
******
Zen duduk dikamarnya sambil mengelap ngelap kedua pedang terkutuk miliknya untuk menghilangkan kebosanan. Sudah cukup lama semenjak dia meninggalkan ruangan Irene, namun Irene masih belum datang juga.
Zen kemudia mengeluarkan sebuah belati dan dia melukai tangannya dengan belati itu. Zen mengamati luka yang kembali pulih itu.
"Ternyata memang melambat ya."
Meski tidak pasti perbedaan waktunya, namun Zen merasakan kalau kekuatan regenerasinya melambat.
Tidak lama setelah itu, pintu kamar Zen terbuka. Irene masuk dengan mengendong Fernanse dikedua tangannya.
"Saya telah siap yang mulia."
Mendengar perkataan Irene, Zen kemudian berdiri dan membuka sebuah pintu yang menuju ruangan bawah tanah.
Tanpa banyak berbicara mereka langsung memasuki ruangan itu, lorong yang tadinya gelap itu langsung menjado terang karena lilin lilin yang ada didinding.
Lilin lilin itu akan menyala secara otomatis ketika ada orang yang memasuki ruang bawah tanah. Zen dan Irene terus berjalan melewati lorong lorong itu.
Setelah beberapa saat mereka akhirnya sampai ketempat tujuan mereka, sebuah ruangan yang tampak seperti tidak pernah dibersihkan dengan banyak kristal kristal kecil yang berserakan. Ruangan itu adalah tempat dimana tubuh Fernanse disegel dalam kristal.
"Pergilah kesana Irene."
Zen menyuruh Irene untuk berdiri disebuah lingkaran sihir yang besar sambil menggendong Fernanse.
"Yang mulia, apa perlu anda melakukan hal ini?"
"Maafkan aku Irene."
"Apanya yang maafkan aku, kau pembohong Zen."
Irene menunjukkan sebuah wajah yang terlihat akan menangis.
"Maafkan aku."
Irene meletakan Fernanse dan mendekati Zen.
__ADS_1
"Kau pembohong Zen, kau pembohong."
Irene memukul mukul Zen dengan pelan, Air mata mulai berjatuhan dari pelupuk matanya, Irene menangis dengan cukup kuat.
"Ini tidak seperti dirimu Irene."
Irene yang biasanya hanya akan menunjukan sebuah muka tanpa ekspresi, namun kali ini dia benar- benar berbeda dari yang biasanya. Irene terus menerus menangis didalam pelukan Zen.
"Meski aku tau hari ini akan datang, tapi tetap saja sulit bagiku untuk meninggalkan mu Zen."
"Aku tau itu Irene."
"Aku selalu berharap masa depan akan berubah, aku telah melihat ribuan cabang masa depan namun pada akhirnya semua cabang itu terhubung dihari ini."
"Masa depan itu sangat sulit untuk diubah Irene, untuk mengubah masa depan kau harus menjadi lebih kuat dari pada kehendak dunia ini."
"Aku tau itu, tapi aku tetap saja berharap hari ini tidak akan datang."
Zen hanya terdiam tanpa mengatakan apapun, jauh didalam lubuk hatinya dia juga tidak ingin meninggalkan Irene. Namun dia tidak memiliki pilihan lagi, bagi Zen melihat kepergian Irene dalam keadaan hidup jauh lebih baik dari pada melihat kepergian Irene dalam keadaan mati.
"Zen, apa kau bisa mengabulkan permintaan ku?"
Irene tidak mengatakan apa yang dia inginkan, Irene langsung mencium bibir Zen.
Setelah beberapa saat, Irene melepaskan ciuman itu dan melihat kearah Zen.
"Aku menyayangimu Zen."
Sebuah senyuman cerah Irene tunjukan kepada Zen, itu adalah senyuman yang belum pernah Zen lihat sebelumnya.
"Aku juga menyayangimu Irene."
Sebuah senyuman cerah dan halus Zen tunjukan kepada Irene.
"Aku tau itu Zen."
Zen kemudian mengelap air mata yang ada diwajah Irene, lalu Dengan kedua tangan miliknya Zen menggendong Irene menuju lingkaran sihir yang ada didepannya.
__ADS_1
"Apa kau ingin aku menghapus ingatanmu Irene?"
"Tidak, aku ingin seperti ini saja."
"Baiklah, kalau begitu terimalah ini."
Zen memberikan sebuah kertas kepada Irene, kertas itu adalah kertas yang dibuat Fernanse dengan menanamkan sihir perlindungan didalamnya.
"Celah dimensi sangat berbahaya, jika kau menemukan mahluk hidup disana maka alirkan mana mu kedalam kertas ini dan dia akan melindungi mu."
Irene menerima kertas dari Zen, dan Zen pun langsung keluar dari lingkaran sihir itu.
"Aku tidak tau kau akan diturunkan di dunia mana, namun kuharap kau akan turun didunia yang damai tanpa ada perperangan."
Zen langsung mengaktifkan lingkaran sihir itu, lingkaran sihir itu adalah lingkaran sihir yang dapat memindahkan seseorang kedunia yang lain.
Sebuah cahaya emas menyinari lingkaran sihir itu, bagaikan lampu yang meredup, tubuh Irene dan Fernanse mulai hilang secara perlahan.
"Aku akan berdoa untuk keselamatan mu Zen, sampai jumpa kembali."
Tubuh Irene dan Fernanse telah menghilang sepenuhnya, cahaya emas pada lingkaran sihir itu juga telah menghilang.
Dari wajah Zen, sebuah air mata mulia berjatuhan. Dia mencoba untuk mengelap air mata itu, namun air mata terus mengalir Tanpa henti.
"Sudah berapa lama aku tidak menangis."
Zen menatap langit langit dan menutup matanya. Emosi Zen yang seharusnya telah menghilang kini telah kembali.
"Ternyata benar, emosiku mulai kembali sejak saat itu."
Rasa kesal Zen yang besar kepada Zmei membuat emosinya yang tadinya tertidur mulai terbangun secara perlahan. Karena itulah pada saat itu kekuatan regenerasi nya mulai melambat.
Sebagai ganti tubuh yang abadi Zen harus kehilangan emosinya, sekarang emosinya telah kembali dan Zen tidak lagi memiliki tubuh abadi.
Dengan tubuh yang dapat hancur kapan saja itu, Zen mengambil keputusan untuk mengirim Irene pergi kedunia lain sebelum Abrials menyerang kastilnya.
"Didunia ini aku tidak lagi memiliki seorang yang kusayangi, maka selanjutnya aku tidak perlu lagi menahan diri. Aku tidak peduli lagi dengan apa yang akan terjadi dengan dunia ini."
__ADS_1
Dengan wajah yang masih lembab karena air mata, Zen pergi meninggalkan ruangan itu dan kembali ke kamarnya. Lilin- lilin yang hidup kini mulai mati dan lorong itu menjadi gelap kembali.