"Lapis apa kau tidak mendengarkan perkataanku barusan? Karena kita tidak tau itulah makanya kita mengadakan pertemuan ini."


Sejak awal Elizabeth telah tau langkah apa yang harus mereka lakukan selanjutnya, namun itu melakukannya dia memerlukan kesepakatan dari leluhur yang lain.


"Apa yang kau takutkan dari pedang itu Elizabeth? Tanpa pengguna maka pedang itu hanyalah sebuah bongkahan besi biasa."


"Kupikir setelah memasuki usia 70 tahun kau akan menjadi lebih pintar, tapi tak kusangka kau masih saja bodoh Cilkus."


"Apa maskud dari perkataanmu itu Elizabeth?"


"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Kau tadi mengatakan kalau tanpa pengguna maka pedang itu hanyalah sebuah besi biasa. Tapi apakah kau tau, jika pedang itu tercabut maka pasti pedang itu memiliki pengguna."


Elizabeth dengan tegas mengatakan kepada Cilkus.


"Iti tidak ada bedanya, meski pedang itu memiliki pengguna atau tidak. Bagiku pedang itu adalah sebuah besi biasa."


Semua sikap arogannya keluar begitu Cilkus mengatakan itu. Cilkus tidak memandang pedang suci sebagai ancaman, dia hanya menganggap Pedang itu sebagai besi biasa.


"Hanya besi biasa? Itu adalah perkataan yang sangat arogan Cilkus. Kau bahkan tidak dapat mengalahakan raja iblis peringkat ke 5, dan sekarang kau menganggap pedang itu sebagai besi biasa. Kurasa kau akan mati pada perang yang akan terjadi nantinya."


"Itu adalah perkataan yang cukup menghina bagiku, Tuan Argares."


"Kau merasa terhina atau tidak itu bukanlah urusanku, Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Aku rasa yang lain juga setuju dengan perkataanku barusan. Benar bukan semuanya?"


Argares melihat para leluhur yang lain.


"Aku rasa aku juga setuju dengan apa yang Argares katakan kalau kau terlalu arogan Cilkus. Tapi aku kurang setuju dengan perang yang dia katakan, kita bahkan belum memutuskan langkah kita selanjutnya."


Mabas Menjawab pertanyaan dari Argares. Mabas adalah seorang leluhur yang sangat mementingkan rakyatnya, Jika perang terjadi maka pasti akan banyak yang menderita. karena itulah dia kurang setuju mengenai perang yang Argares katakan.


"Saat ini kita memang belum memutuskannya, tapi jika keadaan mendesak kurasa kita memang harus berperang."

__ADS_1


Argares mengatak itu dengan sedikit menunjukan senyuman kearah Mabas.


"Kurasa itu tidak akan terjadi Argares, bagaimanapun juga kita harus mencari langkah lain yang lebih damai."


"Tidak Mabas, Kurasa kita juga harus mempertimbangkan apa yang baru saja dikatakan oleh Argares. Bagaimanapun juga ras manusia telah memanggil pahlawan, dengan begitu kuras perang tidak akan bisa dihindari lagi."


Leluhur ke 6 pewaris ke 9, Arcel memberikan pendapatnya. Sebelumnya dia hanya diam dan mengamati situasi. Setelah culup lama dia mengamati pembicaraan para leluhur yang lain, kini dia setuju dengan apa yang dikatakan oleh Argares.


"Ku rasa aku juga setuju dengan apa yang dikatakan oleh Arcel, mau bagaimanapun juga pahlawan adalah keberadaan yang cukup merepotkan."


Lapis setuju dengan yang dikatak Arcel. Pahlawan memang keberadaan yang cukup merepotkan, meski hanyalah seorang manusia tapi kekuatan mereka cukup besar jika mereka berlatih dengan benar.


"Saya rasa saya juga setuju dengan Tuan Arcel."


Setelah cukup lama mengamati, Zen akhirnya dapat memberikan pendapatnya. Mendengar Zen yang setuju dengan perang, para leluhur yang lainnya pun juga ikut setuju dengan perkataan Arcel.


Mendengar kalau banyak dari merek yang setuju, Argares dan Elizabeth tersenyum kecil. Mereka merasa senang ketika mereka tau kalau tidak perlu waktu lama bagi mereka untuk membuat para leluhur lain setuju untuk berperang.


Saat ini 9 leluhur setuju dengan perang jika keadaan memaksa mereka untuk berperang, Hanya Mabas lah yang masih belum setuju untuk melakukan perang walaupun keadaan memaksa.


"Aku rasa kita tetap harus mencari langkah lain selain berperang."


"Meski begitu Arcel, kita tetap harus mencari langkah lain yang lebih damai. Dan juga untuk jumlah pahlawan kurasa Elizabeth mengetahui jumlah mereka."


"Apa benar itu Elizabeth?"


"Iya Arcel Seperti yang Mabas katakan, aku tau jumlah pahlawan yang terpanggil."


"Kalau begitu katakan berapa jumlahnya Elizabeth."


"Dari informasi yang kudapat, ada 10 orang pahlawan yang terpanggil."


Elizabeth adalah leluhur yang memiliki wilayah terluas setelah Mabas, baginya informasi adalah sebuah senjata yang sangat penting. Dia manaruh banyak bawahannya di dataran manusia dan dataran iblis, dengan begitu Elizabeth dapat mengetahui informasi penting yang mungkin tidak diketahui oleh leluhur lainnya.


"Tu- tunggu sebentar Elizabeth, kau tadi mengatakan kalau pahlawan berjumlah 10 bukan?"


Lapis bertanya kepada Elizabeth dengan nada yang terdengar sedikit panik.

__ADS_1


"Iya, apakah ada masalah dengan itu Lapis?"


"Iya, itu adalah sebuah masalah. Mabas situasi saat ini lebih buruk daripada yang kuperkirakan. Karena itulah kurasa kita memang harus mengambil langkah untuk berperang, bukan untuk pada saat keadaan memaksa melainkan kita harus berperang sejak awal."


"Tunggu sebentar Lapis, kita semua sudah sepakat untuk berperang disaat keadaan memakasa. Kita tidak bisa begitu saja mengubahnya begitu saja. Atau apakah kau memiliki alasannya?"


"Ya, aku memilikinya."


"Kalau begitu katakanlah apa alasannya Lapis?"


"Jumlah pahlawan yang terpanggil ada 10 orang, dan didataran manusia ada 5 pedang suci dan 5 pedang terkutuk. Kau seharusnya mengerti dengan apa yang kukatakan."


Untuk sesaat Mabas memikirkan apa yang dimaksud oleh Lapis, tentu saja para leluhur yang lain juga berfikir. Elizabeth, Argares dan Zen, mereka bertiga sejak awal sudah mengetahui maksud dari perkataan Lapis. Hanya saja mereka berpura pura berfikir agar terlihat seperti tidak mengetahui maksud dari perkataan Lapis.


10 pahlawan, 5 pedang suci dan 5 pedang terkutuk. Sejak awal keberadaan pahlawan saja sudah menjadi hal yang merepotkan, apalagi jika mereka memiliki pedang suci atau terkutuk. Berbeda dengan penduduk asli dunia ini, para pahlawan memiliki tingkat kecocokan yang lebih tinggi dengan pedang suci ataupun terkutuk.


Berarti ada kemungkinan setiap pahlawan akan menggunakan pedang suci atau pedang terkutuk.


Setelah cukup lama berfikir, Mabas pun akhirnya mengerti maksud dari perkataan Lapis.


"Tapi Lapis, bukankah itu kecil kemungkinannya Terjadi? Akan sangat mustahil jika setiap pahlawan dapat menggunakan pedang Suci atau pedang terkutuk."


"Kemungkianan yang kecil itu sudah cukup untuk membuat kita waspada. Mabas apa kau tau berapa jumlah pahlawan yang terpanggil dalam perang 500 tahun yang lalu?"


"Bukankah itu 5 orang."


"Betul, dan ke 5 orang itu dapat menggunakan pedang suci. Sedangkan pedang terkutuk hanya terpakai 3 dan yang menggunakan pedang terkutuk adalah manusia dari dunia ini. Pada saat itu hanya 8 pedang yang terpakai, dan walaupun kita ras vampire menang dalam perang itu, kita juga mengalami kerugian yang besar. Karena itulah meski ras manusia lemah, kita tetap tidak boleh meremehkan mereka."


Manusia memang tas yang terlemah dari ras ras lainnya. Manusia juga menjadi semangkin lemah setiap generasinya, bahkan ras manusia sekarang tidak dapat menghunakan sihir kuno. Sihir yang digunakan oleh manusia hanyalah sebagian kecil dari kekuatan sihir kuno.


Meski begitu ras manusia tidak dapat dianggap remeh, disisi mereka terdapat 10 pedang terkuat didunia ini. 10 pedang itu hanya dapat digunakan oleh manusia. Mereka bahkan memiliki pahlawan disisi mereka, meski manusia dari dunia ini tidak terlalu kuat tapi ras yang lain tetap harus waspada dengan 10 pahlawan dan 10 pedang terkuat.


"Baiklah kurasa kau benar Lapis, mungkin kita memang tidak dapat menghindari perperangan."


Mendengar perkataan Mabas, Elizabeth dan Argares menjadi sangat senang. Senyum besar muncul diwajah mereka, karena ruang pertemuan tidak terlalu terang jadi tidak ada yang melihat senyuman mereka.


"Kalau begitu kita akan mengambil Suara. Bagi Leluhur yang mendukung perperangan silahkan angkat tangan kalian."

__ADS_1


Elizabeth mulai menghitung suara pendukung perang. Dari 10 leluhur yang hadir, mereka semua mendukung langkah perperangan.


__ADS_2