
Karena pukulan Verdia Zen kembali terhempas hingga kesebuah kota yang berjarak 100 km lebih, dinding kota itu sama sekali tidak dapat menahan tabrakan tubuh Zen. Dinding hancur dengan sebuah lubang yang besar, didalam kota itu Zen terbaring dengan beberapa luka ditubunya.
"Apa yang terjadi?"
"Apa ada yang sedang bertarung?"
"Orang bodoh mana yang berani bertarung didalam kota?"
Orang orang yang melihat Zen itu langsung mengeluarkan berbagai pendapat, selain sebuah turnamen seharusnya tidak akan ada sebuah pertandingan didalam kota. Jika ada maka orang yang bertarung itu akan langsung ditangkap dan ditahan selama ribuan tahun.
Untuk yang kedua kalinya dinding kota hancur lagi, kali ini Verdia yang menghancurkan dinding itu. Verdia langsung ketempat Zen dan kembali menyerangnya, serangan itu sangat kuat bahkan orang orang yang ada disekitar sana juga ikut terhempas karena gelombang kejutnya.
"Benar benar ada yang berani bertarung dikota."
"Segera pergi sebelum ikut terlibat."
Tidak ada dari mereka yang ingin terlibat kedalam pertarungan Zen dan Verdia mereka lalu segara pergi menjauh, tidak hanya itu mereka juga tidak ingin ditangkap dan ditahan oleh para penjaga kota.
Setelah beberapa saat Zen dan Verdia masuk kedalam kota sekitar 100 orang langsung mengelilingi mereka berdua, orang orang itu rata rata berada ditingkat Earl tingkat menengah. Mereka adalah para penjaga kota, tugas mereka adalah untuk menghentikan dan menangkap orang yang bertarung didalam kota.
"Dilarang ada pertarungan didalam kota." Ucap salah satu orang penjaga.
__ADS_1
"Dasar para sampah."
Verdia menatap para penjaga itu dengan tajam, tatapan itu membuat para penjaga tau kalau Verdia sama sekali tidak ada niat untuk berhenti. Mereka lalu segera mengarahkan senjata ke Verdia, melihat apa yang dilakukan para penjaga itu Verdia langsung membunuh beberapa dari mereka dengan penuh amarah.
"Kau."
Para penjaga itu menjadi sangat marah, ini adalah pertama kalinya ada yang berani melawan mereka didalam kota ini. Para penjaga itu lalu secara bersamaan langsung menyerang Verdia dengan niat membunuh yang keluar.
Verdia sama sekali tidak bergerak, dia hanya menatap para penjaga itu sambil mengeluarkan aura membunuh yang sangat besar. Aura yang Verdia sama sekali tidak dapat dilawan oleh para penjaga itu, rasa takut muncul didalam diri mereka dan mereka sama sekali tidak berani untuk bergerak.
"Ada apa? Tidak jadi menyerang? Kalau begitu biarkan aku yang menyerang kalian."
Verdia mengangkat jarinya lalu keluar sebuah bilah angin sepanjang 4 cm, bilah angin adalah salah satu jenis sihir angin. Bilah angin itu lalu mulai membunuh semua penjaga itu satu persatu, hanya dalam beberapa menit saja semua penjaga itu telah mati dan darah merah sekaligus bau amis menutupi permukaan tanah.
Verdia melihat ketempat Zen seharusnya berada, namun apa yang dia lihat disana hanyalah sebuah permukaan tanah yang telah hancur lebur. Dia sekali tidak dapat melihat atau Merasakan keberadaan Zen, Verdia lalu segera mencari kesekitarnya. Dia tau kalau Zen pasti belum pergi jauh, setelah beberapa saat Verdia akhirnya dapat Merasakan keberadaan Zen, dari atas langit Zen dengan sangat cepat turun dengan sebuah senyuman kecil.
Sebuah bola api biru kecil menyala ditelapak tangan Zen, Zen lalu dengan cepat segera menyerang Verdia dengan api itu. Verdia dengan cepat segera menghindari serangan Zen, bagi Zen entah api mengenai dirinya atau tidak itu tidak masalah dia tetap turun dengan sangat cepat.
"Membaralah api."
Begitu mengenai permukaan tanah bola api kecil itu langsung membara dan mulai membakar apapun yang menyentuhnya, hanya dalam waktu beberapa detik api itu telah habis membakar apapun dalam jarak 1200 km dengan Zen sebagai pusatnya.
__ADS_1
Verdia yang terkena api biru itu dengan cepat berusaha untuk memadamkan api itu, meski pada akhirnya dia berhasil memadamkannya namun Verdia harus kehilangan tangan kirinya dan beberapa bagian tubuh yang memiliki luka bakar. Untuk saat ini Verdia tidak dapat menyembuhkan luka lukanya karena dia telah mencapai batas dalam menggunakan sihir penyembuh.
Tidak tau berapa banyak orang yang mati karena api itu, karena api itu membakar semua bagian kota maka yang mati seharusnya mencapai jutaan orang. Meski begitu Zen sama sekali tidak memperdulikan hal itu karena dia sama sekali tidak memiliki kenalan dikota ini, api itu terus membara dan membuat bangunan kota menjadi abu.
Zen lalu mengangkat tangannya dan api biru itu langsung menghilang, Zen telah menghabiskan cukup banyak mana untuk menggunakan sihir itu namun bagi Zen itu tidak masalah karena berkat sihir itu Verdia jadi mendapatkan luka yang cukup parah.
"Bagaimana jika kita menghentikan pertarungan ini sekarang Verdia?"
Sejujurnya tidak ada gunanya bagi mereka melanjutkan pertarungan ini lebih lama lagi, jika pertarungan mereka memang berjalan lancar maka salah satu dari mereka pasti akan kalah. Namun Zen merasa kalau pertarungan mereka tidak akan berjalan lancar, dalam pertarungan mereka ini telah muncul pemegang mahkota yang lain seperti Atlanta, Cheng Ning dan Feng Nianyun.
Jika mereka terus bertarung maka pasti akan ada yang akan memanfaatkan situasi ketika mereka berdua sedang terluka parah atau sedang kehabisan tenaga, dan jika yang memanfaatkan situasi itu adalah salah satu dari raja iblis peringkat 3 besar maka mereka berdua dapat dipastikan untuk mati.
Dan juga jika mereka bertarung lebih lama lagi maka akan lebih banyak dunia yang mengalami kehancuran, bahkan Zen tidak dapat membayangkan kerusakan yang diterima dunia bintang hijau saat ini.
"Bukankah kau setuju Verdia?"
Zen juga memiliki alasan lain mengapa mereka harus menghentikan pertarungan ini, tidak peduli sebesar apa niat membunuh yang dia keluarkan pada akhirnya Zen tidak akan membunuh Verdia. Bukan karena Zen tidak bisa membunuhnya melainkan Zen tidak dapat melakukan hal itu, untuk saat ini keberadaan Verdia cukuplah penting. Meski dia tidak bergabung dengan Aliansi manusia manapun namun keberadaan Verdia adalah sebagai penyeimbang diantara para pemenang mahkota tingkat tinggi.
Begi Zen tidak masalah jika keseimbangan antar ras hancur namun keseimbangan diantara pemegang mahkota tingkat tinggi tidak boleh hancur, bagaimanapun mereka adalah sebagai pondasi dari dunia atas ini. Mereka harus tetap ada sampai hati kehancuran tiba.
Untuk sesaat Verdia memikirkan apa yang Zen katakan, Verdia juga memiliki pemikiran yang sama dengan Zen. Yang lebih penting lagi meski dia terlihat sudah menggenggam kemenangan namun faktanya Verdia sendiri tidak yakin dia dapat menang atau tidak, dari mata orang lain kemungkinan Verdia untuk menang memang tinggi mengingat bahwa dia telah berkali kali memberikan pukulan yang telak untuk Zen.
__ADS_1
Namun bagi mereka yang tau apa yang sebenarnya terjadi maka mereka pasti akan mengatakan kalau Verdia sangat jauh dari kemenangan.