
Tubuh Kreiz terkena sesuatu dan dia kembali terhempas cukup jauh.
"Apa tadi itu? Apa tadi Ray?"
Karena kurang fokus Zen jadi tidak terlalu melihat dengan jelas apa yang menabrak Kreiz tadi, meski begitu Zen merasa kalau tadi itu adalah Ray.
"Kau terlalu banyak bermain main Zen."
Zen melihat kearah suara itu berada, dan yang Zen lihat adalah Hao Chen dengan sebuah senyuman diwajahnya.
"Hao Chen, apa yang terjadi dengan Ray?"
"Apa yang kau tanyakan, bukankah tadi dia baru saja melewatimu?"
"Ternyata memang dia ya, jadi apa dia telah mati?"
"Iya, aku tidak menyangka kalau dia sangatlah lemah."
"Seperti yang diharapkan darimu, bisakah kau membereskan mereka semua?"
Zen menunjuk kearah orang orang alam ilahi dan tingkat Duke yang masih hidup setelah menerima beberapa Seranganya.
"Apa yang terjadi dengan Bifrost?"
Hao Chen yakin kalau mereka semua adalah lawan Bifrost, namun orang orang itu sekarang ada disini Hao Chen jadi penasaran apa yang terjadi dengan Bifrost.
Menjawab pertanyaan Hao Chen Zen tidak mengatakan apapun, dia hanya menunjukan kearah yang ada didepan Ardiel. Hao Chen lalu melihat arah yang Zen tunjuk itu, disana dia melihat Bifrost yang tergelak dan tidak sadarkan diri.
"Hanya melawan beberapa semut saja dia tidak bisa, sepertinya dia harus dilatih lagi."
"Jangan terlalu keras kepadanya Hao Chen, bagaimanapun dia tidak sepertimu."
Sama seperti Ling Hao atau Zen, Hao Chen saat ini juga hanyalah seorang pemegang mahkota tingkat menengah tapi dia tidak terlalu jauh berbeda dengan para pemegang mahkota tingkat tinggi seperti Cheng Ning.
__ADS_1
"Jadi bisakah kau membereskan mereka?"
"Bisa saja tapi....."
Hao Chen melihat keatas langit, Zen penasaran dengan apa yang Hao Chen lihat diapun juga melihat keatas langit. Dari atas sana jatuh seseorang dengan sangat cepat, benturan tubuh orang itu dengan tanah membuat beberapa kerusakan.
"Sepertinya aku kalah cepat dari Hao Chen."
Tidak lama kemudian Ling Hao muncul dihadapan mereka, dan orang yang terjatuh tadi adalah Shao Ling.
"Sejak awal tidak ada persaingan jadi tidak perlu khawatir."
Mereka lalu melihat kearah langit yang mulai bergetar, langit bergetar sebanyak 2 kali. Getaran yang pertama adalah karena kematian Ray yang memegang mahkota king dan yang kedua adalah karena kematian Shao Ling yang memegang mahkota pejuang surga.
"Ada apa dengan surga ini, responnya sangat lambat." Ucap Hao Chen.
Biasa surga akan langsung bergetar ketika pemegang mahkota mati, namun kali ini ada jeda beberapa menit antara waktu kematian Ray dengan getaran surga.
"Mungin karena hari kehancuran telah dekat jadi surga mulai lambat merespon." Ucap Ling Hao.
Ketiga orang itu saling berbicara satu sama lain dengan begitu santai, Ardiel yang melihat kejadian itu merasa sedikit tertekan. Bagaimanapun dengan kematian Ray dan Shao Ling tidak mungkin bagi Ardiel untuk dapat membunuh Zen apalagi Ling Hao dan Hao Chen berada didekatnya saat ini. Ardiel lalu melihat kearah Kreiz yang tergeletak dengan tidak berdaya, luka ditubunya sangatlah parah. Luka itu mungkin membutuhkan waktu beberapa bulan untuk dapat sembuh sepenuhnya.
Ardiel terus melihat Zen dan yang lainnya sambil mencari cari kesempatan untuk dapat pergi dari sana, jika dia terlalu lama disana maka dapat dipastikan dia pasti akan mati. Ardiel lalu Merasakan penjagaan Zen terhadap dirinya mulai melonggar, dia juga dapat melihat Hao Chen yang pergi menuju ketempat orang orang berada dialam ilahi itu. Ardiel merasa ini adalah sebuah kesempatan untuk dirinya, dia dengan cepat pergi dari sana.
Namun itu sebenarnya adalah sebuah jebakan, Zen tersenyum ketika melihat Ardiel kabur. Akan tidak menyenangkan bagi Zen jika dia membunuh Ardiel begitu saja, Zen ingin memberikan sebuah harapan kepada Ardiel lalu setelah itu dia akan membunuhnya.
"Apa yang akan kau lakukan padanya Zen?"
Ling Hao tau kalau Zen memang membiarkan Ardiel pergi karena itulah dia tidak melakukan gerakan apapun, Namun yang tidak Ling Hao tau adalah maksud dari apa yang Zen lakukan itu.
"Bisakah kau Membawanya kesini Ling Hao?"
"Kau membiarkan dirinya kabur namun sekarang kau ingin aku menangkap nya. Apa yang ingin kau lakukan?"
__ADS_1
"Kau akan tau nanti, namun untuk sekarang bisakah kau Membawanya kesini. Tidak peduli dalam keadaan apapun yang penting dia masih hidup."
"Haaa, baiklah."
Ling Hao menarik nafas yang cukup dalam, sebenarnya dia tidak ingin melakukannya namun dia tidak memiliki pilihan lain. Ling Hao lalu meninggalkan Zen dan dengan cepat mengejar Ardiel.
"Sekarang saatnya mengambil mahkota mereka."
Pertama Zen berjalan menuju kearah Shao Ling, setelah melihat mayat Shao Ling Zen setidaknya dapat tau apa yang dia alami saat melawan Ling Hao. Ada bekas telapak tangan pada leher Shao Ling, Zen menebak kalau sebelum dibunuh Shao Ling dicekik oleh Ling Hao dengan sangat kuat. Zen lalu mengambil mahkota yang ada ditubuh Shao Ling, setelah itu Zen berjalan menuju ketempat Kreiz dan tubuh Rey berada.
"Tidak sadarkan diri.."
Zen masih dapat Merasakan aura kehidupan dari Kreiz, namun kerena luka yang ada pada tubuhnya Kreiz jadi tidak sadarkan diri.
"Yah siapa yang peduli, lagi pula tujuanku kesini adalah untuk tubuh Theresia."
Zen lalu mengeluarkan pedang miliknya, tanpa ragu dan rasa bersalah sedikitpun Zen menusuk jantung Kreiz. Merasakan rasa sakit yang luar biasa Kreiz dengan cepat langsung sadar kembali, dia menatap Zen dengan tajam sambil mengeluarkan aura membunuh yang kuat. Namun semua itu tidak berlangsung lama karena jantungnya telah hancur dan Kreiz pun mati.
Sekali lagi surga bergetar, ini adalah getaran yang ketiga pada hari ini. Zen sama sekali tidak memperdulikan getaran itu, Zen hanya tertarik pada mahkota Kreiz. Zen lalu mengambil mahkota milik Kreiz dan juga milik Ray.
3 mahkota ada ditangan Zen, itu adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Bisa mendapatkan sebuah mahkota saja sudah luar biasa apalagi mendapatkan 3 mahkota, mungkin hanya beberapa orang yang bisa melakukan hal itu.
Hao Chen akhirnya kembali ketempat Zen, banyak noda darah dapat dilihat ditubunya. Itu adalah darah orang orang alam ilahi itu, dan tidak lama kemudian Ling Hao kembali sambil menyeret tubuh Ardiel.
"Apa yang terjadi dengan kakinya?"
Zen dapat melihat bagian tubuh Ardiel yang lain masih dalam keadaan yang baik baik saja kecuali kedua kakinya yang telah hilang dari tubuhnya.
"Aku tidak sengaja menghancurkannya."
"Tidak sengaja, tapi ya sudahlah yang penting dia masih dapat hidup."
Dengan sebuah senyuman dan tatapan yang merendahkan Zen melihat Ardiel, rasa takut, rasa putus asa dan rasa marah dapat dilihat diwajah Ardiel. Namun Zen sama sekali tidak memperdulikannya, tidak peduli semarah apa Ardiel saat ini semua itu tidak ada gunanya. Bagaimanapun dia tidak lagi dapat kabur dari kematian.
__ADS_1
"Bagaimana keadaanmu tuan leluhur pertama vampire Ardiel Veltre?"