Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci

Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci
Roh Penjaga Yang Baik


__ADS_3

"Kau bilang aku boleh mengambilnya?"


'Ya, aku bilang jika kau ingin mengambilnya maka silahkan ambil."


Dia cukup aneh, dilantai sebelumnya aku harus melakukan beberapa hal untuk mendapatkan berkah itu. Namun kali ini dia membiarkanku untuk mengambil berkah itu, aku juga tidak merasakan kalau dia berbohog kepadaku.


"yahh, untung saja kau adalah roh yang baik tidak seperti roh yang menyebalkan sebelumnya. Kalau begitu aku akan mengambilnya dengan senang hari."


"Memangnya apa yang terjadi antara kau dan roh yang menjaga berkah dilantai bawah?"


"Lantai satu dan dua tidak memiliki roh penjaga, tapi aku harus merasakan sakit pada jiwaku dan menghadapi sekumpulan monster lemah. Sedangkan dilantai ketiga disitu memang ada roh angin yang menjaga berkahnya, namun dia cukup menyebalkan. Dia bahkan melakukan akting ketika aku pertama kali bertemu dengannya."


Banyak tantangan berbeda yang harus kuselesaikan untuk mendepatkan berkah dilantai sebelumnya, dilantai satu aku harus mersakan sakit pada jiwa. Dilantai kedua aku memang tidak merasakan sakit namun melawan sekelompok rubah api yang lemah itu cukup merepotkan.


Dilantai ketiga sendiri aku harus memberikan sesuatu yang dapat memuasakan si roh angin. Memberikan sesuatu untuk memuskannya memang bukanlah hal yang sulit, namun aktingnya yang membuatku berfikir kalau dia adalah roh yang seperti anak manja adalah hal yang membuatku cukup kesal kepadanya.


"Heh,yah roh angin itu memang sangat merepotkan."


"Ya, betul sekali"


"Hahahaha"


Kami berdua tertawa dengan riang. Roh ini sepertinya mengenal roh angin itu, jika dilihat dari sifat mereka, mereka berdua sepertinya tidak akur satu sama lain.


"Zen dari tadi kau bicara dengan siapa?"


Ziyun bertanya padaku dengan ekspresi yang terheran heran, tapi aku lebih heran lagi dengan pertanyaanya. Mengapa dia betanya begitu, apa dia tidak bisa melihat roh itu. Jelas jelas roh itu saat ini berada didekat ku.


"Ziyun apa kau tidak melihat sesuatu didekatku?"


"Aku hanya dapat melihat altar yang dikekatmu apakah ada sesuatu yang lain didekatmu? Atau kau memang berbicara dengan altar itu?"


Jadi dia memang tidak bisa melihat roh itu, tapi mengapa aku bisa melihatnya.


"Hoy mengapa dia tidak bisa melihatmu?"

__ADS_1


"Kapasitas Mana Gadis kecil itu masih sangat sedikit, karena itulah dia tidak dapat melihatku."


Jadi alasan ziyun tidak dapat melihatnya adalah karena kapasitas mana ziyun sangat sedikit, ya kurasa itu sangat normal kalau mananya sangat sedikit. Dia sebelumnya hanyalah gadis desa biasa, dan juga dia pertama kali menggunakan sihir adalah saat kami berada dilantai tiga.


"Begitu ya."


"Ya"


"Ngomong ngomong apakah berkah itu adalah bagian dari dirimu?"


"Hebat juga kau bisa tau, berkah itu memang bagian dari diriku. Darimana kau dapat mengetahuinya?"


"Hanya asal menebak."


"Heh, hebat ya."


Aku jadi merasa sedikit bersalah pada roh ini, dia terus mengatakan aku hebat karena mengetahui kalau berkah itu adalah bagian dari dirinya. Jika sudah begini akupun sudah tidak memiliki kesempatan lagi untuk memberitaunya kalau aku tau dari roh yang ada dilantai tiga.


"Karena kau sudah memperbolehkanku ntuk mngabil berkah itu maka aku akan mengambilnya sekarang."


Aku langsung mengambil berkah yang keempat, ini adalah berkah terbaik yang pernah aku ambil dari semua berkah yang sebelumnya. Untuk mengambil harta ini aku tidak perlu merasakan sakit pada jiwa, tidak perlu melawan sekelompok monster yang lemah, dan tidak perlu memuaskan sang penjaga. Tanpa diragukan lagi ini adalah berkah yang terbaik.


"Sudah saatnya aku menghilang."


Tubuh roh itu perlahan mulai menghilang, tubuhnya berubah menjadi transparan.


"Ya"


"Pertemuan kita selanjutnya adalah saat kau sudah menarik pedang yang diatas, pada saat itu aku akan memberitamu namaku."


Sama seperti roh angin dia tidak memberitauku namanya, mereka berkata akan memberitaukan nama mereka ketika aku sudah menarik pedang yang ada dilantai sembilan.


Setelah dia menghilang sepenuhnya tangga untuk kami menuju kelantai berikutnya sudah mulai muncul.


"Jadi zen pada akhirnya kau tidak memberi tauku dengan siapa kau berbicara."

__ADS_1


"Maaf maaf aku lupa."


"Ya biarlah, jadi apa kita akan langsung keatas?"


"Ya, karena tangganya juga sudah muncul ayo kita pergi keatas."


"Iya"


^^^^^^^


Tidak tau sudah berapa lama kami telah berada dimenara ini, setiap waktunya yang kami lakukan hanyalah menaiki tangga dan mengambil berkah yang ada disetiap lantai. Setelah sekian lama kami berada dimenara ini, kami akhirnya berada pintu masuk ruangan berkah yang kedelapan. Ruangan itu benar benar berbeda dari ruangan dilantai lantai sebelumnya, ruangan itu tidak memiliki pintu jadi dari luar kami dapat melihat apa yang ada didalam. Didalam ruangan itu cukup gelap, hanya ada satu obor berapi biru yang menyala.Jika dilihat dari ruangan dan sisa berkah yang ada, maka tidak sulit untuk menebak berkah yang ada didalam ruangan itu.


Dilantai kelima berkah yang ada adalah berkah es, berkah itu juga dijaga oleh seorang roh. Sama seperti penjaga berkah yang berada dilantai keempat, dia membiarkanku mengambil berkah yang ada diruangan itu.


Berkah yang ada dilantai keenam adalah berkah magma, berkah itu jaga dijaga oleh sebah roh. Namun roh itu cukup menyebalkan seperti roh yang berada dilantai ketiga, namun dia bukan memintaku memberikan sesuatu untuk memuaskannya, melaikan menyuruhku untuk melawan sekelompok monster. Metodenya sama seperti yang kurasakan dilantai kedua, dia mengirimku ketempat lain dan menyuruhku melawan sekelompok monster lemah yaitu rubah api.


Penjaga berkah dilantai kelima maupun keenam tidak ada yang memberi taukan nama mereka, mereka hanya berkata jika kau telah mencabut pedang yang dilantai atas maka aku akan memberitau namaku. Dari empat roh penjaga yang kutemui tidak ada satupun dari mereka yang memberi taukan namanya, mereka hanya memberikan syarat yang sama padaku jika aku ingin tau nama mereka.


Dilantai ketujuh berkah yang ada adalah berkah cahaya, dilantai itu tidak memiliki sebuah roh penjaga. Hanya saja untuk medapatkan berkah cahaya aku harus meraskan sakit pada jiwaku, rasa sakit yang kurasakan untuk mendapatkan berkah cahaya adalah dua kali dari rasa sakit yang kuterima dilantai satu.


Jika diurutkan dari lantai satu sampai lantai ketujuh maka berkah yang kudapat adalah berkah api, air, angin, petir, es, magma dan cahaya. Jika dilantai ketujuh adalah berkah cahaya, maka tanpa diragukan lagi berkah yang ada dilantai kedelapan ini adalah berkah kegelapan.


"Ziyun ruangan didalam cukup gelap, apa kau masih ingin ikut bersamaku masuk kedalam?"


"Iya aku akan tetap masuk bersamamu."


"Baiklah kau bisa masuk bersamaku namun kau tidak boleh terlalu jauh denganku."


"Baik."


Kami masuk kedalam ruangan gelap yang hanya ada satu obor yang menerangi, dari semua ruangan yang ada dimenara ini hanya ruangan inilah yang membuatku merasakan perasaan yang tidak menyenangkan.


"Zen mengapa kau masih hidup?"


Seseorang yang bertanya itu berada dibelakangku, begitu aku berbalik badan aku melihat wajah yang sangat tidak asing bagiku.

__ADS_1


__ADS_2