Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci

Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci
Zen dan Fernanse


__ADS_3

"Jadi, setelah ini apa yang akan kau lakukan Zen?"


Fernanse terus menerus menembakan puluhan bola api dengan diameter 30 cm kearah Zen.


"Entahlah, aku juga masih belum memikirkannya."


Dengan pedang terkutuk ditangan kanannya, Zen terus menebas bola api yang menuju kearahnya. Pedang terkutuk itu adalah pedang yang dia dapatkan dari menara Ai, pedang itu dapat menetralkan sihir yang lemah seperti bola api.


"Meski kau masih belum memikirkan nya, namun entah kenapa kau terlihat santai santai saja."


Fernanse Menganti sihir bola api miliknya menjadi anak panah hitam sepanjang 30 cm. Anak Panah hitam itu memiliki kekuatan 5 kali lebih kuat dari sihir bola api yang sebelumnya.


"Bukankah aku selalu terlihat santai?"


Zen membuat sebuah dinding transparan didepannya, dinding itu terbuat dari sihir ber-elemen cahaya. Jadi sihir itu dapat menahan panah panah hitam itu yang merupakan sihir ber-elemen kegelapan.


"Kau memang selalu terlihat santai. Apa rencanamu berjalan dengan lancar?"


Fernanse menambah jumlah anak panahnya, sekian jumlah Fernanse juga menambah elemen yang ada dianak panah. Anak panah dengan elemen api, petir, angin dan kegelapan terus menerus Fernanse arahkan ke Zen.


"Yah, mungkin bisa dibilang begitu."


Zen menghilangkan dinding transparan yang ada didepannya, dengan cepat Zen memotong anak anak panah yang menurut Zen akan mengenai dirinya.


Namun tidak peduli seberapa banyak Zen memotong anak panah itu, anak anak panah yang Fernanse gunakan tidak ada habisnya. Hingga sebuah anak panah dengan elemen api mengenai Zen, anak panah itu menciptakan sebuah ledakan yang cukup kuat hingga memicuk ledakan anak panah yang lain.


Ledakan terus terjadi ditempat Zen berada, Fernanse pun berhenti menyerangnya. Setelah beberapa saat semua ledakan itupun selesai, debu debu yang berterbangan pun mulai menghilang.


Disana dapat dilihat Zen masih berdiri dengan tegak dengan debu debu yang ada di bajunya.


"Yah, kau tau itu sihir yang sedikit berbahaya."


Zen sedikit tersenyum kepada Fernanse sambil membersihkan debu debu yang ada di bajunya.


"Kurasa itu memang sedikit berbahaya, jika manusia bisa yang terkena mereka pasti akan mati tanpa bisa dikenali."


Dengan kata lain jika manusia biasa yang terkena sihir itu maka manusia itu akan menjadi abu atau tubuhnya akan hancur hingga tidak dapat diketahui identitasnya.

__ADS_1


"Namun sayangnya aku adalah vampire bukan manusia."


"Ah, mengenai ras mu itu. Aku sudah cukup lama penasaran, mengapa kau bisa menjadi seorang vampire hanya karena menerima kekuatan itu?"


"Itu karena....."


"Yang mulia!!"


Zen hendak memberitau Fernanse alasannya, namun dia tidak jadi mengatakannya karena Irene memanggilnya.


"Ada apa Irene?"


"Ada surat dari nona Elizabeth."


'Surat? Apa yang diinginkan olehnya?'


Belum lama sejak mereka terakhir kali bertemu, namun sekarang Elizabeth mengirimi Zen sebuah surat. Zen sama sekali tidak dapat memahami tindakan yang dilakukan oleh Elizabeth saat ini.


"Baiklah, aku akan kesana."


"Baiklah, saya akan menunggu anda disini."


"Fernanse, Untuk pembicaraan kita yang tadi aku akan melanjutkan nya lain kali."


"Baiklah, akan menantikan datangnya hari itu."


Zen langsung dengan cepat menuju ketempat Irene. Dalam hitungan detik Zen sudah ada didepan Irene.


"Mana suratnya?"


"Ini yang mulia."


Irene menyerahkan surat dari Elizabeth. Ketika Zen memegang surat itu dia merasakan sesuatu yang aneh dari surat itu, Zen mencoba untuk membukanya namun tidak bisa.


Surat itu terpasang sebuah segel yang mana hanya para leluhur vampire yang tau cara membukanya.


Zen langsung membuka segel surat itu dan membaca isinya. Zen terkejut dengan isi dari surat itu, sangkin terkejutnya dia bahkan hampir tertawa.

__ADS_1


"Apa kepala menjadi rusak karena kalah dari kaisar naga, bahkan surat seperti ini sampai dia kasih segel."


Isi suratnya adalah sebuah undangan untuk menghadiri pertemuan para leluhur vampire. Bisa dibilang itu tidak ada bedanya dengan surat biasa, pada undangan yang sebelumnya Elizabeth tidak memasang segel namun kali ini Elizabeth memasang segel pada surat itu. Hal itu membuat Zen merasa aneh dengan tindakan yang dilakukan oleh Elizabeth.


"Apa isinya yang mulia?"


"Hanya sebuah undangan biasa."


"Apakah anda akan menerima undangan itu?"


"Tentu saja aku akan datang, jika tidak aku bahkan tidak tau apa yang dia lakukan kepadaku."


"Begitu ya."


"Ya."


Pada undangan itu tertulis kalau pertemuan akan dilakukan pada malam hari ini, sedangkan sekarang matahari telah hampir tenggelam.


Tidak banyak waktu yang tersisa, Zen pun langsung membuka gate untuk pergi ketempat Elizabeth.


"Kalau begitu aku pergi dulu Irene."


Zen langsung masuk kedalam gate itu dan gate pun langsung tertutup.


Setelah Zen pergi Fernanse langsung mendatangi Irene.


"Nona Irene, kemana Zen pergi?"


"Ntahlah, saya juga kurang tau. Mungkin ada hubungannya dengan perang yang akan terjadi nanti."


"Begitu ya, kuharap perang itu benar- benar terjadi. Lagi pula aku ingin melihat dirinya yang sebenarnya."


Fernanse pergi meninggalkan Irene sendiri. Irene terus menatap Fernanse yang berjalan menjauh darinya hingga dia tidak dapat lagi melihat Fernanse.


"Perang pasti akan terjadi, hanya saja ketika dia kembali ke dirinya yang sebenarnya kita sudah tidak ada didunia ini Nona Fernanse."


Irene pun pergi meninggalkan ruangan latihan itu dengan sebuah tatapan kosong dimatanya.

__ADS_1


__ADS_2