
Matahari sudah berada diatas kepala, suhu mulai memanas. Itu semua menandakan hari telah siang.
Dikamar Zen suasana terasa sunyi, hanya suara kertas yang dibalik terdengar disana. Zen secara perlahan mulai membuka matanya.
Begitu dia membuka matanya hal pertama yang dia lihat adalah langit langit ruangan yang tidak asing baginya. Setelah itu Zen melihat seorang perempuan duduk disofa miliknya sambil membaca sebuah buku.
Perempuan itu adalah Irene, Irene duduk disofa dengan tenang sambil membaca buku. Irene menyadari kalau Zen telah bangun, Irene pun langsung berbicara kepada Zen.
"Bagaimana kabar anda yang mulia?"
Dengan buku yang terbuka ditangannya, Irene bertanya kepada Zen.
"Kurasa cukup baik."
"Baguslah kalau begitu."
"Sudah berapa hari aku tertidur?"
"10 hari."
"Haa, lebih lama dari yang sebelumnya."
Zen menyadari kalau pakaiannya miliknya berbeda dengan yang dia ingat, dia pun langsung bertanya kepada Irene.
"Apakah kau yang mengganti pakaianku?"
"Iya, waktu itu pakaian anda terlihat sangat buruk."
Tentu saja itu adalah hal yang wajar, sebelum tertidur Zen telah mengalami beberapa pertarungan. Bajunya sangat kotor dan ada beberapa bagian yang koyak.
"Apakah ada yang salah dengan itu?"
"Tidak ada, malahan aku sangat berterima kasih padamu kerena telah menggantikan pakaianku."
Zen turun dari kasur miliknya, dia berjalan kearah lemari. Zen lalu membuka baju yang sedang dia gunakan.
"Ngomong ngomong dimana Fernanse?"
__ADS_1
Zen Kemudian membuka lemari itu dan melihat beberapa pakaian, dia mengambil sebuah pakaian berwarna hitam dengan lengan yang pendek.
"Dia bilang dia ingin berkeliling, jadi dia pergi keluar."
"Begitu ya."
Zen memakai pakaian yang dia ambil dari lemari itu.
"Apakah ada beberapa hal penting selama aku tertidur?"
"Tidak Ada yang penting selain para manusia yang membentuk aliansi."
Zen selesai memakai pakaiannya, pakaiannya kali ini terlihat sangat berbeda dari pakaian yang dia pakai sebelumnya. Jika sebelumnya Zen menggunakan pakainnya yang membuanya terlihat cukup bersahabat, kali ini Zen menggunakan pakainnya yang menunjukan sebuah wibawa
.
"Apakah anda ingin pergi yang mulia?"
"Iya, ada yang harus kulakukan ditimur."
"Timur ya? Yah lagi pula mereka belum bergerak sedikitpun jadi mungkin anda harus membuat mereka bergerak."
Irene selalu bersikap berbeda dengan yang sekarang jika disekitarnya ada orang lain. Irene akan berbicara dengan formal jika dibersama orang lain, namun jika dia sedang bersama Zen, Irene akan bersikap lebih santai seolah olah mereka adalah keluarga.
"Mungkin suatu hari nanti saya akan melakukannya."
"Kuharap aku dapat melihat datangnya hari itu."
Zen kemudian membuat sebuah Gate.
"Kalau begitu aku pergi dulu Irene, dan juga sampaikan pesanku pada Fernanse. Sampai aku kembali jangan berbuat yang aneh aneh."
"Baiklah saya akan menyampaikan pesan anda, dan semoga beruntung."
Zen pergi memasuki gete itu, dan gete pun segera menutup. Disisi lain Irene kembali membaca bukunya begitu gate telah menghilang.
•°•°•°••••••°•°•°•
__ADS_1
Dibawah pepohonan yang rimbun, gate milik Zen mulai terbuka. Zen keluar dari gate itu
.
"Aku belum pernah kesana jadi aku hanya bisa membuka gate sampai kesini."
Zen melihat kedepannya, meski dibelakangnya dipenuhi oleh hutan yang rimbun. Namun didepannya dipenuhi oleh padang pasir dan bebatuan.
Tempat Zen berada saat ini adalah perbatasan antara dataran manusia dan dataran iblis
.
"Hari masih siang, jika aku berlari sekarang mungkin malam nanti aku dapat sampai kekastil miliknya."
Zen menekan auranya hingga kelevel dimana tidak akan ada orang yang dapat merasakannya, bahkan monster dengan insting paling mengerikanpun tidak akan dapat merasakannya
.
Zen berlari menuju dataran iblis, Zen berlari dengan kecepatan yang sangat mustali untuk dapat terlihat oleh manusia biasa.
Setelah beberapa saat Zen berlari, dia akhirnya dapat melihat pepohonan. Wilayah dalam dataran iblis tidak jauh berbeda dengan dataran vampire dan manusia. Diwilayah dalam sudah tidak ada lagi gurun dan bebatuan yang luas, yang ada hanya hutan yang rimbun dengan tanah yang subur.
Zen memasuki hutan tersebut, didalam hutan itu terdapat beberapa monster. Zen hanya melewati para monster itu dan para monster itupun tidak dapat merasakan kehadiran Zen
.
Zen terus berlari hingga matahari mulai terbenam, dan Zen pun akhirnya sampai ketempat tujuannya. Sebuah kota yang besar berada didepan Zen dengan sebuah kastil yang terletak diatas bukit.
Zen diam diam masuk kedalam kota itu, dia dengan cepat pergi menuju kearah kastil. Zen akhirnya sampai kekastil, dia lalu melihat daerah sekitarnya. Kastil itu dipenuhi oleh banyak penjaga, namun itu bukan masalah untuk Zen.
Zen secara perlahan dan hati hati memasuki kastil itu, dan pada akhirnya Zen memasuki sebuah ruangan. Itu adalah ruang tahta kastil itu.
Zen berjalan menuju singgasana yang ada dirungan itu, dan Zen pun mendudukinya. Tidak lama Zen duduk, dia meraskan kehadiran orang yang sedang ditunggunya.
Orang itu menuju keruangan tahta, pintu ruangan secara perlaha mulai terbuka. Sosok seorang laki laki dapat terlihat, melihat sosok itu Zen menjadi tersenyum.
Namun berkebalikan Dengan Zen, sosok laki laki itu terkejut begitu melihat ada orang yang duduk dikursi miliknya. Laki laki itu sama sekali tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya, dan tanpa dia sadari sebuah pertanyaan keluar dari mulutnya.
__ADS_1
"Siapa Kau?"