
Setelah cukup lama berfikir Mabas pun akhirnya juga setuju untuk berperang. Semua leluhur setuju untuk melakukan perang. Meski Mabas tidak menyukai peperangan namun dia tidak bisa menutup matanya pada situasi yang nantinya akan membahayakan rakyatnya.
"Kalau begitu kita semua setuju untuk berperang. Kuharap tidak penghianat diatara kita semua. Jika nantinya ada penghianat maka aku sendiri yang akan membunuh penghianat itu."
Elizabeth menatap leluhur yang lain sambil memberikan peringatan kepada mereka. Tentu saja tidak akan ada leluhur yang menganggap peringatan itu sebagai lelucon. Bagaimanapun juga Elizabeth adalah leluhur terkuat setelah Zen, jika dia serius untuk membunuh leluhur yang lain maka leluhur itu pasti akan kesulitan untuk melawannya.
"Kalau begitu, saat itu terjadi aku juga akan membantumu Elizabeth."
Cilkus mengatan itu dengan nada yang sedikit sombong.
"Apa yang bisa kau lakukan Ciklus, kau bahkan lebih lemah dari Ersain ataupun Bilion. Dengan kekuatanmu yang seperti itu kau hanyalah menjadi beban bagi Elizabeth."
"Memang benar aku lebih lemah dari mereka berdua. Tapi apakah kau tau Argares? Aku
bukanlah yang terlemah dari kita para leluhur."
"Ho hoo, jika kau bukan yang terlemah lalu siapa yang terlemah diantara kita semua?"
"Bukankah itu sudah jelas? Yang paling lemah diantara kita adalah leluhur yang disana."
Cilkus menunjuk kearah Zen yang sedang Berdiri.
"Diantara kita semua dialah yang paling lemah."
Mendengar peryataan dari cilkus para leluhur lain terdiam untuk sesaat. Meski ada lebih dari 15 orang yang berada diruangan itu, namun tidak ada satupun orang yang berbicara. Keheningan berlangsung cukup lama, samapai salah satu seorang leluhur berbicara.
"Cilkus apakah kau serius mengatakan itu?"
Leluhur itu adalah Arcel. Dia bertanya kepada Cilkus dengan sedikit kaget.
"Ya, tentu saja aku serius Arcel."
"Cilkus dia adalah pewaris dari leluhur pertama, kau tidak bisa berkata seperti itu kepadanya."
Arcel memperingati Cilkus dengan nada yang sedikit kaku.
"Apa yang kau takutkan Arcel? Meski dia adalah pewaris dari leluhur pertama, bagaimanapun juga dia dulunya hanyalah seorang manusia. Tubuhnya pasti tidak akan mempu menerima semua kekuatan leluhur pertama."
Mendengar perkataan Cilkus, Arcel menjadi diam. Arcel lebih memilih berhenti untuk mempertingatkan Cilkus daripada dia terkena masalah.
"Sikap Aroganmu mungkin sudah tidak disembuhkan lagi Cilkus."
Kali ini Lapis memberikan komentarnya kepada Cilkus. Bagi Lapis perkataan Cilkus sudah terdengar sangat arogan.
__ADS_1
"Lapis benar Cilkus, perkataanmu barusan terdengar sangat arogan. Pertama kau mengatakan kalau pedang suci hanyalah sebuah besi biasa, dan sekarang kau mengatakan kalau Zen adalah yang terlemah diantara kita semua. Aku tidak tau lagi apa yang harus kukatakan kepadamu."
Argares menyerah terhadap Cilkus, dia tidak tau apa yang harus dia katakan lagi. Bagi Argares fakta kalau Zen dulunya adalah manusia tidak membuatnya memandang rendah Zen.
Tidak peduli apa ras Zen dulu, sekarang Zen adalah Pewaris dari leluhur pertama. Leluhur yang paling kuat diantara para Leluhur lainnya. Meski Argares tau kalau kekuatan Zen saat ini tidak sedang keadaan penuh, tapi Menurut Argares kekuatan itu sudah cukup untuk membuat leluhur ke 6 sampai 10 terbunuh oleh Zen.
Para leluhur selain Cilkus pun memiliki pemikiran yang sama dengan Argares. Hanya saja yang membedakannya adalah mereka tidak tau kalau kekuatan Zen sedang tidak dalam keadaan penuh.
"Yang benar saja, apa kalian semua takut dengannya?
Melihat reaksi para leluhur yang lain, Cilkus menjadi binggung dan bertanya kepada mereka. Bagi Cilkus para leluhur Vampire adalah keberadaan yang paling tinggi didunia ini, dia menganggap kalau para leluhur vampire seharusnya tidaklah takut terhadap ras lain.
Karena permikiran seperti itulah Cilkus menjadi orang yang sangat sombong. Cilkus menganggap semua ras lainnya berada dibawahnya, kerena itulah Cilkus sanggat memandang rendah Zen meskipun dia adalah leluhur pertama.
"Apa kalian benar benar taku padanya?"
"Sudah cukup Cilkus, jangan mengatakan apa apa lagi."
Mabas memberikan sebuah peringatan kepada Cilkus.
"Mengapa? Dia bisa saja menghianati Kita nantinya. Apa kau tidak masalah dengan itu Mabas?"
Cilkus bertanya dengan kuat kepada Mabas, namun Mabas hanya diam saja.
Dari kejauhan Cilkus dapat mendengar suara, Itu adalah Zen. Pada awalnya Zen tidak ingin sedikitpun mananggapi perkataan Cilkus, namun begitu Zen mendengar kalau dirinya dicurigai akan menghiati Para leluhur yang lain Zen langsung menaggapi perkataan Cilkus.
"Apa yang kau bilang bocah? kapan aku bilang kalau yang kukatakan adalah sebuah lelucon?"
Cilkus menatap Zen dengan tajam sambil mengintimidasinya, namun intimidasi itu tidak berguna untuk Zen yang lebih kuat darinya.
"Bukankah semua yang anda katakan selama pertemuan ini adalan lelucon?"
Zen menunjukan senyuman yang mengejek kepada Cilkus. Melihat senyuman yang Zen tunjukan kepadanya, Cilkus menjadi kesal. Dia mengeluatkan aura intimidasi lebih besar dari sebelumnya.
"Ada apa tuan Cilkus, bukankah apa yang kukatakan benar?"
Zen tau kalau Cilkus menjadi sangat kesal karena perkataanya, kerena itulah Zen terus memanas manasinya.
"Sudah cukup Zen, jangan memprovokasinya."
Elizabeth menyuruh Zen untuk berhenti memprovokasi Cilkus sebelum keadaan menjadi kacau.
"Anda salah paham nona Elizabeth, saya sama sekali tidak memprovokasi tuan Cilkus. Saya hanya ingin mengatakan beberapa hal kepada tuan Cilkus."
__ADS_1
"Kalau begitu segeralah katakan, tidak usah memprovokasinya."
"Baiklah jika memang nona Elizabeth menyuruhku begitu."
Zen melihat kearah Cilkus berada, saat ini Cilkus sedang sangat kesal karena Zen.
"Tuan Cilkus, saya tidak keberatan jika anda merendahkan saya. Hanya saja, saya paling tidak suka jika disebut sebagai penghianat. Jadi saya harap anda tidak pernah menyebut saya penghianat, dan juga anda sebaiknya melihat kembali garis keturunan anda."
"Apa yang kau maksud dengan Garis keturunan?"
Cilkus bertanya kepada zen dengan kesal.
"Yang kumaksud adalah anda lebih baik melihat diri anda melalui cermin. Jika saya tidak salah ingat pewaris leluhur ke 7 pada perang 500 tahun adalah seorang pria dari keluarga Cilius. Pada saat itu dia menghianati para leluhur yang lain. Anda adalah keturunan dari orang itu, bukankah itu berarti ada adalah orang yang paling mungkin untuk menghianati kami? Benar bukan Tuan Cilkus Cilius?"
Cilkus menjadi sangat marah setelah mendengar perkataan Zen. Dia mengeluatkan aura intimidasi yang lebih besar dari sebelumnya. Cilkus berjalan mendekati Zen.
"Bocah bukankah perkataanmu itu sudah sangat keterlaluan. Meski kau adalah leluhur pertama tapi kau dulunya hanyalah manusia. Kau bukanlah tandingan untukku."
Cilkus berhenti dihadapan Zen, Cilkus menatap Zen dengan tatapan yang memperlihatkan keinginannya untuk membunuh yang Zen.
"Apakah benar begitu?"
"Ya, kau adalah keberadaan paling menjijikan yang berada ditempat ini..."
Untuk sesaat Cilkus berhenti berbicara begitu dia melihat Irene yang sedang berada dibelakang Zen.
"Tidak, kutarik perkataanku. kau bukanlah keberadaan paling menjijikan yang berada disini, melainkan sekretarismu itulah yang merupakan keberadaan paling menjijikan disini. Jika aku tidak salah lihat bukankah dia adalah darah campuran dari vampire dan manusia!"
Cilkus datang mendekati Irene, Cilkus mengarahkan tanganya kearah Irene. Irene Hanya diam saja, dihadapan Cilkus Irene hanyalah keberadaan yang tidak akan dapat melawannya. Tangan Cilkus menjadi sangar dekat dengan Irene.
"Berhenti tuan Cilkus, jangan pernah mencoba untuk menyentuhya."
Sebelum tangan Cilkus dapat menyentuh Irene, Zen dengam Cepat memegang tangan Cilkus. Zen memegang Tangan Cilkus dengan kuat.
"Apa maksudnya ini Bocah?"
"Seperti yang kubilang jangan pernah mencoba untuk menyentuhnya."
"hoo, lalu apa yang akan kau lakukan jika aku menyentuhnya?"
"Jika anda melakukan itu... Maka aku akan membuat anda merasakan rasa sakit yang tidak akan dapat anda lupakan!"
"Perktaan yang bagus bocah. Kau berani mengancamku!! "
__ADS_1
Cilkus mengerluarkan aura intimidasi yang puluhan kali lebih kuat dari sebelumnya. Melihat besarnya aura yang dikeluarkan oleh Cilkus kepadanya, Zen tidak hannya diam. Zen juga mengeluarkan aura intimidasi yang sangat kuat yang diarahkan Ke Cilkus.