
Ciel terduduk dilantai, ekspresi yang kosong dapat dilihat diwajahnya. Ciel ingin sekali mengatakan tidak kepada Zen, namun melihat wajah Zen saja dia tidak berani.
"Setelah semua itu Kau mengatakan kalau tidak ingin melihatku menderita. Jangan membuatku tertawa Ciel, menurutmu untuk apa aku datang kedunia ini?"
Tentu saja Ciel tau kedatangan Zen kedunia ini, semua itu dia lakukan untuk Theresia.
"Ciel, kau sebenarnya senang bukan dengan kematian Theresia?"
"Tidak, aku sama sekali tidak senang."
Kali ini Ciel membantah apa yang Zen katakan, Ciel sama sekali tidak pernah mengharapkan kematian Theresia.
"Kalau begitu apa yang sebenarnya kau harapkan Ciel?"
Zen menatap Ciel dengan tajam, rasa marah yang besar dapat dilihat pada tatapan itu.
"Aku hanya ingin....."
Rasa yang bercampur aduk muncul didalam pikiran Ciel, pada akhirnya dia sendiri pun juga tidak tau apa yang dia inginkan. Ciel tau apa yang Zen katakan itu ada benarnya, Ciel lalu tidak ingin mendengar apa lagi Zen cekatan. Ciel dengan cepat membuka gerbang dan kembali ke dunia roh.
Sama sekali tidak ada niat untuk menghentikan Ciel, Zen dan Rubia hanya melihat kepergian Ciel.
"Bukankah kau terlalu kejam Zen?"
"Mungkin saja kau benar, tapi mungkin ini adalah pilihan yang terbaik."
Dari pada terus mengatakan kalau kematian Theresia bukanlah salah dirinya menurut Zen lebih baik jika mengatakan kalau kematian Theresia adalah kesalahannya. Dengan begitu pada akhirnya Ciel mungkin akan mencoba untuk menerima kenyataan dan berhenti terjebak dimasa lalu.
"Meski begitu apa yang kau katakan tadi tetap saja terdengar cukup kejam, Meski kami adalah roh kami juga memiliki emosi. Kau seharusnya tidak mengatakan hal tadi kepada Ciel, meski dia terlihat kuat pada akhirnya tetap terlalu beban yang dia tanggung."
Tugas Ciel sebagai ratu roh adalah mengatur keseimbangan dan kedamaian dunia roh, meski didunia roh dia adalah yang terkuat namun tugas itu tetap saja cukup berat untuk dirinya.
Didunia roh sendiri Ciel tidak terlalu dekat dengan siapapun selain Rubia, dan didunia dengan kehidupan fisik ini sendiri hanya Zen dan Theresia yang dekat dengan dirinya. Karena itulah kematian Theresia memberikan sebuah pukulan yang cukup kuat kepada Ciel.
"Aku tau hal itu Rubia, bagaimanapun aku juga membutuhkan bantuannya untuk kembali. Namun dengan dirinya yang sekarang dia mungkin tidak akan dapat memberikan banyak bantuan."
"Baru kali ini aku mendengar kalau Kau juga membutuhkan bantuannya, seberapa banyak rencana yang sedang kau buat Zen?"
__ADS_1
"Kau tidak perlu mengetahuinya, kau hanya perlu sedikit membantu ku dan mengamati saja."
"Sedikit ya, kalau begitu aku akan melakukannya sekarang."
Rubia lalu membuka gerbang yang menuju kedua roh.
"Apa sudah akan kembali?"
"Iya, Ciel saat ini pasti sedang mengurung dirinya dikamarnya. Aku akan pergi menemuinya, lagi pula mahkota king mu masih sama dia bukan. Akan membujuknya dan membawa dia kembali kepada mu."
meski Ciel adalah seorang ratu roh namun Ciel sangat berbeda jika dibandingkan dengan para ratu yang lain seperti Rubia. para ratu yang lain kebanyakan adalah roh yang bijak, sedangkan Ciel pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan anak remaja, emosinya dapat berubah ubah tanpa dapat diprediksi.
disaat emosi Ciel sedang tidak beraturan harus ada orang yang membuat emosi Ciel tenang jika tidak maka dunia roh akan mengalami kekacauan, dan untuk membuat Ciel menjadi tenang kembali adalah tugas yang dimiliki oleh Rubia.
"Kalau begitu semoga berhasil."
"Sampai ketemu beberapa hari lagi Zen."
Rubia lalu memasuki gerbang itu dan gerbang langsung menghilang.
"Kau menyadarinya ya."
Dari balik pintu Ling Hao masuk kedalam ruangan.
"Tentu saja aku menyadarinya, kau bahkan tidak menghilang aura milikmu."
"Aku tadi ingin masuk namun suasananya cukup berat."
"Jadi karena itu kau memutuskan untuk menunggu dibalik pintu?"
"Iya. Tapi tak kusangka kau mengatakan hal itu kepada Ciel."
"Aku tidak memiliki pilihan lain."
"Aku tau ingin segera meninggalkan dunia ini namun kurasa kau tidak perlu buru- buru. Lagi pula pemuda yang kau katakan saat itu juga masih dialam dewa abadi."
"Dengan ada para dewa kuno ditubuhnya pemuda itu pasti dapat dengan cepat meningkatkan kultivasinya, sedangkan Ciel membutuhkan waktu yang lama untuk dapat keluar dari lingkaran masa lalu itu."
__ADS_1
"Tapi ya seperti yang Rubia katakan tadi kau cukup kejam juga kepadanya."
"Aku tau itu. Jadi apa yang kau inginkan, kau datang kesini bukan cuma ingin berbicara mengenai hal itu bukan?"
"Aku kesini karena ada yang ingin kuberitau kepada mu. Aku telah mencari perempuan Yang kau katakan, mereka saat ini telah berada didunia atas."
Setelah pertarungannya dengan Lin Yan selesai Zen segera menyuruh Ling Hao untuk mencari keberadaan Lin Yan dan Liu Yu. Bagaimanapun Zen berencana untuk membuat kedua perempuan itu ikut terlibat sebagai bagian dari kunci.
"Apa yang kau lakukan dengan kedua perempuan itu?"
"Aku membuat mereka memasuki sakte tempat Xia Shuang berada dulu."
Dengan bergabungnya Lin Yan dan Liu Yu kedalam sakte itu akan akan semankin cepat perkembangan mereka. Dengan begitu mereka mungkin akan membuat Zen dapat menjalankan rencananya secepat mungkin.
"Zen betapa banyak orang yang akan terlibat dalam rencanamu?"
"Entahlah, mungkin sebagian besar orang penting didunia atas ini akan terlibat. Lagi pula bukankah kita telah setuju, setelah Theresia mendapatkan kembali ingatannya kita akan kembali kesana secepat mungkin."
"Iya itulah yang telah kita setujui."
Tidak ada alasan bagi mereka untuk menunda rencananya, lagi pula dunia ini sudah hampir mencapai batasannya. Akan lebih baik bagi mereka jika berhasil meninggalkan dunia ini sebelum hari kehancuran datang, namun jika Rencana mereka tidak berhasil maka Zen dan yang lainnya harus Merasakan hati kehancuran untuk yang ke 2 kalinya.
Ling Hao lalu berdiri dan mengeluarkan beberapa pil, Ling Hao langsung memberikan pil itu kepada Zen.
"Lukamu belum sembuh sepenuhnya bukan, gunakanlah ini dengan begitu kau akan dapat menyatukan mahkota itu. Ah dan juga jika ada waktu datanglah ke rumahku, Lin Xue Yu ingin bertemu denganmu."
"Aku akan kesana ketika sempat."
Ling Hao lalu pergi meninggalkan Zen.
"Pil tingkat tinggi ya, sepertinya ini sudah cukup untuk menyembuhkan semua lukaku."
Zen langsung menelan semua pil itu, pil itu memiliki efek samping yang cukup besar untuk tubuh. Jika efek samping pil tidak segera dihilangkan maka pil itu mungkin akan membuat Zen mati.
Zen mulai bermeditasi untuk menghilangkan efek samping pil itu, darah darah kotor Zen langsung keluar dari tubuhnya melalui luka lukanya yang masih belum sembuh sepenuhnya. Setelah 10 hari berlalu Zen akhirnya berhasil menghilang semua efek samping pil itu dan dia menyerap semua khasiat pil itu.
Kini luka luka Zen telah sembuh sepenuhnya, Zen lalu mengeluarkan mahkota dosa amarahnya dan mulai menyatukan dengan tubuhnya.
__ADS_1