Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci

Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci
Pertarungan


__ADS_3

"Lebih baik kalian cepat saling menjatuhkan, tidak usah pedulikan aku karena aku pasti akan lolos pada babak ini."


Kedua orang itu lalu langsung menatap Zen, mereka kurang menyukai apa yang Zen katakan barusan. Karena itu Mereka berdua memutuskan untuk mengeluarkan Zen dari arena.


Kedua orang itu dengan cepat menyerang Zen.


"Kalian mengambil keputusan yang sangat buruk."


Kedua orang itu meyerang Zen dengan terus menerus tanpa henti, pukulan demi pukulan terus mereka lakukan.


Zen terus menahan pukulan kedua orang itu, hingga akhirnya dia melihat garis arena yang mulai mengecil.


"Sepertinya sudah saatnya mengeluarkan salah satu dari kalian."


Zen dengan cepat memukul salah satu mereka, orang itu tidak dapat menahan pukulan Zen dan diapun keluar dari arena.


"Berhenti."


Aba aba dari pengawas telah keluar, dengan ini tinggal tersisa 20 orang dari 100 orang.


"Bersyukurlah Karena bukan kau yang terkena pukulan tadi."


Zen memegang bahu pria itu dan pergi menuju ketempat peserta yang lain.


"Mulai sekarang pertarungan akan ditentukan dengan undian setiap peserta silahkan ambil undian kalian."


Zen gambil undiannya dan dia mendapatkan nomor 5. Zen lalu mencari orang yang mendapatkan nomor 6 karena orang itu pasti akan menjadi lawannya.


"Sepertinya keberuntungan mu sangat buruk."


Orang yang memegang nomor 6 adalah pria muda yang lolos bersamaan dengan Zen tadi.


"Karena aku berbaik hati aku akan memberimu kesempatan untuk menyerah."


"Aku menolak, aku akan tetap melawanku."


"Begitu ya, jangan sampai menyesali apa yang telah kau putuskan."


Zen melihat kearah arena, pertandingan yang pertama telah dimulai.


Kedua orang yang sedang bertarung itu mengeluarkan senjata mereka yang tidak mereka pakai dipertarungkan sebelumnya.


Yang satu adalah sebuah tombak ilahi tingkat 5 dan yang satunya lagi adalah sebuah pedang ilahi tingkat 4.

__ADS_1


'sepertinya hadiah dari turnamen ini jauh lebih besar daripada yang dikatakan orang itu.'


Kedua orang itu sudah memiliki senjata tingkat ilahi, seharusnya tidak ada alasan lagi bagi mereka untuk memperebutkan senjata dengan tingkat yang sama dengan milik sendiri.


'apa mungkin hadiah seni beladiri adalah tujuan mereka berdua.'


Namun jika begitu seharusnya tidak ada alasan bagi para pengguna mana untuk ikut kedalam turnamen. Itu karena Para pengguna mana Tidak akan dapat menggunakan seni beladiri itu.


'sepertinya ada sesuatu yang menarik perhatian para orang orang lemah ini.'


Zen penasaran dengan apa yang diincar oleh para peserta turnamen ini. Zen kembali melihat pertarungan kedua orang itu, sang pengguna tombak mendominasi pertarungan.


Banyak luka dapat terlihat ditubuh pria yang menggunakan pedang itu, namun ditubuh pria yang menggunakan tombak hanya dapat terlihat sedikit luka.


Pria yang terus menyerang dengan menggunakan tombaknya tanpa henti, dan akhirnya pria yang menggunakan pedang itupun kalah.


"Selesai, sekarang babak kedua."


Seorang wanita yang terlihat tanpa ekspresi naik keatas arena, tidak lama kemudian naik juga seorang pria yang terlihat cukup sombong.


"Mulai."


Aba aba dari pengawas terdengar.


Pria itu terus menerus mengejek wanita itu karena dia berada ditingkat yang lebih rendah dari dirinya.


'sudah berakhir untuk pria bodoh itu."


Meski tingkatan wanita itu lebih rendah, namun Zen tau kalau kekutan wanita itu jauh lebih kuat daripada pria itu. Kekalahan pria itu telah dapat ditentukan sejak dia meremehkan wanita itu.


"Kau terlalu banyak berbicara, kalahkan aku jika kau memang memiliki kekuatan."


Pria itu menjadi kesal kerena perkataannya, dia dengan cepat mengeluarkan pedangnya dan menyerang wanita itu.


"Dinding api."


Sebuah api yang berkobar muncul didepan wanita itu, beruntung bagi pria itu karena dia dapat menghindari sihir api itu.


Wanita itu lalu memanfaatkan dinding api itu dan membuat sebuah sihir yang lain, bilah bilah angin yang tajam menuju kearah pria itu dengan cepat.


Namun bilah bilah angin itu tidak memiliki banyak efek, dengan pedang semi ilahi Milik pria itu dapat dengan mudah menghancurkan bilah bilah angin itu.


Pria itu lalu dengan cepat menyerang wanita itu, pria itu terus menyerang wanita itu dan sama sekali tidak memberikannya belah untuk membuat sihir.

__ADS_1


'wanita itu, dia bukanlah penyihir.'


Dari melihat gerakannya saja Zen dapat tau, gerakan wanita itu terlihat seperti gerakan seorang ahli pedang.


Wanita itu cepat dengan mudah menghindari serang pria itu, dia terus menghindar sambil menyerang dengan menggunakan sihir sihir yang sangat tidak berguna.


'apa yang sedang direncanakan wanita itu.'


Zen sedikit penasaran dengan apa yang wanita itu ingin lakukan. Semua sihir yang wanita itu gunakan bukanlah sihir yang dapat melukai pria itu, namun dia masih saja terus mengeluarkan sihir seperti itu.


Seolah -olah wanita itu sedang mengulur waktu untuk sesuatu, Zen lalu melihat keatas langit dan melihat sesuatu yang menarik.


Beberapa lingkaran sihir terbentuk disana, kemungkinan besar apa yang dilakukan wanita itu adalah mengulur waktu hingga lingkaran sihir aktif.


'sepertinya akan segera berakhir.'


Pria itu sama sekali tidak menyadari keberadaan lingkaran sihir itu, dia terus saja menyerang wanita itu dengan pedangnya.


Perempuan itu sedikit tersenyum, dia tidak menyangka kalau pria yang dia lawan itu sangatlah bodoh hingga tidak menyadari keberadaan lingkaran sihir itu.


Pada akhirnya lingkaran sihir itu pun aktif dan mengeluarkan banyak panah api, panah api itu menuju kearah kedua orang itu dengan sangat cepat.


'apa yang dipikirkan oleh wanita itu?'


Meski banyak panah api yang menuju kearah mereka namun wanita itu masih saja tidak menunjukan tanda tanda akan menghindarinya.


Jika pertarungan itu terus berlanjut maka kedua orang itu pasti akan terkena panah api itu.


Begitu panah api telah berjarak sangat dekat, wanita itu lalu mengeluarkan sebuah pedang dan menghancurkan semua panah api yang akan mengenai tubuhnya.


Namun berbeda dengan wanita itu, pria itu sama sekali tidak dapat melakukan apapun. Cukup banyak anak panah yang menancap dipunggung nya, sekarang bahkan hampir kesulitan untuk bergerak


"Jadi ini yang telah kau rencanakan?"


"Karena kau bodoh jadi aku berfikir kalau cara ini pasti akan berhasil."


"Hahh, pada akhirnya ini berakhir seperti yang kau inginkan."


"Itu berkat dirimu."


Wanita itu lalu mengarahkan pedangnya ke leher pria itu dan langsung memotongnya.


"Wanita yang cukup menarik, aku sangat ingin mencoba untuk melawannya. Namun untuk saat ini aku harus melawan bocah kecil itu dulu."

__ADS_1


Pertandingan ke 2 telah selesai, sekarang adalah giliran Zen untuk naik ke atas arena.


__ADS_2